
Arka meminta Pandu untuk mengacarakan rapat direksi keesokan hari.
"Pandu, kamu siapkan semua. Jangan ada yang terlewat" perintah Arka.
"Siap Tuan" ulas Pandu.
"Kita evaluasi proyek yang direncanakan oleh papa" imbuh Arka.
"Yang pelaksana utamanya tuan William?" tukas Pandu.
"Heeemmm...kamu juga panggil pihak rekanan yang menjadi mitra tuan William" lanjut Arka.
"Baik Tuan" Pandu hendak melangkah keluar ruangan CEO.
"Oh ya Pandu, undang juga tim legal" perintah Arka selanjutnya.
"Nona Tania beserta tim?" Pandu balik menghadap Arka.
"Iya" singkat Arka.
Arka memang akan meninjau ulang semua proyek yang sedang berjalan dan akan berjalan di Panapion.
Karena setelah menjabat CEO beberapa minggu ini, Arka menemukan beberapa kecurangan dari pihak internal maupun mitra kerjasama.
Arka tak ingin memberi celah sedikitpun bagi mereka yang merugikan perusahaan.
Saat sedang serius mencermati berkas di hadapannya, ada yang mengetuk pintu dari luar.
Arka sekilas mendongak untuk melihat siapa yang datang di balik pintu kaca yang tertutup.
"Silahkan masuk" sambut Arka saat tahu tuan William lah yang mengetuk pintu.
"Selamat pagi tuan" sapa tuan William.
"Pagi. Ada apa tuan William? Sekiranya pagi-pagi mendatangi ruangan ku?" tanya Arka.
"Maaf tuan Arka telah menganggu kesibukan anda. Saya hanya ingin menyampaikan kalau megaproyek kita di kota A mengalami sedikit kendala" jelas tuan William.
Dahi Arka mengkerut, "Bisa jelaskan? Karena saya belum menerima laporan itu dari Pandu" pinta Arka.
"Baik tuan, intinya proyek kita kesendat karena dana yang kita siapkan ternyata kurang" tuan William serius bicara.
Bagaimana bisa dia bilang kekurangan dana, bukankah sudah menjadi tugasnya selaku direktur keuangan. Pikir Arka.
Dahi Arka semakin mengkerut, "Bukannya anda sendiri yang sudah menyetujui semua alokasi dana yang direncanakan?" kata Arka.
"Benar tuan, tapi ternyata di tengah jalan ada kendala. Buruh yang kita karyakan, minta penambahan gaji. Bahan baku ternyata juga naik tajam" lanjut tuan William.
"Baiklah tuan, siapkan laporan tertulisnya. Akan saya evaluasi terlebih dahulu" Arka menimpali.
"Tapi ini hal yang urgen tuan Arka" kata William memaksa.
"Kalau begitu laporan anda saya tunggu hari ini juga, sehingga saya bisa memutuskan secepatnya" tegas Arka.
Tuan William pamit undur diri dengan hati gondok.
"Pandu, kamu selidiki megaproyek di kota A. Hari ini juga kamu laporkan" perintah Arka.
Semakin kesini Arka berpikir, kenapa banyak proyek yang amburadul ketika dipegang oleh papa nya.
Makanya perkembangan Panapion stagnan semenjak dipegang oleh Tuan Rendra.
"Apa ada yang salah?" batin Arka bermonolog.
__ADS_1
Arka sangat disibukkan dengan aktivitasnya di Panapion.
.
Sementara Tania sengaja datang terlambat hari ini, karena masih mengantar mama Rosa untuk cek up rutin kesehatannya.
Tania melempar tas ransel yang dijinjing, saat sudah duduk di kursi kebesarannya.
"Non, tadi tuan Pandu kasih kabar" Angel menghampiri.
"Pandu, asisten Arka?" tukas Tania sambil menyenderkan kepala di kursi.
"Iya Non, bilangnya besok ada rapat direksi di Panapion. Anda beserta tim diwajibkan hadir" beritahu Angel.
Tania menarik nafas panjang. Peluang bertemu dengan Maura terpampang lagi di depan mata.
"Bersama Maura lagi?" telisik Tania.
"Ya pasti dong Non" timpal Angel.
"Sudah kau kasih tau dia?" tanya Tania.
"Sudah Non, tapi tuan Felix sepertinya berhalangan hadir karena besok beliau ada sidang" ulas Angel.
"Heemmmm baiklah" Tania menghela nafas berat.
"Non, aku pamit keluar sebentar ya? Mau beli camilan" pamit Angel.
"Mau nitip?" tawarnya.
Tania hanya menggeleng menanggapi ucapan Angel.
Tania mengeluarkan berkas yang dia ambil dari Anthoni waktu itu.
Dia kembali menelisik lembar demi lembar setumpuk berkas di depannya.
"Hemmm, sepertinya ini sebuah kontrak kerjasama" gumam Tania bermonolog.
"Kok kucel sekali" imbuhnya sendirian.
Dia amati selembar kertas itu.
Disitu hanya terlihat beberapa bubuhan tanda tangan antara tuan William, tuan Hadinoto. Yang aneh di sana juga ada tanda tangan nyonya Gaby.
"Ada hubungan apa mereka?" Pikir Tania.
"Kalau hubungan kerja, tak mungkin ada tanda tangan nyonya Gaby disitu" ucap Tania bergumam.
Tania berusaha mencari lembar depan dari surat kontrak itu. Karena yang dia temukan hanya lembar terakhir. Isi kontrak tidak ada di sana.
Dia balik-balik lagi berkas di meja.
Sampai Angel kembali, berkas belum juga ditemukan Tania.
"Nyari apaan sih Non, kok sampai berantakan begitu?" celetuk Angel.
"He...he...sini mendekatlah!" tukas Tania.
Angel melakukan apa yang diminta sang bos.
"Tolong kamu cari lembar awal ini" tunjuk Tania ke berkas yang ada bubuhan tanda tangan itu.
Angel menggaruk kepala nya, "Kusut banget tuh kertas Non?" sela nya.
__ADS_1
"Apa masih dipakai?" lanjut Angel.
"Makanya kamu cari bagian depannya, baru aku putuskan masih dipakai atau tidak" seloroh Tania.
"Oh ya Angel, kalau tak ketemu di sini. Tolong cari di tempat Anthoni ya" pinta lanjutan Tania.
"Ogah aku, ketemu sama manusia es itu" Angel mengungkapkan keengganan.
"Yaelah Ngel, sogok dia pake nasi padang. Pasti lumer dech Anthoni" sambung Tania.
"Benarkah?" sahut Angel.
"Heemmmmmm..." tanggap Tania.
"Kalau gitu, mana?" Angel menengadahkan kedua tangannya.
"Untuk?" Tania menatap Angel.
"Fulusnya Non, buat beli nasi padang" sambung Angel.
"Ha....ha...nggak mau rugi kau ternyata" Tania terbahak tapi tetap menyerahkan selembar uang seratusan ribu.
"Nih, kamu beli aja sekalian. Biar bisa makan berdua sama Anthoni" suruh Tania.
.
Di Panapion, tuan William mengontak Benzema untuk menyiapkan laporan aliran dana keluar megaproyek di kota A.
"Kok mendadak sekali tuan?" tanya Benzema.
"Sudah siapkan saja" tukas William.
"Baik tuan. Tapi bukannya proyek di sana lancar?" Benzema kembali bertanya.
"Lancar apaan? Pekerja di sana banyak tuntutan, apalagi harga bahan baku juga menaik tajam" jelas William.
"Bukannya semua masih dialokasikan sama sesuai rencana awal?" Benzema belum juga beranjak.
"Benzema, lakukan saja apa yang aku perintahkan" kata tuan William dengan nada mulai menaik.
"Ba...ba...baik tuan" kata Benzema dengan gugup.
Dan benar saja, siang itu tuan William kembali menghadap dengan laporan yang diminta oleh Arka.
"Tuan, ini laporan yang anda minta pagi tadi. Tolong secepatnya beri keputusan" ujar Tuan William.
"Cepat juga anak buah anda membuat laporan yang kuminta?" timpal Arka.
"Anak buah saya semua cekatan tuan Arka" tuan William memuji.
"Baiklah. Serahkan saja semuanya ke Pandu. Nanti akan kuteliti setelah semua kerjaan ku selesai" perintah dingin Arka.
Pandu menerima map yang dibawa oleh tuan William.
"Silahkan keluar tuan William. Masih banyak kerjaan yang musti kurampungkan sebelum rapat direksi besok" pinta Arka seakan mengusir William.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
__ADS_1
Klik juga dong iklannya
π