Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kesalahpahaman


__ADS_3

Dan tibalah saat yang ditunggu. Arka bersiap berangkat ke negara 'T' bersama Bara dan rombongan lain. Tania dan Elis tak lupa mengantar suami masing-masing.


"Berangkat selamat, pulangpun selamat. Ingat yank, aku sama Arditya menunggu kamu di rumah" terang Tania.


"Cukup sekali waktu itu saja, kamu pergi tak ninggalin pesan buat ku" imbuh Tania.


"Kalau pergi yang ini aku pasti ngabarin. Kangen lah sama Arditya" tukas Arka.


"Arditya aja yang dikangenin. Nggak lucu ah" ujar Tania sewot.


"Dua-duanya sayang" Arka terkekeh.


Dia peluk sang istri. Kepergiannya kali ini memanglah sangat berbeda dengan kepergian yang lalu. Saat dirinya terbaring lemah pasca kecelakaan yang menimpa Arka saat itu. Yang mengakibatkan dirinya terbaring tanpa kabar kurang lebih tiga bulan lamanya.


"Aku janji dua minggu saja" bilang Arka.


"Jangan berjanji. Takutnya tak bisa kamu tepatin" tukas Tania masih saja sewot.


Arka hanya terkekeh menanggapi ucapan sang istri.


Tania memang sangat pandai beragumen, Arka harus menyiapkan alasan berdasarkan logika yang bisa diterima akal sehat.


Dunia yang berbeda, kadang menimbulkan perbedaan pandangan adalah suatu hal yang lumrah. Itu juga dialami oleh Arka dan Tania dalam mengarungi biduk rumah tangga.


"Hei, kok masih pelukan aja. Jadi berangkat nggak nih?" kata Bara yang juga baru selesai pamitan ke sang istri.


"Jadi dong" ulas Arka menimpali.


Arka dan Bara berangkat satu pesawat dengan beberapa rombongan yang lain. Tak nampak adanya beda di antara nya. Siapa yang mengira di tengah rombongan ada dua orang CEO perusahaan besar di sana. Dirgantara dan Panapion.


Tania dan Elis saling tersenyum kecut.


"Jomblowati untuk dua minggu ke depan" celetuk Tania membuat Elis tertawa.


"Sesekali suami kita juga perlu healing kak" tukas Elis.


"Healing versi mereka mah beda Elis" tanggap Tania sembari tersenyum.


"Ha...ha...benar juga. Kalau ada waktu mampir kak" tawar Elis.


"Oke" ucap Tania menanggapi.


Kedua istri itu berpisah kala sudah di luar area bandara. Mereka menuju mobil nya masing-masing lengkap dengan para pengawal yang membuntuti keduanya.


Saat ini Tania langsung meminta sang sopir untuk ke lapas di mana Arkan berada.


Tania sudah minta ijin sang suami sebelum Arka lepas landas.


Bagaimanapun juga ijin Arka sangat penting kali ini, karena semua yang diperbuat oleh Arkan bersinggungan juga dengan Arka.


"Selamat siang Arkan" sapa Tania yang sepertinya sudah ditunggu kedatangannya oleh Arkan.


"Silahkan duduk nyonya" kata Arkan.


"Hemmmm" Tania duduk tepat di depan Arkan.


"Aku bersedia menjadi pembela kamu, tapi ada syaratnya" kata Tania menatap tajam Arkan dan langsung ke inti pertemuan kali ini. Tanpa adanya basa basi.


"Berapa yang kamu mau?" tanya Arkan langsung.


"Ha...ha...kamu jujur sekali Arkan" Tania malah terbahak.


"Lantas? Apa yang kamu mau kalau bukan uang" tatap tajam Arkan.


"Kerdil sekali pikiran kamu, kalau kamu mengira aku melakukan semua karena uang" tandas Tania penuh penekanan di sela ucapannya.


"Lantas?" kejar Arkan.


"Hilangkan kesalahpahaman di antara kita" lanjut Tania membalas tatapan Arkan.


Arkan terdiam, seperti menelaah ucapan Tania.


"Coba kamu tanya pada hatimu? Apa aku punya salah padamu?" kata Tania mulai melunak.

__ADS_1


"Tapi ayah kamu lah yang membuat aku yatim Tania" masih ada emosi di ucapan Arkan.


"Apa sudah kamu telusuri kejadian itu?" netra Tania memicing menunggu jawaban Arkan.


"Tak perlu aku telusuri. Semua sudah jelas bahwa ayahmu lah yang menghilangkan nyawa ayahku" Arkan masih saja belum terima kenyataan ternyata.


"Sori, kalau kamu belum bisa menghilangkan tuduhan itu pada ayahku. Aku tak bisa menjadi pembela kamu" tukas Tania.


"Bagiku seorang pengacara tak akan bisa menangani kasus dengan maksimal jika tak terbina rasa saling percaya" ucap Tania.


"Lantas apa yang membuat kamu mau menerima penawaranku kemarin?" kejar Arkan dengan tanya.


"Karena aku yakin, dalam relung hati mu yang terdalam masih ada sisi kebaikan yang mungkin ibumu sendiri tak tahu" kata-kata Tania berasa menyindir perasaan Arkan.


Arkan tak menyanggah, kalaulah ucapan Tania banyak benarnya.


Selama ini, nyonya Gaby mama nya selalu mendoktrin dirinya untuk balas dendam atas kematian ayahnya.


Nyonya Gaby seolah-olah menjadi obyek penderita, yang mengakibatkan Arkan kecil mulai menancapkan rasa benci kepada keluarga Bagus Priyanto yang merupakan pembunuh ayahnya itu.


"Apa kamu tahu bagaimana cerita ayahku meninggal?" tanya Tania.


Arkan mengedikkan bahu tanda tak tahu.


"Apa kamu ingin tahu?" ucap Tania.


Arkan diam.


"Ayahku meninggal karena diduga terkena serangan jantung. Padahal sebelumnya ayahku tidak ada riwayat sakit apapun" kata Tania. Tujuannya kali ini ingin membuka mata Arkan agar tahu, bahwa dia sendiri juga menderita karena ulah oknum-oknum yang saling balas dendam.


"Lantas?" ternyata Arkan kepo juga.


"Aku baru tahu, saat aku bertemu denganmu di rumah papa Rendra saat itu" ujar Tania.


"Belum lama juga ternyata" imbuh Arkan.


"Hemmmmm, karena aku baru menyelidikinya" tandas Tania.


"Apa ini ada kaitan nya dengan mama ku dan pengacara yang membela ayahmu waktu itu?" tanggap Arkan.


"Ya mereka bekerja sama untuk membunuh ayahku. Bekerjasama dengan orang dalam yang saat ini akan menjadi targetku untuk menjebloskannya ke penjara" kata Tania nanar.


Arkan selama ini memang tak mau ikut campur urusan mama nya. Dia ingin balas dendam dengan caranya sendiri.


"Sekarang kamu tahu semua. Impas kan? Ayah kamu meninggal, ayah ku pun mengalami hal yang sama. Padahal kejadian yang telah lama berlalu itu terjadi karena faktor ketidaksengajaan dari ayahku yang sama sekali tak kenal dengan senjata api" terang Tania.


"Atas nama ayahku, aku minta maaf Arkan. Mungkin dengan permintaan maaf ku ini, kamu bisa membuka hatimu untuk hal-hal baik kedepannya" tandas Tania.


Arkan terlihat merenungi kata-kata yang diucapkan Tania barusan.


"Aku menunggu kesempatan ini sudah lama sekali Arkan" kata Tania.


"Bicara dari hati ke hati dengan kamu" lanjut Tania.


"Padahal kamu juga tahu, bagaimana keras nya suamiku. Kamu mengenalnya bukan?" ucap Tania tetap dengan berorasi.


"Bahkan saat kamu menyuruh Smith untuk menculikku, sejatinya malah aku berharap suami ku untuk tak segera menemukanku" lanjut Tania.


"Jadi kamu tahu, kalau aku dalangnya?" telisik Arkan.


"Ha...ha...aku sudah tahu semua modus operandi kamu Arkan" kata Tania dengan terbahak.


"Bahkan saat kamu menyuruh tuan Anton saat itu akupun juga tahu, dengan menyuruhku untuk menjadi pengacara korporasi di perusahaan kamu yang hampir kolaps saat itu" jelas Tania gamblang.


"Apa Arka tahu semua?" Arkan menimpali.


"Jelas dia tahu, bahkan jauh sebelum aku tahu" terang Tania.


"Lantas kenapa kalian tak menumpasku sekalian saat itu?" tanya Arka heran.


"Karena kami berharap, ada sisi baik kamu yang akan mengakhiri sendiri semua kejahatan kamu. Dan bukan kami yang menghentikan" ulas Tania.


"Bahkan omonganku banyak yang menganggap bullshit. Suamiku sendiri juga bicara seperti itu. Kalau menurutmu?" tanya Tania minta pendapat Arkan.

__ADS_1


Arkan terdiam. Menelaah semua ucapan Tania.


"Kali ini aku membuang semua prinsip rasionalitas dan logika berdasar fakta" kataTania.


"Apa maksudnya?" sela Arkan.


"Pada kenyataannya kamu itu memang lah penjahat di antara yang jahat. Bahkan hukuman seumur hidup pun tak akan cukup untuk menebus semua kesalahanmu. Apalagi nyawa kamu" ulas Tania.


"Pengacara manapun, bahkan jikalau kamu mau main uang. Tak akan merubah fakta kamu tetaplah seorang penjahat" lanjut Tania.


"Sudahlah. Aku capek mendengar pidato kamu Tania. Sekarang aku tanya, maukah kamu menjadi tim kuasa hukum ku?" tandas Arkan.


"Asal kamu penuhi syarat yang aku minta saat aku datang tadi, maka aku akan menjadi pembelamu" Tania menanggapi penuh ketegasan.


"Deal, aku percaya denganmu" ucap Arkan.


"Tidak ada tendensi apa-apa di balik ini? Pure rasa percaya kamu kepadaku?" tegas Tania.


Arkan mengangguk.


"Baiklah, besok aku akan ke sini lagi bersama asistenku untuk menyiapkan semua.


Arkan pun mengangguk.


"Sekarang beralih ke kasus Davina, apa yang menjadi keinginan kamu?" ucap Tania.


"Aku ingin dia bebas Tania. Dalam hal ini tidak ada keterlibatan apapun darinya. Dan perlu kamu ketahui, dia sedang hamil anak aku" terang Tania.


"Really? Selamat ya, kamu akan jadi seorang ayah" tukas Tania menyalami Arkan. Tapi ditolak oleh Arkan.


"Kamu itu memberi selamat atau mau mengejekku?" sanggah Arkan.


"Aku tulus. Hidup kamu pasti akan berubah setelah ada anak yang menunggu mu keluar dari sini. Sueerrrr..." ada rona bahagia di antara ucapan Tania, yang memang baru saja menimang putra.


"Aku bisa bilang seperti ini karena baru mengalami" imbuh Tania.


"Tapi situasi kita berbeda Tania?" ucap Arkan.


"Tergantung bagaimana kita menyikapi, dari sisi baik atau sisi buruk" Tania menanggapi.


"Besok aku akan menemui Davina, barulah aku akan ke sini. Mau titip apa buat Davina?" Tania menawari.


Setelah apa yang aku lakukan padanya, bahkan dia melakukan semuanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tania memang wanita baik. Pikir Arkan.


"Eh, kok malah melamun sih?" Tania melempari Arkan dengan sebuah bolpoin yang ada di depannya.


"Ih, niat banget sih nyakitin gue" celetuk Arkan.


"Jangan bilang begitu, bahkan ulah loe lebih parah ke gue" sanggah Tania.


"Ha...ha...gue minta maaf dech" bahkan Arkan dengan mudahnya meminta maaf sekarang.


"Aku balik, jadi nitip apa buat tunangan loe. Tapi jangan lupa suruh asisten loe buat transfer ke gue" ucap Tania.


"Sudah jadi nyonya Arka Danendra, tetep aja matre loe" olok Arkan.


"Beda kasus bang...ha...ha..." Tania tergelak.


"Repot kalau bicara sama pengacara" Arkan menepuk jidat.


"Bye..." Tania pamit begitu saja meninggalkan Arkan yang terbengong.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2