
Anton dan juga anak buahnya digelandang tak bersisa oleh pihak berwajib.
Arga menghampiri Arka dan Pandu, "Makasih Bro" dijawab senyuman Arka.
"Sekali-kali kamu lah yang diculik tuan Arga" canda Pandu.
"Biasanya kan tuan yang datang sebagai dewa penolong...he...he..." imbuh Pandu.
Arka pun menyentil kening Pandu. Sempat-sempatnya bercanda kala serius begini.
"Aku masih tak nyangka aja si Anton yang ngeculik kamu" kata Arka.
"Panjang ceritanya bos. Tapi yang pasti makasih, terutama buat istri kamu" tukas Arga.
"Kok nyonya muda?" sela Pandu heran.
"Bahkan nyonya muda cuman di rumah aja lho, nggak bantuin apa-apa" imbuh Pandu.
"Ya...terserah gue dong. Mau ngucapin makasih buat siapa" seru Arga.
"Yeeeiiii...gitu aja marah. Lagi PMS kah tuan?" ledek Pandu.
"Jangan lupa, sampaikan buat Tania" imbuh Arga dengan menepuk bahu Arka.
Tuan Pras dan juga Nyonya Magdalena alias nyonya Suti menghampiri mereka. Karena waktu memperkenalkan diri ke Tania dengan nama Suti, nama lahirnya. Nama nya diubah Magdalena, waktu memulai karir artis. Tapi nyatanya tak sukses itu.
"Selamat pagi tuan" sapa mereka berdua.
Arka pun menoleh. Meski masih malam, ini sudah dini hari dan sebentar lagi pagi. Makanya tak salah kalau mereka menyapa dengan ucapan selamat pagi.
"Pagi" tukas Arka.
Tapi tak lupa Arka menoleh ke Arga juga, meminta penjelasan.
"Ini tuan Pras, ayahku. Dan ini nyonya Magdalena alias nyonya Suti, ibuku" Arga memperkenalkan mereka ke Arka.
"Saya Arka tuan, nyonya" sebagai yang lebih muda Arka menyalami mereka berdua. Kedua orang tua Arga
"Apa ini tuan Arka, dari Panapion. Pemilik Rahardjo grub. Saya Prasetyo" kata tuan Pras.
"He...he..." Arka hanya terkekeh tanpa berkata.
"Iya tuan. Tuan Arka ini CEO Panapion" malah Pandu yang menjawab dan menjelaskan.
"Saya temannya Arga Wibisono, putra anda" Arka menambahi keterangan Pandu.
"Cukup perkenalannya. Aku capek. Mau pulang" ujar Arga.
Nyonya Magdalena sepertinya ragu hendak mendekat ke Arga.
"Sepertinya ada yang mau dikatakan sama mama kamu tuh" tukas Arka.
Arga pun menoleh.
"Sepertinya kedua mata kamu perlu dikompres nak" ucap mama Arga.
"Iya, nanti akan kukompres" jawab Arga.
Sepertinya mereka butuh waktu untuk akrab kembali. Memulihkan rasa kecewa yang telah lama tertanam di jiwa. Heleh, aku kok malah jadi puitis sih. Benak Arka ikutan tertawa.
Arka dan Pandu pamit duluan memberi kesempatan kepada Arga untuk lebih mengakrabkan diri ke kedua orang tua yang mungkin menjauh karena salah paham di antara ketiganya.
Tania masih terjaga kala Arka membuka pintu kamar.
__ADS_1
"Loh, nggak tidur?" Arka menatap Tania yang kedua matanya masih bening itu.
"Enggak bisa tidur" ungkap Tania.
"Kenapa?" tukas Arka.
"Nungguin kamu"
"Kangen?" goda Arka dan langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Arka menyusul sang istri ke ranjang setelah berganti pakaian bersih.
"Nggak terjadi apa-apa kan?" tanya Tania yang sudah memeluk sang suami.
Arka pun membalas pelukan sang istri.
"Tidur aja dulu, besok aja ceritanya" ucap Arka dan langsung merebahkan kepala di atas batal empuk.
"Sini peluk erat" pinta Arka.
Tania pun melakukan apa yang diminta sang suami.
Tak lama menunggu, Tania malah terlelap duluan.
"Bilang aja mau dipelukin yank, pakai acara nggak bisa tidur segala" Arka mengusap lembut puncak kepala sang istri yang menjadikan lengannya sebagai bantal.
Tak lupa dia kecup kening Tania dan menyusul ke alam mimpi.
Arka terbangun kala ponselnya berdering.
"Halo" sapa Arka tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Arka Danendra, apa kamu baru bangun?" suara nenek Gemmy yang terdengar seperti orang jengkel. Karena beberapa kali menghubungi Arka dan Tania, belum ada yang mengangkat.
"Apaan sih nek, aku capek" jawab Arka tak sedikitpun membuka mata.
Tania malah mendusel dan mempererat pelukannya ke Arka tanpa sedikitpun ingin membuka mata.
"Masih tidur juga" ungkap Arka.
"Kalian ini. Ini sudah jam berapa" kata nenek gemas.
"Nenek, kami baru bisa tidur menjelang pagi. Jadi jangan ganggu lagi dech" jelas Arka.
"Tania kenapa? Kok sampai nggak bisa tidur?" Nenek malah semakin banyak saja pertanyaannya.
"Issshhh nek, ntar aja ya jawabannya. Aku mau tidur lagi" Arka menutup panggilan nenek Gemmy. Tak memperdulikan gerutuan nenek yang berada di ujung telpon.
Kembali ponselnya berdering. Arka hanya bisa menggerutu, karena tidurnya keganggu lagi.
"Siapa sih?" gerutunya.
"Halo" ucapnya lagi tuk menyapa.
"Tuan, hari ini nggak ke perusahaan?" tanya Pandu.
"Datang, tapi agak siangan" balas Arka.
"Tuan, lihatlah berita pagi ini" terang Pandu.
"Oke, tapi ntar aja" imbuh Arka.
Kali ini dia tak tidur lagi, tapi bersiap untuk mandi. Dia tengok kanan kiri untuk mencari keberadaan sang istri.
__ADS_1
"Sayang, kamu di mana?" panggil Arka yang tak jadi mandi tapi mencari keberadaan sang istri.
Dilihatnya Tania berada di dapur dan duduk manis menikmati susu hamil.
Tania menoleh, "Sudah bangun?" tanyanya.
Arka mengangguk, "Kok nggak dibangunin sih?"
"Tidur kamu nyenyak banget" jelas Tania.
"Mau kopi?" Tania menawari.
"Nggak usah, air putih aja" Arka menimpali. Tania beranjak mengambilkan air putih buat sang suami.
"Nih yank" sodor Tania yang tangan satunya membawa roti tawar beserta selai nanas kesukaan Arka.
"Makasih" Arka segera saja meminum air putih hingga tandas.
Tania menatap sang suami hingga Arka bertanya, "Ada yang anehkah dengan mukaku?" sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.
"Suamiku memang tampan" puji Tania dengan semburat merah nampak di pipinya.
Arka terkekeh, "Baru nyadar?"
"Ayo cerita kejadian semalam, jangan buat penasaran lagi" kata Tania yang melenceng dari tema sebelumnya. Tema mesra-mesraan suami istri.
"Masih inget aja" ujar Arka sambil mengoleskan selai ke roti yang diambilnya.
"Ayolah yank" rayu Tania. Mengharap Arka segera cerita.
Arka pun menceritakan semua yang terjadi semalam, atau tepatnya dini hari tadi.
"Jadi Arga ketemu juga dengan ayah kandungnya? Tuan Anton ditangkap?" ucap Tania menanggapi.
"Ya begitulah" tutur Arka menimpali ucapan Tania.
"Oh ya, Arga juga nyampaikan rasa terima kasih untukmu" bilang Arka.
"Kok ke aku???" Tania menimpali.
"Lebih jelasnya tanya Arga langsung saja...he...he..." Arka kembali memasukkan roti yang sudah diolesi selai nanas ke dalam mulut.
"Tadi pagi ada berita tentang yang terjadi semalam lho yank" beritahu Tania.
"Iya, tadi Pandu juga cerita. Emang tentang apa sih?" sambung Arka.
"Penangkapan tuan Anton" lanjut Tania.
"Nggak ada yang istimewa" tukas Arka.
"Tuan Anton sepertinya dijadikan tameng oleh pelaku yang sebenarnya" terang Tania.
"Ya jelas aja to yank, dia kan anak buah Arkan. Sudah seberapa banyak dia memanfaatkan anak buahnya untuk menutupi segala kejahatannya" ulas Arka.
"Iya juga sih" imbuh Tania mengiyakan.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
π