Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Cerita tuan Rendra


__ADS_3

"Hei, kalian sudah datang ternyata" sambut nenek Gemmy.


Tania menghampirinya dan mencium punggung tangan yang mulai keriput itu.


"Nek, aku juga ngundang papa ke sini" kata Arka memberitahu


"Untuk?" Nenek menautkan alis.


"Ada yang ingin kubicarakan" lanjut Arka.


"Sendiri kan? Tidak bersama wanita licik itu?" imbuh nenek.


"Enggak kok Nek, papa aja" bilang Arka.


"Gimana kabar mama kamu sayang?" tanya nenek.


"Baik kok Nek"


"Sering-sering ajak ke sini aja. Biar mama Rosa nggak kesepian" bilang nenek.


"Bukannya nenek ya yang kesepian?" sela Arka.


"He...he..." Nenek hanya tersenyum simpul menanggapi kata-kata Arka.


"Makanya abis kalian menikah, tinggal sama nenek aja. Rumah segini gedhe buat siapa?" ujar nenek.


"Lagian siapa suruh buat rumah sebesar lapangan bola begini?" Arka terbahak.


"Lapangan bola aja masih kalah luas loh" Tania menimpali.


"Kita ntar di apartemen aja ya yank?" kata Arka membuat nenek Gemmy memberengut.


"Kita tinggal di sana untuk fokus mbuatin cicit buat nenek loh" canda Arka sambil berbisik di telinga nenek.


"Di sini kan juga bisa" tukas nenek lugas.


"Ya nggak bisa, takut banyak gangguan" sambung Arka.


"Dasar cucu licik, nenek sendiri dianggap pengganggu" nenek Gemmy menjitak kepala Arka.


"Sayang, belain dong. Aku dianaiaya nenek nih" seloroh Arka memelas.


Tania malah menggandeng nenek Gemmy untuk duduk di ruang tengah.


"Nek suka nonton nggak?" tanya Tania saat duduk bersama dengan nenek.


"Suka lah. Apalagi berita kasus pejabat yang tiap hari nangkring di berita tivi itu" kata nenek.


"Kalau kamu suka apa?" nenek menengok ke arah Tania.


"He...he...yang berbau-bau Korea pasti aku suka nek" tukas Tania.


"Abisnya saben hari sudah ngadepin kasus-kasus, bosen juga lihat berita" lanjutnya.


"Hemmmm begitu ya? Jadi nggak sambung dong" seloroh nenek.

__ADS_1


"Disambung-sambungin aja" sela Arka ikutan nimbrung dan membawa setoples camilan.


.


"Met sore semua" sapa tuan Rendra yang barusan datang.


"Apa kabar Mah?" sapanya mendekat ke nenek Gemmy dan mengulurkan tangan.


"Sehat Rendra, kabar kamu sendiri?" sambut nenek.


"Seperti biasa lah Mah" beritahu papa.


Tuan Rendra hendak menyalami Tania, tapi malah disambut telapak tangan Arka. "Salaman nya denganku aja" tukasnya.


"Dasar kau" gerutu tuan Rendra.


Hubungan dengan putra tunggal nya itu memang tak dekat seperti hubungan orang tua anak pada umumnya.


Arka semenjak kecil seakan menarik diri dari jangkauan tuan Rendra.


Tapi semenjak ada Tania, timbunan gunung es itu mulai sedikit meleleh.


"Kita bicara di ruang kerja aja Pah" ajak Arka.


"Baiklah" tuan Rendra pun mengikuti langkah Arka.


"Kenapa nggak makan dulu aja" saran nenek yang tahu pembicaraan mereka pasti akan lama.


"Ntar aja Nek. Nenek sama Tania makan aja dulu" ucap Arka.


Di ruang kerja, "Apa yang ingin kau bicarakan?" telisik tuan Rendra.


"Apa tentang proyek-proyek Panapion yang dipegang William?" lanjutnya.


"Heemmmmm" gumam Arka.


"Aku tahu, sewaktu-waktu bom itu pasti akan meledak juga" kata papa Rendra.


Arka menatap tajam sang papa yang terlihat menghela nafas panjang.


"Apa ada yang tidak kutahu Pah?" telisik Arka.


"Banyak yang tak kau tahu. Dan sekarang waktunya kau tahu segala rahasia papa yang mungkin tak pantas untuk kau maafkan" imbuh tuan Rendra dengan wajah kalut.


"Pah. Maafkan Arka yang tak peduli sama papa" sambung Arka.


"Nak, papa lah yang lebih pantas untuk meminta maaf. Ketidak pedulianmu papa anggap sebagai hukuman papa karena kesalahan papa yang begitu besar terhadap mamamu" kata tuan Rendra.


"Apa nenek dan kakek juga tahu" sela Arka.


"Pasti. Mereka pasti tahu tanpa papa cerita" ungkap tuan Rendra.


Tuan Rendra berjongkok di kedua lutut Arka.


"Pah, apa yang kau lakukan?" Arka menghindari wajah tuan Rendra yang mengenai lututnya.

__ADS_1


"Maaf kan papa Nak" isak tangis mulai kedengaran di suara pria setengah baya itu.


"Apa maksud papa?"


Tuan Rendra diminta Arka untuk kembali duduk di kursi ruang kerja itu.


"Sebaiknya papa cerita aja dech. Urusan maaf memaafkan itu tergantung keputusan nanti" ungkap Arka.


"Baiklah" papa kembali menarik nafas panjang.


.


"Sayang, kita berangkat bareng aja gimana?" ajak mama Arka yang pagi itu telah bersiap untuk pergi ke Panapion.


"Arka sudah bangun Mah?" tanyaku.


"Belum sih. Udah biarin aja, dia juga masih nyenyak kok" beritahu istriku yang juga mama nya Arka Danendra Rahardjo.


Nyonya Rendra, yang saat itu menjadi CEO Panapion tetap melakukan tugasnya menjadi seorang istri dan juga mama yang baik buat putra semata wayang.


Dia seorang istri dan juga mama yang pandai menempatkan diri menyesuaikan tempat.


Kalau di perusahaan dia juga bersifat profesional, meski aku adalah suaminya di rumah.


Hingga suatu pagi mama Arka pingsan tiba-tiba saat bangun tidur.


Dia tak kunjung sadar meski sudah papa tunggu beberapa saat dan sudah berusaha papa bangunkan.


Saat itu papa memutuskan untuk membawa mama Arka segera ke rumah sakit. Sampai di IGD mama Arka baru sadar dan dia mengajak pulang, karena tak ada keluhan.


"Nggak sayang, kamu harus jalanin pemeriksaan dulu" kataku saat itu.


"Harus dipastikan kalau kamu baik-baik saja. Baru akan tenang" ucapku.


Mama Arka akhirnya menurut. Butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan semua pemeriksaan.


Dan saat dokter datang hendak memberikan informasi tentang hasil pemeriksaan, mama Arka pingsan lagi. Membuatku semakin cemas.


Dan bagai petir di siang bolong, mama Arka terdiagnosis seperti sakit yang diderita Arka. Bahkan telah menyebar ke organ penting dalam tubuhnya.


Bukannya papa merawat mama mu, tapi malah papa ikutan terpuruk. Syok lebih tepatnya. Papa tak siap menerima keadaan mama.


Dan di sanalah semua kejadian berawal.


Tuan Rendra kembali menarik nafas berat. Menjeda semua cerita. Sementara Arka masih terdiam mendengar semua cerita papa nya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


💝


Salam sehat buat semua 🤗


__ADS_2