Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Arkan Kabur


__ADS_3

Tania langsung melihat ponsel yang tergeletak di atas nakas.


"Sial, pake low bat segala" gerutu Tania.


Sejenak dia ambil charger dan dia colokkan ke sumber listrik.


Kalau memang Arkan kabur, semakin banyak masalah yang akan terjadi.


Arkan selalu saja membuatku pusing. Pikir Tania.


Setelah beberapa menit, Tania nyalakan tuh ponsel.


Puluhan panggilan masuk ternyata. Setelah dirinya meninggalkan ponsel nya tadi.


Ada Boy dan beberapa nomor tak dikenal.


Ratusan notif pesan masuk ke ponsel Tania.


Pertama pesan Boy yang Tania buka.


"Nyonya anda ke mana? Aku hubungin nggak bisa" ketik Boy terakhir kali.


Asisten Arkan itu pasti saat ini sedang bingung juga mencari keberadaan sang bos.


Tania menekan nomor kontak Boy yang tersimpan.


"Halo Nyonya, lama sekali anda tak bisa dihubungi?" Boy mengeluh dalam panggilan yang baru saja tersambung.


"Berita Arkan?" tanya Tania.


"Benar nyonya. Bukannya anda sudah dibuhungi pihak lapas dan juga pengadilan?" tanya Boy.


"Barusan ponsel aku mati Boy" ujar Tania.


"Hadech, bos kamu tuh ya. Padahal hanya tinggal nunggu sidang vonis aja malah buat susah" Tania mengacak rambutnya kasar. Pusing karena ulah klien nya itu.


"Apa anda dihubungi tuan Arkan?" tanya Boy.


"Belum aku cek. Sekilas sih tak ada nama dia di panggilan tak terjawab" ucap Tania.


"Oke Boy, jika ada kabar dari Arkan cepat hubungin aku" pinta Tania sembari menutup panggilan ponsel.


Tania membuka beberapa pesan yang masuk. Mungkin saja ada pesan dari Arkan di sana.


Dan betul saja, nomor tak dikenal yang mengiriminya pesan mengaku sebagai Arkan. Dia menuliskan yang pada intinya meminta maaf pada Tania karena sudah merepotkan.


Sidang vonis untuknya, Arkan minta agar Tania tetap menjadi kuasa hukumnya. Dan jangan tanya lagi keberadaan Arkan saat ini.


Tania coba tekan nomor tak dikenal itu untuk memanggil. Ternyata nomor itu telah dimatikan. Hanya jawaban operator yang dia terima.


"Issshhhh, ke mana kamu Arkan???" gerutu Tania.


Pesan yang lain Tania abaikan. Sekilas ada dari lapas dan pengadilan yang sekedar mengirimkan pemberitahuan untuknya.


"Sayang, beneran kabur?" tanya Arka menghampiri Tania yang duduk di tepian ranjang.


Tania mengangguk.


"Tuh, beritanya barusan muncul di tivi" beritahu Arka. Dengan mengambil remot di atas nakas, dia nyalakan tivi yang ada di kamar.


Dan kebetulan berita tentang Arkan sedang tayang.


"Nah, benar kan apa yang aku bilang" terang Arka.


"Heemmm, Arkan sudah menghubungi aku" ucap Tania sambil melihat tivi.

__ADS_1


"Apa katanya?" sela Arka.


"Arkan bilang jangan tanya lagi di mana saat ini dia berada" ulas Tania.


"Aku yakin, Arkan pasti akan menghancurkan musuh-musuhnya dengan caranya sendiri. Prinsip nyawa dibalas nyawa, Arkan pasti punya prinsip itu" jelas Arka.


"Aku akan minta tolong Arga saja, untuk mendetek keberadaan nomor yang dipakai Arkan tadi" tukas Tania.


"Kalau nomornya dimatikan, sama aja nyonya. Arga pasti akan kesulitan mencarinya" imbuh Arka.


"Nggak apa-apa. Paling nggak aku tahu lokasinya yang terakhir kali nomor itu dipakai" ucap Tania.


"Buat apa? Pasti Arkan sudah jauh dari lokasi itu" kata Arka mencoba memberikan usulan yang rasional untuk dipikirkan Tania.


"Kita harus coba segala macam kemungkinan yank" imbuh Tania.


"Kamu belum tahu bagaimana dunia bawah yang sebenarnya yank" ujar Arka.


"Sudah, lakukan saja apa permintaan Arkan. Biarkan yang lain menjadi urusannya. Akan sangat berbahaya buat kamu" Arka mengingatkan.


"Hhhmmmm" Tania mengangguk. Tapi anggukan Tania tentu saja meragukan Arka.


Sang istri bukanlah typikal orang yang menurut begitu saja, jika Arka memberikan masukan yang sekiranya tak sesuai dengan pola pikirnya.


Ponsel Tania kembali berdering. Panggilan Angel yang masuk kali ini.


"Non, ntar ke kantor nggak? Pagi ini ada surat masuk tentang panggilan sidang putusan untuk tuan Arkan" Angel langsung memberitahu Tania saat panggilannya tersambung.


"Aku datang agak siangan Angel" beritahu Tania.


Tania sengaja ke kantor selepas makan siang dengan diantarkan sopir.


Sementara Arka sudah berada di Panapion sejak pagi, selepas olahraga pagi tadi.


Arga pasti akan mengabarkan tentang temuannya, sesuai permintaan Tania tadi pagi. Mencari keberadaan Arkan.


"Halo Ga" sapa Tania.


"Titik terakhir nomor ponsel yang kamu kasih tadi ada di kota Z. Butuh empat jam penerbangan untuk sampai sana" terang Arga.


"Hhmmmm kota Z?" Tania masih nampak memikirkan sesuatu.


"Iyeeeessss, kota yang terkenal dengan ganja sebagai sayur mayur itu" imbuh Arga.


"Wah, sudah sampai sana aja. Jangan-jangan Arkan mau balik lagi ke dunianya yang lama" tandas Tania.


"Bisa jadi. Loe bela orang yang salah Tania" kata Arga.


"Aku yakin Arkan tidak akan melakukan hal bodoh lagi" ucap Tania tegas.


"Hidup kadang tak sesuai dengan pola pikir kita Tania. Perlu juga realistis" imbuh Arga.


"Sudah dua orang yang mengingatkan hal itu kepadaku hari ini. Harus rasionalitas dan realistis" gumam Tania. Sang suami dan Arga barusan.


Sampai di kantor miliknya, Tania baru saja duduk di kursi kebesaran dalam ruangannya.


Angel langsung saja menerobos masuk untuk mengantarkan undangan sidang putusan untuk kasus Arka.


"Hari Jum'at besok Non sidangnya" beritahu Angel.


"Terus bagaimana dong, kalau tuan Arkan belum juga ditemukan?" sambung Angel.


"Ya...sidang putusan tanpa terdakwa" tukas Tania sembari menghela nafas panjang.


Apa benar yang dikatakan oleh Arka tadi pagi, jika nyawa harus dibalas nyawa. Apakah Arkan akan melakukan itu? Pikiran itu terus saja berkecamuk di pikiran Tania.

__ADS_1


"Non, kok malah melamun sih?" Angel menyenggol lengan Tania.


"Eh...Apa Ngel?" tanya Tania tergagap, sadar dari lamunan.


"Hhhmmm, abis melamun aja sih" kata Angel sewot.


"He...he..." Tania hanya terkekeh.


Bagi Angel, lebih senang melihat sang bos bawel daripada melamun barusan.


"Non, kumintain pisang coklat keju seperti biasa ya ke bang Mamat" kata Angel.


"Boleh, yang anget ya" pinta Tania.


Tinggal tiga hari lagi sidang putusan. Semoga saja Arkan bisa ditemukan, dan tak menjadi. Kembali Tania balik ke lamunannya.


Angel kembali ke ruangan Tania tanpa membawa pisang coklat keju yang ditawarkan tadi.


"Non...Non...ayo ke ruang tunggu di depan. Ada berita yang sangat menggemparkan" beritahu Angel tergopoh.


"Ada apa?" sela Tania ikut penasaran.


"Ayolah Non, keburu selesai beritanya" Angel keluar ruangan diikuti oleh Tania.


"Ada apaan sih?" gerutu Tania karena paksaan Angel barusan.


Di sana sudah berdiri Maura dan beberapa yang lain.


"Ada apa? Kok kalian di sini semua?" tanya Tania.


Semua tak menjawab tapi melihat ke monitor tivi besar yang ada di ruangan itu.


Sebuah berita yang menayangkan kebun ganja yang luasnya melebihi satu kelurahan telah ditemukan dalam keadaan terbakar.


"Hah? Kebun ganja seluas itu?" tanggapan beberapa lawyer yunior yang magang di kantor Tania.


"Itu belum. Masih ada yang lebih luas lagi" sela Maura.


"Iya kah?" tanya si yunior heran.


"Ada loh, negara yang memang menjadi pengekspor ganja terbesar. Meski ilegal, itu menjadi komoditi utamanya" terang Maura.


Sementara Tania masih menatap layar tivi di depannya. Pasti ini ulah Arkan, tebaknya.


Tak lama, berita penangkapan pelaku-pelaku dan pemilik kebun tanaman memabukkan itupun ikutan ditangkap.


Ternyata tak hanya satu lokasi, ada sepuluh lokasi yang terjadi kebakaran.


Tania tak membayangkan jika tanaman itu diedarkan. Berapa ribu orang yang akan menjadi korban? Omset yang sangat-sangatlah besar. Arkan pasti membuat kerugian yang sangat luar biasa bagi rivalnya.


"Arka ternyata benar, dunia bawah sangatlah mengerikan" gumam Tania.


'Tak mungkin Arkan bergerak sendiri saat ini. Cuman anehnya kenapa dia tak mengajak asisten setianya, Boy' pikir Tania.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2