Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Situasi Emergency (2)


__ADS_3

Sebagai sesama sejawat dokter, dan menginduk di rumah sakit yang sama maka Arka langsung mendial nomor dokter spesialis kebidanan itu.


"Halo Anita, ijin menganggu waktunya" kata Arka.


"Siap Kak, ini pasti tentang kak Tania kan?" kata dokter Anita menimpali.


"Iya nih" Arka membenarkan.


"Tiga puluh menit aku otewe nih. Kuselesaikan praktek aku dulu. Melihat hasil pemeriksaan prof. Abraham sih, aku yakin kalau kehamilan kak Tania musti segera dilahirkan. Tapi sebelum tindakan operasi, aku harus kasih injeksi buat pematangan paru janin kak" jelas dokter Anita.


"Iya sih, tadi om Abraham juga bilang begitu" kata Arka menanggapi.


"Beri kesempatan obat itu masuk dulu kak" lanjut Anita.


"Apa nggak bahaya kalau operasinya musti ditunda" ujar Arka.


"Semua tindakan pasti ada untung ruginya. Tapi paling tidak kita ada tindakan pencegahan, jika ada something yang terjadi saat lahir" imbuh dokter kebidanan dan kandungan itu menjelaskan ke suami pasien yang juga seorang dokter.


"Oh ya, anti infeksi juga sudah kuadviskan. Dan dimaintenance" sambung penjelasan dokter Anita.


"Tapi kak, jika sewaktu-waktu denyut jantung bayi memburuk maka aku akan ambil tindakan jam berapa pun itu. Tolong kak Arka siapin mental kak Tania dengan segala kemungkinan terburuk" ujar dokter Anita bagai petir menyambar yang didengar oleh Arka di dekat telinganya.


Tania yang juga ikut ngedengarin hanya melongo karena tak sepenuhnya paham dengan apa yang dibicarakan oleh kedua dokter itu.


Sesuai waktu yang dijanjikan, dokter Anita datang selepas praktek.


"Akan kuperiksa ulang semua. Mulai dari USG dan tentunya periksa dalam" jelas dokter Anita.


"Apa bahaya? Sampai malam-malam kamu ke sini? Tadi kan sudah diperiksa sama Om Abraham" sela Tania.


"Untuk meyakinkan diriku kak. Dan berharap semua akan baik-baik saja" jelas dokter Anita.


"Apa istilahnya crosscek. Begitukah?" sambung Tania.


"Ya, seperti itu lah" ujar Arka ikut nimbrung menjelaskan.


"Oke kak, aku mulai ya periksanya" kata dokter Anita meminta persetujuan verbal dari Tania.


Tania pun mengangguk menyetujui tindakan pemeriksaan dokter yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri itu.


"Heemmmmm, janin kondisi nya baik dan belum ada pembukaan. Sementara kontraksi juga belum adekuat. Akan aku jadwalkan operasi besok pagi kak" kata dokter Anita memberikan kesimpulan hasil pemeriksaannya.


"Badan kakak terasa panas dingin atau nggak?" tanya dokter Anita menambahi.


"Enggak sih, biasa aja" jawab Tania.


"Oke, kalau begitu masih aman kak" ujar Anita.


"Jadi beneran operasi nih?" tanya Tania lagi dan dijawab anggukan Anita dan juga Arka bersamaan.


"Beneran nggak papa yank? Tapi aku takut" kata Tania. Meski dalam keseharian dia bar-bar, ternyata Tania takut juga dengan jarum suntik.


"Takut jarum suntik?" tanya Arka.


"Ha...ha...jadi karena itu kak. Cemen" ledek Anita.


"Jangan diketawain, beneran aku takut dok" timpal Tania.


"Kakak aneh sih, jarum suntik itu kecil kak. Malah gedhean jarumnya kak Arka" ledek Anita.


"Gedhe tapi kan tumpul. Lha jarumnya kak Bara tajam banget" ujar Tania mengimbangi gurauan Anita.


"Sudah...sudah...aku pulang. Jika ada sesuatu lapor ke bidan jaga. Biar mereka langsung menghubungi aku" jelas Anita.


"Siap. Makasih ya atas bantuan kamu" kata Arka kala Anita hendak pamitan.


"Seperti sama siapa aja kak. Ingat kita ini sejawat loh" imbuh Anita.


Ponsel Arka berdering.


"Jangan bilang itu Arkan lagi" tukas Tania sembari menatap sang suami.


"Matih gue. Aku lupa kabarin nenek dan mama Rosa di rumah" kata Arka.


"Itu nenek kah?" tanya Tania dan Arka pun mengangguk.


"Halo nek" sapa Arka dan siap-siap mendapatkan ceramah dari nenek yang jika ngomel seperti ponsel full charge.

__ADS_1


"Kalian ini ke mana? Sudah lupa sama Arditya. Nelpon enggak, ngabarin juga enggak. Hadech kalian ini" dan seperti yang sudah ditebak oleh Arka jika nenek pasti mengomel.


"Maaf nek, ini Tania masuk rumah sakit. Dan besok pagi musti operasi" jelas Arka memberi kabar untuk nenek dan juga mama Rosa.


"Tapi usia kehamilan Tania? Apa nggak ada masalah?" tukas nenek karena khawatir dengan keadaan Tania dan juga bayi yang dikandungnya.


"Doakan saja nek, semoga diberi kelancaran" harap Arka di sambungan telpon itu.


"Itu pasti. Kamu juga Arka, jaga kondisi. Biar bisa jagain istri dan juga calon bayi yang akan lahir" nasehat nenek.


"Itu pasti nek. Makasih" Arka pun memutus panggilan dari nenek Gemmy.


.


Pagi jam lima Tania tengah disiapkan untuk operasi.


"Yang tenang, nanti aku akan masuk menemani kamu" ujar Arka.


Tania memang sangat takut untuk saat ini.


Lahirnya Arditya saja, dia tak merasakan setakut ini. Bahkan saat itu sang suami lah yang merasakan sakitnya kontraksi. Tania hanya tau caranya mengedan dan mengeluarkan Arditya.


Tania dibawa masuk ke ruang bedah sentral. Dan di sana sudah lengkap kru kamar operasi.


"Apa kabar Tania?" tanya Bara.


"Baru aja tahu kalau hamil, sudah mau lounching aja" ledek Bara, untuk mengalihkan rasa takut Tania.


"Jangan ngeledekin, gue benar-benar takut nih" tandas Tania.


"Ha...ha...tuh dokter Anita juga sudah bersiap. Dokter anak juga sedang ganti baju" beritahu Bara.


"Wah, kok aku tambah gugup aja sih" sela Tania.


Dan saat Bara melihat monitor memang didapatinya denyut jantung Tania lebih dari semestinya.


Arka mendekat selepas ganti baju kamar operasi yang jelas ada namanya sendiri di baju itu.


"Tenang sayang. Setelah dokter Bara masukkan obatnya, aku jamin kamu akan baik-baik saja. Cuman berasa digoyang-goyang aja perutnya" kata Arka berusaha menenangkan sang istri.


"Kamu yang pegangin aja ya. Biar Tania tenang" pinta Bara.


"Tentu" tandas Arka.


Arka memposisikan Tania sedemikian rupa agar Bara nyaman memasukkan obat-obatan.


"Oke, sudah. Sekarang baringlah" ujar Bara.


Arka membantu Tania untuk baring. Kedua telapak tangan Tania sangatlah dingin saat ini.


Rasa takut benar-benar menghampirinya saat ini.


"Oke kak, kita mulai aja ya. Silahkan berdoa" kata Anita. Dan Tania pun tak berani membuka mata.


"Santai aja kak, rileks" saran Anita.


"Sudah dimulai yank?" tanya Tania ke Arka yang duduk disampingnya. Karena saat ini dia belum merasakan apa-apa.


"Sudah tuh. Bentar lagi adiknya Arditya bakalan keluar" jelas Arka.


Dan tak sampai semenit...oek...oek...terdengar tangisan bayi yang tak begitu keras.


Air mata Tania menetes. Tahu-tahu menetes aja karena rasa bahagia.


Melihat bayinya yang kecil, "Yank, aku ke adik dulu ya? Kamu nggak apa-apa kan?" kata Arka.


"Aku baik-baik aja kok" Arka pun keluar dari ruangan itu dan di depan dilihatnya dokter anak dengan cekatan melakukan tindakan agar bayinya segera menangis.


Meski kecil, setelah dilakukan resusitasi sebentar. Bayi itupun menangis keras.


Hanya rasa syukur yang diucapkan Arka kali ini. Begitu banyak karunia Tuhan yang diberikan kepadanya.


"Perempuan dok. Sehat kok. Cuman nanti perlu aku observasi di ruang bayi ya. Soalnya beratnya di bawah satu setengah kilo" jelas dokter anak itu.


"Berapa beratnya dok?" tanya Arka penasaran.


"Seribu empat ratus dua puluh lima gram" jawab sang dokter dengan lengkap.

__ADS_1


"Oke dok, aku pamit. Dan bayi sekalian dipindahkan ke ruang bayi" ijin dokter anak setelah selesai melakukan semua. Dan diiyakan oleh Arka Danendra.


Arka kembali masuk menemani sang istri.


"Gimana kondisinya sayang?" tanya Tania.


"Alhamdulillah, kata dokter Iwan sih sehat" Arka menyebutkan nama dokter anak yang merawat bayinya barusan.


"Cewek atau cowok?" tanya Tania yang memang belum tahu saat periksa di om Abraham.


"Cewek, sesuai prediksi saat USG" terang Arka.


"Aku kan nggak tahu sayang" imbuh Tania.


"Hah? Selesai juga tugasku" sela Anita menghela nafas panjang di balik maskernya.


"Makasih dok" ucap Arka.


"Makasih Anita" Tania menimpali.


"Sama-sama. Sehat selalu mama dan bayinya" tukas dokter Anita dan menyalami Tania selepas melepas sarung tangan.


Bara pun sama, memberi ucapan selamat kepada Arka dan Tania. Termasuk kru ruang kamar operasi, di mana Arka juga selalu berada di sana tiap dua hari sekali.


Selesai dibersihkan, Tania dipindahkan ke ruang recovery.


Karena malam kurang istirahat, Arka tidur begitu saja di kursi samping tempat tidur setelah Tania selesai dipindahkan.


"Sayang, kamu pasti lelah ya?" elus lembut Tania di puncak kepala sang suami. Arka hanya menggeliat saja.


Tak sampai dua jam, Tania telah dipindahkan ke kamar vvip dan Arka pun bisa melanjutkan mimpinya.


Arka bangun kala ponselnya berdering keras beberapa kali dan Tania tidak bisa meraih karena geraknya yang masih terbatas.


"Halo" sapa Arka dengan suara serak.


"Bos, kok belum datang sih? Ingat sejam lagi kita ada rapat dengan rekanan" kata Pandu mengingatkan.


"Loh, aku lupa bilang sama kamu Pandu. Rescedule semua jadwalku minggu ini" perintah Arka.


"Kok mendadak banget sih tuan?" Arka tebak, pasti saat ini Pandu sedang sewot.


"Aku di rumah sakit, nungguin istri melahirkan" jawab Arka.


"Beneran tuan?" tanya Pandu penasaran.


"Hhhmmm" Arka hanya bergumam.


"Kalau hari ini tidak bisa ditunda, minta tolong papa Rendra aja biar menghandel" suruh Arka.


"Baik tuan" jawab Pandu.


"Oh ya tuan, selamat ya atas kelahiran adiknya tuan muda Arditya" bilang Pandu.


"Oke makasih Pandu. Sudah ya, aku mau tidur lagi nih. Capek banget" Arka memutus panggilan begitu saja karena kedua kelopak matanya bagai terkena lem perekat.


Semalam Arka tak bisa tidur sama sekali. Mencemaskan keadaan bayi Tania yang terlalu beresiko dari segi medis.


Nenek Gemmy dan mama Rosa sepertu biasa. Tak ada kehebohan jika mereka tak datang.


Suasana syahdu di kamar Tania menjadi ramai karena kehadiran mereka berdua.


"Arka, bangun dong. Mana adiknya Arditya? Cewek apa cowok? Berapa beratnya? Sehat kan?" nenek Gemmy memberondong Arka dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.


Arka masih bengong karena nyawanya yang belum balik sepenuhnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


πŸ’

__ADS_1


__ADS_2