Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Skenario Siapa?


__ADS_3

Arka membelokkan mobil ke sebuah resto mewah yang ada dekat pusat kota.


"Kerja mulu yang dipikirin, perut kamu juga butuh asupan yank" seloroh Arka.


"He...he...he...." Tania hanya terkekeh tanpa mengucapkan kata apapun.


"Maafin aku yang tak pernah masakin buat kamu" lanjut Tania.


"Emang kamu bisa memasak?" tanya Arka.


"Bisa dong" Tania asal menjawab.


"Aku sama sekali tak yakin" imbuh Arka.


"Bisa yank, nggak percaya amat"


"Masak apa?" Arka menimpali.


"Masak air" Tania tertawa.


"Idih, masak air aja bisa gosong. Nggak percaya aku" celetuk Arka terbahak membuat Tania cemberut.


Sampai di pintu masuk resto, tak sengaja Tania melihat seseorang yang pernah mencarinya ke kantor.


"Yank, bukankah itu mama nya Arga?" bisik Tania dengan mata melihat seorang wanita paruh baya yang nampaknya tengah berdebat dengan seseorang. Seseorang yang membelakangi posisi Tania dan Arka sekarang.


Arka menengok ke arah yang disebutkan Tania.


"Heemmm bener juga" sambung Arka.


Karyawan resto menyambut kedatangan mereka berdua. Arka menyebut tempat yang sudah direservasi olehnya.


"Baiklah tuan, akan saya antar. Silahkan" ucapnya dengan penuh keramahan.


Arka menggandeng tangan sang istri untuk mengikuti sang karyawan.


Mereka juga melewati wanita yang disebut oleh Tania adalah mama nya Arga yang masih berada di depan ruang privat resto.


"Aku lelah. Aku tak mau kamu suruh-suruh lagi Tuan Anton yang terhormat. Cukup sudah" kata mama Arga masih terdengar oleh Tania.


Karena menyebutkan nama Anton, mau tak mau Tania menoleh.


'Loh, bukannya itu tuan Anton yang menemuiku tadi siang?' batin Tania.


"Tolonglah Mah! Kamu tahu perusahaan sedang sulit. Aku akan kena masalah jika tak bisa mendapatkan kerjasama dengan nyonya Tania" rayu tuan Anton.


"Tidak, lagian aku tidak akrab dengannya. Baru sekali aku menemuinya Pah" mama Arga masih saja menolak.


Arka yang melihat Tania masih banyak terdiam saat mendengar pembicaraan antara tuan Anton dan mamanya Arga.


"Kenapa semua bisa kebetulan ya?" gumam Tania


"Ayo masuk, ngapain kau kepo dengan urusan mereka" bisik Arka.


Tania pun tersenyum mendengar perkataan Arka barusan, "Ayo" jawabnya.


Di dalam private room yang dibooking Arka. Tania masih saja seperti memikirkan kedua orang tadi.


"Aneh nggak sih, kenapa semua seperti sudah diskenario ya?" seloroh Tania.


"Tuan Anton, staf perusahaan Arkan ternyata suami dari mama nya Arga" Tania garuk-garuk kepala.


Sementara Arka nampak sedang memikirkan sesuatu. Bisa jadi Arkan sudah tahu hubungan antara aku, Tania dan Arga. Dan sengaja menyuruh tuan Anton untuk memancing Tania agar setuju kerjasama dengannya.


"Tuan, nyonya, silahkan" ucap pramusaji yang masuk dengan membawa semua makanan yang dipesan oleh Arka.


"Wowwww...banyak sekali. Yakin nih mau kita habisin sendiri?" seloroh Tania.

__ADS_1


Arka pun mengangguk.


"Aku masa pemulihan, kamu sedang hamil. Jadi wajar saja aku pesan semuanya" ungkap Arka.


"Itu sih hanya alesan kamu aja yank ingin makan banyak...he...he... Tapi nggak papa sih, aku senang-senang aja" tukas Tania dengan mata berbinar melihat makanan satu demi satu.


"Mau dimakan apa cukup dilihatin aja?" kata Arka melihat Tania belum mengambil makanan satupun.


"Kamu mau apa duluan?" ganti Tania yang bertanya.


"Itu yang ada di depan kamu" bilang Arka.


Tania mengambilkan makanan yang diminta oleh sang suami. Sementara dirinya mengambil salmon yang sepertinya menggugah selera.


"Hhhhmmm...mak nyussssss" bilang Tania menirukan seorang food vlogger.


Semua makanan satu demi satu masuk juga ke perut mereka berdua.


"Yank, kenyang banget. Perutku berasa begah" seloroh Tania sambil mengelus perut.


Sebuah tendangan dirasakan di perutnya.


"Yank, dia gerak loh" beritahu Tania dengan rasa takjub.


Arka mendekat dan memegang perut sang istri.


Sebuah tendangan juga dirasakan oleh Arka.


"Bener kan?" dan dijawab anggukan Arka.


"Pulang nggak nih? Mau kugendong?" tanya Arka yang masih melihat sang istri malas-malasan karena kekenyangan.


Tania menggeleng, menolak untuk digendong.


Belum sampai lima belas menit mobil mengurai jalanan, sudah terdengar dengkuran halus nafas Tania.


Dan tak lupa tangan Arka beralih ke perut sang istri, "Jangan buat susah mama ya nak, sehat-sehat di sana" kata Arka bermonolog. Dan tendangan kembali dirasakan oleh Arka. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya.


"Apa kau setuju? Baiklah anak baik, kita jaga mama bersama ya" lanjut Arka dengan tangan satu masih memegangi perut Tania dan kembali mengelus.


Sampai di basement apartemen. Melihat sang istri yang masih tidur, Arka berusaha membangunkan. Tak mungkin juga mengangkat tubuh sang istri, karena unit apartemen yang ditempatinya ada di lantai teratas. Sebuah penthouse yang tergolong mewah.


"Sayang, sudah sampai. Ayo turun" ucap Arka sambil menoel-noel pipi Tania.


"Nanggung yank, bentar lagi" kata Tania dengan mata terpejam.


Muncul ide usil untuk ngebangunin sang istri. Tapi belum juga niat terlaksana, ponsel Arka lebih dulu berdering.


"Arga?" gumam Arka dengan melihat ponsel.


"Halo Ga" sapa Arka.


"Apa sudah dengar cerita dari istri kamu?" tanya Arga.


"Sudah. Aku rasa saran istriku baik juga" ungkap Arka.


"Tapi Arka" masih ada keraguan di suara Arga.


"Aku yakin insting istriku kali ini benar" kata Arka meyakinkan Arga.


"Apa kau punya alasan?" tanggap Arga.


"Kau jalankan dulu saja. Ntar kamu juga akan tahu, istriku benar apa salah" Arka menimpali.


"Oke lah. Besok akan kuikuti wanita itu" terang Arga.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"

__ADS_1


"Ada, Tania mana? Aku ingin bicara" Arga pasti sengaja menggoda karibnya itu.


"Nggak boleh. Istriku sudah tidur" jawab Arka ketus.


"Ha...ha...pak mil emosian banget sekarang" ledek Arga di seberang.


"Biarin. Pak Mil? Apaan itu?" tukas Arka menimpali.


"Pak Mil, Bapak yang istrinya sedang hamil...ha...ha..." kembali tawa Arga meledak.


Sepertinya dia puas menggodaku, "Puas kau!!!" tandas Arka.


Jawaban Arka tentu saja membuat Arga semakin terbahak. Tanpa kata Arka langsung menutup panggilan Arga.


Arka kembali membangunkan Tania yang masih saja tertidur. Saking gemas karena melihat pipi Tania yang semakin embul, Arka pun menciuminya.


"Sayang, apaan sih? Geli tau" Tania bergumam masih dengan mata terpejam.


"Bangun atau kugigit nih leher" bisik Arka.


Dan benar, Tania langsung terbangun karena ucapan Arka barusan.


"Ayo turun" jawab Tania. Arka pun tertawa karena melihat respon sang istri yang masih nampak malu-malu sampai saat ini.


.


"Sayang, temenin aku" pinta Tania yang rebahan di depan tivi setelah membersihkan diri.


"Kubuatin susu ya?" Arka menawari.


"Emang bisa?"


"Bisa lah. Kan ada aturan pakai nya di kemasan" ungkap Arka.


"Oke" singkat Tania.


Memang baru kali ini Arka membuatin susu buat sang istri.


Arka kembali dengan membawa susu hamil rasa coklat dan masih hangat.


"Ini yank" sodor Arka.


"Makasih ya. Arka Danendra memang suami dan calon papa siaga" puji Tania sambil tersenyum.


Tania yang sedang meneguk susu, Arka malah rebahan di pangkuan sang istri.


"Nyamannya" gumam Arka saat kepalanya sudah bersandar di pangkuan Tania.


Tania pun mengusap kepala sang suami. Lama rasanya tak melakukan ini berdua.


"Semoga tak ada aral melintang lagi yang menghadang kita ya yank" harap Tania.


"Aamiin" Arka menimpali.


Sudah banyak cobaan yang telah mereka lewati berdua, di saat usia pernikahan belum melewati anniversary pertama.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


__ADS_2