
Pak Hamzah menambah laju kecepatan mobil yang saat ini dikendarai olehnya.
"Siapa mereka pak?" telisik Tania.
"Saya juga kurang tahu Non" jawab pak Hamzah masih fokus dengan jalanan di depan.
"Tapi sepertinya mereka telah ngikutin kita semenjak dari bandara" imbuhnya.
Pak Hamzah mencari jalanan yang agak ramai dan mencari celah agar bisa melarikan diri dari kejaran.
"Seingatku depan ada gang sempit yang tembus jalan utama" gumam pak Hamzah.
Tania sedikit tenang karena dilihatnya pak Hamzah yang dengan cekatan mengemudikan mobil meski kini ada dua mobil yang mengikuti mereka.
"Non, beginilah kehidupan keluarga Rahardjo. Non juga harus siap jika rekan bisnis perusahaan ada yang menggunakan cara licik seperti ini" jelas pak Hamzah.
"Pak Hamzah sudah biasa dong dengan situasi seperti ini?" tanya Tania dijawab anggukan pak Hamzah.
"Tapi aku kan belum resmi menjadi bagian keluarga Rahardjo. Apalagi tunangan kita juga nggak terpublish loh" jelas Tania.
"Tapi mata-mata mereka ada di mana-mana" imbuh pak Hamzah.
Tania mengangguk.
Saat mobil akan berbelok ke arah gang yang dimaksud pak Hamzah tadi, terdengar suara tembakan.
Tiba-tiba laju mobil oleng. Sedetik kemudian terguling, dan terseret beberapa meter. Tania sudah tak ingat apa-apa lagi, alias pingsan.
Tania sayup-sayup mendengar suara orang yang sedang ngobrol...
"Aaaarrgghhhh, di mana ini?" ucapnya lirih. Cahaya lampu menyilaukan menyambutnya.
Tania memicingkan mata, sambil meneliti seisi ruangan.
"Apa ini di rumah sakit?" batinnya. Dalam pandangan Tania, terlihat sebuah kamar mewah dan luas. Tangannya pun tertancap sebuah jarum infus.
"Siapa yang menolongku?" batin Tania lagi.
"Pak Hamzah, di mana dia?" telisiknya. Tania menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan tas yang berisi ponsel miliknya. Tak ada di manapun.
"Gimana ini?" Tania mulai bingung.
Tepat saat itu pintu terbuka.
"Anda sudah sadar Nona?" tanya wanita itu sopan.
"Di rumah sakit mana ini?" sela Tania.
"Jangan buru-buru. Anda sedang tak berada di rumah sakit saat ini. Tuan saya lah yang menolong anda" beritahunya penuh teka teki.
"Sopir saya?" Tania beringsut dari tidur dan hendak bangun.
"Tenang Nona, kalau masih sakit dipakai tiduran aja. Sopir anda saat ini sudah berada di rumah sakit" lanjutnya.
"Terus kenapa saya dibawa ke sini?" hardik Tania.
"Karena hanya anda yang diinginkan oleh tuan saya" imbuhnya sambil tersenyum.
"Saya mau pulang" Tania berusaha mencabut jarum infus yang masih menancap di lengannya.
"Menurutlah, jangan memaksa kami untuk berbuat kekerasan" tandas wanita itu.
__ADS_1
Tania masih berusaha melawan. Dan tak disadari oleh Tania. Wanita itu memakai cara licik dengan menyuntikkan sesuatu ke tubuh Tania. Tania lunglai dan kembali tak sadar.
.
Pesawat pribadi yang ditumpangi Arka barusan lepas landas. Tapi entah kenapa hati Arka merasa was-was terus menerus.
"Kenapa tuan?" tanya Pandu yang melihat tuannya gelisah.
"Nggak apa-apa Pandu" tukas Arka.
"Oh ya Pandu, apa sudah kau pastikan semua orang-orang kita berada di posisi masing-masing?" lanjut Arka.
"Sudah tuan" jawab pasti Pandu.
Arka menarik nafas dalam, merasa lega mendengar penuturan Pandu.
"Semoga tidak ada kejadian yang tak diharapkan selama aku pergi" gumam Arka.
Sampai di bandara international Washington DC, Arka cepat-cepat membuka ponsel untuk menghubungi Tania. Pikiran was-was selama penerbangan tidak juga hilang.
Belum juga tersambung, ada telpon masuk ke ponselnya. Ternyata dari dokter yang merawat Arka selama ini.
Arka diberitahukan bila sudah sampai untuk selekasnya datang ke rumah sakit.
Arka yang terburu sampai lupa untuk menghubungi Tania. Apalagi semenjak ponsel dinyalakan, belum ada satupun notif pesan masuk dari Tania.
"Arka, prepare yourself for tomorrow's medical examination (siapkan dirimu untuk pemeriksaan medis besok)" advis dokter Jack setelah Arka menyampaikan semua keluhannya. Dokter yang juga dosen Arka waktu menempuh pendidikan dokter.
"Can the result be accelerated? (apa hasilnya bisa dipercepat?)" tanya Arka.
"Us usual. Are you in a hurry? ( seperti biasa, apa kau buru-buru?" tanya dokter Jack.
Arka hanya menjawab dengan anggukan.
"Oke, see you tomorrow. Bye" dokter Jack mendahului Arka yang sedang menunggu Pandu.
Barulah Arka teringat kembali untuk menghubungi Tania.
"Hemmm, sepi sekali nih ponsel" gumamnya. Dilihatnya lagi.
"Apa dia nggak kangen coba. Pesan pun tak ada yang masuk darinya" kata Arka bermonolog.
Arka mendial nomor Tania untuk dihubungi.
"Kok tidak aktif?" gumamnya lagi.
Bahkan puluhan kali dia coba, tetap saja nomor Tania tidak aktif.
"Kuhubungi nenek saja. Barangkali jadi nginap di rumah nenek" Arka pun menghubungi nenek Gemmy.
Arka tak ingat kalau dia sendiri tak bilang kalau mau pergi ke Amerika.
Alhasil nenek Gemmy malah mencemaskan keberadaan Arka.
"Arka, apa kau baik-baik saja? Kau ke Amerika pasti nemuin dokter kamu kan?" cerca nenek.
"Nggak nek, Arka nemuin rekan bisnis. Nenek nggak usah kuatir" jawab Arka.
"Oh ya Nek, apa Tania jadi menginap sama mama Rosa di rumah nenek?" tanyanya.
"Nggak ada tuh" imbuh nenek Gemmy.
__ADS_1
'Kemana dia?' pikir Arka.
"Sudah kau hubungi ponsel Tania?" tanya nenek.
"Sudah, nomornya tak aktif" jelas Arka.
"Tumben Tania matiin telpon. Oh ya kamu berangkat dianterin apa nyetir sendiri ke bandara? Atau sama Pandu langsung?" lanjut nenek.
"Sama Tania disopirin pak Hamzah" terang Arka.
"Pak Hamzah?" nenek Gemmy mengulangi perkataan Arka.
"Iya Nek, kalau begitu tolong sambungkan aku dengan pak Hamzah nek" pinta Arka.
"Tapi aku belum melihat pak Hamzah sedari kemarin, apa dia libur ya hari ini?" imbuh nenek.
"Libur?" tanya Arka.
"Sepertinya begitu" jawab nenek.
"Sudah dulu ya Nek. Pandu sudah menjemputku nih" bilang Arka.
Menjemput? Batin nenek. Bukannya kalau ketemu rekan bisnis, Pandu musti ndampingin. Ini kok dijemput Pandu. Nenek pun berusaha menelpon kembali Arka. Panggilan yang dituju ternyata sedang sibuk.
Sementara Arka sedang berusaha menelpon Pak Hamzah. Baru panggilan ke tiga panggilannya tersambung.
"Halo" terdengar suara wanita yang mengangkat panggilan dari Arka.
"Maaf, bisa bicara dengan pak Hamzah?" tanya Arka.
"Maaf tuan, tapi ayah saya sedang menjalani operasi" beritahunya.
Operasi? Batin Arka.
"Emang apa yang terjadi dengan pak Hamzah?" telisik Arka.
"Ayah saya kemarin kecelakaan tuan" imbuhnya membuat Arka ikut syok mendengarnya. Pak Hamzah operasi, bagaimana dengan Tania. Sementara dirinya masih ada di sini. Arka duduk lemas di kursi belakang tempatnya berdiri.
"Apa ada korban lainnya? Seorang wanita?" tanya kembali Arka.
"Tidak ada tuan, ayah saya sendiri saat itu" terangnya.
"Sendiri?" Arka kembali menegaskan.
"Maaf tuan, jika ada perlu bicara dengan ayah saya. Tunggu sehari dua hari ya tuan" kata wanita yang sepertinya adalah putri pak Hamzah.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya Pandu yang baru datang karena melihat Arka duduk lemas di kursi.
"Pak Hamzah operasi karena kecelakaan, saya hubungi Tania nomornya juga tak aktif" beritahu Arka.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗