Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Kecelakaan


__ADS_3

Tania makan dengan lahap steak tenderloin hingga tandas.


"Kamu nggak makan yank?" tanya Tania ke Arka yang sedari tadi hanya menatapnya.


"Lihat kamu makan aja sudah kenyang. Mau nambah?" kata Arka menimpali.


"He...he..." Tania terkekeh. Itu yang memang sedari tadi dimaunya.


Memanggil pelayan untuk menambah porsi kedua untuknya.


"Ini aja dimakan. Nih, sudah kupotongin" Arka menyodorkan seporsi steak dalam keadaan terpotong.


Beberapa pengunjung melihat ke arah mereka.


"Loh, bukannya itu lawyer yang tadi muncul di tivi?" celetuk salah seorang pengunjung warung yang barusan masuk.


"Kak, boleh minta foto dong" bahkan mereka tak segan dengan tatapan tajam Arka Danendra.


Malah Arka seakan tersisih karena semakin lama semakin antri yang minta foto bersama Tania.


"Maaf tuan, nyonya semua. Kami sudah selesai. Jadi maaf ya, fotonya disambung lain kali" Arka menengahi orang-orang yang masih saja minta foto.


"Lain kali pake masker" bisik Arka.


"Yeeeeiiii...makan pake masker. Ngemasukinnya gimana?" bela Tania.


Belum berakhir sampai di situ. Orang yang ditanyain Arka tadi saat baru sampe warung ini malah nongol aja. Dan dengan santai menyuruh Arka minggir, dan dia seenaknya duduk di antara Tania dan Arka.


"Wah, perang dunia ketiga bener ini" celetuk Pandu.


"Apa sebaiknya kita tak ikut campur ya? Daripada ntar kena embargo" sambung Benzema.


"Bisa kacau ekonomi kita semua" imbuh Angel.


"Krisis melanda dong" sambung Maura.


Tania mendelik ke arah mereka berempat, yang dengan kompak berdiri dan akan meninggalkan tempat.


"Sori Tania, kita sudah selesai. Mari kita duluan ya" kata Maura dengan wajah menahan tawa.


"Awas saja kalian" kata Tania gregetan.


"Iya pergi aja kalian. Orang mau reunian" Kenzo menimpali.


"Kenzo, aku juga mau pergi. Sori dech. Suamiku juga sudah selesai" kata Tania tak jadi menghabiskan steak porsi kedua.


"Loh, belum habis tuh" tunjuk Kenzo ke arah piring di depan Tania.


"Perutku sudah kekenyangan nih. Maaf ya" ujar Tania sembari beranjak dari duduk.


"Ayo sayang" ajak Tania menggandeng laki-laki tampan di belakang Kenzo.


"Lho????" Kenzo membego di tempat.


"Alamakkkk, gue salah alamat nih" Kenzo baru tersadar saat Tania sudah melangkah keluar pintu.


Kenzo mengejar untuk minta maaf, karena menggoda istri orang.


Tapi orang yang dicari menghilang begitu saja.


"Cepat sekali ngilangnya" gumam Kenzo.


.

__ADS_1


Di mobil Tania masih diam, menunggu keadaan tenang lebih dahulu.


Daripada berusaha ngejelasin tapi sang suami masih emosi. Yang ada malah perang beneran. Iya kalau perang di atas ranjang, sama-sama enak. Kalau perang mulut, yang ada mulut masing-masing akan keluar busa.


Sementara Arka sendiri sengaja mendiamkan sang istri. Dia sudah tahu siapa Kenzo sebenarnya, berdasar info dari Sebastian dan Dewa.


Tapi tetap saja Arka harus menunggu penjelasan sang istri.


Padahal posisi Tania juga tak bersalah. Karena pertemuan Tania dan Kenzo kan juga tak sengaja. Dan Arka tahu semua akan hal itu.


"Yank, aku masih laper" kata Tania tak seperti yang diharapkan oleh Arka. Ekspektasi tak sesuai kenyataan. Batin Arka.


Padahal yang diharapkan Arka adalah Tania menceritakan siapa Kenzo. Lha ini malah mengeluh masih lapar. Hadech...Tania oh Tania Fahira. Gumam Arka dalam benak.


Mau marah tapi istri sendiri, mau ketawa tapi nanti wibawanya jatuh. Capek gue.


"Yank, aku masih laper" keluh Tania. Padahal itu hanya modus Tania agar sang suami bersuara.


"Kenapa tadi nggak dihabisin? Mubadzir" Arka menanggapi.


"Kamunya aja sewot melulu. Mana bisa aku ngabisin" ulas Tania.


Arka diam kembali.


"Ayolah sayang" rengek Tania.


"Iya...iya...cari tempat dulu" kata Arka menyanggupi.


"Yeeeeiiii...makan lagi" ujar Tania dengan ceria.


"Sudahlah...istriku memang begitu" Gumam Arka pelan.


"Kamu bilang apa yank?" tukas Tania karena tak jelas mendengar suara Arka.


"Ceritakan siapa Kenzo" tuntut Arka.


Arka diam.


"Marahnya nggak jelas banget" gumam Tania.


Arka gantian menengok, karena melihat Tania memasang head set di telinga.


"Apa?" hardik Tania.


"Loh, bukannya aku yang harusnya marah ya? Kok malah dia yang sewot sih?" kata Arka. Posisinya kebalik sekarang. Tania marah karena kecemburuan Arka tak beralasan.


"Leh, piye to ki???? Ujar Arka menirukan kata-kata di akun trending online.


"Jadi makan nggak nih?" seloroh Arka memecah keheningan.


"Boleh" jawab Tania kembali antusias.


Marahnya menguap begitu saja kala ditawari makanan.


"Yang privat aja ya. Aku nggak mau di sela kita makan, malah banyak yang mintain foto seperti tadi" terang Arka.


"Terserah kamu saja dech. Yang penting makan" ujar Tania menimpali.


"Siap bos" ujar Arka dan terus melajukan mobil ke resto langganan dekat kampus.


Saat sedang asyik makan, ponsel Arka berdering.


"Rumah sakit? Bukannya hari ini aku off ya?" gumam Arka bermonolog.

__ADS_1


"Angkat aja, siapa tahu penting" saran Tania.


"Iya, ini juga mau diangkat".


Arka menggeser ikon hijau di ponsel miliknya.


"Selamat siang, dengan dokter Arka" sapa Arka.


"Siang dokter, saya Anas dokter jaga IGD. Mau konsul dok" kata si penelpon.


"Bukannya hari ini aku nggak jaga dok" jawab Arka.


"Benar dokter. Tapi ini ada situasi urgen" jelasnya.


"Kalau begitu silahkan disampaikan" sambung Arka.


"Baik dok. Di sini barusan terima banyak pasien. Dan banyak juga dengan kondisi patah tulang terbuka. Dokter Beni, spesialis othopedi yang lain juga sudah kita hubungi dan sekarang sudah di jalan menuju rumah sakit" terangnya.


"Kok bisa?" tanya Arka penasaran.


"Oh ya dok, saya sampaikan kronologi kejadian. Terjadi kecelakaan beruntun di perempatan dekat rumah sakit. Makanya banyak pasien dievakuasi ke rumah sakit kita dok. Bagaimana dokter Arka? Bisa kan membantu? Tanya dokter jaga yang sepertinya sedang dikonsuli perawat jaga itu.


Arka membayangkan bagaimana situasi sibuk yang terjadi di sana.


"Oke dok, aku meluncur" kata Arka memutuskan.


"Maaf sayang, gagal lagi makannya. Ada situasi urgen yang terjadi di rumah sakit akibat kecelakaan beruntun dekat rumah sakit" jelas Arka.


Makanan yang baru dianter, Tania minta dibungkusin semua.


"Yank, aku naik taksi online aja pulang. Jadi kamu bisa langsung ke rumah sakit" tukas Tania.


"Jangan, kamu ikut aja ke Suryo Husada" Arka tak mengijinkan Tania pulang sendiri.


"Arditya gimana dong?" Tania mencemaskan Arditya, takut rewel seperti sebelumnya.


"Coba hubungin mama" suruh Arka.


Dan Tania melakukan apa yang diminta sang suami. Ternyata Arditya baik-baik saja. Dan sekarang si bayi sedang pulas tidur sambil minum susu pompaan dari mama nya.


"Tuh kan" tukas Arka.


"Ntar lama nggak di rumah sakit?" tanya Tania dan Arka mengedikkan bahu.


"Oke, kalau lebih dua jam. Aku hubungin Pandu atau Arga. Minta tolong nganterin pulang" bilang Tania.


"Dipikirkan nanti saja, aku harus segera sampai rumah sakit" terang Arka.


Dan saat di jalan, Tania mencoba browsing tentang kecelakaan beruntun yang barusan terjadi.


Alangkah kaget Tania, karena salah satu korban disinyalir adalah buronan kelas kakap yang melarikan diri dua hari yang lalu.


"Anderson" gumam Tania.


"Oke, aku ikut kamu yank. Kutunggu sampai selesai aja dech" ucap Tania penuh keyakinan.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.

__ADS_1


Klik juga iklannya


๐Ÿ’


__ADS_2