
Tania terperangah melihat wajah laki-laki itu. Wajah yang lumayan familiar, tapi Tania tak mengenal namanya.
"Bukannya dia yang mengawal tuan Felix saat acara Benzema" monolog Tania dalam benak.
Sebenarnya Tania juga beberapa kali ketemu di depan kantor dengan laki-laki itu. Tapi karena saking cueknya Tania, dia tak menganggap keberadaan laki-laki yang ternyata pengawal tuan Felix.
"Winda, jawab dong!" serunya lagi.
"Ooooo...lagi ngobrol sama Nona yang banyak bicara ini" ucap wanita yang dipanggil Winda itu.
"Oh ya Beno, kapan tuan hadir. Sudah dua hari loh kita di sini" seloroh Winda.
Jadi laki-laki itu bernama Beno. Pikir Tania. Apa benar yang membawaku kemari atas suruhan tuan Felix. Atau jangan-jangan kebaikannya yang mendadak itu hanya kamuflase saja. Macam-macam pertanyaan muncul di benak Tania.
"Yaaahhhhh anggap aja liburan. Lagian ini tempat wisata untuk kalangan menengah atas" jelas Beno.
'Berarti aku sekarang berada di sebuah tempat wisata. Kalau melihat nya kamar ini, apa saat ini aku di sebuah vila' simpul Tania.
"Bos lagi otewe ke sini. Bentar lagi juga sampai" beritahu laki-laki yang diketahui Tania baru saja bernama Beno.
"Syukurlah, jadi aku nggak lama-lama lagi dengan wanita sok pintar itu" celetuk Winda.
"Sudahlah, jangan memperolok Nona Tania terus" cegah Beno.
"Kedenger tuan besar, bisa panjang nih urusan" celetuk Beno melanjutkan.
"Apa kalian orang-orang suruhan tuan Felix?" suara Tania kembali terdengar di antara ketiganya.
Beno dan Winda hanya memandang sinis ke arah Tania.
"Kalau iya, memang kenapa?" ucap Winda sinis.
"Kalian pasti salah sasaran. Asal kau tau saja, aku ini rekan kerja bos kalian" ucap Tania untuk melakukan negosiasi.
"Nggak, kita memang disuruh untuk menculik kamu. Bukannya tunangan kamu sedang ke Amerika Nona?" sela Beno.
"Kok kamu tahu?" telisik Tania.
"Ha...ha...bukan hal sulit bagi kami untuk mengetahui semua tentang kamu dan juga tunangan kamu Nona" Beno malah terbahak mendengarnya.
"Nggak usah sombong, itu karena kami terkenal saja sehingga kau bisa dengan mudah mencari tahu tentang kami" ucap Tania sengaja memanasi mereka berdua.
Brug...brug....terdengar suara pintu yang sepertinya sengaja dibuka paksa.
"Beno, anak buah kamu kasar sekali? Buka pintu saja sampai sebegitunya" tukas Winda.
Netra Beno menajam, seakan ada sesuatu. Tania pun mulai bersiaga.
'Smoga bala bantuan yang datang' Tania berharap dalam hati.
Beno keluar dari tempat di mana Tania berada.
"Winda, kau jaga Nona Tania. Sepertinya ada yang mau main-main dengan kita" kata Beno.
"Iya, kau lihat saja. Barangkali tuan yang datang" imbuh Winda.
Winda bersiap dan menatap tajam ke arah Tania.
"Kau ini seorang wanita, kelakuan kok sama bejatnya dengan mereka" seru Tania sengaja menyulut api.
Dia ingin memancing emosi Winda, yang sepertinya sangat mudah tersulut itu.
"Bukan urusan kamu" sergah Winda.
"Jelas saja menjadi urusan Tania, karena kau telah menculikku" tandas Tania.
"Kau makin banyak omong saja" ucap Winda mulai jengah.
__ADS_1
"Apa kau tau, pasal apa yang akan dituduhkan ke kamu. Pasal penculikan dengan kekerasan. Terus obat-obatan yang kau pakai itu, pasti ilegal kan?" Tania terus saja mengoceh.
"Aku membayangkan, seandainya kau ketangkap. Pasal-pasal yang menunggumu pasti lah akan berjejer rapi...ha...ha..." ledek Tania.
"Ha...ha....tentu saja tuan ku akan membebaskan kami. Beliau melakukan ini pasti lah sudah banyak pertimbangan untuk berkelit dari hukum" timpalnya ikutan tertawa.
"Beliau? Orang macam begitu tak pantas kau sematkan untuk orang seperti itu. Harusnya orang yang sangat paham hukum, tidak melakukan perbuatan melawan hukum" celoteh Tania.
Winda mendekat untuk membungkam Tania lagi. Karena dia sangat yakin, Tania dalam kondisi terikat.
Tania yang telah bersiap dengan segala kemungkinan mulai memasang kuda-kuda dalam diamnya.
Seperti biasa, Winda hendak memberikan sesuatu ke tubuh Tania. Tapi hal itu telah diantisipasi oleh Tania karena tak ingin kejadian yang sama berulang untuk ketiga kalinya.
Dengan mudah Tania mengunci pergerakan Winda. Tentu saja Winda kaget, ternyata Tania lawan yang tak bisa dianggap remeh.
Tubuh Winda yang telah terkunci dan tak bisa berkutik, dengan sekali sigap Tania mengikatnya di atas tempat tidur. Winda meronta.
Tania menyilangkan kedua tangan di dada.
"Saatnya kamu yang merasakan apa yang telah aku rasakan...he...he...." Tania dibuat terkekeh karena berhasil membekuk Winda.
Urusan kabur menjadi prioritas berikutnya.
Tania berjalan mengendap untuk keluar kamar. Bersamaan itu terdengar suara dua orang saling berbisik di luar kamar.
Tania menajamkan pendengaran dan bersembunyi di balik pintu. Bersiap dengan segala kemungkinan.
"Suaranya seperti orang yang sangat kukenal" batin Tania.
"Arka, apa mungkin? Dia kan sedang di Amerika" gumamnya.
Saat pintu terbuka, kepala seseorang melongok ke dalam. Tania yang bersiap memukulkan sesuatu dibuat terperangah.
"Arka Danendra" ucapnya lirih, membuat orang yang disebut namanya menengok ke arahnya.
Misi penyelamatannya ternyata tak sesulit yang dia kira.
Lagi-lagi tunangannya berhasil meringkus musuh yang menawannya.
"Arga, yang lain gimana?" tanya Arka saat Arga menghampiri keberadaan mereka berdua.
"Di sini gimana?" tanya balik Arga.
"Clear" jawab Tania dan Arka bersamaan.
"Semua sudah aman. Tinggal kita nunggu kedatangan tuan Felix yang terhormat saja" imbuh Arga.
Tiba-tiba ada sekelebat pergerakan yang sangat cepat, hendak menyerang Tania. Tapi insting Arka yang sangat kuat, dengah cepat menghalangi pergerakan orang itu.
"Gagal lagi" katanya bermonolog. Ya, dialah Winda yang berhasil melepas ikatannya dan berusaha menyerang Tania kembali.
"Bawa dia. Jadikan satu dengan yang lain. Berani-beraninya menantang Arka" ucap Arka memberi perintah.
.
"Kita berikan kejutan untuk laki-laki itu!" tandas Arga.
"Heemmmmm" kata Arka dengan wajah dinginnya.
Mereka pun melakukan skenario untuk menuntaskan pekerjaan kali ini.
Tania diikat kembali di posisi semula. Yang lain bersiaga di tempat masing-masing.
Sesuai perkiraan mereka, tuan Felix datang tak berselang lama setelah itu.
Dia datang dengan sebuah mobil mewah.
__ADS_1
"Sepi amat di sini? Beno dan Winda di mana? Ceroboh sekali mereka" gumamnya.
Tuan Felix masuk, dia tak curiga sama sekali karena kondisi di dalam vila rapi seperti tak terjadi apa-apa.
"Beno...Winda...di mana kalian?" teriaknya.
"Wah, apa mereka sedang cari angin ya mumpung di sini?" gumam tuan Felix.
"Haisss...biarin aja dech. Yang penting aku ke sini kan untuk Tania. Cewek yang super cuek dan susah dideketin itu" celetuknya dan didengar Arka, membuat muka Arka merah padam.
"Lama juga aku menunggu kesempatan ini...he...he..." kata pongah tuan Felix.
Dengan bersenandung tuan Felix naik ke lantai di mana kamar Tania berada. Dan bersamaan itu sebuah tangan mengepal erat, gatal untuk segera meninju laki-laki setengah tua yang tak tahu diri itu.
"Bagaimana Tania bisa bekerja dengan orang-orang seperti mereka. Panjahat yang berlindung di bawah kedok hukum" gerutu Arka tak berkesudahan.
"Keep calm bro. Jangan gegabah. Semua itu tergantung pribadi masing-masing. Kalau orang baik ya baik saja. Jangan kau judge profesinya dong" kata Arga memberi nasehat.
"Seperti aku, tukang bengkel yang baik hati-hati" imbuh Arga yang masih sempat ngebercandain Arka.
Tuan Felix telah membuka kamar Tania. Dilihatnya Tania yang telah terjaga, dan terikat. Dalam tanda kurung, terikatnya pura-pura...he...he...
"Apa kabar Tania?" kata tuan Felix membuka obrolan.
"Tuan, untuk apa semua ini?" tanya Tania.
"Tentu saja untuk mendapatkan kamu...ha...ha..." sambungnya sambil terbahak.
"Cih...tak ingat usia" ucap Tania sinis.
"Ha...ha....aku laki-laki Tania. Ingat kata pepatah. Laki-laki semakin kaya akan semakin nakal, sebaliknya semakin nakal wanita maka dia akan semakin kaya. Maka dari itu aku akan membuatmu kaya dengan kenakalanmu" Tuan Felix semakin terbahak.
"Ha...ha...kau merasa dirimu kaya?" tangkis Tania.
"Bahkan kau bukan tandingan seorang Arka" ledek Tania berikutnya.
Kata-kata Tania sepertinya memancing emosi seorang Felix, laki-laki yang sebenarnya sudah berumur tapi belum menikah itu.
"Hanya tak mengira saja, seorang senior yang sangat kuhormati ternyata...oh ternyata..." lanjut Tania semakin memprovokasi.
Felix mendekat dan mencengkeram lengan Tania yang seakan terikat.
"Ha...ha... Berani sekali kau? Bukannya tunangan yang kau banggakan sedang nan jauh di sana. Jangan berharap dia akan membantumu" Felix terbahak.
"Aku sudah memperkirakan semua tindakan ini jauh-jauh hari, sebelum kamu menyadari kalau aku lah dalangnya...ha...ha..."
"Bahkan akan kubuat kau dengan sukarela menyerahkan dirimu padaku" imbuh Felix dengan semakin terbahak.
Arka yang berada di balik pintu luar kamar pun ikutan emosi.
Arga menepuk bahu Arka.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
π
Salam sehat buat semua π€
__ADS_1