
Tania menjalani hari-hari seperti biasa, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Bahkan sudah dua minggu lebih semenjak kejadian itu.
Maura masih sering memanasi Tania saat berada di kantor dan hal itu tak digubris sama sekali oleh Tania.
Seperti siang itu, Maura sengaja menelpon Benzema untuk menjemputnya ntar sore saat jam pulang kantor. Dia sengaja mengeraskan volume suaranya, ingin mengajak Benzema fitting baju untuk tunangan dan sekalian kebaya untuk akad nikah.
Tania tersenyum sinis mendengar suara Maura yang seperti sengaja menyindirnya.
Angel yang ikut mendengar saja sampai ikutan jengah.
"Non, makan siang yuk. Mulut ini napa tiba-tiba gatel ya" seloroh Angel.
"Di ruangan aja yuk, kebetulan mama Rosa nyiapin dua. Katanya sih tadi satu khusus buat Angel" kata Tania dengan ceria. Asistennya yang tambun itu pasti tak bakalan menolak, sesuai prediksi mama Rosa.
"Wah, sering-sering aja Non. Mama Rosa is the best...ha...ha..." tukas Angel.
"Maunya..." ujar Tania. Mereka berdua terbahak, tak memperdulikan keberadaan Maura.
Maura yang mendengar bincang Tania dan Angel marah. Karena semua ucapannya tak didengar oleh Tania.
Andai Tania tau, kalau Maura adalah teman SMA nya dulu. Tapi beda kelas. Tapi sepertinya Tania memang tak ingat dengan Maura Hadinoto. Apalagi penampilan mewah dan beberapa permak wajah yang ditampilkan oleh seorang Maura.
Maura yang selalu kalah saing prestasinya oleh Tania Fahira. Tania cewek bar-bar yang tak kenal takut dengan siapapun. Tak pernah terlihat belajar, tapi nilainya selalu mendapat juara satu di sekolah. Mulai saat itulah Maura terobsesi untuk mengalahkan seorang Tania Fahira.
Saat lulus SMA, Tania diterima di sebuah kampus bergengsi dengan beasiswa pula. Hal itu semakin menambah rasa benci Maura terhadap seorang Tania. Maura yang ikutan mencoba daftar di kampus itu, tak diterima bahkan saat masih proses pendaftaran awal. Akhirnya Maura memaksa papa nya, tuan Hadinoto untuk menyekolahkannya ke luar negeri.
Berita tentang Tania, tak dia lewatkan. Bahkan siapa pacar Tania pun Maura selidiki.
Sampai akhirnya, Tania magang di tempat firma hukum papanya bagai sebuah keberuntungan buat Maura.
Entah apa yang membuat Tania mau magang di tempat papa nya, padahal firma hukum sang papa meski sudah punya nama. Tapi masih kalah jauh dengan sebuah firma hukum yang memang terkenal di kalangan kelas atas. Maura juga tahu kalau saat itu Tania mendapatkan tawaran magang di firma hukum itu, tapi Tania menolaknya.
Maura begitu terobsesi mengalahkan seorang Tania Fahira.
Apa Tania tau, tentu saja tidak. Karena Tania tak pernah memusuhi seseorang.
.
Sementara Tania bersendau gurau dengan Angel sambil menikmati makan siang yang dibuatkan oleh mama Rosa.
"Non, seminggu lagi kan masa magang non di kantor ini selesai. Kira-kira mau bertahan, atau Non mau buka kantor sendiri?" tanya Angel tiba-tiba membuat Tania kesedak.
"Minum dulu" Angel menawari air putih dalam kemasan.
__ADS_1
"Kalau Non buka kantor sendiri, aku diajak serta ya" ucap Angel sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Emang mau? Di sini gajinya besar loh" tukas Tania.
"Heemmmm, gimana ya?" Angel serius berpikir.
"Halah, loe pasti nggak kerasan karena makhluk di depan tadi kan?" tebak Tania tertawa.
"Idih, jangan terus terang gitu non. Pakai bahasa kiasan aja" seloroh Angel menimpali dan ikutan tertawa.
"Mulai minggu depan, non akan sering sidang sendiri loh" imbuh Angel.
"Kemarin-kemarin aja sudah sering maju sendiri" kata Tania.
"Itu berarti, kemampuan non sudah layak diacungi jempol. Seperti tuan Felix yang menyuruh non untuk mewakilinya" Angel menyambung ucapannya.
"Angel, habis istirahat kita ke ruang berkas ya" ajak Tania.
"Untuk?" Angel menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Ada dech" kata Tania tak berusaha menjelaskan.
"Emang non Tania sudah ada akses ke sana?" tanya Angel.
Di kantor Hadinoto, semua berkas memang disimpan dengan rapi di suatu ruangan. Hanya orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Apalagi kasus-kasus yang ditangani sendiri oleh tuan Hadinoto, hanya asistennya lah yang bisa menyentuh.
"Emang Non bilang apa, kok sampai Anthoni percaya?" telisik Angel.
Anthoni adalah asisten langsung tuan Hadinoto. Orang yang sangat tertutup menurut Angel.
"Kamu ingat nyonya Marsha, kasus yang kita tangani?" tanya balik Tania. Dan Angel mengangguk.
"Sepertinya kasus ini ada hubungan dengan perusahaan elektronik terbesar Panapion, di mana tuan Hadinoto adalah penasehat hukum di perusahaan itu" jelas Tania.
"Emang Non mau nyari berkas semacam apa?" Angel masih belum ngeh.
"Kasihan nyonya Marsha ya Non, aku nggak percaya kalau dia seorang ibu yang tega mengakhiri nyawa anaknya" ujar Angel.
"Yachh...tetep saja sebagai pembela kita harus mengedepankan asas praduga tak bersalah, sampai hakim nanti ketuk palu" imbuh Tania.
Padahal dalam hati, selain untuk mengetahui berkas tentang perusahaan Panapion, Tania juga ingin mencari berkas kasus yang ditangani tuan Hadinoto saat membantu sang ayah dulu.
"Non, kuhubungi Anthoni dulu ya" kata Angel dan mencari nomor ponsel Anthoni.
__ADS_1
"Ah, kau ini repot sekali" kata Tania sambil mengangkat telpon antar ruangan yang ada di sebelah kanannya.
"Thon, boleh aku ke ruanganmu sekarang?" tamya Tania.
Tania segera menutup telpon dan beranjak.
"Angel, kamu nggak usah ikut. Aku sendiri saja ke sana. Anthoni nggak bolehin kamu ikut" Tania pun keluar dari ruangannya.
Meninggalkan Angel yang bersungut, "Awas saja kau Anthoni" gerutu Angel.
Tania yang terburu, meninggalkan begitu saja ponsel di mejanya.
Ponsel itu sering berbunyi, dan menimbulkan beberapa notif pesan. Dilirik ponsel Tania oleh Angel, ada beberapa notif pesan yang sepertinya dari Benzema.
"Masih saja menghubungi wanita yang kau sakiti. Bodoh kau tuan Zema. Membuang berlian untuk mengambil debu" umpat Angel.
Panggilan telpon di ponsel Tania, membuat Angel terlonjak. "Eh...buaya...eh...kuda" latah Angel keluar.
Dilihatnya ponsel yang terus berdering, sebuah nomor tak dikenal. Angel menautkan alisnya dan berpikir... angkat...enggak...angkat...enggak...angkat.
Saat hendak diangkat panggilan itu telah diputus oleh penelpon. Angel hendak membereskan sisa tempat makanan, dan kembali ponsel Tania berdering oleh nomor yang sama dengan yang tadi.
"Aku angkat aja, barangkali klien baru" Angel menggeser ikon hijau di ponsel Tania.
"Selamat siang, dengan Angel asisten Nona Tania" sapa Angel.
"Tania ke mana?" tanya orang itu.
"Dengan siapa ini? Nanti aku bilang ke nona" tukas Angel.
"Bilang saja kalau Arka Danendra menelpon untuk menagih janji" jawabnya dan panggilan langsung terputus.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis πππ
Iklan di bawah, di klik juga boleh.
Jangan lupa follow IG aku juga dong
__ADS_1
@moenaelsa_
π