
Acara rapat dewan direksi telah dibuka oleh Pandu sekitar tiga puluh menit yang lalu.
"Selamat pagi tuan dan nyonya sekalian. Terima kasih telah hadir bersama di sini. Saya sebagai CEO baru akan mengevaluasi kinerja semua" kata Arka membuka dengan menyapa semua.
"Selama beberapa minggu awal di sini, sengaja saya habiskan untuk melihat proyek-proyek yang sedang digarap oleh Panapion" imbuh Arka.
"Memang bisnis utama Panapion adalah bergerak di bidang elektronik, yang setelah saya lihat perkembangannya sangat pesat. Tapi kenapa sektor lain tidak bisa mengikuti?" tukas Arka.
"Anda tak akan paham tuan muda, apalagi anda masih tergolong baru di dunia bisnis" celetuk salah satu dewan direksi.
"Nah, itu benar tuan David. Tuan muda Arka harus lebih banyak belajar lagi" tuan William menimpali.
Arka masih dengan wajah serius, "Meski saya baru di sini, saya cukup tahu loh kebocoran ada di bagian mana saja" tegas Arka penuh keyakinan.
Tuan David dan tuan William terkicep.
"Saya rasa belum waktunya saya membeberkan semua. Setelah semua bukti terkumpul, baru saya bertindak" tandas Arka kemudian.
"Anda mengancam kami?" tuan William menyela.
"Nggak usah kuatir tuan William. Apalagi kalau anda tak melakukannya, kenapa musti setakut itu?" sambung Arka.
"Dan hari ini kebetulan pihak rekanan yang kita ajak kerjasama berkenan hadir untuk memberi keterangan di sini. Aku ingin semua yang hadir ikut mendengarkan" perintah Arka.
Pandu memanggil rekanan yang saat awal proyek dimulai atas rekomendasi dari tuan William.
"Selamat pagi tuan dan nyonya" sapa pengusaha muda yang barusan masuk.
Untuk memanggil orang itu tidaklah mudah bagi Pandu. Karena dia sangat setia dengan tuannya. Barulah setelah Arka turun tangan dia bersedia membantu.
Tampak tatapan penuh intimidasi ke orang itu dari sorot mata William.
Dalam rapat yang sedang berlangsung, pihak rekanan itu mengutarakan semua tentang proyek yang berjalan.
"Oh ya tuan William, sudah jelas kan apa yang disampaikan oleh tuan ini?" kata Arka sambil menepuk bahu rekanan.
"Dengan segala penjelasannya, berarti megaproyek tidak ada kendala. Dengan begitu otomatis laporan yang anda sampaikan tadi siang terpatahkan oleh keterangan dari rekanan" ucap Bara.
"Benar apa yang saya sampaikan tuan Benzema?" Arka sengaja melempar bola panas di ruangan itu ke calon suami Maura.
"Be...bener tuan muda" ucap Benzema gugup.
"Sudah paham tuan William? Bahkan staf anda di bagian keuangan pun membenarkan tentang apa yang saya ucapkan"
"Ini masih satu proyek, dan kebetulan proyek dipegang oleh tuan William. Saya pun akan melakukan hal yang sama terhadap proyek-proyek Panapion yang lain" imbuh Arka.
__ADS_1
Semua direksi menunduk di hadapan Arka. Tuan William pun tak ada sanggahan.
Di ujung meja, nampak Tania memandang kagum calon suami. 'Sungguh dia tak ada duanya' batinnya meronta ingin segera memeluk Arka. Tania lebay sekarang...he...he...
"Setelah rapat selesai, aku harap tuan William ke ruanganku" pinta Arka.
"Baiklah" nada berat dari mulut William.
"Semua legalitas kerjasama antara Panapion dan rekanan, baiknya dikaji ulang. Tim hukum saya harapkan secepatnya memberikan laporan" perintah Arka dengan tatap serius ke arah Tania.
"Baik tuan Arka" jawab Tania dengan membungkuk hormat. Bagaimanapun saat Tania harus menempatkan diri sebaik-baiknya.
Arka menutup rapat direksi yang berjalan lumayan lama. Arka meninggalkan ruangan dengan diikuti oleh Pandu.
Para direksi lebih banyak terdiam tanpa komentar. Sepertinya mereka akan mengamankan posisinya masing-masing untuk mencari selamat agar tak didepak dari Panapion. Itu menurut pandangan Tania sih.
'Cih, ternyata lumayan banyak juga Panapion memelihara benalu' kata Tania dalam benak.
Maura yang berada di samping Tania membisikkan sesuatu, "Aku balik kantor sama calon suamiku aja. Nggak betah aku berada di mobil kamu yang super duper bikin daki aku keluar semua" sindir Maura.
"Hemmmm itu lebih baik. Daripada telinga aku kena polusi suara" balas Tania.
Seperti biasa Tania melenggang keluar setelah menyambar tas ransel kebanggaannya. Yang membuat kesan penampilan Tania bertambah maskulin. Mana dia peduli.
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel nya. Dari tuan Smith.
Bukannya menjawab pesan itu, Tania segera menelpon sang mama.
Tanpa menunggu lama, mama Rosa telah mengangkat panggilan Tania.
"Mama di mana sekarang?" tanya Tania sebelum mama menyapa.
"Ada apaan? Tumben kamu nelpon. Mama sedang belanja nih di swalayan deket rumah" beritahu mama.
"Hemmm, mama disitu aja. Jangan pergi kemana-mana. Aku jemput" sergah Tania. Tania berpikir, paling nggak mama Rosa lebih aman untuk berada di sana. Karena seingat Tania swalayan itu terpasang kamera cctv di beberapa area.
"Ish, kamu apaan sih. Jarak rumah kan lumayan dekat Tania. Jalan juga sampai. Ngapain kamu repot jemput mama. Posisi kamu sendiri di mana?" tanya Mama.
"Aku di Panapion" tukas Tania.
"Leh, bukannya lebih deketan posisi mama ke rumah daripada kamu ke sini" sanggah mama Rosa yang merasa aneh dengan ucapan Tania.
"Mah, pokoknya tungguin aku. Mama jangan pulang dulu!!!" larang Tania yang membuat dia semakin aneh di hadapan mama Rosa.
"Oke...oke...aku tungguin. Bikin lama aja" mama Rosa menuruti apa yang diminta sang putri.
__ADS_1
Tania berlari ke arah basement untuk mengambil mobil yang terparkir. Semakin cepat dia ketemu mama Rosa akan semakin baik.
Tania takut anak buah tuan Smith bergerak lebih cepat daripada yang dia duga.
Ponsel Tania kembali berdering saat berada di tengah perjalanan.
"Iya" jawab Tania.
"Kamu di mana, masih ada beberapa berkas yang ingin kubicarakan dengan tim hukum?" kata Arka di ujung.
"Kenapa nggak sekalian tadi bilang sih. Gimana kalau habis makan siang. Aku otewe jemput mama" beritahu Tania.
"Kok kamu buru-buru banget yank? Ada apa?" telisik Arka.
"Nggak kok biasa aja" sela Tania.
"Sayang!!!!" panggil Arka dan menuntut penjelasan Tania.
"Iya...iya...barusan tuan Smith kirim pesan ke aku, nanyain kerjasama yang waktu itu. Aku kuatir mama terancam. Apalagi tadi kau menekan tuan William di hadapan semua direksi" tutur Tania.
"Oke hati-hati. Akan kupanggil William segera. Dan kupastikan Smith pun tak berkutik lagi" sahut Arka.
Arka mengakhiri panggilan ke Tania. Untuk pembicaraan legalitas, Arka dan Pandu akan menyusul ke rumah mama Rosa sekalian makan siang. Pembicaraan serius atau hanya akal-akalan Arka untuk makan siang masakan mama Rosa? Hanya Arka dan othor yang tahu.
Sementara Tania sudah sampai di swalayan yang disebutkan mama Rosa saat nelpon tadi.
Tania menyusuri seluruh ruangan dan belum menemukan sosok mama nya.
"Kak, tahu wanita ini?" tanya Tania ke kasir sambil menunjukkan foto mama Rosa.
"Bentar kak" sepertinya dia berusaha mengingat. Tania semakin was-was.
"Oh ya, barusan nyonya ini keluar" beritahunya.
"Tuh, belanjaannya" tunjuk sang kasir ke arah beberapa kantong plastik yang ditaruh di rak membuat hati Tania semakin ketar ketir karena belum melihat mama.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
💝