Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Belum Ketemu


__ADS_3

Arka duduk dengan gelisah dan juga cemas.


Pandu dengan sigap menghubungi Arga, yang pastinya lebih bisa menjangkau untuk mencari keberadaan Tania.


"Pandu, kita balik saja" perintah Arka tanpa mau dibantah.


"Tuan, bagaimana dengan pemeriksaannya?" tanya Pandu.


"Buat janji temu kalau semua sudah beres" timpal Arka.


Arka meninggalkan Arga yang masih menelpon dokter yang biasa merawat Arka.


Dan tentu saja, Pandu menghubungi sang kapten untuk segera menyiapkan diri karena waktu kepulangan dipercepat.


Semua tergopoh karena permintaan mendadak Arka.


Sementara Arka tetap mencoba menghubungi nomer ponsel Tania yang tentu saja masih tak aktif.


Notif pesan masuk ke ponsel Arka, ternyata berasal dari mama Rosa.


"Arka, apa Tania ikutan kamu ke Amerika? Padahal kemarin cuman bilang mau anter sampai bandara aja?" tanya mama Rosa dalam ketikannya.


Mama Rosa belum tahu keadaan yang sebenarnya.


"Arga, cepet kau lacak keberadaan Tania. Apapun yang terjadi harus secepatnya kau temukan" tandas Arka saat panggilannya tersambung ke Arga.


"Keep calm and stay strong bro...tarik nafas panjang biar pikiran loe lebih tenang. Aku juga sedang berusaha ini" jelas Arga.


"Aku balik ini. Saat aku keluar bandara, aku sudah harus terima kabar baik dari kamu" lanjut Arka.


"Pemeriksaan kamu?" sela Arga.


"Kulanjutin ntar, setelah semua tenang" jelas Arka.


"Apa ini arti dari ucapan Tania yang menyuruh ke sini setelah acara pernikahan?" gumam Arka setelah panggilan ponselnya ke Arga terputus.


"Sial. Kenapa aku nggak mau ngedengerin dia sih?" sesal Arka.


"Tuan, semua sudah siap" sela Bayu yang barusan selesai menutup panggilan ponselnya.


"Oke, kita pulang" Arka melangkah duluan dan diikuti oleh Pandu.


.


Sementara itu Tania mulai tersadar kembali dari pengaruh suntikan yang diberikan oleh seorang wanita yang barusan ditemui oleh Tania.


Entah berapa lama Tania tertidur.


"Aargghhhh, kenapa badan ku sakit semua" keluhnya.


Tania membuka mata, dan masih berada di tempat yang sama.


"Sebenarnya mereka siapa sih? Kenapa musti aku juga yang harus menjadi target. Apa salahku coba?" gerutu Tania.


Jarum infus pun masih setia menancap di lengannya.


"Kalau melihat kamar ini, sepertinya ini hunian mewah" celetuk Tania bermonolog.


Terdengar pintu terbuka, Tania pun pura-pura masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Bagaimana ini? Kenapa dia belum bangun juga? Apa obat bius yang kuberikan terlalu banyak?" gumamnya.


'Pasti dia orang yang sama dengan orang yang menyuntikku' batin Tania.


"Bisa kena amukan singa jantan yang kebelet kawin itu aku" lanjutnya.


Tania mencoba menelaah setiap ucapan yang masuk ke telinganya.


'Ayolah, sebutkan nama tuan kamu' ucap Tania dalam benaknya.


Terdengar langkah mendekat ke arahnya. Tania semakin menajamkan pendengarannya.


"Sebenarnya apa sih hubungan kamu dengan tuan aku. Sampai-sampai dia tak ingin kamu terluka" ucapnya di samping Tania.


"Winda, apa yang kau lakukan kepada Nona Tania?" hardik suara laki-laki yang sepertinya barusan datang.


"Aku hanya ingin melihatnya. Sudah sadar apa belum" jawab wanita yang ternyata bernama Winda itu.


"Oh ya Beno, kira-kira kapan tuan datang?" tanya Winda.


Tania masih belajar dalam situasi ini, karena otaknya masih buram atas apa yang terjadi.


'Otakku kenapa ngeblank begini. Nama-nama mereka begitu asing di telingaku' batin Tania.


Dengan mata terpejam, Tania mencoba mengingat nama-nama yang barusan terdengar.


'Winda, Beno...siapa mereka?' pikir Tania.


Tania masih betah memejamkan mata.


"Ben, kenapa nona ini belum bangun juga ya? Padahal aku nggak banyak loh masukin obatnya kemarin" bilang wanita yang bernama Winda itu.


'Kemarin? Arka berarti sudah sampai Amerika? Arka, Mama Rosa, nenek Gemmy help me' batin Tania meminta tolong.


"Jaga tanganmu. Jangan sampai tuan murka karena ulah kamu" cegah Winda dengan memukul tangan Beno.


"Idih kau takut sama laki setengah tua itu?" hardik Beno.


"Jangan keras-keras. Bahaya kalau ada yang dengar" larang Winda.


"Hanya ada aku dan kau. Kalau laki-laki itu sampai dengar, berarti kau lah yang punya mulut ember" celetuk laki-laki yang sepertinya bernama Beno.


'Laki-laki? Setengah tua? Siapa lagi ini?' pikir Tania masih saja berkecamuk.


'Tenang...tenanglah...Tania. Coba pikirkan lagi' suruh hati Tania.


Tapi dalam pikiran Tania hanya ada nama Tuan Hadinoto dan tuan Felix yang terlintas.


Kalau tuan Hadinoto, tak mungkin dia yang melakukan. Motifnya apa? Selain itu Tuan Hadinoto sibuk mengurus kasusnya sendiri yang ternyata ada kaitan dengan kematian tuan Bagus Priyanto di penjara. Yang semakin memperberat tingkat kasus pidana yang dituduhkan ke tuan Hadinoto.


Ternyata berkas kerjasama yang pernah ditemukan oleh Angel waktu itu sangat berguna untuk menyibak keterkaitan antara Tuan Hadinoto, Nyonya Gaby dan juga tuan William dalam proses kematian ayah Tania.


Alhasil semakin banyak tuduhan yang mereka dapatkan. Tentunya tuan Hadinoto tak sempat memikirkan untuk menculik Tania. Ini pikiran versi Tania ya, tapi segala kemungkinan tetap saja bisa terjadi.


Tinggal tuan Felix yang menjadi pikiran Tania. Tapi semakin dipikirkan, Tania juga dibuat bingung dengan motif apa yang mendasari untuk menculiknya.


Tuan Felix adalah senior, sejawat dan juga teman kantor di 'Hadinoto and partners' . Sejauh ini juga tak ada yang mencurigakan dari seorang tuan Felix.


Hanya karena kedua orang tadi menyebut laki-laki setengah tua pikiran Tania langsung ke arah tuan Hadinoto dan juga tuan Felix. Aku tak boleh terkecoh oleh kata-kata mereka. Perang batin Tania.

__ADS_1


.


Arga yang mendapat mandat dari Arka segera bergerak ke lokasi terakhir dimana ditemukan sinyal ponsel Tania.mm


"Loh, kok hanya belokan ke gang?" gumam Arga. Dia turun dari mobil untuk mencari sesuatu. Terlihat police line terpasang di sekitar mobil Arga terparkir.


Arga mengamati ke arah aspal jalan bekas terjadinya kecelakaan.


"Melihat ini, seperti terjadi pecah ban duluan. Dan mobil sepertinya mau belok tapi oleng dan keburu terjungkir" gumam Arga sambil mengetuk-ngetuk jari ke kening.


"Oh, aku temuin sopirnya Arka dulu aja" Arga beranjak dari posisi dan segera mengegas mobilnya ke arah rumah sakit berdasar info Pandu.


Setelah mendapat informasi dari bagian front office rumah sakit, Arga menuju ruangan pak Hamzah dirawat.


"Selamat siang, pak Hamzahnya ada?" tanya Arga.


"Anda siapa?" tanya wanita muda yang sepertinya putrinya pak Hamzah.


"Saya Arga, temannya Arka bos nya pak Hamzah" terang Arga.


"Ada apa tuan? Kemarin juga ada yang mencari ayah saya, tapi saat itu ayah masih belum sadar" jelasnya.


"Oh, apa sekarang saya bisa ketemu dengan ayah anda?" tanya Arga.


"Iya Tuan, tapi tolong jangan lama-lama" imbuhnya. Arga mengangguk menyetujui.


Wanita itu mengantar Arga ke kamar pak Hamzah.


"Selamat siang pak, saya Arga temannya Arka" sapa Arga ramah.


"Oh...temannya tuan muda?" selorohnya.


Tanpa diminta pak Hamzah pun menceritakan kejadian yang menimpa diri dan Tania.


"Maafkan saya yang tak bisa menjaga amanat tuan muda Arka" katanya penuh sesal.


"Kira-kira masih ingat nopol mobil yang mengejar anda pak?" telisik Arga.


Hanya gelengan lemah yang didapat olehnya. Tapi setidaknya dari keterangan pak Hamzah ada titik terang kalau Tania pasti lah diculik.


Akan kucari lewat rekaman kamera dasbor mobil saja. Batin Arga.


"Bentar tuan, coba kuingat dulu" kata pelan tuan Hamzah saat melihat Arga hendak pergi.


"Sepertinya aku mengingat salah satunya, karena mobil itu mengikuti kami semenjak dari bandara" Pak Hamzah menyebutkan sebuah nopol mobil.


"Makasih pak, akan kuselidiki itu" ucap Arga sekaligus pamitan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—


__ADS_2