
"Baru dua hari aku pergi. Istriku ini malah menjadi trending di sosmed" tukas Arka.
"Beneran yank? Malah aku belum sempat buka ponsel, kalau nggak ada telpon masuk dari kamu...he...he..." terang Tania.
"Aneh aja, para pewarta malah penasaran sama kamu daripada klien kamu tuh" Arka terbahak.
"Iya juga ya. Kalau aku jada artis bisa jadi aku lebih terkenal daripada Davina...ha...ha..." Tania terbahak.
"Awas saja kalau kamu punya niatan itu" tawa Tania berujung pengancaman sang suami.
"Ha...ha... Nggak yank. Bukan passion Tania Fahira" ulas Tania sembari terbahak.
"Laporan acara kamu hari ini" tutur Arka.
"Issssshhhh, kebiasaan dech. Nggak ada jadwal khusus untuk hari ini" jelas Tania.
"Eh, nggak sih. Aku mau ke rumah sakit, lihat Davina" ralat Tania.
"Suruh aja Maura dan Angel ke sana. Kasihan tuh Arditya kamu tinggalin mulu" larang Arka.
"Heemmm, oh ya yank. Mumpung aku inget. Nenek sama mama nyaranin untuk nyari baby sitter. Gimana menurut kamu?" tanya Tania.
"Loh bukannya dulu yang nolak kamu. Nyari aja, dua atau tiga. Biar mereka bisa gantian fokus njagain Arditya" tukas Arka.
"He...he....iya sih aku yang nolak. Tapi ya enggak tiga dech yank. Pemborosan dong" jawab Tania.
"Dua aja cukup" nego Tania.
"Oke lah kalau menurut kamu cukup" Arka menyetujui permintaan sang istri.
"Sayang kenapa yang lain, kalau pasca melahirkan itu cuti. Fokus sama baby. Kalau kamu?" ulas Arka menambahi ucapannya.
"Mana aku sibuk yank. Kerja juga nggak. Cuman kadang aja keluar bentar-bentar" alibi Tania.
"Isssshhhh kamu ini" timpal Arka gemes.
"He...he...aku kan juga ingin healing seperti kamu" kata Tania sembari tertawa.
"Healing apaan, safari dari lapas ke lapas" imbuh Arka mengolok sang istri.
"Kamu juga healing apaan, pergi ninggalin istri abis melahirkan" gantian Tania mengolok.
"Ha...ha...membalas nih ceritanya?" Arka terbahak di sana.
"Yank, kapan pulang?" tanya Tania.
"Tumben-tumbenan nanyain kapan pulang. Coba pegang dahi kamu" suruh Arka.
"Buat apa?" jawab Tania.
"Pegang aja bentar" timpal Arka dan Tania melakukan apa yang diminta oleh suaminya.
"Panas?" Tania menggeleng.
"Ada apaan?" sela Tania.
__ADS_1
"Ha...ha....normal kalau gitu. Aneh aja kok nanyain kapan aku pulang" imbuh Arka dengan tawa renyah.
"Issshhhhh apaan sih? Emang kangen sama suami dilarang ya?" kata Tania sewot.
"Ha...ha...ha..." Arka malah semakin terbahak mendengarnya membuat Tania semakin memajukan bibirnya.
"Beh, indahnya kalau dekat. Sudah habis tuh bibir" kata Arka menanggapi.
"Yank, coba kamu cek akun sosmed kamu. Centang biru loh" kata Arka memberitahu.
"Really? Kira-kira Panapion mau endorsement nggak sih?" tukas Tania.
"Heemmmm...aku pikirkan" kata Arka membalas dengan candaan.
"Kamu nggak sibuk yank?" sela Tania.
"Ini nungguin Bara. Ada rencana operasi mulai jam tujuh sini. Biasalah korban reruntuhan bangunan" terang Arka menjelaskan.
"Aku tuh mau lihatin Arditya, kangen. Kelamaaen ngobrol sama mamanya ntar lupa sama anaknya" bilang Arka.
"Bentar, tuh lihat. Dianya masih nyenyak tidur. Asyik terbuai mimpi sepertinya. Nyatanya denger suara papa nya sedari tadi nggak respon" Tania beranjak dari ranjang dan memutar arah kamera fokus ke Arditya.
"Semalam rewel kah, jam segini masih nyenyak?" tanggap Arka.
"Lumayan lah yank, biasa kan bayi seperti itu" jawab Tania.
"Kalau gitu mendingan kamu juga istirahat lagi dech. Simpan tenaga kalau Arditya ngajakin ronda malam" suruh Arka.
"Maunya sih gitu, tapi papa nya Arditya ngajakin ngobrol terus. Gimana dong?" ucap Tania sembari menyinggingkan senyum.
"Ya udah kalau gitu. Sudah dipanggilin Bara tuh. Bye sayang. Miss you. Love you so much" kata Arka saat akan menutup telpon. Masih terdengar sayup-sayup oleh Tania kala Arka mendapat olokan Bara.
Sebelum panggilan tersambung, sebuah notif pesan dari Boy masuk ke ponsel Tania.
Tak menunggu lama, Tania buka tuh pesan yang isinya ternyata pemberitahuan dari Boy kalau Davina saat ini sedang kacau. Teriak-teriak histeris, dan berita yang tak kalah mengejutkan. Davina mengalami gejala seperti orang kecanduan.
"Apa dia pemakai?" ketik Tania dan dikirimkan ke Boy.
"Iya, dan lumayan lama. Arkan juga tak tahu akan hal itu" terang Boy dalam ketikan.
"Hanya rehap dan pendampingan psikolog yang bisa menyembuhkan Davina" pikir Tania.
Kembali Tania menghubungi Maura lagi.
"Halo, gimana? Centang biru loh akun kamu" sapa Maura malah membahas Tania yang sedang viral.
"Haissss, aku nggak ingin bahas itu. Pagi ini kamu ke rumah sakit. Pastikan kondisi Davina seperti apa. Jika memang ada-ada tanda ketergantungan, konsultasikan ke dokter yang merawat Davina. Kalau perlu ajukan penangguhan penahanan dan minta dirujuk ke rumah sakit ketergantungan obat" suruh Tania.
"Siap Tania" jawab Maura, yang awalnya terbengong musti menjawab apa atas perintah dadakan Tania.
"Kamu ajak Angel juga boleh" imbuh Tania.
"Oh ya Maura, aku tunggu kabar dari kamu" ucap Tania.
Mama Rosa masuk saat Tania masih telponan dengan Maura.
__ADS_1
"Aku ajakin Arditya berjemur dulu" kata mama Rosa.
"Oke Mah" jawab Tania masih saja menaruh ponsel di samping telinga.
.
Ponsel itu kembali berdering saat Tania barusan selesai menghubungi Maura.
Tania menghela nafas panjang, "Siapa lagi sih?" gumamnya.
"Heemmm, sepertinya nomor lapas nih? Heran aku, berapa sih uang Arkan hingga dia bisa nelpon tak kenal waktu" Tania masih saja bergumam.
"Iya pak, dengan Tania. Apa tuan Arkan akan bicara denganku?" Tania langsung saja mengatakan maksud sang penelpon sebelum dia mengatakannya sendiri. Tentu saja hal itu membuat sang penelpon gelagapan.
"Eh...i...iya nyonya. Tunggu sebentar, aku sambungkan" bilang si penelpon.
"Halo nyonya, apa kabar?" tanya Arkan yang jelas sedang basa basi itu.
"Langsung intinya aja tuan Arkan, Davina sekarang sedang menunjukkan tanda-tanda sakaw. Akan aku usahakan agar dia dirujuk aja ke rumah sakit yang khusus menangani itu. Untuk kondisi kehamilan, info terakhir yang aku dapat masih aman. Berdoa saja semoga diberikan yang terbaik" jelas Tania sebelum Arkan mengatakan apa-apa.
"Akan aku ajukan penangguhan penahanan, dan kalau bisa langsung kuusulkan rehap nantinya" lanjut Tania.
"Aku minta tolong dengan sangat, jaga Davina dan bayinya" kata Arkan menanggapi.
"Heeiiii...aku bukan Tuhan yang bisa menentukan kelangsungan hidup seseorang tuan Arkan. Sebaiknya banyakin berdoa saja. Mungkin ini peringatan Tuhan buat kamu, atas perbuatan dosa kamu selama ini" tandas Tania yang sepertinya mendengar Arkan menangis.
"Apa kamu menangis tuan? Syukurlah kalau begitu, masih ada rasa bersalah tersimpan di hati kamu. Bertobatlah mumpung masih diberi kesempatan untuk itu" kata Tania bijak.
'Kok aku bisa-bisanya kasih nasehat seperti itu ke Arkan ya???' pikir Tania merasa heran.
'Sok bijak' bisik hati Tania.
Sementara Arkan terdiam, seperti merenungi kata-kata Tania barusan.
"Apa memang ini peringatan dari Nya?" gumam Arkan. Tidak tahu kenapa, semenjak tahu kehamilan Davina, dia pun merasa melow dan gampang sedih. Tidak seperti Arkan yang biasa berkumpul dengan penjahat-penjahat kelas kakap bahkan mafia yang terlibat dengannya saat jual beli senjata.
Apalagi sejak kenal lebih dekat dengan kuasa hukumnya itu, wajah garangnya juga sudah berubah menjadi lebih humanis dan humoris.
"Sudahlah, untuk setiap perkembangan Davina biar nanti Boy yang akan selalu laporan ke kamu. Aku usahakan agar Davina bisa selekasnya direhap. Agar aman untuk bayi dan juga ibunya" Tania menerangkan sekali lagi ke Arkan.
"Terus bos, untuk persiapan sidang kamu. Sepertinya akan berat, semua bukti pendukung tak ada yang meringankan kamu. Besok aku akan menemuimu. Ada beberapa pertanyaan yang perlu kamu jawab" kata Tania menegaskan.
"Kenapa nggak hari ini aja sih. Kalau ada kamu, rasanya sedikit tenang" sambung Arkan.
"Dasar gila...emang urusan aku hanya ngurusin kasus kamu aja" umpat Tania.
Arkan malah terbahak di ujung sana, itulah yang ditunggu sedari tadi dari seorang Tania.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
๐