
"Lama juga tak menikmati macet macam begini" ujar Arka dengan tangan tetap menggenggam tangan sang istri.
"Cuman sepuluh hari yank kamu perginya. Bukan tiga bulan" kata Tania sengaja menyindir sang suami.
"Ha...ha...yang tiga bulan malah nggak berasa lama. Nggak tahu kenapa, yang sepuluh hari rasanya malah lama banget" ulas Arka.
"Hawanya kangen aja" imbuh Arka.
"Hhhmmmmm hawa-hawa lebay sepertinya" olok Tania.
Hampir jam sepuluh malam, mereka baru sampai mansion.
Kemacetan parah tentu menjadi penghalang mereka.
"Kamu ini ke mana aja? Kasihan tuh Arditya sedari tadi nangis terus" ujar mama Rosa yang belum melihat kedatangan Arka.
"Kenapa Mah?" Arka yang barusan masuk menyusul Tania.
"Loh, kamu tadi menjemput Arka. Kok nggak bilang sih?" sela mama Rosa.
"Inginnya sih buat kejutan dan perginya sebentar aja. Tapi ternyata pesawat yang ditumpangin papa nya Arditya pakai delay" terang Tania.
"Ya sudah cuci tangan dulu sana gih, kamu susulin Arditya di kamar" suruh mama ke Tania.
Tania langsung masuk ke kamar Arditya yang sekarang bersama babysitter. Dan Arka masuk kamar utama untuk membersihkan badan.
Tania coba susuin Arditya, tapi sang bayi masih menolak aja.
"Kenapa dia ya sus?" tanya Tania ke babysitter yang menemani.
"Saya tidak tahu nyonya, adik nangis terus sedari tadi" beritahunya.
Tania mencoba menenangkan Arditya dengan bermacam cara, tapi masih menangis juga.
Arka yang barusan masuk, dengan badan segar menghampiri sang istri yang masih sibuk menenangkan Arditya.
"Kenapa sayang?" tanya Arka mendekat.
"Nggak tahu nih. Masih nangis aja" jawab Tania.
"Sini kugendongin" pinta Arka.
"Kenapa nih anak papa, kangen ya sama papa. Sini pelukin papa" kata Arka terus saja mengajak bicara Arditya.
Arka tepuk-tepuk pelan punggung Arditya, dan terdengar sendawa dari bibir bayi itu.
"Seperti orang dewasa aja sendawanya?" kata Tania menimpali.
Setelah bisa sendawa, barulah Arditya tenang.
Arka baringkan di box bayi, dan dia periksa perut si kecil.
"Arditya kembung ini yank" beritahu Arka.
"Minta minyak anginnya yang buat bayi" pinta Arka. Dan Arka oleskan perlahan di perut, dada dan punggung Arditya.
Arditya mulai tenang, dan mulai lelap.
"Tadi adik muntah tuan" bilang baby sitter.
"Iya" tukas singkat Arka.
"Baru ini loh yank, Arditya rewel" terang Tania.
"Heemmmm dia nggak nyaman yank, perutnya pasti berasa nggak enak. Sudah tenang aja dia nggak papa kok" jelas Arka.
Arka sungguh membuat kepanikan Tania mereda.
"Nggak tahu gimana jadinya kalau kamu belum datang" ulas Tania.
"Ya telpon dong, konsul by phone ke suamimu yang dokter ini" kata Arka menimpali.
"Issshhhh kumat dech sombongnya" sungut Tania.
Arka tertawa, sementara Arditya tetap dalam gendongan sang papa.
Karena terlalu lama menangis, akhirnya Arditya tertidur di dada Arka.
"Kok sudah tidur aja dia. Kalau sama aku, nggak nyedot ya nggak bakalan tidur" tukas Tania.
"Aku saja ntar yang nyedotin" ucap Arka absurd.
__ADS_1
"Issshhhh apaan sih?" timpal Tania.
Arditya sudah nyenyak dalam pangkuan.
"Makin embul aja dia" Arka menciumi pipi Arditya yang barusan tidur.
"Papa kangen nih, rewel ya kalau sama mama. Nanti dikelonin papa aja ya" kata Arka menyindir sang istri.
"Enak aja, saben malam dia juga tidurnya sama aku" kata Tania tak terima.
"Ha...ha....ya udah ntar Arditya dipeluk mama, dan mama dipelukin papa" terang Arka sembari tertawa lepas.
"Modus kamu aja tuh" tukas Tania.
"Arka, Tania kalian nggak makan malam?" panggil mama Rosa dari luar kamar Arditya.
"Jam segini makan malam?" gumam Tania.
"Aku laper yank, aku belum makan" ucap Arka.
"Ya udah dech aku temenin" ujar Tania.
Arka menaruh Arditya dalam box bayi dengan perlahan agar tak terbangun.
"Sudah tidur Arditya?" tanya mama yang sudah tak mendengar tangisan si bayi.
"Sudah Mah" jawab Tania.
"Kenapa ya dia rewel sekali hari ini. Biasanya Arditya nggak seperti itu" bilang mama.
"Agak kembung perutnya, mungkin dia merasa tak nyaman" jelas Arka.
"Untung aja suami kamu tuh dokter, Tania. Kalau nggak bisa berujung di IGD tadi karena kerewelan Arditya" imbuh mama.
"Puji terus menantunya. Anak sendiri diledekin mulu" kata Tania bersungut mengomentari mama Rosa.
Arka dan mama sampai terpingkal mendengar ucapan Tania.
"Itu kenyataan" tukas mama masih menyisakan tawa.
Sementara Arka makan dengan lahap.
"Yank, kamu kok kurusan sih?" tanya Tania memperhatikan sang suami.
Sambil menemani makan, terlibatlah obrolan ringan di antara keduanya. Sementara mama Rosa telah masuk ke kamarnya. Mama ngeluh capek, karena Arditya yang rewel tadi.
Tak terasa udah tengah malam aja, Tania sampai menguap berulang kali.
"Kalau ngantuk tidur aja yank" kata Arka.
"Terus kamu mau ke mana?" tanya Tania yang masih melihat mata bening kebiruan di netra Arka.
"Ngecek kerjaan Pandu. Sebentar aja kok" ucap Arka.
"Ya udah aku ke kamar Arditya dulu, ntar kamu susulin" tandas Tania.
"Heemmmm" Arka mengiyakan dan berlalu ke ruang kerja.
Arka sampai heran melihat ruang kerja yang berantakan penuh dengan buku-buku tebal.
"Apaan nih?" gumam Arka dibuat geleng kepala karena ulah sang istri.
Arka yang sejatinya ingin melihat laporan dari Pandu, malah tak jadi karena netranya lebih tertarik dengan berkas-berkas milik sang istri. Terutama kasus yang saat ini dipegang oleh Tania. Kasus Arkan yang sangat menyita perhatian publik.
Arka buka lembar demi lembar berkas yang ada di meja.
"Heemmmm" gumam Arka sembari mengangguk angguk.
"Jadi begini ceritanya sekarang" Arka tetap bergumam.
Arkan bertobat? Yaacchhh semoga saja itu benar, tak hanya untuk menarik pembelaan publik aja kepadanya. Pikir Arka.
Dan yang menjadi tujuan istriku untuk menjadikan Arkan menjadi orang baik dan berguna tidak sia-sia.
Kamu orang baik Tania, dan semoga kebaikan kamu tidak dimanfaatkan orang-orang tak bertanggung jawab.
Arka menghela nafas panjang dan detik berikutnya keluar dari ruang kerja.
Tania tidak tahu sudah sampai belahan dunia mana lewat mimpinya. Nyatanya saat Arka masuk menyusul, tidak ada pergerakan sama sekali dari Tania.
"Kamu pasti sudah kerja keras selama aku tak ada. Membagi waktu antara Arditya dan kasus yang kamu pegang" kata Arka sembari memeluk sang istri.
__ADS_1
"Inginnya kamu banyak istirahat sayang, nemanin Arditya dan anak-anak kita di rumah. Tapi menjadi pengacara adalah passion kamu. Bahkan jauh sebelum kamu mengenalku. Aku tak boleh egois untuk itu" Arka masih saja berbicara dengan Tania yang terpejam erat.
Dia rengkuh tubuh Tania dalam pelukan. Tubuh yang sepuluh hari berada jauh darinya ini.
.
Pagi hari Tania bangun terlebih dahulu. Dia terbangun karena rasa berat terasa menimpa di pinggangnya.
"Loh, kok masih di kamar ini? Siapa ini?" Tania membalikkan badannya untuk melihat.
Lupa ya Tania? Laki loe kan sudah pulang. Bisik othor.
Tania pandang wajah Arka, "Sampai lupa kalau dia sudah pulang he...he..." gumamnya sambil menyunggingkan senyum termanisnya.
"Siapa yang lupa? Wah parah sampai lupa sama suami sendiri" kata Arka yang ternyata sudah bangun juga.
Tania hendak beranjak dari ranjang. Tapi ditahan oleh Arka, "Mau kemana? Jangan bilang kalau mau memasak?" canda Arka.
Tania hanya bisa garuk kepala.
"Maunya sih memasak, tapi karena kamu olok in barusan, nggak jadi dech" ujar Tania kembali menarik selimut.
"Bilang aja mau kupelukin yank" timpal Arka ikutan masuk ke dalam selimut.
Arditya menggeliat dan menangis keras.
Tania dan Arka saling pandang dan saling tertawa. "Godaan pagi datang" ucap Tania.
"Sayangnya mama bangun ya nak, popoknya penuh kah?" Tania mengajak bicara Arditya.
Dan Arka sudah siap dengan lampin pengganti. "Nih yank, popok yang baru" serah Arka.
Setelah selesai, Tania dengan cepat membuka sebelah aset berharganya. Aset yang sangat disukai oleh Arka.
"Heemmmm...ngiri dech sama Arditya" celetuk Arka membuat Tania mendongak.
"Yang ini mau?" goda Tania sembari menunjuk aset sebelahnya yang masih ketutup sempurna.
"Issshhhh...jangan buat aku gelisah dong" tukas Arka.
"Sudah dua minggu nih dianggurin" sambung Arka.
Tania terbahak membuat Arditya menghentikan sejenak aktivitas menyedotnya.
"Mama kamu berisik ya sayang" Arka mencari pembelaan dari putranya yang bahkan belum paham tentang apa yang dibahas oleh pasutri itu.
"Sebelum berangkat ke kantor, aku nggak mau tahu kamu harus bisa nenangin adik kecil aku" kata Arka absurd.
"Hah?" Tania bengong.
"Salah sendiri menggoda pagi-pagi" ucap Arka.
"Siapa sih yang menggoda. Aneh" Tania menanggapi.
"Sayang, abis ini kutungguin di kamar. Biar Arditya sama mama bentar" ujar Arka saat dirinya hendak meninggalkan kamar Arditya.
Kebetulan saat Arka akan keluar berpapasan dengan mama Rosa.
"Loh, kalian semalam tidur di kamar ini. Kamarnya Arditya?" sela mama Rosa.
"Ketiduran Mah" jawab Arka.
"Masih rewel?" tanya mama ke Tania.
"Enggak kok Mah, habis papa nya datang Arditya nyenyak kok tidurnya" terang Tania.
"Susulin Arka sana. Biar Arditya sama mama" suruh mama Rosa.
"Kan semalaman sudah bersama Mah" ucap Tania.
"Tania, sekali-kali nggak usah bantah kata mama kenapa sih?" ujar mama Rosa.
"Iya...aku susulin. Nggak usah sewot napa" tukas Tania, berjalan meninggalkan mama untuk menyusul sang suami di kamar.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π