
Dokter Anita mempersiapkan diri.
"Dok, kenapa berasa ingin buang air besar ya dok?" ucap Tania.
"Keluarkan aja, nggak usah sungkan" bilang dokter Anita.
"Sayang, perut aku mulas sekali...arrrrggghhhhh" teriak Tania. Reflek dia mencengkeram lengan Arka, karena posisi yang paling dekat.
Arka hanya bisa meringis kesakitan, karena selain cengkeraman sang istri. Perutnya pun tak terkondisikan. Merasakan mulas yang amat sangat.
Sudah bolak balik nongkrong, tidak ada yang keluar. Hanya rasa mulas saja yang dirasakan Arka.
Dokter Anita membimbing Tania dengan sabar, supaya bisa meneran dengan baik.
Di kala Tania istirahat sambil minum, asisten dokter Anita dengan cepat mengobservasi jantung janin.
"Bentar lagi keluar, yang semangat" dokter Anita menimpali.
"Itu tadi sudah sekuat tenaga lho dokter, kenapa belum keluar juga" Tania meringis, perutnya kembali mules.
"Ayo tarik nafas, tahan...ngeden" bimbing dokter Anita.
Setelah melalui beberapa tarikan nafas, maka terdengarlah..."Oek....oek....oek..."
Tangisan bayi laki-laki itu memecah suasana di ruang persalinan.
"Jam enam lebih lima belas menit, telah lahir bayi laki-laki, keadaan baik" kata dokter Anita.
Tania tergolek lemas, karena banyak kehilangan tenaga.
Arka menghujani Tania dengan ciuman dan kecupan.
"Makasih sayang, kamu hebat" bisik Arka Danendra.
Asisten dokter Anita pun meletakkan bayi di atas dada sang mama baru.
"Kok mirip kamu ya yank?" tukas Tania yang baru melihat muka sang anak.
Arka hanya terkekeh menanggapi.
"Itu artinya saham utamanya dari tuan Arka...ha..ha.." dokter Anita ikutan nimbrung oborolan orang tua baru itu, sambil tangannya tetap melakukan tindakan penjahitan.
Tak butuh waktu lama, sang bayi telah menemukan sumber pokok makannya dan dengan lahap menghisap buah favorit Arka.
Arka hanya bisa menelan ludahnya kasar.
Habis ini pasti aku akan kalah saingan. Batin Arka.
Dan anehnya, rasa mulas yang dirasakan Arka sedari tadi ikutan lenyap seiring lahirnya bayi.
Tania masih fokus dengan putranya yang sedang berada di atas bukit kembarnya.
"Dia kuat sekali" katanya
"Awwwhh...sakit dok" ungkap Tania saat dokter Anita mengakhiri proses jahit.
"Oke, finish" Dokter Anita beranjak dari bawah kaki Tania.
"Betewe, selamat ya. Sudah dikarunia putra tampan. Selamat" kata dokter Anita sambil menyalami Tania dan juga Arka.
"Oh ya, tuan Arka. Di sini sudah ramai lho berita tentang gabungnya anda di rumah sakit ini" imbuh dokter Anita.
Arka hanya tersenyum kecut. Belum apa-apa sudah jadi trending aja dirinya. Pasti ulah Bara nih.
Tania dipindahkan ke ruang rawat setelah dua jam pasca melahirkan.
Bayi tampan telah digendong oleh papa baru, karena Tania harus pakai kursi roda saat pindah ruang rawat.
Nenek Gemmy yang barusan keluar dari toilet, karena merasakan hal yang sama dengan Arka pun menyambut kedatangan Arka Yunior dengan antusias.
__ADS_1
"No..." cegah Arka saat sang nenek ingin menggendong cicit embul itu.
"Rese amat sih Arka, nenek kan juga ingin gendong" tukas nenek.
"Cuci tangan dulu. Barusan dari toilet kan?" sanggah Arka.
"He...he...iya juga sih" nenek terkekeh menanggapi.
"Gantengnya cicit Oma..." nenek Gemmy menimang dengan riang bayi tampan itu.
Tak lupa nenek baru juga melakukan hal yang sama. Siapa lagi kalau bukan mama Rosa.
"Yank, laper" sela Tania diantara keriwehan kedua oma oma yang berceloteh dengan Arka Yunior.
"Oh ya kalian memberi nama siapa?" tanya nenek Gemmy menyela.
"Aku nggak bisa mikir nek kalau laper begini" imbuh Tania memberitahu.
Pandu dan Angel datang. Sepasang pengantin baru yang barusan datang dari bulan madu langsung menuju rumah sakit saat mendengar sang bos melahirkan.
"Wah tuan, tampan sekali. Doakan istriku segera menyusul dan dapat yang seperti ini" ucap Pandu dan menyalami sang bos.
"Nggak bisa dong seperti ini. Ini produk limited tau" ucap Arka.
Tania melotot ke sang suami. Bisa-bisanya menyebut sang anak dengan produk.
"Maksudnya produk limited kita sayang" gurau Arka disambut tawa yang lain.
Terndengar suara nyanyian usus keroncongan. Semua menengok ke arah Tania.
"Yaannkkkkkk...laper..." ulangnya merengek ke sang suami.
"Pandu, sudah tahu kan tugas kamu?" tanya Arka ke Pandu.
"Siap tuan, beli makanan untuk nyonya" tandas Pandu sambil mengusap tengkuk.
"Oh ya Pandu, cuti kamu diperpendek. Gantian aku yang cuti seminggu ke depan" bilang Arka.
"Hah? Emang tuan juga melahirkan? Masih dua hari loh cutiku" sahut Pandu.
"Heemmmmm" Arka hanya bergumam menanggapi, sambil tangannya memberi kode Pandu untuk selekasnya keluar ruangan vvip itu.
"Sungguh bos tak ada akhlak" gerutu Pandu saat kakinya melangkah keluar.
"Pandu, aku masih dengar semuanya loh" timpal Arka.
"Pisss tuan...jangan pending it's my bonussss" gurau Pandu untuk merayu sang bos.
"Heleh, kalau ada maunya. Sok baik loe" olok Arka.
Pandu dan Angel keluar ruangan untuk membelikan Tania makanan.
Karena kurang istirahat semalam, dan kelelahan Tania malah tertidur pulas sebelum makanan datang.
Arka pun begitu, ikutan tertidur sambil duduk di sebelah sang istri.
"Loh, kalian kok malah tidur?" kata mama Rosa saat mendekat ke keduanya.
"Biarkan saja, mereka berdua pasti capek" sela nenek Gemmy yang masih saja menggendong cicit sekaligus mainan baru baginya.
.
Pandu dan Angel kembali dengan membawa makanan dari resto langganan sang bos.
Saat masuk dilihatnya nyonya muda nya sedang makan dengan lahap.
"Loh, kok sudah makan? Ini yang aku beli?" tukas Pandu.
"Itu buat ronde kedua Pandu" jawab Tania.
__ADS_1
"Non, rasanya melahirkan bagaimana? Kata orang itu sakitnya luar biasa lho" tanya Angel mendekat ke arah Tania.
Angel memandangi Arka Yunior yang terlelap di box samping ranjang Tania.
"Uuullllluuuuhhhhh...ganteng aunty bobok ya? Jadi ingin ngecubit pipinya Non" ucap Angel gemas.
"Kalau mau dicubit, bikin sendiri dong" ulas Arka.
"Prosesnya sih jalan terus tuan, tapi kalau jadi tidaknya aku belum tahu" kekeh Pandu.
"Non, gimana? Sakit nggak?" tanya Angel kembali menatap Tania.
"Enggak kok, cuman berasa ingin buang air besar aja. Pake ngeden lahir deh" terang Tania menjelaskan.
"Beneran? Kok nggak seperti yang dibilang orang-orang ya? Kalau melahirkan itu sakit" tukas Angel tak percaya.
"Dia nya nggak sakit, tapi aku yang menahan mules dan perut yang melilit" sela Arka menimpali.
"Beneran tuan? Wah, ntar kalau aku hamil biar Pandu juga lah yang merasakan sakitnya" ujar Angel.
"Emang bisa dialihkan begitu saja seperti itu?" ucap Pandu menanggapi.
"Ya nggak bisa lah kalau faktor kesengajaan. Semua sudah ada yang ngatur" imbuh Arka.
"Kirain bisa tuan. Aku nggak mau sakit, terus maunya dialihkan ke suamiku gitu" tukas Angel terkekeh.
"Oh ya namanya siapa tuan?"
Arka dan Tania terdiam.
"Ntar aja lounching nama, kalau sampai rumah. Sekarang cukup panggil Arka Yunior aja dulu" pinta Arka.
Nenek dan mama Rosa yang belum puas gendongin cucu atau cicitnya, balik lagi ke kamar inap Tania.
"Loh, katanya pulang nek?" ucap Arka.
"Iya, ini barusan dari mansion. Terus balik lagi, keinget terus sama cicit...he...he..." kata nenek Gemmy.
Arka biarkan sang nenek untuk menggendong Arka Yunior yang masih lelap karena baru selesai minum susu.
Terdengar ketukan pintu kamar vvip itu.
Pandu membukakan pintu.
Arka pun menatap siapa yang datang, ternyata dokter Bara dan juga direktur rumah sakit.
"Selamat Arka atas kelahiran baby boy nya" ucap Bara memberikan selamat.
"Makasih" sambut Arka dan tak lupa menyalami pak Bambang yang juga direktur rumah sakit itu.
"Kenalkan pak Bambang, ini dokter Arka yang pernah kuceritakan sebelumnya" kata Bara.
"Karena cerita kamu, dokter Arka sudah jadi trending lho di rumah sakit ini" pak Bambang terkekeh.
"Oh, sampai lupa. Silahkan duduk" Arka mempersilahkan tamu-tamunya duduk di ruang tamu yang terletak di depan kamar utama yang ditempati Tania.
Sementara Tania baru saja menyelesaikan makan.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
π
__ADS_1