
Setelah sampai apartemen, "Yank kamu istirahatlah" bilang Arka.
"Kamu mau ke mana?" tanya Tania.
"Perusahaan" singkat Arka menjawab.
"Yank, istirahat dulu" suruh Tania.
"Di pesawat juga sudah banyak istirahat yank" imbuh Arka.
Bagaimanapun Tania sedikit memaksa sang suami untuk istirahat. Kondisi jet lag setelah penerbangan yang lumayan lama, sedikit banyak pasti mempengaruhi keadaan fisik seseorang.
"Suruh Pandu nunggu dua jam, kamu harus istirahat dulu. Dan tak ada bantahan" tandas Tania.
"Wah, CEO Panapion harus nurut nih?" jawab Arka.
"Heemmmm" Tania menggandeng sang suami untuk masuk kamar.
"Pandu, dua jam lagi baru kamu jemput bos mu ini!!! Tapi kalau kamu mau nunggu di ruang depan ya silahkan aja. Minta bibi buatin kopi buat kamu" perintah Tania.
"Baik nyonya muda" tukasnya.
"Ha...ha...kau ubah panggilan kamu ya? Padahal aku senang panggilan yang sebelumnya loh" tukas Tania terbahak.
Arka beneran terlelap saat tiba di kamar.
"Oooooohhhh gitu kok belagak langsung ke perusahaan" gumam Tania.
Tania tahu, selama di pesawat pun Arka tidak banyak istirahat. Arka yang serius memegang tab dan meneliti laporan yang dikirimkan olah Pandu dan juga Arga.
Tania mengirimi pesan ke Arga, memintanya untuk siap di Panapion dua jam lagi.
Setelah itu dirinya menyusul sang suami yang nyenyak tidurnya.
.
"Yank, aku pergi dulu ya" kata Arka yang telah bangun duluan dan telah berpakaian rapi.
"Heemmmmm, nggak makan dulu?" tanya Tania.
"Nggak, nanti di kantor aja. Biar dipesenin Pandu" jawab Arka sambil mengecup kening sang istri.
"Baiklah, kalau gitu aku tidur lagi aja" tukas Tania dengan mata bermalas-malasan membuka.
Arka malah membetulkan letak selimut Tania.
"Mimpiin aku ya sayang" celetuk Arka bercanda.
"Issshhhh kayak ABG jatuh cinta aja" tukas Tania menyembunyikan wajah di balik selimut.
"He...he..." Arka terkekeh dan melangkah meninggalkan kamar untuk pergi bersama Pandu.
Pandu yang ternyata tetap menunggu sang bos di ruang depan.
Untuk menghilangkan kegabutan menunggu, sekarang dia malah asyik dengan game online nya.
"Pandu, ayo!" ajak Arka.
Pandu terjingkat kaget. Karena belum dua jam juga dia menunggu.
__ADS_1
"Baik tuan muda" ucapnya mengikuti langkah sang bos.
Sampai di Panapion, Arga telah menunggu kedatangan Arka.
"Eh, kok sudah di sini aja?" tanya Arka karena merasa tak menghubungi Arka.
"Istri kamu yang menyuruhku datang. Bilangnya dia tak ingin suaminya kelelahan. Jadi aku disuruh bantuin mikir katanya" kata Arga menimpali. Tapi mana ada Tania bilang begitu, semua akal-akalan Arga saja.
"Heleh, nggak percaya aku" elak Arka.
"Pandu, sekarang kau panggil staf bagian keuangan" perintah Arka.
"Kenapa nggak direktur keuangannya saja tuan? Sebagai penanggung jawab di sana?" tanya Pandu.
"Staf nya dulu, terutama yang mengetahui hal itu pertama kali" kata Arka tak mau dibantah.
"Aku kok curiga ada orang dalam yang membantunya ya Ga?" kata Arka sepeninggal Pandu.
"Ku juga curiga begitu" timpal Arga.
"Kau lihat laporan ini?" tunjuk Arka pada Arga sang karib.
"Bukannya ini laporan dan monitoring keuangan selama sebulan terakhir?" telisik Arga.
"Betul. Aku tunjukkan yang bulan terakhir, karena sebelumnya dua bulan yang lalu sejak aku ambil alih perusahaan kondisi keuangan membaik" beritahu Arka.
"Heemmmmmm... Analisa kamu sementara?" ucap serius Arga.
"Aku rasa anak buah Smith yang ditaruh sini hanya sebagai tameng, tapi aslinya ada orang dalam lah yang berlaku curang" lanjut Arka.
"Dan saat aku berada di luar negeri dia ambil kesempatan itu" ulas Arka.
"Kenapa kau begitu yakin?" sahut Arga.
Arga menyetujui ucapan Arka.
"Perusahaan Smith bagaimana, sudah kau selidiki?" tanya Arka.
"Sudah. Sepertinya perusahaannya banyak yang hanya kamuflase saja. Karena setelah kutelusuri banyak yang tidak ada wujudnya...he...he..." jelas Arga.
"Perusahaan siluman dong?" imbuh Arka.
"Heemmm, jangan hiraukan Smith. Tapi waspadalah pada Arkan" kata Arga mengingatkan.
"Itu aku tahu. Dia aslinya dendam kan pada keluarga Tania?" sela Arka.
"Yappp, aku rasa aku tak perlu mengulangi lagi ceritanya kan?" ulas Arga. Karena Arga yakin, readers pun juga masih ingat...he...he...
"Kita abaikan orang-orang yang Smith taruh sini, meski kita curiga pada salah satunya" kata Arga.
"Aku setuju itu. Tapi selepas ini kita temui dia, untuk mengkroscek semua" kata Arka.
"Kau ajak juga asisten kamu itu?" Arga menimpali.
"Nggak lah"
Arga semakin tahu arah pembicaraan Arka.
Terdengar pintu diketuk.
__ADS_1
Pandu dan seorang staff keuangan yang dimaksud Arka masuk ke ruangan CEO.
"Selamat siang tuan" sapa ramah staf keuangan itu.
"Duduklah!" suruh Arka.
"Ceritakan kronologis kejadian dua hari yang lalu!" kata Arga.
Staf keuangan menceritakan secara runtut hal yang diketahuinya pada saat kejadian.
"Jadi kau melihat sendiri orang itu mengcopy data di salah satu komputer di sana?" telisik Arka.
"Benar tuan. Karena curiga, aku memanggil keamanan diam-diam. Dan terjadilah kejadian penangkapan itu" lapornya.
Arga mengangguk ke Arka, karena staf ini menjelaskan persis sama seperti yang dijelaskan padanya dua hari yang lalu. Dan dia tak ada keraguan sama sekali dalam perkataan, membuat Arka dan Arga yakin kalau staf ini tak terlibat.
"Baiklah kau boleh pergi" suruh Arka.
"Terima kasih tuan" tukasnya.
"Harusnya ini masalah, tak perlu kau turun tangan sendiri Arka. Bukannya kau punya Pandu?" sindir Arga.
"Uang ratusan juta yang telah bermutasi rekening itu, sebenarnya aku tahu ke mana aliran dananya loh" lanjut Arga.
"Akan semakin mudah dong menangkap pelakunya?" imbuh Arka.
"Dan aku seharusnya tak pulang mendadak seperti ini" lanjut Arka.
"Heemmmm..." ada senyum sinis di sudut bibir Arga.
"Atau orang ini juga kerjasama dengan perusahaan Smith sebagai rekanan Ga? Jadi sekali mengayuh dayung dua tiga pulau terlampui" tandas Arka.
"Dari Panapion dia dapat, dari rekanan dia juga dapat" analisa Arka.
"Tepat sekali" Arga menjentikkan kedua jari menyetujui perkataan Arka Danendra.
"Aku menyesal sekarang, kenapa harus buru-buru pulang. Padahal hanya masalah sepele" sesal Arka.
"Jangan begitu Ka, untung saja ketahuan di awal. Kalau nggak bisa bocor gedhe tuh di bagian keuangan" tukas Arga.
"Kau punya usul, sebaiknya diapakan pelakunya?" tanya Arka ke Pandu yang sejak tadi terdiam menyimak obrolan dua sahabat itu.
Pandu tergagap kaget dengan pertanyaan Arka kepadanya.
"Pandu, bisa kau kasih saran?" ucap Arga menguatkan kata-kata Arka.
"Heemmmmm..." Pandu masih terdiam. Tapi tatapan tajam sang bos dan sang sahabat seperti menuntut jawaban dari Pandu secepatnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
*Makasih tak terhingga yang sudah kasih komentar.
Makasih juga, untuk readers yang silent tanpa ninggalin jejak
__ADS_1
I lope U pulllll 😊😊😊*
💝