
"Jika ingin mengetahui tuduhan yang sebenarnya kepada ayahmu, datanglah ke resto XXX di sebelah barat kota. Datanglah 'SENDIRI' !!!!!" bunyi pesan itu.
Tania menajamkan netranya, untuk melihat ulang tulisan di pesan itu.
Dahinya berkerut seakan memikirkan sesuatu.
Kenapa baru sekarang ada orang yang ingin memberi tahu kisah ayahnya.
Sebagai seorang pengacara, saat ini Tania bisa jadi menjadi seorang sosok yang baru naik daun.
Berita beberapa saat lalu akibat ulah sang calon suami yang melibatkan dirinya menjadi ketua tim hukum di perusahaan besar tentu sedikit menarik perhatian.
"Apa ini salah satu yang diceritakan nenek kemarin?" pikir Tania.
"Tapi tidak salah juga kalau kutemui orang ini. Bisa jadi dia memang tahu cerita sebenarnya" Tania bimbang.
"Ada apa Non?" tanya Angel yang melihat sang bos nampak serius setelah membaca pesan di ponsel.
"Eh, nggak apa-apa Ngel" jawab Tania kelihatan gugup.
"Angel, apa kamu tadi yang kasih tahu kalau aku ke lapas pada Benzema?" tanya Tania.
"Maaf Non, abis tuan Benzema maksa banget" ulas Angel takut dimarahi oleh sang nona bos.
"Lain kali jangan kau ulangi. Laki itu sudah seperti ulat bulu, kemana-mana ingin nempel. Gatel tau" seloroh Tania.
"Non, sore pulang kerja ngemall yuk" ajak Angel.
"Ada film thriller terbaru loh Non" beritahu Angel.
"Aku sudah ada janji nih dengan seseorang" tukas Tania.
"Tuan Arka???"
"Bukan sih" kata Tania jujur. Karena dia ingin menemui seseorang yang mengirimi pesan kepadanya.
Dengan magang selama dua tahun di firma hukum tuan Hadinoto ini, Tania belum juga mendapatkan titik terang kasus yang menjerat sang ayah.
"Hati-hati Non, banyak orang jahat terselubung sekarang" Angel menasehati.
"Iya, aku tahu itu. Orang dekat aja bisa berkhianat apalagi orang yang tak ada hubungan dengan kita" ujar Tania dengan menarik nafas panjang.
"Maaf Non , kalau kata-kataku mengingatkan non pada tuan Benzema" mohon Angel tulus.
"Sudah, jangan sebut nama itu lagi" pinta Tania dan Angel mengangguk.
.
Tania mempunyai kebiasaan baru untuk selalu mengabari Arka, kemanapun dia pergi.
Sesuai permintaan Arka mulai tadi siang. Karena Arka ternyata sempat ke kantor Tania sebelum akhirnya menyusul ke lapas.
Untung kedatangannya tepat waktu, sehingga Benzema tak mempunyai kesempatan untuk lebih mendekat ke Tania.
"Arka sayang, sore ini aku mau ke suatu tempat. Kamu langsung pulang aja" bunyi voice note yang dikirimkan oleh Tania.
__ADS_1
Tania tak mau menelpon, takutnya Arka masih sibuk dengan kerja baru. Arka yang terbiasa bebas, sebenarnya tak terlalu suka untuk terus terkungkung di kantor seharian.
Ponsel Tania langsung saja berdering. My love calling.
"Mau ke mana? Tunggu aku, aku anterin" suara Arka terdengar tegas di ujung telpon.
"Tuan, bentar lagi anda masih kadatangan tamu" terdengar suara Pandu sang asisten di belakang Arka.
"Ish, kau ini!" jawab Arka ke Pandu.
"Sudahlah sayang, kalau kau repot biar aku pergi sendiri" terang Tania.
"Big No sayang. Tunggu aku" Arka langsung mematikan panggilannya membuat Tania bersungut.
Tania menaruh pantat di kursi kebesaran miliknya.
Keinginan untuk menyelidiki kembali kasus sang ayah begitu besar. Karena begitu yakinnya mama Rosa bilang kalau suaminya hanya korban.
Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh mama Rosa, Tania bertekad untuk memulihkan nama baik keluarganya.
"Apa aku memang perlu bantuan Arka ya? Notabene ayah kan dulu juga kerja di Panapion" gumam Tania.
Tania menunduk untuk meraih beberapa berkas yang dia dapat dari Anthoni.
Ayah Bagus dulunya hanyalah pegawai biasa di bagian keuangan perusahaan Panapion.
.
Tania mulai mengingat-ingat masa kecil yang masih tersisa di ingatannya.
"Tania, ayah pulang" kata ayah yang barusan masuk. Tania berlari kecil menghampiri.
"Ayah bawa apa?" tanya Tania setiap ayahnya pulang kerja. Dan sudah menjadi kebiasaan ayah Bagus untuk selalu membawakan sesuatu buat putri semata wayang.
"Buka aja" seloroh Ayah. Dengan wajah berbinar, Tania membuka kantong plastik kecil itu.
"Wowwww...roti bakar keju" kata Tania dengan riang.
Ayah Bagus sangat mencintai keluarga kecilnya. Bahkan dengan tetangga, ayah Tania dikenal sosok yang ramah dan supel.
Saat kejadian itu menimpa, Tania yang masih berada di kelas dua SD tentu saja tak paham akan situasi yang terjadi.
Mama Rosa yang tak ingin sang putri menjadi bahan olokan teman sekolah dan tetangga, akhirnya memutuskan pindah.
Sidang demi sidang dijalani oleh ayah Bagus.
Tuduhan pembunuhan yang ditimpakan padanya, akhirnya merembet ke penggelapan dana perusahaan.
Tania menggenggam erat berkas yang dipegang. Karena dari sana lah beberapa info kunci didapat oleh Tania.
Orang yang terbunuh saat itu adalah direktur keuangan, yang sekarang dijabat oleh tuan William.
"Hmmm, aku tahu sekarang musti mulai dari mana" gumam Tania.
"Keluarga korban...aku harus tau cerita versi mereka" batin Tania bermonolog.
__ADS_1
Lamunan Tania terhenti kala Arka begitu saja masuk ruangan.
"Ngagetin aja sih" sambut Tania.
Arka hanya mengusap tengkuk.
"Jadi dianterin nggak?" tatap Arka.
"Nggak, aku takut dipelototin Pandu" Tania beringsut membereskan berkas yang dipegangnya tadi.
Tania menunjukkan layar ponsel dan membuka aplikasi pesan.
"Bacalah!" pinta Tania.
Tania memutuskan untuk memberitahu Arka tentang apa yang terjadi sehingga dia kekeuh untuk menemui orang yang mengirimkan pesan.
Arka nampak memicingkan netra, memikirkan arti pesan itu.
"Jangan terlalu kau pikir. Aku akan menemui orang itu sendiri, sesuai permintaannya" beritahu Tania.
"Aku temenin, pasti bahaya ke sana sendiri" cegah Arka.
"Percaya padaku, aku bisa jaga diri" imbuh Tania.
Arka menjeda ucapannya, "Begini saja, aku akan ngawasin kamu dari jauh" usul Arka.
"Heemmmm, apa kau yakin akan berhasil? Melihat kata-kata yang ditulis, aku rasa orang ini sudah tau siapa aku" kata Tania.
Arka menggaruk kepala yang tak gatal. "Kata-kata nenek Gemmy kok cepat sekali terjadinya ya?" lanjut Arka.
"Begini saja sayang, seperti usulku tadi. Oke kau datang saja sendiri ke sana. Akan kusuruh Arga untuk memback up di belakangmu. Kalau sewaktu-waktu ada bahaya, dia sudah siap di dekatmu" terang Arkam
"Sayang, bukan maksud menyepelekan Arga. Tapi aku akan hati-hati" kata Tania.
"Dengan Arga atau tak kuijinkan pergi" keposesifan Arka mulai nampak.
Tania pergi sesuai rencana. Saat tiba di lokasi, ponsel Tania selalu terhubung dengan ponsel Arka.
Arga sendiri ternyata telah sampai duluan di sana. Tania sudah tahu akan hal itu.
Tania duduk tepat di belakang Arga.
Ternyata orang itu telah mengirimi pesan ke Tania, bahwa dia sudah menunggu di ruang privat resto itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
💝
__ADS_1