
Tania malah fokus ke wanita berada di samping Arka. "Bukannya dia Davina putri tuan David?" batin Tania.
"Baru saja ijab kabul sudah ketemu saja sama ulat bulu" gerutu Tania.
Sementara Arka yang diajak bicara malah lebih fokus memandang sang istri yang berjalan ke arahnya.
Davina yang dicuekin pun dongkol.
Dengan sengaja kakinya dia acungkan ke depan dengan tujuan untuk menjegal langkah Tania.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Tania yang tahu akan hal itu telah bermain cantik. Davina akhirnya yang oleng sendiri, dan terjatuh saat Tania melewatinya.
Sesungging senyum di sudut bibir Tania, "Rasain" umpatnya.
"Sayang, gimana?" tanya Tania tak memperdulikan keberadaan Davina.
"Perfecto...istri siapa sih ini?" ucap gemas Arka dengan mencium bibir Tania.
"Idih cari cari kesempatan" tukas Tania.
"Maaf tuan, apa sekiranya ada yang perlu dibetulin? Kebetulan payet-payet belum terpasang semua" jelas asisten dari sang desainer itu.
"Sesuai pesanan ku dulu saja. Tidak perlu ada yang diubah" imbuh Arka.
"Baik tuan" jawabnya.
Arka dan Tania keluar dari butik Bara untuk mencari baju-baju buat Tania untuk dibawa ke apartemen Arka tanpa memperdulikan keberadaan Davina.
Dan seperti biasa, Tania banyak memilih kaos dan juga hot pant kasual untuk dipakai di rumah.
"Sayang, sini!" panggil Arka. Tania pun mendekat.
Arka sedang berada di antara pakaian dalam wanita.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Tania. Malu dengan ulah Arka yang berkutat dengan segitiga bermuda dan juga kacamata berenda.
"Kau ukuran berapa sih?" bisik Arka. Dan bluss merahlah pipi Tania.
"Sayang" panggil Arka lagi.
"Tebak aja" jawab Tania karena merasa malu.
"Heemmmm....kalau aku benar. Apa hadiahnya?" tanya Arka. Sudah ada niat culas dalam hati Arka.
"Nggak ada hadiah" tukas Tania.
"Curang. Begini saja, kalau aku menang hadiahnya sampai apartemen langsung one ronde" Arka memberikan usulan.
"Ronde apaan?" jawab Tania pura-pura.
"Kutebak aja, kau suka berbelit-belit" imbuh Arka dan kembali Tania merasa malu dengan ucapan Arka. Di tempat umum lagi.
"36 B kan?" bisik Arka. Dan Tania semakin malu mendengarnya. Bagaimana Arka bisa pas menebak ukuran yang dipakai untuk menutupi aset kembarnya itu.
Melihat ekspresi Tania, Arka yakin kalau tebakannya benar.
"One ronde at apartment" kata Arka.
Arka berpindah ke tempat lain, entah apa yang dibeli Tania tak memperdulikan.
Ponsel Arka berdering saat Tania barusan menyusulnya.
__ADS_1
"Kalian di mana? Kok ada suara musik keras banget sih?" tanya nenek Gemmy.
"Di mall nek" jawab Tania. Karena Arka menyerahkan ponsel kepada Tania saat tahu nenek Gemmy yang menelpon.
"Kok malah ke mall? Kenapa kalian nggak fokus mbuatin cicit buat nenek renta ini sih" kata nenek Gemmy.
"Cicit????" sahut Tania. Arka yang berada di sampingnya meminta ponsel yang dibawa Tania.
"Yang tenang nek, abis ini otewe buat cicit. Ntar jangan gangguin. Ponsel kumatikan" sela Arka ikut menjawab. Panggilan pun dimatikan oleh nenek Gemmy.
Dalam perjalanan, Arka menelpon Pandu.
"Pandu, jika ada hal-hal urgen kau calling papa Rendra aja ya" pesan Arka.
"Baik tuan, selamat bersenang-senang" ucap Pandu.
Bukannya mengarah ke apartemen seperti yang dibilang oleh Arka sewaktu di mall.
Laju mobil mengarah ke daerah wisata yang terletak di pegunungan. Karena bukan hari libur maka tak ada kemacetan untuk menuju ke sana.
"Kita mau ke mana? Katanya balik apartemen?" tanya Tania yang baru menyadari arah mobil. Pikirannya sedang kalut membayangkan malam pertama dengan Arka. Apa yang harus dia lakukan? Pikirnya.
"Kalau sudah sampai ntar juga tahu sendiri" jawab Arka berteka teki.
Kabut menghalangi perjalanan mereka. Mobil berjalan pelan agar tak tergelincir.
"Yuukkk turun, kita sampai" ajak Arka.
Sampailah mereka di sebuah vila mewah. Tania sampai takjub dibuat nya.
Baru juga jalan beberapa langkah, dia sudah menggigil kedinginan.
"Bik, tolong buatin teh anget buat nyonya muda ya" pinta Arka yang sepertinya akrab dengan asisten rumah tangga di vila itu.
"Silahkan diminum nyonya" ucapnya ramah.
"Makasih bik. Tania" sapa Tania mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan bibi.
"Saya Surti nyonya" bibi menyebutkan namanya untuk membalas Tania.
"Oh ya bik Surti, semua sudah disiapkan kan?" tanya Arka.
"Sudah tuan. Bahan di dapur juga sudah lengkap semua" terangnya.
"Oke bik, ini ganti buat belanja bibik" kata Arka memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Ini mah kebanyakan tuan muda" jawab bik Surti.
"Nggak apa-apa. Oh ya bilang juga ke Pak Tarjo kalau aku sudah datang. Dan nggak perlu jaga dulu untuk beberapa hari ini" bilang Arka.
Bik Surti tentu saja paham, karena telah mendapatkan kabar dari nyonya besar kalau tuan muda nya telah menikah. Apa yang akan dilakukan keduanya, tentu saja mereka tak ingin ada gangguan...he...he...
"Bik, tetep saben pagi musti ke sini. Bersih-bersih" tandas Arka.
"Siap tuan" jawab bibi beranjak sekaligus pamitan.
.
"Sayang, kamu kok akrab sekali sama orang-orang di vila ini?" tanya Tania.
"Akrab dong yank, mereka kan pegawai nenek Gemmy" ujar Arka.
__ADS_1
"Nenek tadi mengirimkan pesan, agar kita fokus membuatkan cicit untuknya. Jadi semua yang di sini juga telah disiapkan oleh nenek juga" lanjut Arka.
"Sayang, aku tagih hadiahku" kata Arka tanpa basa basi.
"Apa?"
"One ronde in villa not apartment" kata Arka terkekeh.
"Aku bersih badan dulu. Lengket semua" kata Tania beranjak untuk mencari alasan.
Saat Tania akan melangkah ke kamar, dengan sigap Arka menangkup tubuhnya dari belakang.
"Mandinya ntar aja" bisik Arka di belakang telinga Tania membuat kuduk meremang.
"Bau sayang" kata Tania mengelak.
Arka tak menjawab, tapi malah mengecup leher jenjang itu dari belakang.
Dia balik tubuh Tania yang terlihat gugup. Dan mulailah dia kulum bibir sampai Tania mulai terbiasa.
Tania yang awalnya kaku, mulai bisa mengimbangi.
"Pintar" bisik Arka.
"Kita ke kamar" ajak Arka penuh maksud. Melihat Tania yang tertegun, diangkatnya tubuh Tania dengan cepat.
Dibaringkannya tubuh Tania di atas ranjang. Sungguh bik Surti yang pintar sekali, atau disuruh oleh nenek Gemmy. Saat ini Arka tak peduli.
Karena di ranjang telah berhiaskan kelopak bunga mawar dengan membentuk tanda love. Dan juga aroma terapi telah dinyalakan. Aroma terapi yang bisa memancing hasr4t seseorang yang membaunya.
Arka kembali bermain cantik di benda ranum Tania. Tania beberapa kali sampai kehabisan nafas untuk mengimbangi Arka.
Tangan Arka bergerak halus mulai menyusuri jengkal tubuh di bawahnya.
"Yank, beneran 36B" ucap Arka saat tangannya telah meraih sesuatu yang sangat kencang dan berhasil menggapai puncak. Arka pilin tempat itu, membuat Tania merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Keluarkan saja, nggak usah ditahan" kata Arka, membuat Tania mendes4h membingkai suara indah di telinga Arka.
Tangan Arka masih bergerak aktif di sana, sementara bibir nya mulai turun ke area jenjang sang istri. Tania semakin tak bisa menahan rasa nikmat yang sangat luar biasa.
Apalagi saat Arka yang lihai memainkan kedua pucuk itu dengan sesapan.
Tak terasa kapan keduanya melepas atribut masing-masing. Melihat milik Arka, membuat Tania membelalakkan mata.
"Yank?" panggilnya di antara suara indahnya.
"Jangan takut, akan kubuat kau nyaman dulu" ucap Arka.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Hareudang...hareudang...panas...panas...😅😅😅😅😅
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗