Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Resign, yes or no


__ADS_3

Tania diantar oleh Arka ke kantor penyidik di mana kasus tuan Felix ditangani.


Mereka berangkat pagi-pagi sekali dari vila yang mereka tinggali dalam tiga hari terakhir.


Sebenarnya Arka telah menyiapkan tim kuasa hukum untuk mendampingi sang istri.


"Apa kau lupa aku juga seorang pengacara" tandas Tania.


"Ya nggak sih sayang. Tapi apa bisa kita menjadi pengacara untuk diri kita sendiri? Dokter aja yang notabene punya keahlian tetap butuh orang lain untuk mengobatinya" tukas Arka.


"He...he...kita lihat saja nanti" kekeh Tania.


Tania masuk ke ruang penyidik. Memberi keterangan sesuai semua yang diketahui olehnya.


Entah motif apa yang diberi tahukan oleh tuan Felix sebelumnya.


"Nona apa anda tahu motif tuan Felix sampai menculik anda?" tanya penyidik.


"Dia memberi keterangan seperti apa?" tukas Tania.


"Kesimpulannya sih tuan Felix sangat terobsesi dengan anda" bilang penyidik.


"Tuan Felix juga bilang seperti itu kepada saya" ungkap Tania.


"Menurut anda seperti apa kepribadian tuan Felix?" lanjutnya.


"Sepertinya bukan kapasitas saya untuk menilai. Kalau dari segi pekerjaan, tuan Felix adalah orang yang kompeten di bidangnya. Tapi untuk urusan pribadi saya tak tahu" jelas Tania.


"Saya juga baru tahu kalau tuan Felix terobsesi dengan saya dari anda" imbuh Tania.


"Nona, terima kasih atas kerjasamanya. Mungkin setelah ini saya akan panggil psikolog untuk memeriksa kepribadian tuan Felix" jelas penyidik.


"Oh ya Nona, apa anda mengenal nyonya Marsha?" tanya penyidik di luar konteks kasus tuan Felix.


Tania menautkan alis.


"Ada apa tuan? Nyonya Marsha klien saya" jelas Tania.


"Oooo..begitu ya? Bisa dijelaskan kasus yang menimpanya?" tanya nya lagi.


Tania kembali duduk.


"Apa ada kaitan nya dengan tuan Felix ini?" pertegas Tania.


Penyidik pun mengangguk.


"Bukannya nyonya Marsha hanya orang tua tunggal dengan satu anak yang sudah meninggal?" kata Tania.


Karena sepaham Tania, nyonya Marsha erat kaitannya dengan tuan William.


Terus apa kaitannya dengan tuan Felix. Batin Tania.


Sungguh, bagaimana dia tidak peka dengan kehidupan orang di sekelilingnya. Bahkan nyonya Marsha juga kenal dengan suaminya.


"Boleh saya tahu ceritanya seperti apa tuan, sehingga terkait dengan kasus tuan Felix" imbuh Tania.


"Tuan Felix adalah ayah kandung dari anak nyonya Marsha" beritahu penyidik.


"Hah?" Tania terbengong. Selama mengenal nyonya Marsha, memang kliennya itu tak pernah secara gamblang mengungkap siapa ayah dari anaknya. Pikir Tania, ayah dari anak nyonya Marsha adalah tuan William.


"Karena proses penyelidikan yang berkembang, saya rasa memang perlu memanggil psikolog. Sementara kami menyimpulkan kalau tuan Felix mengalami kelainan ***. Sehingga sangat terobsesi dengan seorang wanita dengan tipe-tipe seperti anda"


"Kalau itu sepenuhnya menjadi tugas anda tuan" tukas Tania.


"Baiklah saya pamit tuan" Tania menyalami penyidik yang memanggilnya.


"Sekali lagi terima kasih kerjasamanya nona" kata pria itu ikutan menyalami Tania.


Tania keluar ruangan dan Arka masih menunggunya di sana.


"Sudah selesai?" tanyanya.

__ADS_1


"Yaaahhh kita ikutin prosesnya aja. Belum lagi kasus laporan yang sebelumnya" jelas Tania.


"Oke lah. Kita balik apartemen dulu" ajak Arka.


"Bukannya langsung Panapion Yank?" tanya Tania.


"Kalau apartemen malah putar balik ntar" lanjut Tania.


"Iya juga sih" tanggap Arka.


"Inginnya naruh barang-barang dulu" lanjut Arka.


"Kan nggak banyak juga barangnya" sahut Tania.


Arka hanya pakai pakaian kasual dan sneaker. Tania pun seperti biasa, mengimbangi penampilan Arka. Kaos dan celana denim serta sepatu sneaker. Tak lupa tas ransel menghiasi punggungnya.


Pandu menunggu kedatangan tuannya di lobi.


"Aura wajah anda cerah sekali Tuan?" sapa Pandu menyambut kedatangan Arka dan Tania.


Arka tak menjawab, hanya senyum manis tersungging di sudut mulutnya.


Pandu mengiringi langkah sang bos menuju lift.


"Selamat pagi tuan Arka" sapa tuan David yang ikutan gabung dalam lift yang sama.


"Pagi" tukas Arka.


Tuan David berusaha menjajari posisi Arka dan menggeser posisi Tania.


"Sayang, sini! Mau ke mana?" panggil Arka saat Tania beringsut menjauh karena pergerakan tuan David.


Terlihat wajah sinis tuan David walau sebentar. Arka sebenarnya melihat, tapi dibiarkan saja.


"Oh ya tuan, putri saya cerita kalau bertemu dengan anda" kata tuan David membuka kata.


"Ooooo..." Arka hanya menimpali seperti itu.


"Gimana penilaian anda tentang putri saya tuan Arka?" tuan David semakin banyak bicara.


"Heemmmm...apanya yang dinilai tuan David. Saya tak kenal dekat dengan putri anda" kata Arka mulai jengah. Pegangan tangan Arka semakin erat dirasa oleh Tania.


"Kalau begitu ijinkan putri saya untuk lebih mengenal anda tuan" lanjut tuan David seakan mempromosikan putri kebanggaannya.


"Heemmmm, maaf saya tak ada waktu" tolak tegas Arka. Semua karyawan perusahaan memang belum tahu status Tania saat ini. Seperti sebelumnya, mereka hanya tahu sebatas Tania sebagai teman dekat sang bos dan juga ketua tim legal perusahaan.


"Kasih waktu barang sebentar tuan. Saya jamin anda akan menyukai Davina putri saya" ujar tuan David memaksa.


"Maaf, saya rasa itu tak perlu" kata Arka tetap menolak.


Tuan David memandang tajam ke arah Tania, demikian juga Tania membalas tatapan itu.


Sayang, ponsel Tania berdering di saat yang tak tepat.


Arka mengambilkan ponsel di dalam tas punggung istrinya.


"Siapa?" tanya Tania tanpa memperdulikan tatapan tuan David.


"Nenek" beritahu Arka.


Lift terbuka. Tania melangkah dengan tangan satu memegang ponsel, satunya dipegang oleh Arka.


"Siang nek" sapa Tania.


"Kenapa nggak pulang ke nenek dulu" kata nenek.


Tuan David semakin mencibir melihat keakraban Tania dan nenek nya sang bos, pemilik perusahaan generasi pertama.


"Ini langsung Panapion, daripada bolak-balik nek" terang Tania.


"Oke, ntar sore langsung mansion. Jangan lupa bilangin Arka"

__ADS_1


"Nek, katanya mau cicit. Kok kita malah suruh ke mansion?" sela Arka ikutan bicara.


Tuan David baru bengong setelah mendengar perkataan Arka yang terakhir.


'Apa mereka telah hidup bersama? Wah ternyata wanita ini culas juga' pikir tuan David.


'Pergerakannya lumayan cepat juga. Aku harus bilangin Davina kali ini' batin Tuan David sekali lagi.


"Tuan Arka, saya ke ruangan dulu" pamit tuan David dijawab anggukan Arka. Sementara Tania masih sibuk dengan panggilan nenek Gemmy.


"Lanjut di ruangan aja, dia sudah pergi. Percuma di sini tak ada yang kau panas-panasi" kata Arka yang mengerti maksud Tania.


"Ha...ha...oke siap sayang. Percuma aku bicara keras dengan nenek barusan" Tania terbahak menimpali perkataan Arka.


Arka pun ikutan ketawa.


Pandu sudah ngacir duluan masuk ruangannya.


Arka duduk dengan tumpukan berkas di depannya.


"Hah, baru absen tiga hari saja. Sudah segunung berkas yang harus kutandatangani" gerutu Arka.


"Makanya jangan mau enaknya doang. Kerja atuh. Mau kau kasih makan apa anak istrimu?" seloroh Tania yang rebahan di sofa ruangan Arka.


"Ha...ha..." Arka malah tertawa mendengar celotehan sang istri. Lucu juga dia. Batin Arka.


"Kerja yank!" sela Tania.


"Siap bos" sahut Arka. Siapa yang bos siapa yang anak buah, tak nampak kali ini.


Ponsel Tania berdering, kali ini dari Pandu.


"Nona, mumpung anda berada di sini. Tolong berkas-berkas pengajuan kerjasama dari perusahaan lain tolong diteliti" ucap Pandu.


"Hadech, asisten kamu itu! Tak mau melihat orang nganggur sedetikpun" gerutu Tania. Arka kembali terbahak.


"Panapion tak mau memberi gaji buta. Ingat ya" tukas Arka semakin terbahak.


"Kalau begitu aku resign aja, daripada suruh kerja rodi" tukas Tania.


"Ingat nona Tania yang sekarang menjadi nyonya Arka Danendra, jika kau menyalahi kontrak kerjasama kita maka pinaltinya adalah anda harus membayar sepuluh kali lipat uang yang perusahaan bayarkan ke firma hukum di mana kamu bernaung" tegas Arka.


"Bahkan aku tak ikut tanda tangan disitu, tapi malah aku yang kena getahnya" gerutuan Tania semakin menjadi.


Memang awal kontrak kerjasama, tuan Hadinoto lah yang mengawali semuanya.


Arka senang membuat sang istri tak berkutik.


"Satu-satunya jalan agar kau tak terpaksa, resign aja dari sana" saran Arka.


"Bukannya aku sudah bilang kalau akan kupikirkan" bertepatan itu Pandu masuk dengan setumpuk berkas untuk Tania.


"Tuan, untuk perusahaan tuan Smith belum kita lanjutkan. Semua keputusan masih menunggu anda" sela Pandu.


Tania mendongak meminta penjelasan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2