
Tiga hari sudah Arka dan Tania berada di vila mewah itu.
Remuk rasa badan Tania.
"Nyesel aku kenapa nikah telat" bilang Arka saat mereka masih sama-sama polos di atas ranjang.
"Nyesel nikah sama aku?" pertegas Tania.
"Enggak gitu maksudnya, tapi kenapa nggak sedari dulu kita menikahnya" ucap Arka.
"Ternyata sungguh berasa di surga dunia...he...he..." lanjut Arka terkekeh.
"Yank, sudah tiga hari loh kamu nggak nyalain ponsel kamu. Gimana kalau Pandu nyariin kamu?" Tania mengingatkan.
"Kan ada papa Rendra" tukas Arka cepat.
"Sudahlah, sekali-kali menyenangkan diri. Jangan kerjaan mulu yang dipikirin" imbuh Arka.
"Belum genap dua bulan juga jadi CEO" ledek Tania.
"He...he...itulah beratnya jadi penerus keluarga Rahardjo. Mau nggak mau diharuskan mau" ucap Arka.
Arka mengelus perut Tania, "Semoga lekas hadir bayi di perut kamu yank, biar aku selekasnya pensiun dini jadi CEO" kata Arka.
"Isssshhhhh kau ini papa macam apaan. Nyuruh anak kerja. Hadir di perut juga belum" sergah Tania.
"Kan sudah kutabur dari tiga hari yang lalu yank, smoga aja langsung subur di rahim kamu" imbuh Arka.
Tania hanya tertawa menanggapi ucapan Arka.
"Kenapa yank? Kok ketawa. Minta lagi?" tanya Arka.
Cubitan Tania mendarat ke lengan sang suami.
"Aku mandi dulu" Tania beranjak dari balik selimut mencari baju yang berceceran entah ke mana.
"Barengan aja ya?" sela Arka.
"Nggak ah, kelamaan" tukas Tania langsung masuk ke kamar mandi.
Arka tersenyum, melihat peninggalan jejak di tubuh sang istri.
"Banyak juga bekasnya..." gumam Arka.
Arka meraih ponsel yang tak dipegangnya selama tiga hari terakhir.
Dia nyalakan. Banyak sekali notif pesan masuk ke ponsel Arka.
Banyak yang di skip olehnya.
Dia buka pesan dari Pandu yang mengabarkan kalau Panapion semua berjalan lancar. Proyek yang langsung dipegang kendali oleh Arka sebelumnya, dalam tiga hari ini juga dipegang langsung oleh tuan Rendra.
Arka tak kunjung membalas.
Dia scrol ke bawah beberapa pesan yang masuk.
Salah satunya dari dokter Jack.
"Arka where are you?" bunyi pesan yang dikirim olehnya.
Arka mengetikkan balasan, "I'm go back" dilengkapi dengan emoji tertawa.
"Your examination preparation is ready" ternyata dokter Jack langsung membalas pesan yang dikirim oleh Arka.
"I'll be there in two months with my wife" imbuh Arka.
"Really? You're married?" ketik dokter Jack.
Arka hanya mengetikkan emoji dengan tanda orang mengedikkan sebelah mata.
Bersamaan dengan itu Tania keluar dengan wajah segar dan rambut tergerai basah.
__ADS_1
Arka menengok ke arahnya.
"Mandi lagi yuk yank???" tak henti-hentinya Arka menggoda sang istri.
"Nggak ah, yang ada malah kau ajak senam lagi aku di dalam sono" seloroh Tania.
Dia mulai mengeringkan rambut yang basah dengan sebuah hairdryer.
"Nggak mandi?" tanya Tania memandang Arka lewat pantulan cermin.
"Yank, ponsel kamu jadi hilang saat kejadian itu?" sela Arka.
"Iya...ikhlas kok aku. Lagian emang waktunya ganti tuh ponsel...he...he..." tukas Tania. Tania mengingat layar ponsel yang retak separo dan juga baterai yang sudah tak tahan lama jika dicharger.
"Tapi repot juga kalau hilang. Nomor semua kolega dan klien ada di sana semua" imbuh Tania.
Arka mendekat saat hanya memakai celana bokser membuat Tania malu.
"Kok malu sih? Tiga hari ini kan sudah kau lihat semuanya" kata Arka tak terfilter membuat membuat Tania lebih malu lagi. Wajahnya sudah mengeluarkan semburat merah.
"Nih!" kata Arka sambil menyodorkan sebuah paperbag untuk Tania.
"Apaan nih?" tanya Tania.
"Buka aja!" Tania pun melakukan apa yang diminta oleh Arka.
Sebuah ponsel keluaran terbaru dengan lambang buah apel separo.
Tania tahu harga ponsel itu.
"Untuk aku nih?" tanya Tania sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Bukan, buat bik Surti. Terang aja buat kamu" jawab Arka.
"He...he...makasih suamiku" tukas Tania terkekeh.
"Nggak gratis ya, bayarnya ntar malam aja" ucap Arka membuat sewot Tania. Sampai saat ini saja Tania masih kesusahan untuk berjalan, nanti malam sudah diajak senam lagi.
Tania masih diam tak menyahut.
"Menolak ajakan suami dosa loh yank" Arka menambahkan kata-katanya.
Tania mencebik dan Arka langsung terbahak melihatnya.
"Buka aja tuh ponsel, paswordnya tanggal bulan tahun lahir kamu" jelas Arka sambil masuk kamar mandi.
Tania melakukan apa yang dibilang oleh Arka. Tampak wajah suami sudah nangkring di sana sebagai wallpaper.
Tania dibuat tersenyum sendiri akan kenarsisan sang suami.
Tania mulai buka semua aplikasi. Mulai dari nomor kontak. Dan anehnya nomor kontak dari ponsel sebelumnya telah berpindah ke ponsel itu.
"Kok sudah ada semua di sini?" gumam Tania.
Tania juga buka aplikasi tempat surel elektronik terkirim, dan disitu juga ada beberapa surel masuk ke alamat email yang dipunya Tania.
Di sana ada pesan masuk dari kantor kepolisian menanggapi laporan Tania terhadap tuan Felix yang tega menculik dirinya. Memberitahukan kepada Tania untuk hadir sebagai saksi dalam proses penyidikan.
"Wah, kok isinya seperti hasil kloningan saja nih ponsel" gumam Tania.
Tania meneruskan pekerjaannya yang tertunda, yaitu mengeringkan rambut.
Ponsel Tania yang baru berdering untuk kali pertama.
Tania lihat siapa yang calling, dan Angel lah yang menelpon saat ini.
"Iya Angel" sapa Tania.
"Non tidak kenapa-napa kan? Sehat-sehat aja kan? Angel kangen Non. Sudah tiga hari lho Non" kata Angel menjawab sapaan Tania.
"Kan aku sudah pamit Angel mau liburan" balas Tania.
__ADS_1
"Non, jangan lupa ngabarin ya kalau mau resign. Ajak aku sekalian. Suasana di kantor sudah tak kondusif lagi. Apalagi tuan Felix ikutan keciduk juga" kata Angel panjang.
"Non, di kantor terjadi acara pengunduran diri masal. Mereka yang magang pun juga ikutan. Tinggal Non sama Nyonya Maura aja yang bertahan di sini" imbuh Angel.
Tania mengernyitkan alis. Berpikir. Bagaimanapun kantornya yang sekarang ini juga ikut mengantarkannya menjadi seorang pengacara yang sebenarnya.
Kalau bertahan di kantor yang sekarang, nama baik Hadinoto and partners tidak sementereng dulu.
Apalagi kasus dua pengacara besar yang berada di dalamnya, Hadinoto dan Felix ikutan keciduk kasus yang mereka tangani tentu saja berpengaruh besar terhadap kunjungan konsultasi hukum yang diterima.
"Yank, ada yang kau pikirkan?" tanya Arka dengan rambut basah keluar kamar mandi. Sementara panggilan dari Angel belum juga dimatikan oleh Tania.
"Sini kukeringin rambut kamu" pinta Tania.
Angel yang mendengar tentu saja dibuat heran.
"Non sekamar dengan tuan muda?" tanya Angel karena panggilan dalam mode loudspeaker.
"He...he...." Tania hanya terkekeh karena ketahuan.
Kan mereka menikah hanya sepengetahuan keluarga besar saja. Seperti tunangan, pernikahan mereka pun belum go publik.
"Kepo" jawab singkat Tania dan memutuskan panggilan dari Angel.
Arka yang duduk di depan Tania pun menatap sang istri.
"Kamu cantik yank" pujinya tulus.
"Kok baru tau kalau aku cantik?" jawab Tania dengan tangan mulai menggerakkan pengering rambut.
"He...he...apalagi kalau saat mendes4h, seksi sekali istriku" puji Arka sekaligus bercanda.
"Apaan sih?" sela Tania dengan wajah bagai kepiting rebus.
"Yank!" panggil Arka lagi.
"Heemmmm"
"Apa kau yakin mau terus kerja di firma hukum itu?" tanya serius Arka.
"Gimana ya? Mau resign, tapi yang lain resign duluan. Kasihan Maura kan sendirian di sana. Belum lagi banyak mitra perusahaan yang bekerjasama dengan firma kita" kata Tania bimbang.
"Apa Maura juga akan melakukan hal itu jika dia di posisi kamu?" sela Arka yang tahu sang istri belum bisa memutuskan.
"Apa bos kamu juga memikirkan anak buahnya saat dia dengan santainya menjalin kerjasama dengan Gaby dan William?" lanjut Arka.
"Kau mampu sayang. Jika ingin membuka lembaga konsultasi hukum, ada perusahaan aku dan tentunya perusahaan Sebastian yang pertama akan daftar untuk menjadi rekanan kamu" ulas Arka.
"Itu namanya nepotisme dong" seloroh Tania.
"Nggak lah. Kan kerja kita profesional" ucap Arka melanjutkan.
"Akan kupikirkan" sela Tania.
"Mikirnya jangan lama-lama. Ntar temanmu yang lain sudah pada terbang, kamu masih jalan di tempat aja karena banyak yang kau pertimbangkan" Arka menyemangati sang istri.
Tania terdiam menelaah ucapan sang suami. Apa iya dia harus mendirikan firma hukum sendiri?
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1
Salam sehat buat semua 🤗