
"Suruh dia curi data perusahaan Smith. Impas kan" lanjut Tania.
"Tak segampang itu sayang. Kita harus lihat sejauh mana data yang sudah mereka sabotase" tukas Arka.
"Apa ada kebocoran keuangan, kita juga harus lihat ke sana" lanjut Arka.
"Dan nggak usah repot-repot kita menyuruhnya menyelidiki perusahaan Smith. Dengan adanya kasus ini, kita bisa langsung melibas komplotan mereka" ujar Arka sambil mengatubkan gigi.
"Asal ada bukti dan saksi saja" tukas Tania.
"Apa gunanya perusahaan punya pengacara, ya musti dilibatkan dong" gurau Arka sekaligus menyolek sang istri.
.
Sampai di hotel Tania merebahkan diri karena seharian jalan dengan suami.
Sementara Arka kembali menelpon Pandu.
"Pandu, bagaimana?" tanya Arka langsung saat panggilan tersambung.
"Tuan Arga sedang menelusuri nya tuan" jelas Pandu.
"Sambungkan ke Arga" pinta Arka.
"Tapi tuan Arga sudah balik ke bengkel, katanya mau ngerajain dari sana saja" imbuh Pandu.
"Situasi perusahaan bagaimana? Seberapa banyak terjadi kebocoran" tanya seriusnya.
"Baru sekian ratus juta tuan. Beruntung ketahuan duluan" terang Pandu.
"Heemmmm...uang segitu sudah bisa dapat mobil suv terbaru Pandu" sesal Arka.
"Maafkan atas keteledoranku dan tim tuan" ujar Pandu.
"Hari ini jadwalkan penerbanganku, besok pastikan aku sampai Indo" perintah Arka.
"Baik tuan, aku akan menghubungi kru pesawat untuk segera menyiapkan diri" kata Pandu menimpali.
Arka kembali mendekati ranjang. Didapatinya sang istri telah tidur nyenyak. Arka mengacak rambutnya kasar.
"Acara bulan madu kalau disambi kerja dan periksa..yaaccchh begini dech endingnya" gumam Arka, sedetik kemudian badannya dia baringkan di samping sang istri.
Rasa capek membuat Arka cepat menyusul sang istri yang mungkin saja sudah sampai Indo di mimpinya.
Ponsel Tania berdering dengan keras.
"Halo, siapa nih?" tanya Tania masih dengan mata terpejam dan nyawa belum terkumpul.
"Nyonya muda, saya kapten pesawat yang akan mengantar anda dan tuan Arka untuk kembali" jelasnya dengan suara tegas.
"Hah?" mata Tania langsung terang mendengarnya.
"Jemputan sudah di lobi hotel Nyonya. Saya menghubungi tuan muda sejak tadi tak bisa sambung" lanjutnya.
Tania meraih ponsel Arka yang ternyata low bat.
"Sayang...sayang...bangunlah. Jemputan kita sudah di lobi hotel" panggil Tania dengan menggoyang tubuh sang suami.
"Sayang, apa kita pulang hari ini?" Tania masih saja berusaha membangunkan Arka.
"Iya kita pulang" jawab Arka masih dengan mata terpejam.
"Sayang, ayo bangun. Jemputannya sudah datang" ulang Tania.
Tania menciumi Arka gemas karena tak segera membuka mata.
Barulah dengan aksi Tania, akhirnya Arka bangun.
__ADS_1
"Apa yank?" tanya Arka setelah nyawanya kembali secara penuh.
"Beneran kita pulang? Nih kapten pesawat menelpon. Katanya sudah ditunggu di bandara" beritahu Tania.
Arka menepuk jidat, karena malah ikutan tertidur di samping sang istri.
"Ayo kita packing" ajak Arka segera beranjak.
Mereka berdua packing dengan cepat.
"Loh, ini kan tas di Las Vegas waktu itu yank?" tanya Tania yang baru menyadari keberadaan barang baru itu.
"Iya" jawab Arka tanpa rasa bersalah.
"Kamu membelinya?" sela Tania.
"Iya lah, memang aku tampang peminta-minta?" sahut Arka.
"Ya nggak begitu juga sayang. Cuman aku nggak ingin ngehamburin uang" seloroh Tania.
"Sudah nggak usah dipikirin, masukin aja ke koper. Beres" timpal Arka.
"Iya...iya...makasih ya udah dibeliin. Lain kali beliin apertemen aja, kelihatan asetnya...he...he..." tukas Tania bercanda.
Arka mengacak rambut sang istri yang suka bercanda nya kelewatan.
"Itu mah lain lagi" sahut Arka.
.
Arka dan Tania sudah sampai bandara dengan semua kru telah bersiap.
"Maaf ya, pulangnya kuajuin mendadak" ujar Arka sambil menepuk bahu kapten yang akan membawanya terbang balik ke Indo.
"Siap tuan, sudah menjadi tugas kami" tukasnya.
Tania mendekat menyodorkan minuman hangat untuk sang suami.
"Nih, minum dulu" ujar Tania.
"Makasih sayang" tapi pandangannya tetap ke arah tab yang dipegangnya.
Tania tak ingin menganggu keseriusan sang suami. Tania bergeser ke kursi sebelah Arka. Dia sandarkan kepalanya ke kursi.
Tak menunggu lama, sudah terdengar dengkuran halus dari nafas Tania.
"Sayang, nih lihat! Ada yang aneh nggak sih laporan dari Pandu?" tanya Arka ke Tania.
Sebagai tim legal Panapion, Tania harus tahu akan hal itu.
Ditunggu beberapa detik tak ada respon dari Tania, barulah Arka menengok ke arah tempat duduk sang istri.
"He...he....sudah tidur aja dia" Arka tertawa melihat ekspresi sang istri yang melongo saat tidur itu.
"Padahal di hotel tadi juga barusan bangun" seloroh Arka.
Sambil menyeruput minuman yang disodorkan sang istri, Arka kembali fokus dengan laporan Pandu.
"Kok asin?" tanya aneh Arka sambil memandang minuman di gelas yang barusan diteguk.
"Aaaahhhhh, dia pasti salah lagi mengambil gula" Arka menepuk jidat.
Arka memanggil kru untuk membuatkan nya minuman baru.
"Tolong gelasnya pake yang sama dengan ini ya!" pinta Arka.
"Baik tuan" jawabnya sopan.
__ADS_1
Arka tak ingin mengecewakan Tania yang sudah bersusah payah membuatkan dirinya minum.
.
Penerbangan yang lebih dari dua puluh empat jam tak ada aral melintang. Pesawat telah landing di bandara internasional Indo.
Tania turun sambil meregangkan otot dan menarik nafas dalam.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa menapakkan kaki di tanah lagi" selorohnya.
"Ayo!" gandeng Arka begitu saja ke lengan sang istri.
"Idih, santai dikit napa sih?" sungut Tania.
"Sudah ditunggu Pandu tuh di depan" jawab Arka.
"Ya sudah biarin aja Pandu nunggu. Lagian dia pasti akan selalu menunggu kamu, jam berapapun aku pastikan itu" ucap Tania sambil mencebikkan bibirnya.
"Ha...ha...kamu cemburu kan sama Pandu???" telisik Arka.
"Hah? Ya enggaklah" tolak Tania.
"Selamat siang tuan, selamat siang Nona" sapa Pandu menyambut kedatangan Arka dan Tania.
"Bentar...bentar...kok aku merasa ada yang aneh ya? Kau panggil aku apa?" celetuk Arka.
"Tuan"
"Terus kau panggil istri aku apa?" lanjut Arka.
"Nona" jawab Pandu.
"Wah nggak fair dong. Aku bukan bapaknya tau" sanggah Arka.
"Ha...ha...aku jadi berasa muda lagi" sela Tania. Senang hati bisa mengerjai sang suami.
Pandu mengusap tengkuknya. Ada apa dengan tuan muda ini, datang bulan madu kok malah uring-uringan. Apa nona muda selama di sana tak pernah memenuhi kewajibannya sebagai istri? Pikir Pandu.
Pandu kaget saat ada lemparan bolpen mahal mengenai bahunya.
"Iya tuan" tukas Pandu.
"Nggak usah mikir macam-macam. Mau kau biarkan kami di sini terus atau kau ajak pulang" celetuk Arka sembari menggandeng sang istri meninggalkan Pandu yang akhirnya mengiringi mereka jalan.
Sopir perusahaan telah bersiap menunggu kedatangan Arka dan mempersilahkan masuk.
Pandu pun semobil dengan pasangan serasi itu.
"Pandu, apa ada info terbaru?" tanya Arka.
"Sudah kukirimkan semua ke email tuan" tukasnya.
"Kan sekarang kamu ada, jelaskan!" perintah Arka tanpa mau dibantah.
Bos mah bebas. Percuma juga ngirimin laporan lewat email, toh akhirnya musti laporan lisan. Gerutu Pandu dalam hati.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
π
__ADS_1