Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Pemeriksaan Arka


__ADS_3

Arka semakin kaget dengan pemberitahuan Tania.


"Astaga, kok beraninya dia datang ke sini" tegas kata Arka dengan pandangan menajam.


"Kamu juga tahu sayang, kalau mamanya Arga masih ada?" telisik Tania.


"Pasti dia datang dengan modal wajah sedihnya?" tebak Arka.


"Kok kamu tahu?" sela Tania.


"Asal kamu tahu yank, apa alasan dia meninggalkan Arga waktu itu?" imbu Arka.


"Apa?" sela Tania penasaran.


Arka menjelaskan apa yang dia ketahui semua tentang Arga.


"Pantas saja Arga sangat membenci mamanya" tukas Tania.


"Tapi apa tidak ada secuilpun tersisa maaf itu dari diri Arga?" Tania terus saja berucap. Sementara Arka hanya mengangkat kedua bahunya.


"Jadi makan nggak nih?" tanya Arka.


"He...he...siap tuan muda" sahut Tania dengan tertawa.


"Kita makan di sekitaran bengkel aja yank, sekalian ngasihkan ini ke Arga" ajak Tania.


"Kalau aku mendingan kau simpan aja dech. Kalau itu kau serahkan Arga pasti langsung dia tolak" imbuh Arka.


"Ini amanat loh yank. Alangkah baiknya kita berikan saja. Mau ditolak itu haknya Arga" jelas Tania.


"Terserah kamu dech" timpal Arka.


Dan benar saja, Arga yang barusan gabung di resto tempat Arka dan Tania makan siang. Setelah menerima bungkusan itu, langsung membuangnya ke tempat sampah.


"Makasih Tania. Untuk selanjutnya kau tak usah repot-repot mengantar ke aku. Langsung buang saja" begitulah reaksi Arga.


Mereka bertiga melanjutkan acara makan tanpa banyak kata.


"Arka, kapan berangkat ke Amrik?" tanya Arga saat mereka selesai makan.


"Minggu ini" jawab Arka.


"Loh, bukannya masih Minggu depan yank?" sela Tania.


"Aku majuin. Sepulang dari kota A kita bersiap berangkat" beritahu Arka.


"Kalau Arga nggak nanya, pasti kau nggak kasih tau aku" sungut Tania.


"Kasih tau lah, cuma Arga yang nanya duluan...he...he..." kekeh Arka Danendra tak mau disalahkan.


.


Arka dan Tania berangkat ke Bandara, setelah pulang dari kota A. Panapion berhasil mengakuisisi perusahaan di kota tersebut. Kota di mana Sebastian juga sedang mengerjakan mega proyek di sana. Perusahaan Arka hanyalah salah satu pendukung yang nantinya ikut mendukung perusahaan Sebastian.


Sungguh pertemanan yang menguntungkan.


"Tidurlah kalau kamu ngantuk yank. Aku akan mengecek laporan Pandu" suruh Arka yang melihat Tania menguap beberapa kali.


"Beneran? Aku boleh tidur?" pertegas Tania.


"Hemmm, nggak dibolehin pun pasti kepalamu itu akan menyandar di sini tanpa kuminta" ledek Arka sambil menepuk bahu.


"He...he..." Tania beringsut.

__ADS_1


Karena waktu tempuh yang lebih sehari semalam, Tania sampai capek tiduran melulu.


"Yank, masih lama?" tanya Tania yang barusan bangun karena pergerakan yang terbatas. Dan ternyata Arka berada di belakangnya dengan posisi memeluk Tania erat.


"Heemmmm, kalau pilot pesawat sudah menghentikan pesawat ini itu tandanya kita sampai yank" kata Arka dengan mata tetap terpejam.


"Itu mah, Balita juga tau" sungut Tania.


Arka tersenyum dalam tidurnya. Damai sekali rasanya memeluk sang istri dalam dekapan.


Baru juga turun dari pesawat, ponsel Arka sudah bunyi aja.


Beberapa notif pesan masuk. Arka abaikan. Tapi tidak pesan dari dokter Jack.


"Aku akan datang ke hospital setelah aku istirahat di hotel" jawab Arka membalas pesan dokter Jack.


"It's okay bro" tulis dokter Jack.


"Sayang, kamu istirahat aja. Aku mau keluar dulu" pamit Arka saat Tania masih rebahan.


"Mau kemana? Aku ikut. Nggak mau aku sendirian. Ini luar negeri loh yank. Ntar kalau ada bule salah masuk kamar gimana donk?" tetap saja sikap konyol itu tak tertinggal.


"Ha...ha...kau bisa aja. Padahal aku cuman bentar loh" imbuh Arka.


"Enggak, pokoknya aku ikut" paksa Tania.


"Baiklah tuan putri" Arka tertawa.


Arka menghentikan sebuah taksi.


"Katanya cuman bentar, kok malah naik taksi?" tanya Tania merasa aneh.


"Mau kemana?" lanjut Tania.


"Kok ke rumah sakit? Honeymoon macam apa nih?" seloroh Tania.


"He...he...." Arka semakin dibuat terbahak dengan ulah konyol sang istri.


"Kita mau menemui dokter Jack, ntar kukenalin" beritahu Arka saat mereka telah turun dari taksi.


"Hospital? Dokter Jack?" Tania masih saja ngedumel.


"Hai Arka. Since when did you come?" tanya dokter Jack saat bertemu Arka.


"Your wife?" lanjut dokter Jack memandang Tania.


Arka hanya menanggapi tersenyum mengiyakan.


Dokter Jack mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Tania.


Dokter Jack menyilahkan keduanya untuk masuk ruang pemeriksaan.


Berbagai alat canggih terpampang di sana. Membuat Tania membego di tempat.


"Siapa yang mau diperiksa?" tanya Tania yang belum ngeh akan keadaan.


"Your husband" imbuh dokter Jack.


"Yank" panggil Tania meminta penjelasan.


Selama ini yang dia ketahui adalah sang suami telah dinyatakan sembuh dari osteosarcoma yang dideritanya.


"Kau akan tahu setelah mengikuti semuanya nyonya Arka" jelas dokter Jack yang ternyata fasih berbahasa Indonesia.

__ADS_1


"Jangan heran, dokter Jack pernah tinggal di Indo saat melakukan penelitian" jelas Arka.


"Oh ya?" tukas Tania tak percaya.


"Really. Aku pernah tinggal di ibukota Indo, yang macetnya sangat wowwwww" kata dokter Jack sembari tertawa.


Tania tertawa kembali menanggapi ucapan dokter Jack.


"Oke dokter Arka, bisa kita mulai?" kata dokter Jack.


Arka beringsut mengikuti dokter Jack untuk memulai semuanya.


Bekas jahitan yang mengering nampak jelas di kaki Arka. Luka sepanjang lebih dari dua puluh sentimeter.


Tania sangat tahu akan hal itu. Walau awalnya dia kaget juga dengan bekas luka sepanjang itu.


Arka melakukan prosedur pemeriksaan didampingi dokter Jack. Banyak bahasa medis yang tersemat di obrolan mereka berdua. Tania banyak menyimak karena banyak juga bahasa yang tak Tania pahami.


"Sayang kalau kau jenuh, ke kantin aja" pinta Arka dan dijawab gelengan Tania cepat.


"Nggak ah. Bingung aku kalau ntar ditanya menunya" seloroh Tania dengan muka biasa.


Tapi gelak tawa terdengar dari bibir dokter Jack dan juga Arka.


"Istri kamu konyol juga" tukas dokter Jack masih dengan tawa.


"Obat awet muda dok, kalau dekat-dekat dia bawaannya ketawa mulu...Ya kan sayang?" toleh Arka ke Tania dengan tawa renyah.


"Emang aku pelawak?" sungut Tania.


"Ha...ha....tuh bener kan dok?" mereka berdua semakin tergelak membuat Tania tambah manyun.


"Kita jeda makan siang dulu aja, abis itu kita mulai lagi" saran dokter Jack.


"Thanks dok" tukas Arka.


"Gimana kalau aku yang traktir" ucap dokter Jack.


"Eh, kok malah dokter yang nraktir kami?" tanggap Tania yang merasa aneh.


"Jangan heran. Selain dokter konsulan. Dokter Jack ini senior ku di kampus" terang Arka.


"Oohhhhh, ceritanya reunian?" canda Tania.


Meski baru kenal sehari ini, dokter Jack nyatanya teman yang asyik juga.


"Apa kesibukan kamu Tania?" tanya dokter Jack saat mereka di depan menu yang dipesan masing-masing.


"Heemmmmm hanya pengangguran yang dibayar" terang Tania.


"She is a lawyer" Arka menimpali.


"Great too" puji dokter Jack.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2