
Arka mulai diserang kantuk saat rebahan di pangkuan sang istri.
Sementara mulut Tania tak berhenti mengunyah potongan buah yang dibawakan Arka saat membuat susu tadi. Sedangkan mata nya fokus melihat sebuah drama korea yang sedang tayang.
Tania sampai geregetan melihat tokoh wanita yang ditindas itu.
"Loh? Kok sudah bersambung aja sich? Nanggung" celetuk Tania gemas.
Tania pun mengalihkan ke chanel yang lain, berita tentang seorang pejabat yang tak henti-hentinya nangkring di tivi nasional.
"Kok ini sih? Nggak ada berita lain apa" gerutu Tania.
Tania rubah chanel lain, eh yang muncul sinetron dengan cerita yang terlalu dipanjang-panjangin jadinya ngebosenin.
"Ini lagi yang muncul" kata Tania sendirian, karena Arka telah terbuai mimpi.
Akhirnya apa yang ditonton Tania, pertandingan bola yang kebetulan sedang main adalah klub dengan fans yang luar biasa banyak. Klub bola yang identik dengan warna merah itu.
"Wah, sepertinya seru juga kalau nonton langsung di stadion" gumam Tania.
"Week end ini aku ajak suamiku ah" Tania masih saja bicara sendiri dengan mata tak beralih dari televisi.
Camilan dan buah telah tandas, tapi rasa lapar kembali menyerang.
"Kwetiau sepertinya enak" kata Tania.
"Yank...yank...kakiku kesemutan nih" bilang Tania dengan mengusap kening sang suami.
Arka hanya melakukan pergerakan sedikit dan tak jadi bangun.
"Yank, geser dikit. Kaki ku kesemutan" ulang Tania yang membungkuk untuk ngebangunin sang suami.
Nyatanya malah aset kembar yang sekarang lebih kencang dan besar itu malah menyenggol singa yang lama tak mendapatkan jatah itu.
Arka langsung saja membuka mata lebar, dan langsung turn on.
"Jangan banyak gerak, diam dulu" ucap Arka mengagetkan Tania.
"Kamu nggak ngigau kan?" tanya Tania. Kaget saja dengan perkataan Arka yang tak sinkron dengan usahanya ngebangunin tadi.
Tangan Arka membimbing tangan Tania ke arah inti tubuh.
"Hah?" Tania kaget dengan hasil rabaannya yang menemukan sebuah benda panjang nan kencang itu.
"Salah siapa ngebangunin" tandas Arka.
"Kan nggak dibolehin sama Om Abraham yank?" tukas Tania dengan bodohnya.
"He...he...kan bisa dengan cara lain yank" terlihat senyum mesum di bibir Arka.
Lama tak bergelut, membuat Arka membara saat ini.
Tangan Arka pun mulai tak terkondisikan.
"Apa nggak bahaya yank?" Tania masih saja berusaha mengelak.
Arka menggeleng. "Enggak asal nggak dimasukin. Plissss dong yank" rayu Arka dengan mata yang sudah berkabut.
Tania akhirnya pasrah kala tangan Arka sudah menemukan tempat favoritnya.
Dengan lincah, kancing baju Tania telah tersibak dan bibir Arka sudah berada di puncak aset yang bagai buah ceri ranum minta segera dilahap.
Semantara tangan yang satu dengan lincah memainkan yang lain.
"Yank, tambah besar dan kencang" bisik Arka di kala menyes4p ceri segar itu.
Des4han lolos juga dari mulut Tania. Lama tak melakukannya membuat keduanya sama-sama bersemangat.
Dengan pintar Arka menaruh benda panjang miliknya di tengah aset kembar sang istri. Bahkan kadang sengaja dia senggolkan di puncak.
__ADS_1
Tangan Tania memegang kedua aset nya itu, sementara Arka bergerak turun naik untuk memuaskan tongkat besi yang lama tertidur itu.
Sungguh pintar Arka melakukan. Tanpa menyakiti calon bayi, tapi hasr4t tetap tersalurkan...he...he...
Meski rasa puas tak sama jika bersarang di tempatnya, tapi lumayanlah daripada tak sama sekali.
"Makasih ya yank" terlihat senyum puas di wajahnya.
Arka dengan telaten membersihkan sisa-sisa percint4an yang masih menempel di aset kembar sang istri. Malah dengan sengaja dia menggigitnya lagi.
"Awh, sakit yank" sela Tania.
"Abis gemes banget aku lihatnya" bilang Arka.
"Yank" panggil Tania.
"Heemmmm..."
"Aku lapar" bilang Tania dengan terus terang.
Mata Arka melotot, kaget dengan perkataan sang istri.
"Biasa aja. Kondisikan tuh mata" ucap Tania sewot.
"He...he...kan sudah kukupasin buah yank" karena saking asyiknya menikmati ceri segar, Arka belum tahu kalau kupasan buahnya tadi telah tandas menyisakan wadah kosong di meja.
"Tuh" tunjuk Tania dengan mata mengarah ke tempat yang dimaksud.
"Hah? Habis yank?" tanya Arka tak percaya.
"Yank, laper" ulang Tania.
"Iya...iya...mau makan apa cintaku, sayangku, belahan jiwaku?" tanya Arka.
"Kwetiau" bilang Tania.
Arka melihat jam yang berdetak di dinding. Jam satu.
"Iya...iya...aku cariin" tukas Arka dengan mengacak rambutnya kasar.
"Aku ikut" pinta Tania.
"Di luar dingin. Tahu sendiri hujan barusan reda" Tania malah mengeraskan suara tangis.
"Iya...iya...boleh ikut. Tapi bersihkan dulu tuh badan dan cuci muka" ajak Arka.
"Gendong" balas Tania dengan manja.
Sabar Arka, nikmatin aja prosesnya. Baru juga berapa hari, nggak boleh ngeluh. Demi calon Arka yunior. Batin Arka menyemangati dirinya sendiri.
Dan disinilah mereka berdua sekarang. Di dalam mobil menyusuri jalanan kota yang nampak lengang.
Arka masih berpikir, kemana mau melajukan mobilnya. Dia buta sama sekali tentang info penjual kwetiau jam segini. Sementara Tania malah terlelap di sampingnya.
"Kuajak pulang, yang ada dia pasti marah" gumam Arka.
"Kutelpon Pandu aja lah. Siapa tahu dia ngerti penjual kwetiau yang buka dua puluh empat jam" celoteh Arka dan meraih ponsel untuk menelpon Pandu.
Tut....tuuuttt....tuttttt...belum juga terangkat.
"Sialan, susah amat nelponin Pandu. Sekali lagi tak kau angkat, bonus kamu bulan ini kutiadakan Pandu" umpat Arka sementara yang diancam tak tahu.
Dan sekali lagi Arka menelpon Pandu.
"Siap tuan" kata Pandu di seberang.
"Siap...siap...siap apanya? Sedari tadi ditelponin nggak diangkat. Kemana saja kau?" kata Arka mencelos.
"Tidur tuan" tukas Pandu. Mungkin saja dalam hatinya sekarang merutuki sang bos yang nelpon tak kenal waktu itu.
__ADS_1
"Ada apa tuan? Tumben" sambung Pandu.
"Apa kau tahu penjual kwetiau jam segini?" tanya Arka dengan mata sambil tengok kanan kiri untuk melihat penjual pinggir jalan. Barangkali ada penjual yang dimaksud.
"Tuan di daerah mana?" lanjut Pandu.
"Hemmmm...di sekitar bundaran dekat pusat kota" beritahu Arka.
"Oh ya tuan, lima kilometer dari situ ada pasar tradisional yang buka dua puluh empat jam. Jam segini pasti sedang ramai-ramainya. Di deretan penjual makanan salah satunya ada yang jual kwetiau" terang Pandu menjelaskan ke sang bos.
"Oke, makasih Pandu" balas Arka.
Seumur-umur baru kali ini Arka menginjakkan kaki di pasar tradisional. Yang menurut Arka baunya sedikit enggak banget.
Tapi dengan ini Arka mengetahui ada dunia yang lebih seru daripada duduk di balik meja.
"Tuan ganteng, nyari apa?" celetuk seorang tukang becak yang sedang mangkal.
Ramah-ramah juga orang-orang di sini. Batin Arka.
"Pak, tahu nggak penjual kwetiau?" tanya Arka.
"Oooooo...ada tuan. Noh di seberang sana" tunjuk si abang becak.
"Wah, makasih pak. Akhirnya dapat juga" nada lega terdengar di suara Arka.
"Pasti istrinya lagi ngidam ya, jam segini dibela-belain nyari makanan" kata abang becak yang sebenarnya cuman ngasal aja.
"Ha...ha...tau aja pak" seloroh Arka menimpali.
"Makasih pak, aku ke sana dulu" Arka menyeberang jalan untuk membeli kwetiau permintaan sang istri.
"Bang, kwetiau seporsi ya" bilang Arka untuk memesan.
"Bentar tuan, kulihat dulu. Sepertinya tadi abis" tukas si abang penjual.
"Matih gue...kalau abis mau nyari ke mana lagi" kata Arka sambil mengusap tengkuknya.
Abang penjual mendekati Arka.
"Maaf tuan, tapi hanya tinggal setengah porsi" kata penjual dengan nada menyesal.
"Enggak apa-apa. Bungkusin aja" pinta Arka.
"Baik, tunggu sebentar" abang penjual dengan cekatan membuatkan pesanan Arka.
Arka kembali ke mobil setelah mendapatkan pesanan sang istri yang masih terlelap.
Hampir jam tiga pagi Arka dan Tania sampai di apartemen.
Tania berjalan dalam gandengan Arka sementara tangan yang satu menenteng kwetiau setengah porsi tadi.
"Yank, kupindahin piring dulu kwetiaunya" bilang Arka dan mendudukkan sang istri di ruang tengah.
Saat balik, Tania malah rebahan dan tidur nyenyak.
"Yank, lekas dimakan. Keburu dingin ntar" Arka menoel pipi Tania.
"Malas yank, besok pagi aja ya kumakan" Tania malah membalikkan badan membelakangi Arka.
Cobaan apalagi Tuhan. Batin Arka yang akhirnya menyusul Tania rebahan di ruang tengah apartemen.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π