Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Nyeri itu datang lagi


__ADS_3

Arka mendekati Tania yang masih terbaring.


"Ada apa?" tanya Arka seolah tak ada sesuatu yang dia rasakan.


"Nggak bisa tidur" ucap Tania.


"Istirahatlah, kalau kondisimu membaik besok biar bisa pulang" kata Arka mengelus puncak kepala sang istri.


Entah kenapa, Tania yang biasanya sosok mandiri. Malam ini malah bersikap manja kepada sang suami.


Arka menahan rasa sakit yang luar biasa di kakinya, coba dia tahan dengan mengatubkan erat gigi-giginya.


Dengan telaten dia usap kepala sang istri agar tidur kembali.


Tania terlelap dengan penuh rasa nyaman saat Arka berada di sampingnya.


Setelah diyakini Tania terlelap, Arka kembali ke ruang di depan dan menelpon Pandu.


"Pandu, tolong kau antar box warna kuning yang ada di mobil. Cepatlah!" suruh Arka.


Tentu saja Pandu gelagapan karena permintaan mendadak sang bos.


Baru saja mau meluruskan badannya, sudah ada perintah lagi.


"Pandu, cepatlah!" ulang Arka karena tak ada tanggapan dari Pandu.


"Baik Tuan" balas Pandu.


Pandu bergegas ke garasi, kebetulan mobil sang bos dibawanya pulang. Sejurus kemudian mobil telah berada di jalan menuju rumah sakit.


Pandu meraih box yang diminta sang bos. Box yang memang selalu ada di mobil, tapi Pandu tak pernah tahu apa itu isinya.


Terdengar ketukan pintu kamar perawatan Tania.


"Masuklah!" suara Arka terdengar dari dalam.


"Ini tuan, box yang anda minta" Pandu menyerahkan box kuning yang diminta sang bos.


"Heemmm...dekatkan sini" kata Arka.


Pandu melakukan apa yang diminta Arka.


"Makasih Pandu, kau bisa pergi. Aku mau istirahat" kata Arka. Meski ekspresinya biasa tapi melihat keringat dingin yang bercucuran, Pandu yakin jika sang bos kenapa-napa.


"Tuan, anda tidak apa-apa kan?" tanya Pandu.


"Pergilah, aku nggak apa-apa" tukas Arka.


"Tapi tuan" sela Pandu.


"Pandu, pergilah" suruh Arka.


Pandu melangkah keluar ruangan. Tapi Pandu tidak langsung pergi. Dia menajamkan pendengaran agar tahu apa yang terjadi.


Bukannya kepo, tapi Pandu kuatir atas apa yang terjadi pada sang bos.


"Aarrrggghhhhh" keluh pelan Arka agar tak terdengar sang istri.


Seperti biasa, dia menyobek kain celana yang menghalangi bekas luka kaki kanannya.


Dengan cepat dia raih obat-obatan yang ada di box. Keringat yang bercucuran tak menghalangi dirinya untuk memasukkan obat pereda nyeri itu.


Arka sampai terengah-engah setelah berhasil memasukkan obat.


Arka tertidur saat waktu hampir pagi. Pandu dengan setia masih menunggu di depan pintu kamar perawatan.


Setelah yakin sang bos tak kenapa-napa, barulah dia beranjak pergi.


"Sayang...sayang..." panggil Tania karena tak mendapati Arka yang tak ada di sampingnya.


"Tuan berada di depan nyonya, sepertinya masih tertidur" beritahu perawat yang masuk untuk mengganti cairan infus.


"Apa perlu saya panggilkan nyonya" lanjut nya.


"Nggak usah, barangkali suami saya masih capek" tolak Tania.


"Baik, kalau begitu saya undur diri" pamitnya.


"Makasih" tukas Tania.

__ADS_1


Sepeninggal perawat, Arka bangun dari tidurnya.


"Hemmmmm, siapa yang menyelimutiku?" gumam Arka bermonolog.


Juga sudah ada baju ganti di sampingnya. "Pasti ulah Pandu" kata Arka berikutnya.


Arka sudah rapi kembali saat akan menemui sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.


"Sudah bangun?" kata Tania.


Arka mengusap tengkuk dan tersungging senyum di sudut bibirnya.


"Maaf ya, kamu pasti capek bener" tukas Tania.


"Nggak boleh bilang begitu. Sudah kewajiban aku ndampingin kamu" seloroh Arka duduk di samping ranjang Tania.


Tania terdiam.


Nenek Gemmy dan Mama Rosa barusan masuk.


"Eh, kalian kok saling diam?" telisik nenek Gemmy.


"Kok sudah datang nek? Masih pagi loh ini" kata Tania.


"Karena nenek ingin nungguin cucu nenek yang cantik" jawab nenek.


Tania tersenyum. Bahagia mendapat perhatian dari orang-orang tersayang.


"Gimana keadaan kamu sayang?" ada raut kecemasan di wajah mama Rosa.


"Sudah baikan kok Mah. Mama jangan kuatir" tandas Tania.


"Oh ya Arka, gimana kandungan Tania?" mama Rosa masih saja cemas dengan apa yang terjadi.


"Mah, jangan kuatir. Tania pasti akan baik-baik saja" ucap Arka menjelaskan.


.


Terdengar ketukan pintu, yang ternyata dokter Maya hendak melakukan visite.


"Bukannya kamu menantu Suryo ya?" tanya nenek Gemmy.


"Benar nyonya" jawab Maya.


"Panggil nenek aja. Oh ya, waktu kamu menikah nenek juga hadir loh. Salam buat mertua kamu tuh, Suryo dan Clara" kata nenek ramah.


"Baik nek" terlihat senyum di bibir Maya.


"Mayong apa kabar?" tanya nenek.


"Makin sibuk aja nek, kejar setoran buat anak-anak" canda Maya.


"Ah kau bisa saja" seloroh nenek.


"Kak, apa kabar?" Maya menghampiri Tania.


"Berasa tua aku dipanggil kak...he...he..." tukas Tania terkekeh.


"Dokter Arka kalau seangkatan dengan dokter Bara, otomatis juga seniorku kak" celetuk Maya.


"Panggil Tania aja dech" pintanya.


"Oke lah. Aku ijin periksa dulu ya?" kata Maya dan dijawab anggukan Tania.


"Apa ada keluhan?" telisik Maya.


"Biasa, luka operasi masih nyeri" terang Tania.


"Oke, nanti akan kuresepkan obat pengurang nyeri. Dan boleh dimulai mobilisasi nya, biar lekas sehat" jelas Maya.


"Oke, bosen juga kalau lama-lama inap di sini. Mahal..." timpal Tania.


"Ha...ha...kau bisa aja Tania" Maya tertawa mendengar kata Tania.


Arka pun ikutan ketawa. Melihat Tania seperti itu, berarti dia sudah kembali ke sifat aslinya.


"Kak Arka, Tania dan semuanya saya undur diri dulu" pamit Maya setelah mengganti perban penutup luka.


"Makasih dokter" ucap Arka.

__ADS_1


Pandu masuk untuk menjemput Arka.


"Bukannya hari ini aku masih cuti?" tanya Arka saat Pandu menyerahkan baju formal untuk dipakai ke kantor.


"Harusnya begitu tuan, tapi ada masalah urgen yang terjadi di kantor" terang Pandu di depan semua.


Arka menautkan kedua alisnya dan menatap Pandu.


"Kita bicarakan di kantor saja tuan, sebaiknya anda segera bersiap" lanjut Pandu.


"Sayang" panggil Tania.


Arka menghampiri Tania. Dia pasti ikutan cemas mendengar kata-kata Pandu barusan.


"Sudah, kamu fokus saja pada kesembuhan kamu" ucap Arka mengecup kening Tania.


Arka masuk ke kamar mandi, dan menyiapkan diri untuk berangkat ke perusahaan.


Nenek Gemmy dan mama Rosa mengajak ngobrol Tania, agar merasa terhibur.


"Kalau kamu sembuh, kita jalan yuk? Sama kamu juga Rosa" kata Nenek.


"Ke mana?" sela mama Rosa.


"Healing lah. Kemana gitu. Nanti tinggal gesek kartunya Arka...beres dech" imbuh nenek tertawa.


"Nenek tau juga healing...he...he..." ulas Tania.


Arka keluar kamar mandi, dan ternyata telah bersiap.


"Sayang, aku pergi dulu. Ingat pesan dokter Maya tadi. Mobilisasi. Jangan takut gerak ya" saran Arka.


"Oke bos" sahut Tania terkekeh.


Tak lupa Arka kecup kening sang istri saat akan keluar.


"Nek, Mah, nitip istri tersayangku" celetuk Arka.


"Mulai dech lebaynya" sela nenek Gemmy, membuat suara tawa pecah di ruang itu.


.


Arka telah berada dalam mobil yang dikemudikan sendiri oleh Pandu.


"Ada apa sebenarnya Pandu?" tanya Arka.


"Coba anda buka sosmed tuan" kata Pandu.


"Untuk?" sela Arka.


"Buka aja tuan, nanti anda akan tahu" imbuh Pandu.


Arka melakukan apa yang dikatakan oleh Pandu.


Berita tentang Arka ternyata viral di sosmed.


'Arka Danendra, pewaris tunggal Rahardjo Grub pernah mengalami depresi'


'Arka Danendra, bisa menjadi CEO karena hanya dia satu-satunya pewaris'


Arka hanya menanggapinya dengan senyum.


"Tuan, nilai saham Panapion menurun saat berita itu bermunculan" terang Pandu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊


Vote...vote...vote...


Klik juga iklannya


πŸ’


Salam sehat buat semua πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2