
Terima kasih buat kalian yang masih setia di sini. Maafin othor yang belum bisa update rutin dan angin-anginan. Crazy up apalagi, masih sebatas angan dan ekspektasi...he...he...
Komen-komen kalian lah yang kadang bisa jadi sumber inspirasi, apalagi pas ide sedang loading.
Kadang kerjaan nyata sedang numpuk dan keriwehan sama bocil-bocil membuat update makin ke pending.
Salam dari author angin-anginan ๐
.
Saatnya balik ke tema cerita.
.
Pagi ini ramai sekali berita tentang penangkapan tuan Anton.
Malah bukan penculikan nyonya Magdalena yang ke blow up, tapi kasus penggelapan pajak dan juga demo dari para nasabah yang ramai muncul di berita.
Arka membaca link berita yang dikirimkan oleh Pandu.
Sesungging senyum nampak di sudut mulutnya.
"Ini baru awalnya saja" gumam Arka.
Tania yang baru selesai mandi, menghampiri Arka yang sudah bersiap sedari tadi.
Belum berangkat kerja karena menunggu sang istri.
"Hari ini ke kantor, apa ikut ke Panapion?" tanya Arka.
"Aku mau ke rumah nenek. Boleh ya? Tadi nenek nelpon beberapa kali tapi nggak keangkat" ucap Tania.
"Aku anterin" jawab Arka.
Arka tak bilang kalaulah nenek juga menelpon dirinya saat belum terbangun tadi.
Di perjalanan, Tania menelpon Angel memberitahu kalau Maura mulai gabung hari ini dan juga dia tak akan ke kantor.
"Yank, ternyata papa angkatnya Arga ngeri juga perilakunya" kata Tania.
"Maksudmu nggak sesuai tampangnya, begitukah?" tukas Arka.
"He...he...iya" Tania terkekeh.
"Jangan biasakan menilai orang dari tampang. Mulut manis ternyata hati buaya" kata Arka komplit dengan tawanya.
"Tapi kamu termasuk nggak yank?" Tania menanggapi.
"Ya enggaklah. Bisa ditendang aku sama istriku" canda Arka.
Jawaban Arka membuat Tania sewot, "Emang aku galak apa" celetuknya.
Ponsel Tania kembali berdering, yang ternyata dari Arga.
"Arga nih" bilang Tania ke sang suami.
"Angkat aja, bisa jadi penting" ulas Arka.
"Halo Ga, apa kabar wajah kamu?" sapa Tania.
Arga yang hendak menyampaikan sesuatu malah terjeda karena sapaan Tania.
"Kok wajah gue sih yang disapa?" tukasnya.
"Katanya tuh muka bonyok gara-gara semalam? Alamat jadi jomblo sejati loh kalau nggak cepat-cepat disembuhin" canda Tania.
"Ish kamu ini" Arga menggerutu yang bahkan juga kedengeran oleh Arka.
"Ada apa?" sela Arka.
"Wah, ternyata paket komplit yang sedang nerima telpon. Ada suami loe juga" Arga terbahak di sana.
"Cepat bilang, apa tujuan kamu nelpon. Kalau nggak, kututup nih" bilang Arka.
"Sadis amat cuuyyyyy" Arga malah tertawa terbahak.
"Aduh" terdengar suara Arga barusan.
"Ha...ha...pasti mukamu kaku ya? Makanya hemat tuh tawamu" ledek Arka yang gantian terbahak.
__ADS_1
"Tania, tolong kamu bantu nyonya Magdalena ngurusin gugatan cerainya ya?" ungkap Arga.
"Nyonya Magdalena siapa?" Tania memang belum ngeh dengan nama yang disebutin oleh Arga barusan meski tadi pagi Arka sang suami telah cerita. Tapi urusan nama, Arka tak sedail itu.
"Mama ku" sambung Arga.
"Alhamdulillah, ada yang sudah gencatan senjata sepertinya" tukas Tania.
"Kamu ajaklah mama kamu ke kantor kapan-kapan. Kalau hari ini gue ke rumah nenek" lanjut Tania.
"Oke lah, ntar kuhubungin lagi" tandas Arga.
"Baiklah. Bye Arga" ucap Tania. Dan panggilan itu pun berakhir.
Sampai di rumah nenek, Arka maupun Tania malah mendapat omelan lanjutan dari nenek Gemmy.
"Arka, kalau pagi ajak istri kamu jalan-jalan dong. Biar lancar nanti persalinannya" kata nenek saat menyambut kedatangan kedua cucunya itu.
"Nggak malah molor terus sampai sesiang tadi" lanjut nenek masih dengan pidatonya.
"Loh??? Kok nenek tahu?" Tania menanggapi.
"Ya jelas saja tahu. Telpon kamu nggak ke angkat. Telpon suami kamu yang terdengar hanya dengkuran saja" bilang nenek.
"Kata siapa nek, kan aku ngangkat telpon nenek" tukas Arka.
"Ya sudahlah nek. Sabar aja. Besok aku janji dech, jalan pagi ditemeni Arka" kata Tania menimpali.
Keluhan di awal kehamilan mulai berkurang. Bahkan nafsu makan Tania luar biasa meningkat.
Di usia kehamilan yang hampir lima bulan, berat badan Tania sudah naik delapan kilo. Pipinya pun terlihat chubby, meski badan masih proporsional.
"Nek, ada makanan apa?" tanya Tania sambil merangkul nenek. Merayu agar sang nenek tidak melanjutkan omelannya.
Kalau sudah begini, pastilah nenek luluh juga.
"Nek, aku ke perusahaan dulu. Nitip istriku ya. Jangan lupa nek kasih makan" gurau Arka.
Tania melotot ke arah sang suami, "Emang aku piaraan apa" katanya sewot.
"Katanya ke sini karena ingin minta makan?" sanggah Arka.
Sepeninggal Arka, Tania menuju meja makan bersama nenek Gemmy.
"Ada asinan buah. Mau?" nenek Gemmy menawari.
"Kedondong sepertinya enak nek" Tania duduk di meja makan. Mengamati semua menu yang ada di meja.
Tania mengambil cake yang sudah terpotong rapi.
"Heemmm lembut banget nek" ujar Tania saat mengunyahnya.
"Tebak darimana tuh?" tanya nenek.
"Sepertinya nggak asing" ucap Tania sambil berpikir. Nenek memang telah membuang boks cake itu.
"Ha...ha...aku tahu nek. Ini pasti buatan Mutia. Nggak salah lagi" Tania senang karena berhasil menebak.
"Kita ke sana yuk nek, membayangkan lapis legit sepertinya enak" kata Tania dengan menelan ludah.
"Sama Arka bukannya suruh istirahat di sini?" tanya nenek, tapi kasihan juga kalau nggak nurutin ibu hamil itu.
"Iya sih, tapi aku kepingin" Tania merengek.
"Telpon aja suami kamu. Minta ijin. Syukur syukur kalau Arka mau bawain" saran nenek.
Tania pun melakukan apa yang nenek minta.
"Yank, boleh ya aku ke Mutia Bakery?" ijin Tania langsung saat ponsel tersambung. Padahal Arka belum juga duduk di ruangan masih berjalan di lobi.
"Mau ngapain? Kan sudah di rumah nenek. Mau ngobrol sama Mutia?" tanya Arka.
"Enggak, kepingin lapis legit buatan Mutia aja" jawab Tania terkekeh.
"Kan bisa suruhan sopir yank" jawab Arka sambil membalas sapaan karyawan yang kebetulan papasan dengannya.
"Jangan tebar pesona dech" kata Tania yang ikutan mendengar kala Arka membalas sapaan orang-orang.
"Senyum itu ibadah yank"
__ADS_1
"Sudah suruhan sopir aja, untuk beli kue" lanjut Arka balik ke tema perkuean.
Tania menutup panggilan.
"Boleh sama Arka?" tanya nenek. Dijawab gelengan Tania.
"Terus?"
"Suruh sopir aja yang beliin" jelas Tania.
"Maksud Arka itu baik, biar kamu bisa istirahat Tania" ulas nenek biar Tania nggak terlalu kecewa karena dilarang oleh sang suami.
"Iya juga sih nek, tapi rebahan melulu juga bikin bosen" terang Tania menanggapi.
Nenek pergi masuk kamar dan kembali membawa sebuah buku.
"Nih" sodornya ke Tania.
"Apaan nek, jangan-jangan buku tentang kehamilan lagi?" tanya Tania.
"Iya sih. Tapi ini seru ulasannya, ada humornya juga jadi nggak ngebosenin. Baca aja" terang nenek.
Tania pun meraih buku yang diberikan oleh sang nenek dan berpindah ke ruang tengah untuk membaca.
"Lapis legitnya jadi nggak nih?" tanya nenek.
"Jelas dong nek. Kasihan nggak ada yang nemenin gelas minumku di meja" canda Tania.
Nenek Gemmy hanya bisa geleng kepala mendengar kata bumil yang kadang suka ngasal itu.
Sementara di Panapion, Arka yang barusan duduk di ruang kerjanya. Kedatangan Pandu.
"Tau aja kalau aku sudah datang" ujar Arka.
"Tuan muda baru sampai lobi aja aku sudah tau...he...he..." jawab Pandu.
"Cepat katakan" suruh Arka.
"Besok boleh ijin libur tuan? Kan kemarin sudah lembur sampai dini hari" kata Pandu.
"Tumben loe, mau ke mana?" Arka menimpali.
"Ada keperluan mendadak tuan" Pandu beralasan.
"Beri alasan yang kuat, agar aku bisa memberimu ijin" sengaja Arka ingin mengerjai sang asisten yang sekarang sudah lebih cekatan itu.
"Aa...anu tuan" Pandu masih mencari alasan. Tak mungkin kan dia ijin karena ingin kencan dengan Angel, asisten nyonya muda nya.
"Pandu" panggilan Arka membuyarkan lamunan Pandu.
"Eh...iya...tuan. Disuruh pulang orang tua" kata Pandu gugup. Takut katahuan bohong.
Arka malah terbahak menanggapinya.
"Ha...ha... Kalau bohong jangan ngasal dong Pandu. Bukannya kamu itu masih tinggal serumah dengan orang tua kamu? Terus orang tua mana lagi yang menyuruhmu pulang?" Arka dibuat terpingkal oleh kata Pandu barusan.
"Matih gue, kok malah pake alasan ngasal gini sih?" Gumam Pandu. Pandu mengusap tengkuk karena ketahuan bohong.
Ponsel Pandu berdering meninggalkan Arka yang masih menertawakan Pandu.
"Halo, ada apa?" tanya Pandu ke sang penelpon.
Dahinya mengkerut saat mendengar jawaban si penelepon.
"Ada apa?" tanya Arka.
"Smith mencarimu tuan" beritahu Pandu.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Sekali lagi terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
๐
__ADS_1