Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Putusan untuk Arkan


__ADS_3

Dua minggu sudah Tania tak dibolehin pergi kemana-mana oleh Arka. Tak perduli garapan kantor menumpuk atau pakai alasan lain.


Arka benar-benar menjaga Tania. Arka tak mau kecolongan lagi seperti saat Arditya lahir dulu. Tania diculik oleh Arkan dan anak buahnya.


Bahkan kadar keposesifan Arditya semakin meningkat tajam.


Seperti pagi itu, kala Tania tengah bersiap untuk pergi menemui Boy asisten Arkan. Boy yang tega mengkhianati sang bos hanya karena serakah akan kekuasaan. Arditya seakan tak mau lepas dari gendongan Tania.


"Sayang, mama kerja ya nak" kata Tania pamitan kepada Arditya.


Saat ini Arka harus memastikan sendiri keamanan Tania. Makanya hari ini Arka langsung menelpon Pandu untuk mengosongkan jadwal kala Tania mengutarakan niatnya untuk mengunjungi Boy pagi tadi.


Barangkali dari keterangan Boy ada yang akan meringankan hukuman Arkan. Pikir Tania.


Di wajah polos Boy ternyata tersimpan sejuta keculasan dalam dada.


"Untuk apa nyonya menemuiku? Ingin menggali informasi agar aku bisa meringankan hukuman tuan Arkan" ujar Boy.


"Yaaa...kalau kamu bisa"singkat Tania.


"Terlalu sakit hati jika aku mengingat semua. Dan intinya, aku tak sendiri melakukan semua kejahatan terhadap calon istri tuan Arkan" beritahu Boy.


"Jadi misi kamu balas dendam?" sela Tania.


"Heemm" Boy mengangguk.


Selama dua minggu ini, saat Tania bed rest berita-berita kejahatan masih setia wira wiri di layar kaca. Banyak sejali tokoh-tokoh pejabat yang tertangkap.


Dan tak sekalipun Arkan menghubungi lagi Tania seperti dua hari pertama Arkan melarikan diri.


Arkan bagai ditelan bumi, hilang begitu saja.


.


Tania datang ke pengadilan dengan diantar langsung oleh Arka.


Bukan maksud untuk mencari sensasi ataupun simpati, tapi memang karena keadaan fisik dan alasan kesehatan lain yang musti menuntutnya untuk datang menggunakan kursi roda.


Kedatangan Tania kali ini tentunya sangat ditunggu pewarta, apalagi sang klien yang dibela sampai sekarang tak tahu rimbanya.


"Selamat pagi nyonya Tania" sapa salah satu pewarta mewakili semua yang duduk di sana.


"Pagi. Silahkan bertanya. Aku usahakan semampunya untuk kalian agar mendapatkan jawaban yang diinginkaan" terang Tania.


"Nyonya, ke mana klien anda? Apa tuan Arkan tidak pernah menghubungi anda dalam pelariannya?" tanya salah satu wartawan yang di tengah.


"Andaikan aku tahu di mana klien aku berada, pasti akan kugandeng dia saat ini. Untuk duduk manis mendengarkan hakim membacakan vonis untuknya. Apa klien saya pernah menghubungi nomor ku, dan aku pun tak berbohong. Tuan Arkan pernah menghubungi. Semua keterangan aku ini semua sudah tercatat di BAP susulan" jelas Tania.


"Apa kira-kira tuan Arkan telah pergi ke luar negeri nyonya?" tanya yang lain.


Tania mengangkat kedua bahu tanda dia tak tahu pasti.


"Sebagai pengacara atau kuasa hukum klien anda, apa anda tidak memberitahu segala macam resiko jika klien anda melarikan diri?" tanya yang di belakang.


"Harusnya begitu. Tapi perlu anda ketahui, tuan Arkan adalah seorang lulusan sarjana hukum. Bahkan saat awal aku akan menjadi penasehatnya, dia sudah tahu pasal apa saja yang akan dikenakan padanya. Aku rasa dengan tuan Arkan melarikan diri, dia sendiri sudah tahu sebab akibatnya. Terima kasih" kata Tania menutup pertemuan dengan para pewarta kali ini.


Di ruang sidang, telah duduk lengkap antara pemberi vonis, penuntut dan juga pembela.


Yang belum hadir adalah terdakwa.


Sang pemberi vonis menanyakan untuk yang terakhir kali kepada penuntut, bisa kah menghadirkan terdakwa yang sekarang harusnya masih di bawah kendali para jaksa itu.


Kenzo dan kedua temannya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan sang hakim.


Karena sudah cukup lama menunggu sidang putusan yang diundur karena alasan terdakwa melarikan diri membuat sang pemberi vonis menjatuhkan putusan hari ini.


"Berdasarkan bukti dan saksi yang telah dihadirkan di sidang-sidang sebelumnya kasus dengan pasal...bla...bla...maka dengan resmi menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada terdakwa"


Sidang ditutup saat ketua sidang yang ada di depan mengetuk palu sebanyak tiga kali.


Meski Arkan tak hadir, Tania yakin dia pasti menyimak hasil putusan sidang kali ini.


Tunai sudah kewajiban Tania untuk menjadi pembela Arkan sampai akhir.


Jika nantinya Arkan ditangkap kembali dengan kasus yang berbeda, tentunya Tania akan menolak jika sekiranya Arkan akan memintanya kembali.


Tania sudah berjanji pada sang suami, jika kasus Arkan ini adalah kasus pidana terakhir yang dibelanya.


Tania keluar ruang sidang tetap dengan Arka yang bersamanya.


Kenzo menghampiri sepasang suami istri, yang pernah dibuatnya salah paham karena tingkah lakunya saat itu.

__ADS_1


"Tania" panggil Kenzp dari posisi di belakang Arka.


Arka pun memutarkan kembali arah kursi roda untuk berhadapan dengan seseorang yang memanggil sang istri dari arah belakang.


Mimik muka Arka tentu saja langsung berubah kala tahu siapa yang memanggil sang istri.


"Hai Tania, hai tuan" sapa Kenzo.


"Kenalin, suami gue" jelas Tania tersenyum. Tania sudah bisa menerka, ada rasa cemburu yang sangat nampak di wajah suaminya sekarang.


"Kenzo" teman Tania itu mengulurkan tangan sembari menyebut nama.


"Arka" jawab Arka menyebut nama.


"Sori bro, kapan hari sudah buat loe salah paham. Gue nunggu kesempatan ini untuk minta maaf sama loe secara langsung" terang Kenzo.


"Iya, gue maafin" tukas Arka dengan singkat dan jelas.


"Ayo yank" ajak Arka ke suami Tania.


"Duluan Kenzo" pamit Tania dengan ramah ke teman satu angkatannya itu.


"Bye, hati-hati kalian" jawab Kenzo.


"Genit banget sih sama dia" gerutu Arka kala sudah jauh dari keberadaan Kenzo.


Tania diam tak membalas. Malas aja berdebat sama suami yang sekarang tingkat posesifnya sampai ubun-ubun.


Mendingan ditenangin dulu dengan minum es buah langganan Tania.


"Yank, beli es buah yuuukkkk" ajak Tania.


Arka diam.


"Buat mendinginkan otak nih" seru Tania beralibi dan mengalihkan perhatian Arka dari rasa cemburunya.


"Heemmm...es buah yang mangkal di mana nih?" tanya Arka mulai merespon permintaan sang istri.


Tania tersenyum puas.


Kadang emosi tak perlu dibalas emosi. Disenyumin aja pasti akan luluh sendiri.


"Meski menurutku, kasus ini tak sukses-sukses amat sih" imbuh Tania.


"Kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Arkan, tapi kalau Arkan bertindak sendiri di luar sepengetahuanmu itu sudah menjadi tanggung jawab Arkan sendiri" ujar Arka menimpali.


"Heemmm...aku mencoba berpikir seperti itu sih" Tania menambahi.


Kembali sebuah panggilan anonim masuk ke ponsel Arka.


Tak tanggung-tanggung. Panggilan dari nomor luar negeri.


"Siapa ya?" gumam Arka kala melihat kode negara sang penelpon.


"Kolega Panapion kali" tebak Tania.


"Aku rasa bukan" jawab Arka pasti.


"Angkat aja" ucap Tania.


"Kamu angkatin dong. Aku kan sedang nyetir" kata Arka.


"Hemmm baiklah. Siapa tahu bule ganteng sedang nyasar nelpon" canda Tania.


"Gue aja yang terima" sela Arka sembari menepikan laju mobil ke tepi jalan.


"Halo" sapa Arka.


"Bro, gue Arkan" kata penelpon di seberang.


"Wah, sialan loe. Sudah jangan nelponin lagi. Kasus kamu sudah vonis tuh. Dan istriku mulai hari ini mengundurkan diri untuk menjadi kuasa hukum loe" jawab Arka lengkap dengan umpatannya.


"Aku juga nggak akan pakai Tania lagi. Biar dia istirahat saja. Jaga dia Arka. Tania orang yang baik. Maafkan aku yang selama ini sudah jahatin kalian" terang Arkan di sana.


"Baru nyadar loe. Aku juga minta maaf jika memang selama menjadi saudara tiri loe aku tak pernah baik padamu" ujar Arka.


"Sialan loe...ha...ha..." tawa Arkan terdengar menyayat hati kala tertawa.


"Oke Arka, Tania. Sekali lagi aku minta maaf. Bye" ucap Arkan.


Tapi yang membuat aneh Arka, terdengar bunyi letusan senjata api yang lumayan keras.

__ADS_1


Bahkan saat dilihat, panggilan Arkan masih berlangsung. Dan langsung terputus begitu saja saat Arka menyadari.


"Halo...halo...Arkan. Halo" Arka bahkan mencoba menghubungi balik nomor itu, dan seperti biasa. Jawaban operator budiman didengar oleh Arka.


"Kira-kira kenapa ya yank?" telisik Tania.


Baginya begitu aneh terdengar letusan senjata api itu.


"Sudahlah berpikir positif aja, semoga Arkan baik-baik saja di negara itu tadi" Arka menenangkan Tania.


"Iya, semoga saja" tanggap Tania.


Terdengar ketukan pintu mobil dari samping Arka.


"Loh, kok pak polisi lalu lintas?" Tania menautkan alisnya.


Arka membuka kaca mobil.


"Selamat siang, tolong surat-suratnya" pinta petugas di jalan raya itu.


Arka pun menyerahkan apa yang diminta.


"Tahu pelanggaran yang anda lakukan tuan?" petugas itu menanyakan dan Arka hanya bisa menggeleng.


"Itu" tunjuk petugas itu ke arah rambu jalan yang tepat berada di samping Tania.


Tania pun menengok ke sana. "Alamak, salah parkir kamu yank" ujar Tania, karena di sampingnya itu tertera rambu dengan huruf 'S' disilang.


"Iya pak, terima kasih sudah mengingatkan" sahut Arka.


"Ini tuan surat tilang anda" kata petugas itu menyerahkan selambar kertas kepada Arka.


"Terima kasih" Arka kembali menjalankan mobil dan bergerak perlahan.


"Alhamdulillah dapat surat cinta dari polantas" gurau Tania.


Arka pun tersenyum simpul menanggapi ucapan Tania barusan.


"Kamu nggak usah turun. Aku aja. Berapa bungkus sih?" tanya Arka yang hari ini sengaja mengosongkan jadwal untuk menemani Tania menghadiri sidang.


"Berapa ya yank? Dua puluh limaan dech" beritahu Tania.


"Oke, tungguin" suruh Arka.


Di antara pembeli, Arka tentu saja menjadi pusat perhatian.


Laki-laki tampan, ber jas rapi tapi ujung-ujungnya beli es buah.


Dari balik kaca mobil, Tania tertawa melihat ibu-ibu yang sepertinya senang menggoda sang suami.


Tania menghentikan tawa, kala pandangan ibu-ibu itu mengarah padanya.


Arka sepertinya menjelaskan jika di dalam mobil sudah ada istri yang sedang menunggunya.


Angel dan Maura telah menyambut kedatangan Tania. Karena saat di jalan, Tania sudah menginfo akan datang ke kantor setelah dua minggu lebih tak mendatanginya.


Mereka juga sudah tahu hasil sidang, vonis apa yang dijatuhkan kepada Arkan.


Saat sedang asyik menikmati es buah masing-masing. Sebuah berita hot news tersaji.


Semua perhatian langsung teralihkan ke sana. Semua fokus ke arah layar televisi besar yang ada di ruangan itu.


Tania duduk paling depan untuk menyimak.


"Kok dianggurin es buahnya?" tanya Arka yang barusan gabung.


"Sedang lihat itu" kata Tania dengan arah mata ke televisi.


Saat sedang serius-seriusnya, iklan malah menjeda semuanya. Membuat semua yang sedang fokus, menggerutu berjamaah.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2