Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Pesta Pernikahan


__ADS_3

"Tania, Arka?" panggil nenek kepada kedua cucunya untuk makan.


"Bentar Nek, lima menit" jawab mereka kompak.


"Bentar Yank, kenapa mereka mau ngehancurin kita? Kita nggak boleh berprasangka buruk loh" ucap Tania.


"Bisa jadi Davina dan Arkan memang sudah ada hubungan spesial" imbuh Tania.


"Lantas kenapa tuan David gencar mempromokan padaku???" utas Arka.


"Bisa saja tuan David tidak tahu kalau anaknya sudah punya cowok dan ingin punya menantu sepertimu...he...he..." terang Tania.


"Atau bisa jadi anaknya yang kegatelan?" imbuh Arka menjelaskan.


"Ya sudahlah...ngapain juga mikirin mereka" kata Tania.


"Kan kamu yang mulai dengan membahas mereka. Gimana sih yank?" sela Arka.


"He...he..." Tania terkekeh. Ternyata suaminya mau-mau saja diajak bergosip.


Hidup dengan Arka, memang harus lebih waspada. Apalagi sekarang Arka menjadi pemegang utama Rahardjo grub, bisnis keluarga yang notabene merajai beberapa sektor.


Usaha keluarga Rahardjo memepet erat perusahaan Blue Sky dan juga Dirgantara.


Sebagai pemegang hak utama perusahaan elektronik, bahkan perusahaan Sebastian dan Bara pun angkat tangan untuk bidang yang satu ini.


"Kalian makan apa nggak? Nenek laper ini" kata nenek dari meja makan.


"Makan dong nek" Arka dan Tania gabung di sana.


Mereka menikmati makan tanpa banyak suara.


"Malam ini kalian nginap ya?" pinta nenek.


Tania memandang Arka, mengikuti saja apa kata suami. Begitu pemikiran Tania.


"Malam ini aja kan nek?" perjelas Arka.


"Untuk seterusnya akan lebih baik" sambung nenek.


"Akan kupikirkan lagi kalau mau nenek seperti itu" ulas Arka.


"Oh ya Arka, ngomong-ngomong Tania mau kau ajak honeymoon kemana?" tanya nenek setelah menuntaskan suapan terakhirnya.


"Amerika" terang Arka.


"Jauh amat yank" sela Tania.


Arka memang sudah berniat ke sana untuk melanjutkan proses pemeriksaannya yang tertunda bersama dokter Jack.


"Ya sekalian aja jauh. Biar nggak ada yang gangguin" gurau Arka.


Sebuah notif pesan masuk dan dibaca oleh Tania.


"Siapa?" tatap Arka.


"Biasa, penyidik. Siapa lagi...he..he..." Tania tertawa.


"Kasus Felix atau yang satunya?"


"Satunya" terang Tania.


"Harusnya Arkan sudah dijadikan DPO, tapi sampai sekarang kok tenang-tenang aja" kata Arka.


"Malah dengan santainya dia makan di resto" lanjut Arka.


"Tersangka mengubah pengakuannya, dia memberikan keterangan kalau tak ada yang menyuruh. Semua dilakukan atas inisiatif sendiri" terang Tania.


"Hah? Kok bisa? Bukannya sudah dijelaskan di BAP sebelumnya" tandas Arka.


"Bukti kurang kuat. Begitu alasannya" terang Tania.


"Loh?" Arka masih merasa heran.

__ADS_1


"Memang semua bukti hanya mengarah ke tersangka seorang. Dan tidak ada bukti pendukung kalau ada yang menyuruh dia" ulas Tania.


"Bisa ditebak endingnya tuh" kata Arka, ada rasa kecewa di sana.


"Tersangka juga didampingi penasehat hukum sekarang" imbuh Tania memberitahu.


"Licin juga tuh Arkan, bagai belut" gumam Arka.


"Sudah jangan mikirin yang jauh-jauh. Bisa jadi memang bukan suruhan Arkan. Berpikir positif ajah" celetuk Tania.


Arka hanya mengangguk. Tapi dalam hati dia tak yakin.


.


Pesta pernikahan yang digelar tinggal menghitung hari.


Segala persiapan dilakukan oleh nenek Gemmy. Arka dan Tania hanya terima jadi.


Nenek Gemmy benar-benar menyiapkan semua dengan perfect.


Undangan mewah juga telah disebarkan beberapa hari yang lalu.


Bahkan seorang artis diundang untuk mengisi acara di pesta itu.


Sebuah ballroom hotel mewah telah disulap menjadi istana sehari.


Arga bahkan membantu Pandu untuk menyiapkan sistem keamanan yang canggih. Untuk menghindari orang-orang tak bertanggung jawab yang bisa saja merusak suasana.


"Arka, Tania kalian mau ke mana?" tanya nenek yang melihat Arka hendak meraih kunci mobil di meja.


"Keluar bentar nek, mau nganterin Tania melakukan perawatan" timpal Arka.


"Nggak boleh. Kalian di rumah aja, biar nenek yang panggil mereka ke sini" kata nenek.


Padahal mereka sebenarnya ingin cari angin segar, karena beberapa hari tak boleh keluar mansion oleh nenek. Bosan tentu saja.


Tania dan Arka pun balik ke kamar mereka, menurut apa kata nenek daripada kena omel.


Lagu virus slank mengalun dari ponsel Tania.


"He...he...slank mah nggak akan terganti" kata Tania sambil menggeser ikon telpon.


"Halo, ada apa?" tanya Tania.


"Mau konsultasi dong" suara seseorang ternyata Sebastian yang menelpon.


"Aku sibuk, bisa ditunda nggak?" tukas Tania.


"Cie, yang mau pesta. Pasti sok sibuk sekarang?" ledek Sebastian.


"Okelah, abis acara kamu aja aku konsul. Nggak urgen juga" terang Sebastian.


"Oke" Tania menutup panggilan telpon dari Sebastian.


"Sebastian?"


"Heemmm" gumam Tania.


.


Tiba hari H pesta pernikahan Arka dan Tania.


Bak raja dan ratu sehari, Arka berjalan menggandeng Tania di atas red karpet yang membentang.


Semua tamu memandang kagum ke arah mempelai.


Karena baru kali ini pewaris tunggal Rahardjo grub benar-benar tampil di hadapan publik.


Acara ini seakan menjadi tampilan Arka di depan khalayak.


Satu persatu tamu antri untuk menyalami mereka berdua.


"Selamat ya buat kalian, happy selalu" Mutia bersama Sebastian menyalami mempelai. Lengkap dengan kedua buah hatinya.

__ADS_1


"Makasih Mutia" jawab Tania.


"Lekas nyusul kita kak" sambung Mutia.


"Pasti" sela Arka di sela obrolan.


Di belakang Sebastian ada Dewa dan Dena. Mereka juga memberi selamat untuk Tania dan Arka.


"Selamat ya, sold out juga akhirnya" kata Dewa menyalami Tania.


"Makasih, jangan lupa angpaonya ya" canda Tania.


"Minta aja sama suami kamu tuh. Dia lebih kaya dari aku loh" imbuh Dewa.


"Ha...ha...kalau gitu nggak usah mampir sebelah sana" tunjuk Tania ke area di mana makanan banyak berjejer di sana.


"Aku tetep maksa" seloroh Dewa.


"Tamu nggak ada akhlak" cela Tania.


"Biarin" ledek Dewa berjalan turun dari singgasana Tania dan Arka.


Banyak nya tamu yang datang, membuat Tania merasakan sedikit lelah di kaki.


Dia meringis menahan sakit.


"Kenapa?" tanya Arka yang mengetahui keadaan Tania.


"Kakiku pegel" terangnya.


Dengan santainya Arka jongkok dan menyingkap sedikit gaun Tania yang menutupi kaki.


"Mana yang sakit?" tanya Arka memegang tumit sang istri.


"Eh nggak usah yank, ntar juga ilang sendiri" jelas Tania.


"Kamu lepas aja heel kamu. Pasti ini yang buat kamu tak nyaman" seloroh Arka.


Arka melepaskan alas kaki sang istri.


"Kamu duduk aja" suruh Arka.


Tania melakukan apa yang dikatakan Arka. Tapi sekarang perutnya tak bisa dikondisikan.


Arka belum beralih pandangannya dari muka Tania.


"Kamu kok pucat? Apalagi yang dirasa sekarang?" tanya Arka penuh rasa cemas.


"Kenapa perutku mules banget ya yank?" kata Tania terbata.


Dan sedetik kemudian Tania pingsan.


"Yank, Yank...kamu kenapa?" panggil Arka menepuk-nepuk pipi sang istri.


Karena lumayan lama belum tersadar. Arka angkat tubuh sang istri.


"Pandu siapkan mobil" perintah Arka setengah teriak.


Pandu berlarian menyiapkan apa yang diperintah.


Suasana pesta yang meriah, menjadi gaduh karena bintang utama di pesta itu jatuh pingsan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—


__ADS_2