
Semingguan ini Arka dibuat kalang kabut dengan cutinya Pandu sang asisten.
Pandu ijin cuti menikah dengan Angel yang merupakan asisten Tania.
Arka sibuk, demikian juga Tania. Tania menghandel semua kerjaan bersama Maura.
Perut Tania yang membesar karena usia kehamilan sudah sembilan bulan tak menghalangi aktivitasnya untuk bergerak.
Pemintaan Arka untuk membuat Tania terdiam di rumah tak berhasil. Akhirnya Arka mengalah dengan membiarkan sang istri tetap bekerja meski tak boleh melakukan hal-hal yang berat.
Tania selalu pintar mencari alasan, jika Arka mulai melarangnya bekerja.
Yang pasti Tania tak ingin merasa bosan karena berdiam diri di rumah.
Padahal kalau malam, tangan Arka tak boleh berhenti mengelus pinggang yang mulai terasa tak nyaman. Tidurpun inginnya di lengan Arka yang sebelah. Meski kadang terasa kebas kedua tangannya.
"Yank, kalau aku tak bisa melahirkan secara normal bagaimana?" tanya Tania tiba-tiba.
"Kenapa? Ada yang dicemaskan?" ujar Arka penuh kesabaran menanggapi keluhan sang istri.
Tania mengangguk.
"Apa?" tanggap Arka.
"Melahirkan itu sakit, beneran nggak sih yank?" tanya Tania selanjutnya.
Sebagai seorang dokter, Arka menjelaskan dengan penuh kesabaran sesuai teori yang dia dapat waktu kuliah.
Tangannya pun tak berhenti mengusap pinggang sang istri kala menjelaskan.
Panjang lebar Arka menjelaskan, saat dia tengok ke arah sang istri, eh malah Tania sudah nyenyak sekali tidurnya.
"Love you sayang" kata Arka dengan mengeratkan pelukan.
Arka elus perut sang istri, "Sehat-sehat ya nak, jaga selalu mama kamu" ucap Arka.
Jam tiga dini hari, Tania tiba-tiba terbangun.
"Sayang...sayang...kok basah sih?" kata Tania berusaha membangunkan suaminya.
Arka hanya menggeliat, karena baru saja bisa tertidur.
"Heemmmm" Arka reflek membalikkan badan.
"Sayang...bangun dong" Tania menggoyangkan tubuh Arka.
"Ada apa sayang????" jawab Arka dengan mata masih enggan membuka.
"Kenapa basah semua ni?" Tania masih saja panik.
Meski telah banyak buku yang dibaca, dan juga setiap periksa selalu mendapat penjelasan dari dokter Abraham. Menghadapi hal seperti itu, ternyata tak menjamin untuk tak panik.
Arka bangun, dan melihat apa yang terjadi.
"Ini sih ketuban sayang, sepertinya sudah waktunya kamu melahirkan" ucap Arka berusaha tenang. Dia tak ingin membuat Tania bertambah panik, meski dalam hatinya merasakan kecemasan yang luar biasa.
"Terus????" bilang Tania.
"Ya ke rumah sakit sekarang" jawab Arka.
"Aku takut yank" kata Tania.
"Hussssstttt, fokus. Nggak usah mikirin macem-macem. Aku akan selalu di dekat kamu" ulas Arka, dengan jari telunjuk dia tempelkan di bibir sang istri. Menganjurkan Tania untuk tetap tenang dan tidak banyak bicara.
"Kamu baring aja, jangan banyak jalan. Semakin dipakai jalan, cairan itu semakin banyak keluar. Aku siap-siap dulu" tukas Arka dan beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka.
__ADS_1
Mobil menyusuri jalan utama yang masih lengang itu.
Sampai di lobi IGD rumah sakit Suryo Husada, mobil Arka telah disambut oleh dua orang petugas.
"Ada yang bisa dibantu tuan?" tanya salah satunya.
"Istriku mau melahirkan" jelas Arka.
Mendengar itu keduanya langsung mengambil brankar untuk ditempati oleh Tania.
Saat didorong di atas brankar, tangan Tania tak lepas menggenggam lengan sang suami.
Bahkan Tania tak mau ditinggalkan kala diperiksa oleh dokter jaga.
Tania yang biasanya tak kenal rasa takut, dan cenderung apa adanya merasakan kecemasan yang luar biasa saat ini.
"Tenang sayang, pakai berdoa ya. Allah pasti kasih yang terbaik" Arka menenangkan.
Meski masih takut, dengan didampingi oleh Arka semua pemeriksaan telah selesai dilakukan.
"Bagaimana mba?" tanya Arka ke petugas yang memeriksa.
"Sepertinya memang ketuban yang banyak keluar. Tapi pembukaan masih satu centi. Jantung bayi juga dalam batas normal" jelasnya.
Arka pun mengangguk.
"Saya pamit undur diri tuan, hasil pemeriksaan akan saya konsulkan ke dokter Anita spesialis kebidanan dan kandungan" dokter itu berlalu dari hadapan Arka dan Tania.
"Emang nggak apa-apa sayang? Ketuban aku keluar duluan?" tanya Tania yang memang awam dengan keadaannya saat ini.
"Nggak apa-apa. Kita lihat nanti ya, semoga semua lancar" tukas Arka sambil berharap.
Arka menghubungi nenek dan juga mama Rosa, memberi kabar kalau Tania sekarang berada di rumah sakit.
"Apa saran dari dokter Anita?" tanya Arka.
"Sementara diobservasi dulu, karena ketuban belum lama pecah. Dan diharapkan nanti pembukaan akan bertambah secara fisiologis" terang dokter itu.
"Kami akan pasang infus nyonya" kata bidan yang menyusul dengan membawa perlengkapan infus dan beberapa alat suntikan.
"Aku mau diapakan?" tanya Tania sambil menarik lengannya.
"Hanya dipasang infus sayang. Seperti saat kamu operasi waktu itu lho" kata Arka untuk menenangkan sang istri.
Tania pun akhirnya meluruskan lengan kiri untuk dipasangi cairan infus.
Tidak ada tiga puluh menit, nenek Gammy dan mama Rosa datang tergopoh menghampiri Arka yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Mana Tania?" tanya calon oma itu.
"Di dalam, sedang dipasang infus" terang Arka.
"Apa sudah lahir cicit nenek?" tanya nenek.
Arka hanya bisa mengusap tengkuknya, "Yaelah Nek, apa nggak bisa tuh diralat pertanyaannya?" tukas Arka.
"Baru datang setengah jam, langsung lahir aja sih" celetuk Arka.
"Yeeiiรฌ...bisa jadi" sela mama Rosa.
"Terus keadaanya bagaimana kalau begitu, jelasin dong sama nenek. Kamu nggak tahu sih, gimana kuatirnya nenek sekarang" jelas nenek.
"Masih diobservasi, menunggu perkembangan selanjutnya" akhirnya Arka menjelaskan.
Tania dipindahkan ke ruang khusus untuk persalinan dan hanya boleh ditungguin oleh satu orang.
__ADS_1
Sementara nenek dan mama, disuruh Arka menunggu di kamar vvip yang telah dibooking sebelumnya.
Kebetulan sebelah Tania ada juga pasien yang hendak melahirkan. Meski ruangan tindakan itu luas, Tania masih bisa mendengar bagaimana pasien itu menarik nafas untuk mengurangi nyeri saat kontraksi.
"Kok aku nggak merasakan apa-apa yank?" tanya Tania ke Arka.
"Smoga saja nggak pakai sakit langsung lahir ya yank" harap Arka.
"Aamiin. Tapi ada ya yang seperti itu yank? Di buku yang aku baca, katanya harus ada kontraksi dulu biar terjadi pembukaan. Bener nggak sih?" Tania mengajak ngobrol Arka untuk mengurangi rasa cemas.
Tak lama setelah Tania dipindah, dokter Anita datang menghampiri mereka.
"Apa kabar nyonya Tania?" sapanya akrab.
"He...he...beginilah dok. Aku datang untuk meminta bantuan anda lagi" jawab Tania bercanda.
"Oke aku periksa dulu ya" tukas dokter Anita.
Tania mulai terbiasa dengan pemeriksaan-pemeriksaan itu.
"Pembukaan itu sampai berapa sih dok?" tanya Tania, karena sedari tadi belum merasakan nyeri kontraksi.
"Sepuluh dong" imbuh dokter Anita.
"Banyak juga ya pembukaannya...he...he..." Tania menimpali.
"Gimana? Masih semangat untuk melahirkan normal kan?" tanya dokter Anita.
"Aku sih semangat aja dok, tapi tergantung yang mengalaminya saja" canda Arka membuat Tania mencubit Arka.
"Ini kan juga akibat ulah kamu yank" sela Tania.
Proses pembukaan sudah lumayan lama. Empat jam sudah Tania diobservasi. Bahkan sampai sekarang pun Tania tak begitu merasakan sakit. Malah Arka yang harus bolak balik ke toilet karena merasakan mules yang hilang timbul.
Dokter Anita kembali memeriksa, dan raut mukanya nampak berubah.
"Apa nggak berasa ingin BAB gitu kak?" tanya dokter Anita yang sepertinya merasa aneh.
Tania mengangguk, "Tapi hasr4t untuk nongkrong belum seratus persen dok" imbuhnya.
Arka baru balik dari toilet.
Barulah Tania meringis merasakan sakit yang luar biasa.
"Dokter...." teriak Tania.
"Ada apa sayang?" Arka menggenggam tangan sang istri.
Dokter Anita dan asistennya mendekati Tania dengan alat pelindung diri lengkap.
"Sudah lengkapkah?" tanya Arka.
"Sepertinya begitu" tandas dokter Anita.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
๐
__ADS_1