Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Menyusun Strategi


__ADS_3

Tania keluar kamar setelah dipastikan badannya bersih dan berganti baju.


Dihampirinya baby 'A' yang masih terlelap dalam gendongannya.


"Mana Mah, biar kugendong" pinta Tania.


Mama Rosa menyerahkan dengan hati-hati ke pelukan Tania.


"Lain kali lebih hati-hati lagi pada orang yang tak dikenal" kata Mama Rosa mengingatkan.


"Heemmmmm" Tania mengiyakan ucapan mama.


"Kamu sudah buat repot semua orang, kasihan juga pada baby A" ucap mama menambahi.


"Siapa juga yang mau diculik Mah" tukas Tania.


Baby 'A' menggeliat.


"Sepertinya dia haus" bilang mama.


"Tadi minum susu apa?" tanya Tania karena semenjak pagi dia sibuk dengan urusan culik menculik.


"Ya terpaksa mama sama nenek kasih susu buatan pabrik" terang mama.


Tania menggendong baby nya ke kamar.


Kedua bukit kembarnya bahkan terasa sangat penuh dan kencang, karena tak ada pengeluaran semenjak pagi.


Mama Rosa mengikuti langkah kaki putrinya.


"Pelan-pelan saja. Pasti penuh kan?" ujar mama.


"Iya sih, rasanya kencang sekali" bilang Tania.


Bahkan saat baby 'A' menghisap sebelah, yang sebelah pun ikut menetes.


"Mah kok gini?" kata Tania panik melihat arah puncak yang tak terisap menetes. Maklum lah ibu baru.


"Ya normal dong, itu karena sejak seharian belum kena mulut baby 'A' terang mama.


"Sakit Mah, tahu gitu tadi tak suruh ngisap Arka aja biar nggak bengkak" kata Tania sambil meringis menahan sakit karena isapan baby 'A.


Mama Rosa menyentil kening Tania.


"Apaan sih Mah? Sakit tau" kata Tania tanpa merasa bersalah.


"Ini sekarang jatahnya baby 'A' dulu, papah nya nomor sekian" imbuh mama.


"Idih mama. Ngeres amat pikirannya. Aku kan nyuruh Arka biar nggak bengkak aja" ujar Tania sewot.


Tania asyik bercengkerama dengan baby 'A' saat nenek Gemmy diikuti bibi membawakan makanan untuk Tania.


"Makan dulu gih! Cicit Oma biar sama Oma dulu" kata nenek Gemmy gemas.


Mama Rosa mendekatkan makanan kepada ibu baru itu, "Makan yang banyak. Baby 'A' butuh nutrisi yang banyak dari kamu. Jangan mikirin diet-diet dulu" kata mama kasih saran.


"Siap...urusan makan mah gampang" kata Tania terkekeh.

__ADS_1


Saat melihat Tania makan, seperti orang tak ada beban. Padahal seharian dia bersama penculik.


.


Arka telah sampai markas Sebastian. Di sana sudah lengkap yang lain.


"Sori lama" bilang Arka ikutan gabung.


"Kita sudah suruh anak buah kita yang posturnya mirip istrimu untuk dijadikan sandera" bilang Tian.


"Lantas??" tanya Arka yang datang terlambat.


"Nih" Dewa menunjukkan foto orang yang dimaksud. Memang secara postur orang itu mirip Tania. Tak lupa Dewa perintahkan untuk pakai topi dan masker, agar tak gampang dikenali.


"Orang-orang kita juga sudah stanby di sana" imbuh Arga.


"Suruh Smith hubungi Arkan segera" perintah Arka.


Arga pun bergerak mendekati Smith yang sedari tadi diam dalam kondisi terikat.


Arga membuka paksa plester penutup mulut Smith.


"Aduh, sakit tau" gerutu Smith.


"Cepat, telpon bos kamu" suruh Arga mendekatkan ponsel ke arah telinga Smith.


"Jangan coba main-main dengan kami. Anak istri kamu jadi jaminan" ancam Arga.


Panggilan tersambung.


"Arkan, wanita yang kamu ingini sudah kukirim ke tempat yang kamu minta" tutur Smith memberitahu.


"Siapa yang ke stasiun kota?" tanya Smith.


"Pastikan dulu wanita yang kuingini sudah di sana, baru aku akan menyuruh orangku untuk menjemput wanita sialan itu" ucap Arkan.


Mendengar perkataan Arkan membuat Arka mendelik. Enak saja dia bilang istriku sialan. Gerutu Arka.


"Dan kupastikan, wanita itu sudah di sana" kata Smith dengan nada yakin.


"Oke, orangku yang di sana biar stanby menunggu kedatangan Tania" jawab Arkan. Dan kata Arkan barusan menyudahi panggilan yang dilakukan Smith.


"Sekarang bebaskan keluargaku" kata Smith.


"Ha...ha...apa kamu bilang? Enak saja" Arga terbahak bersama yang lain.


"Sebelum kamu merasakan jeruji penjara dan sebelum kami bisa menangkap Arkan, jangan mimpi" ulas Sebastian.


"Cih, jangan ikut campur dengan urusan kami" umpat Smith.


"Urusan Tania akan menjadi urusanku juga. Apalagi bila sampai membahayakan jiwa sahabatku" Sebastian menatap tajam Smith.


Smith dan anak buahnya mendapatkan intimidasi yang luar biasa dari orang-orangnya Tian dan juga Arka.


"Sebagian orang kita dan orang kamu sudah bergerak ke tempat Arkan" kata Tian.


"Apa sudah dipastikan?" tanya Arka.

__ADS_1


"Aku berhasil mengorek informasi dari Smith, meski dia sebenarnya tak sengaja mengakui...he...he..." Tian terkekeh.


Sebastian kembali membisikkan sesuatu ke Arka.


"Wah, tak nyangka tempat itu ternyata home base nya dia?" tanya Arka dijawab anggukan Tian.


"Arga, Dewa, Pandu...sini!" panggil Arka.


"Siap bos" jawab mereka bersamaan dan mendekat ke Arka.


Smith dan anak buahnya pun telah dipindah ke sebuah ruang kosong bawah tanah yang ada di markas itu. Sebastian ternyata menyiapkan segalanya. Arka pun mengakui itu, dia harus belajar banyak dari seorang Sebastian.


"Jangan belajar dari gue bang, Tania itu orang yang lurus soal hukum. Jadi jangan jadi penjahat seperti gue...ha...ha..." kata Tian yang tahu arah pemikiran Arka.


"Jangan sampai istri kamu malah jadi pembela musuh-musuh kamu. Berabe ntar" Dewa ikutan menyela.


"Betewe kita dipanggil mendekat disuruh apaan ya?" sela Arga.


"Begini Ga, kamu tahu rumah besar yang sejajar dengan bengkel kita?" tanya Arka.


Dan Arga pun mengangguk, "Yang terpaut beberapa rumah, dan gerbangnya tinggi menjulang itu kan?" tanggap Arga.


"Iya. Itulah markas Arkan" terang Arka.


"Hah?" Arga menepuk jidat. Bagaimana bisa dia pun kecolongan.


"Sekarang kalian bertiga meluncurlah ke sana" perintah Sebastian.


"Aku akan hubungi teman-teman dari satuan kepolisian" kata Tian.


Ponsel Arka berdering keras, ternyata Bara.


"Halo Bar" sapa Arka.


"Telah aku kirimin sebuah video. Bukalah!" bilang Bara.


"Heemmmmm, oke" jawab Arka. Panggilan pun terputus.


Arka membuka pesan yang dikirimkan oleh Bara. Di sana nampak Davina sedang mengadakan jumpa pers saat launching film terbarunya.


Bahkan Davina mengenalkan orang yang dicari Arka dan teman-teman saat ini.


"Apaan sih? Bagi dong" sela Tian.


Arka pun menyodorkan ponsel untuk dilihat Sebastian.


"Gimana menurut loe?" kata Arka meminta pertimbangan.


"Hancurin sekalian sampai akar-akarnya" kata Sebastian.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


๐Ÿ’


__ADS_2