
Tania menghampiri Anthoni yang sedang duduk di mejanya.
"Beneran Thon, aku boleh masuk nih?" kata Tania.
"Iya. Mumpung aku lagi baik nih" kata Anthoni.
"Anterin, daripada aku dituduh yang enggak-enggak" gurau Tania.
"Dituduh apa? Menghamiliku?" Anthoni menimpali.
"Idih...nggak lucu tau" seloroh Tania melenggang ke ruang yang dimaksud.
Tania serius memilah semua berkas yang dicarinya. Berkas tentang Panapion Grub.
Tania terjingkat ketika bahunya disentuh oleh orang dari belakang.
Tania menoleh, sumpah serapahnya keluar. Anthoni tertawa melihat ekspresi Tania.
"Penasaran dengan Panapion?" tanya Anthoni.
"Heemmmmm" jawab Tania tanpa beralih dari tumpukan berkas di depannya.
"Bukannya calon Nona Maura, manager di sana? Dan bukannya kamu itu mantannya?" ucapan Anthoni membuat Tania mendongak.
"Bisa nggak sih nggak membahas mereka?" sungut Tania.
"Sori...sori..." Anthoni menutup mulutnya.
Tania merenung. Benar juga ya, Benzema kan kerja di sana. Bahkan dulu sang ayah juga pernah kerja di sana juga. Pikir Tania.
Tapi...ogah gue kalau musti nanya laki-laki itu. Batin Tania. Sejenak Tania menggelengkan kepala.
"Ngapain geleng-geleng? Kerasukan hantu gedeg loe ya?" kata Anthoni yang masih memperhatikan Tania.
"Haiissssss...ngapain juga loe masih di sini? Bantuin kagak, melotot doang" gerutu Tania.
"Aku kan nggak tahu berkas yang kau maksud" elak Anthoni.
"Heleh, bilang aja tak mau bantu" sarkas Tania.
Terdengar ada yang ketuk pintu, Anthoni bergegas keluar dari ruang di mana Tania berada.
"Non Tania ada?" ternyata yang mengetuk pintu adalah Angel, asisten Tania.
"Heemmmm" gumam datar Anthoni.
Sudah sejak lama Angel sebenarnya naksir sama Anthoni. Tapi sepertinya Anthoni tak ada rasa dengan Angel, bahkan cenderung alergi.
"Panggilin dong" suruh Angel.
"Ogah, panggil aja sendiri" tukas Anthoni.
Angel menghentakkan kaki tanda sebal dengan laki-laki itu. Untung aku naksir, kalau nggak sudah kutabok kau. Batin Angel.
"Non....Non Tania" panggil Angel.
Tania melongokkan kepala dari ruang berkas.
"Ada apaan?" selorohnya.
"Nih ponselmu ketinggalan. Sedari tadi bunyi terus" beritahu Angel.
"Siapa?" telisik Tania.
"Lihat aja sendiri" sahut Angel langsung balik kanan.
"Angel..." teriak Tania yang melihat Angel mengambil langkah cepat.
"Apaan sih Non" Angel berhenti dan kembali menghadap ke arah Tania.
"Bantuin!" pinta Tania.
__ADS_1
Dengan bantuan Angel, akhirnya berkas-berkas yang ingin Tania baca sekarang sudah berpindah posisi di mejanya.
"Makasih Angel cantik" puji Tania sambil meremas gemas pipi Angel yang chubby.
"Idih, sakit Non" Angel memasang wajah kesakitan.
"Biasa aja kali, tadi kan cuman kuelus pipimu" seloroh Tania membela diri.
Angel kembali menghentakkan kaki karena kesel juga dengan sang bos.
.
Tania kembali fokus ke berkas-berkas yang dipinjamnya dari Anthoni.
"Heemmmm, tuan William???" Dahi Tania berkerut dengan nama itu.
"Apa dia ini yang sering disebut oleh Nyonya Marsha dengan inisial ya?" Tania mengetuk-ngetuk dahinya dengan sebuah bolpoin.
"Kalau lihat dari susunan dewan direksi hanya dia yang nama depannya pakai huruf W" Tania semakin berpikir.
Nyonya Marsha, klien Tania. Terduga pembunuh putri kandungnya. Usianya masih relatif muda, awal tiga puluh tahun. Dia seorang single parent. Sampai sekarang Tania belum mengetahui siapa ayah kandung dari putri nyonya Marsha.
Nyonya Marsha hanya memberi tahu dengan bahasa-bahasa kode yang kadang Tania susah untuk menangkap maksud dari nyonya Marsha.
Terakhir Tania menerima sepucuk surat, yang oleh nyonya Marsha ditaruh dalam sebuah roti. Agar penjaga di penjara tak tahu.
Barulah Tania sangat gamblang, mengerti maksud apa yang dibicarakan oleh nyonya Marsha.
"Aku harus menyelidiki tuan William ini" janji Tania.
Kembali ponsel Tania berdering keras, membuat Tania sendiri terjingkat.
"Ngagetin aja. Biasanya juga nggak sekeras ini" monolog Tania.
"Siapa bilang Non? Suara ponselmu itu, dari parkiran aja sudah kedengaran" imbuh Angel yang barusan datang membawa segelas air minum dingin dan camilan untuk Tania.
"Makasih my Angel" seloroh Tania, dan Angel hanya mengerucutkan bibir.
"Angkat tuh telpon, jangan ketawa aja" Angel ngingetin. Berisik juga mendengar nada dering Tania yang tak pernah ganti itu. Virus by Slank, setia menemani ponsel Tania.
Angel aja yang awal-awal kenal, kaget juga dengan nada dering sang bos. Aku bisa saja menjadi virus yang melumpuhkanmu. Lirik lagu yang terngiang di telinga Angel.
"Halo, siapa nih?" sapa Tania membuyarkan lamunan Angel.
Nggak ada jawaban.
"Halo...Halo..." kata Tania dengan setengah berteriak.
"Nggak usah keras-keras kali. Udah denger. Aku mau nagih janji kamu tuk nemenin aku makan siang" ucapnya.
Suara itu.. Tania berusaha mengingat.
"Hei, orang gila. Aku sibuk" Tania menutup panggilan di ponsel sepihak.
"Siapa Non? Arka Danendra?" telisik Angel.
"Kok kamu tahu?" Dahi Tania berkerut.
"He...he...sampai lupa bilang sama Non, kalau yang nyari sedari tadi adalah tuan Arka" Angel terkekeh.
Terdengar ketukan pintu, Tania dan Angel kompak menoleh ke arah pintu.
"Bukain dong Angel sayang!" suruh Tania.
Angel beranjak ke arah pintu dan membukanya.
Tania melotot tajam ke arah orang itu.
"Ngapain ke sini? Aku sedang sibuk" ucap Tania mencelos.
Arka Danendra melenggang duduk tanpa peduli ucapan Tania.
__ADS_1
"Uh, bikin sebel aja" gerutu Tania meneruskan pekerjaan mencari berkas yang dimaksud.
"Ketemu" teriak Tania membuat semua kaget.
"Apaan sih Non, untung aku nggak jantungan?" sela Angel memegang dada.
"Idih, lebay" kata Tania menjulurkan lidah untuk meledek Angel.
"Bar-bar" gumam Arka.
Ternyata Tania masih mendengar apa yang dikatakan Arka.
"Serah gue dong" tukas Tania ngegas.
"Eh Non, apanya yang ketemu?" kata Angel menengahi daripada melihat mereka berdua perang dunia ketiga.
"Profil tuan William" jawab Tania tak memperdulikan keberadaan Arka.
"Tuan William? Siapa dia?" Angel membego.
"Orang yang harus kita selidiki" imbuh Tania.
Arka menautkan alisnya. Seperti ada yang dipikirkan.
"Eh kau, jangan menghalangi orang lagi kerja" Tania sengaja menyenggol Arka yang sepertinya sedang melamun.
"Kak Arka, mau apa ke sini?" tanya Angel ramah sambil menyerahkan minuman kemasan dingin. Beda banget dengan Tania.
Melihat orang tampan mana mau Angel sia-siakan.
"Makasih" tapi pandangannya tak beralih dari Tania.
"Ayo makan siang!" ajak Arka.
"Aku kan bilang sedang sibuk" sergah Tania.
"Nggak ada penolakan" sahut Arka.
Dan dengan seenaknya, tangan Tania ditarik dan tak dilepas olehnya.
Tania berusaha melawan, tapi tenaga nya ternyata kalah tangguh dengan tenaga Arka.
"Bosmu kubawa dulu" kata Arka kepada Angel.
Tania didorong paksa oleh Arka untuk masuk mobil dan langsung menguncinya.
"Dasar pemaksa" kata pertama yang didengar Arka saat masuk mobil.
.
Arka membawa Tania ke sebuah resto. Meski tak ada ruang privat, tapi resto itu tergolong mewah.
Tak sengaja Tania mendengar ada orang yang mengatakan "Selamat datang tuan William" kata orang itu tapi masih bisa didengar Tania.
Tania menengok ke arah orang yang dipanggil tuan William.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote yah supaya popularitas naik dan readers semakin banyak.
Buat nambah imun othor, biar semangat nulis πππ
Ketak ketik sambil menikmati macet nih ceritanya.
Iklan di bawah, di klik juga dong
Jangan lupa follow IG aku juga dong
@moenaelsa_
__ADS_1
π