
Suasana pesta yang meriah, menjadi gaduh karena bintang utama di pesta itu jatuh pingsan.
Saat sudah berada dalam mobil. Tania dengan gaun pesta dan Arka dengan tuxedo.
"Pandu, ke rumah sakit!" perintah Arka saat tahu Pandu sudah berada di depan dengan sopir.
"Siap tuan, rumah sakit mana ini?" tanya Pandu untuk meminta persetujuan.
"Yang terdekat saja" suruh Arka.
Arka memeriksa denyut nadi sang istri. Frekuensinya agak cepat dari biasanya. Keringat dingin terlihat di kening sang istri.
"Apa dia syok?" gumam Arka.
"Tapi karena apa?" nalar Arka sebagai seorang dokter mulai berpikir.
Melihat keluhan nyeri perut yang dialami, ada beberapa kemungkinan. Pikir Arka.
"Yank...yank..." panggil Arka kembali menepuk pipi Tania kembali.
"Uurrrrrggģghhhhh..." mulai ada pergerakan dari tubuh Tania.
"Perutku kenapa? Mules banget?" kelih Tania lirih. Dia pegangi perut yang memang terasa nyeri.
"Kamu punya riwayat sakit perut nggak sebelumnya?" tanya Arka mulai melakukan anamnesa.
Tania mengangguk, "Kadang-kadang. Biasanya sih saat mau haid itu" terang Tania masih dengan muka pucat.
"Ngomong-ngomong setelah sebulan lebih kita menikah, aku kok nggak lihat kamu haid yank?" seloroh Arka.
Tentu saja Arka sangat ingat, karena tidak pernah seharipun dia bolong mengeksplore tubuh sang istri.
"Iya...ya..." Tania malah baru mencoba mengingatnya.
Di depan lobi IGD rumah sakit, Arka mengangkat tubuh Tania.
Banyak orang memandang mereka karena gaun dan juga jas yang dipake oleh keduanya.
Acara pesta live yang ditayangkan sebuah stasiun tivi, kini berganti dengan papa Rendra yang sepertinya sedang memberikan keterangan.
Arka sekilas mendengar suara papa saat dirinya melewati lobi menuju tempat tidur pasien di lorong.
"Selamat malam tuan, ada yang bisa kita bantu?" seorang perawat menghampiri keberadaan Tania dan Arka.
Arka menceritakan tentang kejadian secara runtut.
Setelah menelaah, perawat jaga itu memberikan sebuah wadah untuk tempat kencing.
"Untuk apa ini?" tanya Tania.
"Penampung air seni. Aku antar ke toilet ya?" beritahu Arka.
"Aku sendiri aja yank" pinta Tania. Risih juga meski Arka adalah suaminya.
"Masih sakit nggak perutnya?" lumayan reda setelah tadi sang perawat memberikan pengurang nyeri untuk Tania.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu" jawab Arka yang melihat Tania masuk sebuah toilet.
"Silahkan daftar di sebelah sana tuan" kata perawat itu menunjuk sebuah tempat dengan tulisan 'kasir' sebagai petunjuknya.
Pandu yamg berada di seberang, dan sedang mondar mandir untuk memberikan info kepada nenek Gemmy tentang keadaan Tania.
"Pandu, tolong daftarin istriku di sana" Arka menunjukkan tempat yang diberutahu oleh perawat tadi.
Pandu pun melakukan hal yang diminta oleh sang bos.
"Sudah yank?" tanya Arka sambil memapah Tania untuk kembali tiduran di atas tempat tidur.
"Pakai ini aneh juga ya di IGD?" senyum kecut di sudut bibir Tania.
"Baju gantinya menyusul sayang, yang penting kamu baikan dulu" sambut Arka.
"Aku antar dulu ini" kata Arka mengangkat tempat yang dikasihkan kepada sang istri dan sekarang telah terisi.
Tania kembali merasakan mulas yang luar biasa di perut.
"Yank, kenapa sakit lagi?" Tania meringis menahan sakit saat Arka kembali ke teli ranjang Tania.
Dia pegang perut. Arka segera memanggil dokter jaga IGD.
Dan diperiksanya Tania mulai dari ujung kepala, menyusur ke bawah.
"Dok, aku rasa fokus ke keluhan pasien saja lah" sergah Arka yang tak rela tubuh sang istri dipegang oleh dokter jaga. Yang tentunya usinya jauh di bawah Arka.
"Aku hanya ingin memastikan keluhan nyonya Tuan" jawabnya tanpa ragu.
"Saya konsulkan ke dokter Maya dulu dok. Beliau kebetulan ada operasi malam ini" dokter jaga itu menimpali.
"Iya, lekaslah!" suruh Arka.
.
Arka mondar mandir gusar menunggu kedatangan dokter Maya.
Maya memutuskan datang, karena laporan dari dokter jaga. Yang memberitahukan kalau pasien pre syok karena menahan nyeri yang luar biasa.
Sebuah probe dari sebuah mesin USG portable menempel cantik di perut Tania.
"Ada apa dengan istri saya dok?" sela Arka saat melihat dokter Maya menautkan alis.
"Sabar tuan Arka" imbuh dokter Maya.
"Kok anda mengenal saya dok?" tanya Arka, tapi fokus dokter Maya tak beralih dari monitor mesin canggih itu.
"Siapa yang tak kenal, yang hari ini viral. Masuk live TV dan juga sosmed ramai karena ulah anda hari ini" beritahu Tania.
Pandu menyela di antara mereka untuk menyerahkan baju ganti buat tuan dan nyonya nya.
"Saya kok curiga hamil di luar kandungan ya. Tapi sepertinya ini masih tanda-tanda akan pecah, sehingga timbul nyeri yang luar biasa. Tidak ada cairan bebas di rongga perut" kata Maya bagai sambaran petir bagi Arka.
"KE?" seloroh Arka.
__ADS_1
"Anda dokter kah?" sela Tania dijawab anggukan oleh Arka.
"Dia spesialis orthopedi. Sudah tak tawarin kerja di sini, katanya masih mau dipikir-pikir dulu" terang seseorang di belakang mereka berdua.
Arka menoleh.
"Eh kau Bara, ngapain malam-malam ke sini? Betewe ini rumah sakit yang kau punya?" tandas Arka.
"Kalian saling kenal?" celetuk Maya.
"Teman lama" imbuh Bara.
Kembali ke kasus Tania. "Apa mau dibuka malam ini juga?" tanya Arka yang memang sudah lama tak melakukan tindakan operasi darurat. Operasi yang dikerjakan oleh Arka kebanyakan operasi berencana.
"Harus saya pastikan dulu lewat periksa dalam" bilang Tania.
Perawat yang tadi mengantar hasil pemeriksaan air seni Tania dan menyerahkan ke Maya dokter Obgyn konsultan onkologi itu.
Dibacanya oleh Maya. "Hemmmm, sudah jalan delapan minggu sepertinya" kesimpulan Maya setelah melihat rekam medik dan mencocokkan dengan hasil pemeriksaan.
Maya meminta dilakukan tes darah untuk memastikan kondisi Tania selanjutnya.
"Tuan Arka, aku pamit duluan. Mau ke kamar operasi" pamit Maya.
"Silahkan dok, makasih atas bantuannya" timpal Arka.
Maya pergi diikuti Bara yang juga dokter anesthesi itu.
"Yank, masih nyeri banget?" tanya Arka menghampiri sang istri.
"Iya... Apa benar aku hamil yank?" tanya Tania.
Arka masih termangu di tempat. Berpikir mau menjelaskan dari mana kepada sang istri.
Berita kehamilan akan sangat menyenangkan bagi sebagian besar orang, termasuk Arka. Tapi hasil pemeriksaan USG dokter Maya menunjukkan hal yang berbeda.
"Sayang, kok malah diam sih?" kata Tania.
"Penjelasannya ntar aja. Sebaiknya aku bantu kau ganti baju dulu" terang Arka.
"Heemmm baiklah" sahut Tania sambil menarik nafas dalam.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1
Salam sehat buat semua 🤗