
Tania berangkat ke Panapion semobil dengan tuan Felix dan juga Maura Hadinoto.
Tania duduk di depan bersama tuan Felix.
Tania sibuk melepas sepatu. Karena sebenarnya dia tak nyaman dengan sepatu heel tinggi.
"Nggak ada anggunnya sama sekali" sindir Maura dari belakang.
Tania ogah membalas, dan hanya mendiamkan ucapan Maura.
'Apa mungkin William sialan itu yang memintaku untuk datang?' Pikir Tania.
'Apa memang ancamannya saat itu benar-benar akan terlaksana' batin Tania.
"Nona Tania" panggil tuan Felix untuk kesekian kalinya.
"Eh iya tuan Felix" jawab Tania tergugup.
"Melamun ya?" goda pengacara senior Tania itu.
"He...he..." Tania malah hanya tertawa menimpali.
"Tania pasti gugup tuan Felix" sela Maura dari belakang.
"Kau gugup?" tandas tuan Felix.
"Nggak, ngapain juga gugup. Hanya merasa aneh saja, kenapa aku yang disuruh berangkat" elak Tania.
"Halo sayang, aku otewe ke Panapion nih. Tunggu aku di lobi ya" ucap manja Maura, sepertinya menelpon Benzema.
Dia sengaja memanas-manasi Tania.
Tania fokus ke jalan seperti yang dilakukan tuan Felix.
"Oh ya sayang, pasti kau sibuk ya untuk acara hari ini. Baiklah aku akan langsung ke aula perusahaan" kata Maura. Dan sepertinya Benzema tak akan melakukan apa yang diminta oleh Maura.
Tania menahan tawa nya.
"Tunangan mu sedang sibuk ya? Kasihan tak ada yang jemput" ledek Tania.
"Awas kau ya. Akan kubilang ke Benzema" sahut Maura dan bersungut.
"Bilang aja, siapa takut" dan meledaklah tawa Tania.
.
Tania duduk semeja dengan tuan Felix dan juga Maura.
Terlihat Benzema menghampiri meja mereka.
"Selamat pagi sayang" sapa Maura dan langsung memeluk pinggang Benzema.
Tania hanya mencibir melihat kelakuan mereka.
"Selamat pagi tuan Felix, Tania" sapa Benzema membuat Maura cemberut, dengan tetap memeluk pinggang Benzema.
Tania membalas dengan senyum terpaksa.
__ADS_1
Di belakang Benzema datanglah tuan William.
"Selamat pagi nona Tania" sapanya dengan senyum khas. Senyum penuh goda.
"Tuan Hadinoto tau saja apa yang aku mau, padahal aku nggak memintanya" lanjutnya.
Tuan William menyalami Tania, "Selamat datang di Panapion Nona Tania" sambut tuan William.
"Makasih tuan" singkat jawaban Tania.
'Berarti bukan dia yang menyuruh aku datang' Batin Tania bermonolog.
"Cih, gatel juga tuh cewek" seloroh Maura menyindir Tania.
Tania diam saja, malas menanggapi sindiran Maura.
Tuan William menjauh dari mereka bertiga dan gabung dengan dewan direksi yang lain.
Tania masih berpikir, siapa yang memintanya datang ke acara ini.
Sampai pembawa acara di depan meminta hadirin berdiri untuk menyambut kedatangan CEO baru, Tania masih saja sibuk dengan pikirannya.
.
Tania terbengong saat melihat laki-laki yang sangat dikenalnya, berjalan dengan sangat tegap dan berwibawa. Diiringi oleh nenek Gemmy dan juga laki-laki setengah baya berada di samping nenek.
Tania menebak, itu pasti papa nya Arka. Di belakangnya lagi beberapa pria berjas rapi nampak mengiringi langkah Arka.
Tak hanya Tania, Maura Hadinoto juga nampak melongo melihat semuanya.
Tuan William dan juga Benzema apalagi.
"Selamat pagi semua. Perkenalkan saya Arka Danendra, CEO baru di Panapion yang merupakan induk dari perusahaan Rahardjo Grub. Terima kasih untuk tuan Rendra dan juga nenek Gemmy" kata Arka diplomatis.
"Dan yang terakhir, untuk wanita yang saya cintai. Terima kasih telah hadir di sini dan terima kasih juga karena dia juga saya memberanikan diri untuk menerima tanggung jawab yang demikian besar untuk menjadi pimpinan di perusahaan ini" kata Arka.
Tepuk tangan bergemuruh di seisi aula besar itu.
Semua karyawan menyambut kedatangan sang CEO baru dengan antusias.
Apalagi karyawan wanita, terdengar bisik-bisik di antara mereka. Umumnya pasti memuji ketampanan seorang Arka Danendra.
Tania masih saja membego, syok dengan apa yang dihadapinya saat ini. Arka sudah turun panggung untuk menyalami semua dewan direksi.
"Selamat datang tuan muda, kenapa aku sampai tak mengenali anda. Padahal kita telah beberapa kali bertemu" ucap William.
'Dasar penjilat' umpat Arka dalam hati.
Sambil menyalami dewan direksi, tentu saja mata Arka menelisik untuk mencari keberadaan Tania Fahira.
Benzema Abimanyu juga melakukan hal yang sama dengan tuan William.
"Selamat datang tuan Arka" sapanya mendekat.
Arka menoleh, "Oh kau??? Laki-laki yang membuang berlian itu kan?" kata Arka.
"Berlian?" Benzema menimpali, tapi tak paham apa yang dimaksud oleh CEO baru.
__ADS_1
"Heemmmm...Tania Fahira" bisik Arka ke telinga Benzema. Benzema hanya bisa mengusap tengkuk.
Saat melihat keberadaan Tania, Arka melambaikan tangan ke arahnya.
Para karyawan wanita yang berada di belakang Tania sudah mulai gaduh sendiri. Merasa ge-er kalau sang CEO melambaikan tangan ke arah mereka. Sementara Tania sendiri hanya diam.
Arka nampak mendekati nenek Gemmy, "Nek, aku sudah melakukan seperti yang kau minta. Boleh aku pergi" bisik Arka.
"Tunggu sebentar. Tamu-tamu perusahaan belum semuanya kau sapa" sela papa.
"Ah, itu bisa nanti-nanti Pah" sahut Arka.
Papa dan nenek tak bisa memaksakan lagi. Membuat Arka berdiri di podium tadi saja, sudah menjadi kesuksesan tersendiri bagi mereka.
"Bawa Tania ke sini" suruh nenek Gemmy.
"Siap nek" jawab Arka antusias.
"Siapa Tania?" tanya papa.
Arka yang memang tak akrab dengan papanya, hanya menjawab sekilas "Calon menantumu".
Arka menghampiri meja Tania, disampingnya Maura terlihat tebar pesona.
"Ikut denganku" bisik Arka ke telinga Tania.
Tanpa menunggu persetujuan Tania, Arka telah menggandeng Tania ke meja di mana nenek Gemmy berada.
Peluk erat nenek Gemmy ke Tania yang barusan datang.
"Nenek kangen, abis ini kita bareng ya pulangnya???" pinta nenek.
"Aku sudah ijin tuan Hadinoto untuk mengajakmu" jelas Arka.
"Jangan bilang kalau kau yang memintaku hadir di sini?" ulas Tania.
"Iya, memang aku yang memintanya. Karena setelah ini, kau yang akan memimpin tim hukum di perusahaan ini" ulas Arka.
"Kalau aku nggak setuju???" sergah Tania.
"Aku paksa" jawab Arka.
Sementara Maura yang masih berada di mejanya, hanya bisa menghentakkan kaki.
Niat hati merebut Benzema biar Tania terpuruk. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dibuang ikan teri, tapi malah mendapatkan ikan paus. Begitu kira-kira kiasan yang pas untuk Tania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir.
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
💝
Vote...vote...vote...🤗🤗