Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kwetiau


__ADS_3

Tania terbangun saat ada sesuatu yang dirasa menindih perutnya.


"Kenapa sempit sekali tempat ini?" gumamnya.


Matanya terbuka, "Loh ini bukannya di ruang tengah? Kok bukan di kamar?" ucapnya.


Dan ternyata yang menindihnya adalah lengan suami yang ikutan tidur di kursi yang sama.


"Kwetiau ku" ucapan Tania menyadarkan Arka.


"Kenapa?" tanya Arka heran.


"Sudah dingin. Kenapa nggak bangunin aku sih tadi?" kata Tania dengan rasa sesal yang membuncah.


"Loh?" Arka hanya membego. Memberi penjelasan pun juga akan berakhir tidak baik-baik saja.


Air mata Tania luluh juga. Arka kembali mengacak rambutnya kasar.


"Kuangetin aja ya?" Arka menawarkan diri.


Tania mengangguk, "Tapi..." mulutnya kembali berucap.


"Tapi kenapa?" sela Arka.


"Ngangetinnya di mansion nenek" bilang Tania.


Arka menepuk jidat. Drama belum selesai. Pikir Arka.


"Kalau begitu, kita ke sana saja sekarang" usul Arka.


"Nggak. Kita siap-siap dulu" Tania menolak usulan sang suami.


Arka iyain aja, padahal mansion nenek tak sejalan dengan perusahaan dan juga kantor Tania.


Tania masuk ke kamar, diikuti Arka.


"Kamu duluan aja yank" pinta Tania.


"Heemmm baiklah" jawab Arka dan segera melakukan apa yang diminta oleh Tania.


Dan dengan wajah segar dan bersih Arka melaksanakan kewajiban pagi hari sebagai insan beragama.


Tapi saat semua telah selesai bersiap, Arka menghampiri sang istri yang nampak belum bergerak dari tempatnya.


"Astaga, dia nyenyak lagi?" sambung Arka.


"Sayang, jadi nggak ke rumah nenek?" Arka berusaha membangunkan sang istri.


Tania bangun, "Kwetiaunya sudah diangetin yank?" tanyanya.


"Yank, bukannya kamu tadi barusan minta diangetin di rumah nenek" Arka berusaha ngejelasin.


"Ntar bolak balik yank, nggak efektif waktu. Lagian kenapa kamu iyain aja sih?" bilang Tania.


Salah lagi dech. Batin Arka.


Tania beringsut dari tidur dan masuk kamar mandi.


Seperti yang dilakukan Arka, Tania pun melakukan hal yang sama setelah membersihkan diri.


Setelah itu menuju ruang tengah untuk mengambil kwetiau.


Dia angetin tuh kwetiau dan langsung memakannya.


"Hemmmm, enaknyaaaaa" gumam Tania.


Arka menyusul.


"Mau?" Tania menawari.


"Nggak ah, ntar kamunya nggak kenyang" tolak Arka.


"Roti ini aja ya?" kembali Tania menawari.


"Boleh" kata Arka.


"Kopi apa teh hangat? Sekalian aku mau buat susu" Tania beranjak meninggalkan meja makan.

__ADS_1


"Teh aja, tanpa gula" bilang Arka.


Saat asyik menikmati sarapan ala kadarnya, ponsel Tania berdering.


Kembali Tania akan berdiri.


"Aku ambilin" Arka malah yang lebih dulu berdiri.


"Siapa?" tengok Tania ke arah Arka.


"Tuan Anton" jawab Arka.


"Hhhmmmm dia lagi. Biarin aja" Tania enggan menjawab panggilan.


"Yank, pagi ini jadwal kamu ke Panapion kan?" tanya Arka dan dijawab anggukan Tania.


"Ada masalah?" telisik Tania.


"Enggak sih. Cuman...." Arka menggantung ucapannya.


"Cuman apaan?" Tania penasaran.


"Cuman aku senang kamu temenin" kata Arka menimpali.


"He...he...." Tania tertawa.


Tania kembali menikmati kwetiau yang sempat ketunda barusan.


.


Di lobi Panapion nampak Pandu yang barusan datang menghampiri sang bos yang datang dengan nyonya bos.


"Pagi bos. Apa kabar kwetiau?" sapaan Pandu yang pertama kali pagi ini.


Tania menatap ke Arka. "Kok Pandu tahu?" telisiknya.


"He...he...aku nelpon Pandu. Nanya alamat penjual kwetiau yang buka dini hari" terang Arka.


Tania jadi merasa bersalah, ngrepotin sang suami.


"Maafin yaachhh, buat kamu repot" bilang Tania.


"Kebiasaan" tukas Tania.


"Pandu, ntar siang beliin aku rujak buah yang biasa mangkal di depan ya!" pinta Tania.


'Ganti aku nih yang dibuat repot' batin Pandu.


"Ya suruh aja Pandu yank" sela Arka ikut-ikutan.


Tring. Notif pesan masuk ke ponsel Tania. Tapi sengaja Tania abaikan.


"Nggak dibuka?" tanya Arka saat telah tiba di ruangannya.


"Nggak" tegas Tania. Dia nggak ingin diganggu oleh tuan Anton.


"Bisa jadi penting loh" imbuh Arka.


Karena lama nggak dibuka. Ponsel Tania berdering. Akhirnya Tania ambil ponsel yang tersimpan rapi di tas karena sudah beberapa kali berdering.


"Siapa?" tanya Arka.


"Angel"


"Halo, Angel. Pagi-pagi sudah nelponin. Ada apa?" tanya Tania setelah menggeser layar ponsel.


"Non, tuan Anton menunggumu" kata Angel berbisik sepertinya biar tak terdengar oleh yang lain di sana.


"Suruh pulang saja, aku nggak bisa. Hari ini ada rapat di Panapion" jelas Tania.


"Sudah aku bilang begitu. Katanya dia mau nungguin sampai Non datang" terang Angel. Membuat Tania jengkel.


"Biar aja nungguin, tapi pastikan ke dia kalau aku tak akan datang ke kantor hari ini. Dan bilang juga, aku tak bisa bantu perusahaan dia" kata Tania dengan jelas dan sudah dipahami oleh Angel.


"Baik Non, akan kusampaikan" jawab Angel.


Panggilan pun diputus oleh Tania.

__ADS_1


Tak lama ponsel kembali berdering.


"Aduh, dia lagi" gerutu Tania.


"Siapa?" sela Arka.


"Anton" jawab Tania dengan nada malas.


"Tegaskan aja yank, kalau kamu memang tak bisa bantu. Daripada kamu kena teror melulu" saran Arka.


Tania pun menyetujui apa yang dibilang oleh Arka.


"Selamat pagi tuan Anton" sapa Tania dengan nada diramah-ramahin.


"Pagi Nyonya. Mohon kesediaan waktu untuk bertemu hari ini" bilang Anton di ujung telpon.


"Maaf tuan. Apa yang saya katakan kemarin apa kurang jelas. Saya belum bisa membantu" terang Tania.


"Tolonglah nyonya. Ini menyangkut karir saya dan juga hajat hidup orang banyak" balas tuan Anton.


"Saya tidak bisa tuan" kata Tania tetap kekeuh.


"Maaf tuan, saya sedang sibuk" lanjut Tania dan memutuskan panggilan dari tuan Anton.


Arka yang mengamati Tania saat sedang menelpon, pasti semua ada kaitan dengan Arkan. Tak henti-hentinya dia mengganggu.


Pandu datang ke ruangan Arka, karena dipanggil oleh sang bos saat Tania sedang menelpon tadi.


"Sudah ada hasil?" tanya Arka dengan pandangan mengarah ke Pandu.


"Sudah tuan" tukas Pandu.


Tania yang sedang berada di ruangan sebelah, karena merasakan pinggangnya tak nyaman membuat Pandu leluasa untuk menyampaikan laporan ke sang bos.


"Orang-orang Smith yang bekerja di sini sudah berbalik memihak kita tuan. Mereka lah yang menjadi mata-mata kita di perusahaan Smith" terang Pandu.


"Bukannya itu tujuan kita sedari awal, menerima tawaran kerjasama dari mereka. Terus?"


"Saat ini mereka memang sedang menghadapi kasus yang lumayan berat" imbuh Pandu.


"Apa ini menyangkut perusahaan atas nama PT. Semesta Prima?" sela Arka.


"Kok tuan tahu?" Pandu balik bertanya.


"Sebenarnya mereka ada masalah apa?" tanya Arka dengan rasa penasaran yang membuncah.


"Selain penggelapan pajak, perusahaan yang bergerak di bidang keuangan dan simpan pinjam ini nyatanya telah melakukan penipuan ke puluhan ribu nasabahnya" terang Pandu.


Arka manggut-manggut.


"Ribuan nasabah itu juga berproses melakukan tuntutan ke perusahaan" lanjut Pandu menjelaskan.


"Dan yang terakhir tuan, info yang saya dapat. Perusahaan itu adalah tempat untuk menampung uang pejabat yang ingin hartanya aman" kata Pandu.


"Pencucian uang?" sela Arka.


Pandu pun mengangguk.


"Hebat juga Arkan" kata Arka menanggapi.


"Pencucian uang, jual beli senjata terus apalagi yang dia kerjakan" komen Arka.


"Tak menyangka, dia yang sepertinya hanya pengangguran dan benalu saat mama nya masih menikah dengan tuan Rendra nyatanya banyak juga usaha ilegalnya" Pandu pun ikut mengomentari.


"Awasi terus, jangan sampai lengah. Aku tahu yang diincar oleh Arkan adalah istriku" terang Arka.


"Baik tuan"


"Pargilah, saatnya kamu siapkan rapat dewan direksi" perintah Arka. Pandu mengangguk dan berlalu keluar dari ruangan Arka.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


πŸ’


__ADS_2