Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Taruhan


__ADS_3

Tania melotot ke arah Arka minta penjelasan. Tapi Arka hanya mengedikkan bahu, tanda tak tahu.


Nenek Gemmy mengurai pelukan. "Akhirnya Arka akan sold out juga" kata Nenek Gemmy.


"Apaan sih nek?" sela Arka.


"Iya, kapan kau siap dilamar sayang?" tatap nenek Gemmy ke arah Tania.


Tania semakin bingung musti menjawab apa.


Situasi yang membuatnya pusing tiba-tiba.


"Kalian kan sudah pernah tidur seatap, makanya harus secepatnya pernikahan dilaksanakan" jelas nenek Gemmy membuat Arka kembali mengacak rambut.


"Nek, kita tuh benar-benar nggak melakukan apa-apa. Suerrr. Tania tidur di kamar, dan aku tidur di sofa. Iya kan Tania?" kata Arka meminta bantuan Tania.


"Benar nek eh nyonya" kata Tania gugup.


"Panggil nenek aja, seperti Arka memanggil" suruh nenek Gemmy.


"Tapi kalian sudah pernah tinggal di atap yang sama, dan kali ini nenek tidak menerima penolakan" tegas nenek Gemmy.


"Eh...Nek. Bukan aku menolak, tapi bagaimana mungkin. Kita juga tidak sedekat yang nenek bayangkan" tutur Tania menjelaskan.


"Bener tuh nek" sela Arka membenarkan ucapan Tania.


"Ha...ha...bahkan kalian sudah saling kompak untuk melengkapi satu sama lain. Bahkan untuk beralasan aja sudah saling membela" nenek Gemmy tertawa.


Ponsel Tania berdering, "Saya terima telpon dulu" ijin Tania ke nenek Gemmy.


"Halo Angel" sapa Tania.


"Non, anda dicari tuan William di kantor. Beliau menunggu kedatangan anda" jelas Angel.


"Ada perlu apa?" telisik Tania.


"Sepertinya tentang nyonya Marsha. Tadi tuan William menyinggung sedikit tentang kasus itu" imbuh Angel.


"Oke, aku meluncur sebentar lagi. Suruh dia menunggu" kata Tania.


"Santai aja non, tuan William sedang ngobrol dengan nona Maura dan tuan Hadinoto di ruangan mereka" lanjut Angel.


"Baiklah" Tania menutup panggilan dari Angel.


Saat Tania menerima panggilan telpon dan sedikit menjauh posisinya dari nenek Gemmy, Arka mendekati sang nenek.


Arka meyakinkan bahwa dia belum sedekat itu dengan Tania. Arka juga menceritakan bagaimana dia kenal Tania dan kebetulan barengan dengan Tania yang sedang galau karena ditinggalin pacarnya tunangan.


"Wah, kok bisa kebetulan sekali ya. Timing yang pas Tania sudah sendiri. Nenek ingin segera melamar dia untuk kamu Arka" sambut nenek Gemmy membuat Arka menepuk jidat.

__ADS_1


Pusing dengan kata-kata yang diucapkan nenek Gemmy.


"Nenek sudah terlalu lama menunggumu Arka. Saat kau menikah nanti, kau harus siap meneruskan semua milik keluarga Rahardjo. Nenek sudah terlalu renta untuk mengawasi semua" ucap nenek membuat Arka terdiam.


"Meski ada papa mu, tapi kamu yang paling berhak meneruskan semua yang telah dirintis oleh mendiang kakekmu" nenek masih meneruskan bicara.


Arka paham, apa arti ucapan yang barusan nenek bicarakan. Karena dialah pewaris tunggal Rahardjo Grup. Papa Arka hanyalah seorang menantu di keluarga Rahardjo. Dan tidak ada hak untuk semuanya.


Sampe sekarang nenek Gemmy masih mempercayakan ke papa Arka, hanya karena pesan mendiang mama Arka yang ingin semua dipegang oleh papa Arka, sebelum Arka sendiri siap untuk menjalankan.


"Bulan depan, nenek akan mengadakan rapat darurat. Kau harus bersiap untuk itu" perintah nenek.


Arka masih merenung.


"Dan akhir bulan ini, nenek akan melamar Tania" ucap nenek. Arka mendongak. Terdengar ponsel yang terjatuh, ternyata ucapan nenek tadi bersamaan dengan Tania yang akan pamit kerja.


"Bilang ke orang tua kamu Tania, nenek akan melamar kamu untuk Arka dua minggu ke depan" ucap nenek tak ada keraguan.


"Hah????" Tania bengong dan tidak tau harus menjawab apa.


"Ayo kuantar kamu ke kantor" kata Arka yang sadar kalau Tania sedang bingung menjawab ucapan nenek Gemmy.


Sepeninggal Tania dan Arka, "Hanya ini yang bisa memaksamu untuk segera menikah Arka. Maafkan nenek. Nenek tak ingin kamu terus mencari gadis kecil yang menolongmu dulu, yang bisa saja dia meninggal saat kejadian itu" kenang nenek Gemmy. Karena pasca kejadian, gadis kecil itu tidak diketahui keberadaannya.


Arka yang mengalami trauma hebat pasca kejadian kebakaran. Perlu waktu yang lama untuk membuat Arka kembali ceria lagi. Bahkan karena terlalu berobsesi mencari keberadaan gadis itu, Arka seolah menutup diri terhadap semua teman wanitanya.


Di dalam mobil sport, Tania mencerca Arka dengan berondongan tanya.


"Apa maksud nenek kamu tadi. Bisa kasih penjelasan?" sergah Tania.


"Enggak, aku juga nggak tau apa yang nenekku rencanakan" jelas Arka.


"Atau kau punya rencana licik?" selidik Tania membuat Arka menepikan mobil.


"Ini bukan sidang nona" Arka menyentil kening Tania.


"Waspada harus di mana saja dong" sungut Tania. TatapanTania seakan meminta penjelasan dari Arka.


"Aku sudah jujur padamu. Apalagi yang musti kujelaskan" Arka mulai menjalankan kembali laju mobil.


"Ya sudah, pikirkan nanti saja. Aku harus segera menemui tuan William" kata Tania.


"William, masih berani dia menemui kamu? Setelah apa yang dilakukannya kemarin" tandas Arka.


"Jangan kau temui" larang Arka.


"Tadi asistenku bilang kalau tuan William mengatakan tentang klien yang sedang kutangani" jelas Tania.


"Maka aku harus menemuinya" sambung Tania.

__ADS_1


"Aku temani" Arka menimpali.


"Sepertinya anda tidak ada kapasitas untuk itu" tolak Tania.


"Anggap saja aku melindungimu dari kelicikan William" kata Arka.


"Emang kau nggak kerja?" telisik Tania.


"Enggak, seharian ini aku akan nemenin kamu. Kali aja aku dikasih rahasia menakhlukkan mama mu...he...he..." Arka terkekeh.


"Emang mamaku buas?" sahut Tania membuat Arka semakin terbahak.


"Mana aku tahu, kan belum kau kenalin" kata Arka tak mau kalah. Membuat Tania semakin memanyunkan bibir.


"Tania, kalau nanti mama mu memintaku melamarmu bagaimana?" tanya Arka.


"Nggak mungkin. Mama ku hanya ingin mengenal orang yang telah berani membuat putrinya tak pulang semalaman" goda Tania.


"Galak dong" sahut Arka.


"Ya begitulah" ledek Tania.


"Ntar kalau mamamu minta seperti yang aku bilang tadi gimana?"


"Melamar? Nggak mungkin. Aku taruhan dech" ujar Tania.


"Taruhannya apa?"


"Dua ribu dolar mu kembali" tegas Tania tanpa keraguan.


"Oke,...tapi kalau aku yang menang. Kita lanjutkan acara tunangan itu menjadi beneran" terang Arka.


"Eh..eh...mana bisa begitu???" sahut Tania.


"Bisa, itu sudah menjadi aturan main. Kalau kamu nggak setuju, sore nanti aku tak akan ikut kamu ke rumah" Arka menimpali.


"Curang" Tania menyilangkan tangan di dada dan memulai aksi diam.


Arka tertawa melihat ulah Tania.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.


Buat nambah imun othor, biar semangat nulis 😊😊😊


Klik juga dong iklannya

__ADS_1


__ADS_2