
Demo besar-besaran ternyata tak berlangsung sehari saja.
Tania hanya bisa di rumah dan belum bisa tengokin si kecil yang ada rumah sakit.
Hari ketiga di rumah, "Yank, hari ini pokoknya anterin aku ke rumah sakit. Aku ingin lihat putriku dan ini juga jadwal aku kontrol" seru Tania kala mereka sarapan di meja makan.
"Demo kali ini sungguh luar biasa. Bahkan hari ini dikabarkan para mahasiswa berhasil menggulingkan penguasa" tutur Arka menimpali uncapan Tania.
"Hhhmmm iya kah? Kira-kira ada ngaruhnya nggak nih ke dunia usaha?" tanya Tania.
"Menurut kabar yang beredar sih, kepercayaan dunia international malah lebih percaya dengan wakil yang akan naik" jelas Arka.
"Permainan kah?" sela Tania.
"Nilai aja sendiri. Aku nggak komen" seru Arka.
Ponsel Arka yang berada di atas meja berbunyi.
"Sepertinya Arkan" ujar Tania melihat layar ponsel milik Arka dan muncul nomor yang tak diberi nama di sana.
"Sok tahu" seru Arka. Tania mencibir.
"Halo" sapa Arka singkat.
"Halo, Arka tolong sampaikan Tania. Hari ini sesuai janji aku, aku akan menyerahkan diri. Mungkin hukuman mati yang akan kuterima. Tapi aku lega, semua akan kurampungkan sebelum aku mati" suara penelpon yang ternyata tebakan Tania benar adanya.
Panggilan itu dimatikan begitu saja oleh Arkan.
Tania menatap Arka seakan menunggu sebuah berita dari sang suami.
"Arkan akan menyerahkan diri hari ini" jelas Arka ke sang istri.
"Hah? Dia menepati janjinya?" tukas Tania.
"Heemmmmm" Arka mengangguk.
Dan benar saja, belum semenit Arka memberi tahu Tania.
Nampak di layar televisi, Arkan sedang diborgol oleh petugas kepolisian negara yang disinggahinya ini.
Tapi anehnya, beberapa pejabat tinggi yang ada di sana menyalami Arkan dengan penuh rasa segan dan hormat.
"Penjahat yang dihormati" gumam Tania.
"Besok Arkan pasti sudah berada di sini" terang Arka.
Tania mengangguk, "Pastinya" seru Tania.
"Arkan pasti akan kembali berulah di penjara. Aku jamin itu" imbuh Tania.
"Kok bisa?" sela Arka.
"Jelas saja, penguasa yang digulingkan itu kan mulai terbukti semua kejahatannya. Pasti dia tak akan aman jika berada bersama Arkan" Tania menambahi keterangannya.
__ADS_1
Kembali berita menanyangkan proses membawa Arkan balik ke negara ini.
Arkan akan ditempatkan di sel khusus, kasus-kasus terpidana berat.
Dan sesuai prediksi Tania jika Arkan ditempatkan di penjara yang sama dengan mantan penguasa yang terguling itu.
"Tebakan kamu benar semua yank" ucap Arka.
"Siapa dulu dong. Tania" jawab Tania dengan menepuk dada nya sendiri.
.
Selepas sarapan dan pamitan ke Arditya, Tania dan Arka langsung ke rumah sakit.
Meski tak lewat jalan biasanya karena musti muter-muter, alhasil sampai rumah sakit lebih lama dari biasanya.
"Yank, aku langsung poliklinik ya? Pasiennya menumpuk karena rescedule dua hari yang lalu" beritahu Arka.
"Baiklah" tukas Tania.
Sampai di pertigaan lorong depan, Arka ambil jalan ke kanan menuju poliklinik sementara Tania ambil jalan ke kiri menuju ruang bayi.
"Selamat pagi" Tania masuk ke ruang bayi, menghampiri perawat yang ada di ruang jaga.
"Pagi nyonya. Akhirnya anda datang juga" seru salah satu perawat.
"Bagaimana kabar putriku sus?" tanya Tania serius.
"Aman nyonya. Malah dua hari ini ikutan demo dia" kata suster itu bercanda.
"Tentu saja nyonya" jawab yang lain ikutan bercanda dan tergelak semua.
"Berat badannya?" sela Tania di antara candaan.
"Naik hampir dua ons. Sekarang beratnya sudah di atas satu setengah kilo. Lumayan lah" beritahu salah satu perawat.
Tania tersenyum puas, ada hasilnya juga tiap dua jam memompa susu untuk diberikan kepada buah hatinya. Meski tak memberikannya secara langsung.
"Silahkan kalau mau lihat adik langsung nyonya" tukasnya mempersilahkan Tania masuk, dan memakai gaun khusus ruang bayi untuk menutupi badannya.
"Makasih" sambut Tania.
Dua hari terlewati tanpa melihat si kecil, membuat Tania dengan bayi mungil yang garis wajahnya mengikuti Arka Danendra.
Punya dua anak, tak satupun yang mirip dengan Tania.
"Nyonya, mulai hari ini bisa dilatih untuk mencoba ASI langsung" kata perawat yang mengikuti Tania.
"Oke sus. Di sini?" tanya Tania karena mereka saat ini berada di ruang bayi dengan beberapa bayi ada di ruangan itu.
"Di sebelah sana, di ruang menyusui. Kalau kesulitan nanti panggil saja nyonya" tunjuknya ke arah ruangan yang dimaksud.
"Cara mindahin infusnya sus, tolong dibantu" pinta Tania.
__ADS_1
"Silahkan" dengan posisi Tania mengendong bayi, sementara perawat itu mendorong tiang infus untuk pindah ke ruangan khusus menyusui.
Hampir setengah jam Tania berusaha, dan akhirnya bayi mungil dengan berat tak ada dua kilo itu berhasil menghisap pabrik makanannya.
Tania bahkan sampai keringatan di ruangan ber ac itu.
"Iya dok, di sebelah sana" terdengar suara perawat menjawab tanya seseorang yang sangat dikenal oleh Tania.
Arka masuk ke ruangan di mana Tania dan bayinya berada.
"Gimana yank? Berhasilkah?" maksud Arka menanyakan apakah bayi mungil itu berhasil.
"Heemmmm..." Tania mengangguk.
"Ya musti sabar. Putri kita kan belum lahir sebelum waktunya yank. Kita yang musti sabar" saran Arka.
Tania kembali mengangguk.
"Kira-kira sampai kapan? Disininya?" tanya Tania.
"Kukira kalau terus pintar seperti ini, nggak lama lagi pasti sudah dibolehin sama dokter anak" jelas Arka.
"Smoga aja lekas dibolehin pulang ya nak. Abang kamu sudah nungguin tuh" ujar Tania sembari menoel gemas hidung mancung putrinya.
Arka tersenyum melihat perubahan Tania yang mulai melihatkan jiwa keibuannya.
"Yuk pulang" ajak Arka.
"Bentar lagi. Aku masih kangen dengannya" ujar Tania berasa berat meninggalkan sang putri.
Kebetulan dokter anak sedang jam kunjungan.
"Loh, dokter Arka sudah di sini aja" sapa nya.
"Iya nih dok, nemenin nyonya besar ini loh" canda Arka untuk menjawab dokter anak yang juga sejawatnya itu.
"Gimana? Sudah belajar minum asi langsung kah?" tanya nya.
"Sudah dok, tapi awalnya memang susah. Tapi barusan sudah mulai bisa" terang Tania.
"Oke, kalau nanti selama dua hari ke depan lebih baik lagi. Akan aku ijinkan untuk pulang" jelas dokter anak itu.
Tania tentu saja menyambutnya dengan senang hati. Sama halnya dengan Arka.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π