
Hari-hari berikutnya Tania disibukkan dengan agenda sidang Arkan. Meski sesekali kadang harus ke Panapion atau perusahaan lainnya yang musti dia datangi karena dirinya sebagai tim kuasa hukum perusahaan besar.
Bahkan perusahaan-perusahaan Arkan, Tania juga menjadi tim legal di sana.
Kini biro hukumnya menerima lawyer-lawyer magang, agar dapat lisensi.
Dengan bantuan mereka pekerjaan Tania jadi tidak begitu berat.
Arkan yang waktu itu akan dipindah lapas ke lapas kota, jadi satu dengan tuan Anderson entah kenapa batal.
Arkan tetap menghuni di lapas lama, tempat dirinya dititipkan pertama kali.
Davina pun tetap di rumah sakit untuk rehabilitasi. Beberapa kali dia masih menunjukkan gejala sakaw. Meski tak sesering awal-awal saat dia masuk sana.
Psikisnya pun membaik seiring berjalannya waktu.
Kehamilan Davina juga hampir mencapai enam bulan.
Jalinan asmara Arkan dan Davina memang aneh menurut khalayak. Tak hanya khalayak, Tania aja juga merasakan keanehan itu.
Seperti pagi itu, saat Tania membesuk Arkan di lapas.
"Bos, apa loe tak ingin menikahi Davina? Percuma loe awasin mulu. Endingnya ntar loe njagain jodohnya orang" celetuk Tania.
"Ha...ha...pengalaman pribadi nih" tukas Arkan.
"Sialan loe" umpat Tania.
"Sebelum anak loe lahir, paling nggak status Davina sudah jelas. Apa kamu ingin anak loe lahir tanpa ayah" imbuh Tania.
"Ya nggak gitu kali. Cuman aku kasihan, ntar anakku lahir tapi punya ayah pesakitan" kata Arkan ragu.
"Loe galau? Seorang mafia seperti loe galau? Apa kata dunia bro?" sahut Tania bergurau.
"Heh, serius gue" seru Arkan.
"Loe nggak ingat yang gue alamin. Gue juga dibesarkan dengan ayah berada di penjara. Tapi gue nggak benci sama ayah gue" cerita Tania. Kehidupan Tania kecil pastilah Arkan sudah tahu.
Arkan merenungi apa kata Tania.
"Davina gimana? Sebenarnya loe serius nggak sih?" tukas Tania.
"Serius banget" ujar Arkan.
"Lantas loe nunggu apa?" tanya Tania.
"Vonis gue" jawab Arkan.
"Kalau ketuk palu loe masih lama, apa tetap akan kamu tunggu sampai anak loe lahir duluan?" tandas Tania.
"Ya nggak gitu kali, masa sih sidang gue sampai tahun-tahunan. Gue ini sapa Tania? Bukan pejabat tinggi yang kasusnya musti di live in saben sidang. Gue Arkan seorang penjahat yang hanya nunggu putusan tentang kelangsungan hidup gue dari ketuk palu hakim" tandas Arkan.
"Makanya jangan putus asa dong" tukas Tania.
"Ya sudah, tanyakan pada Davina kapan dia siap kunikahin. Biar Boy atur semua" kata Arkan pada akhirnya.
"Kutanya sebaliknya, Davina juga sudah yakin?" tanya Tania.
Arkan diam kembali.
"Kalau dia tak yakin, yakinkan dia. Aku rasa Davina juga butuh kamu. Dia juga sudah tobat seperti kamu" saran Tania.
"Akan aku coba" tukas Arkan.
__ADS_1
"Mungkin bebebapa hari lagi Davina akan segera keluar dari rehabilitasi" terang Tania.
"Iya aku tahu. Akan kusuruh Boy menjemput dan menganternya ke sini. Aku orang realistis Tania. Jika memang Davina sudah tak menginginkan aku, mau gimana lagi" sambung Arkan.
"Oh ya, kira-kira sidang putusan aku kapan akan diketuk? Bosan juga lama-lama. Apalagi kasusnya Anderson aja sudah selesai lama" imbuh Arkan.
"Beda kasus bos, Anderson cuman kena jual beli senpi. Tapi loe?????" terus Tania.
"Gue juga nggak banyak. Barang bukti gue juga minimal" sahut Arkan.
"Kepedean" tandas Tania.
"Gue tunggu kabar bahagia loe, selepas Davina lepas rehap" kata Tania beranjak dari duduknya.
"Mau pulang????" tanya Arkan.
"Pastilah. Ntar kalau jadwal sidang putusan keluar kukabarin" imbuh Tania.
"Oke. Makasih ya atas semua bantuan kamu" ucap Arkan.
"Sama-sama" Tania keluar ruangan tempat kunjungan di lapas itu.
Sampai di parkiran lapas, Tania mendapatkan telpon dari Pandu.
"Halo Pandu, tumben loe yang nelpon. Bos kamu di mana?" tanya Tania saat panggilan dia angkat.
"Nyonya...nyonya...ini bagaimana?" kata Pandu di ujung telpon.
"Bagaimana gimana?" tukas Tania karena mendengar Pandu seperti gugup.
"Tuan Arka nyonya" kata Pandu tak melanjutkan kalimatnya.
"Pandu, ada apaan sih? Jangan bercanda dech" tandas Tania.
"Pingsan? Apa suamiku lupa makan siang?" tukas Tania.
"Barusan makan sama aku nyonya. Cuman tuan Arka langsung muntah-muntah dan pingsan deh" cerita Pandu.
"Kalian di mana, aku susulin. Jangan lupa kasih minyak angin tuh hidung biar lekas sadar" saran Tania.
"Oke nyonya. Aku dan tuan Arka ada di perusahaan" jelas Pandu.
"Oke, aku ke sana" jawab Tania sembari masuk ke dalam mobil dengan sopir yang telah siap sedari tadi.
"Pak, ke Panapion" suruh Tania.
"Baik nyonya" jawab sopan sang supir.
Sampai di Panapion, Arka telah sadar dan duduk lemas di sandaran kursi.
"Kamu ini kenapa yank? Kalau badan capek jangan dipaksain dong" kata Tania datang-datang langsung pidato aja.
"Masuk angin kali ya? Badan ku berasa nggak enak semua. Padahal siang ini aku ngacarain operasi dua sama Bara" jawab Arka.
"Apa mau dibatalin? Biar Pandu menghubungi rumah sakit" tukas Tania.
"Nggak usah yank. Nggak enak sama pasien, sudah janjiin operasi hari ini. Dipake istirahat bentar sudah mendingan kok" terang Arka.
"Beneran?" tanya Tania menegaskan.
Arka pun mengangguk
"Kalau gitu ke rumah sakit nya aku yang anterin. Dan nggak boleh nolak" imbuh Tania.
__ADS_1
"Kamu nggak sibuk hari ini?" tanya balik Arka.
"Maunya tadi balik kantor. Tapi berhubung Pandu ngabarin kalau kamu pingsan, makanya aku cusss ke sini" bilang Tania memaksa.
"Aku ambilin teh hangat ya? Biar lekas enakan?" Tania menawari.
"Boleh deh, barangkali dibuatin teh hangat pusing dan mual gue hilang" tutur Arka.
Tania membuatkan minum untuk sang suami. Terdengar bisik-bisik karyawati di sana. Menggosipkan tentang kejadian pingsannya sang CEO.
"Jangan-jangan istri tuan Arka hamil" ucap salah satunya.
Pintarnya mereka menganalisa ya? Padahal aku aja belum tahu.
Tapi...ya sudahlah.
Tania kembali membawa segelas teh hangat untuk sang suami yang telah menunggu di ruangannya.
"Gimana?" tanya Tania setelah Arka minum teh hangat yang dibuatkan olehnya.
"Sudah mendingan" tukas Arka.
"Makanya to sayang, jangan capek-capek" bilang Tania.
"Tanyain Pandu tuh, hari ini aku males banget kerja" ucap Arka menandaskan.
Tania menengok ke arah Pandu.
"Beneran nyonya" ucap Pandu menjelaskan.
"Oke Pandu, aku ke rumah sakit" bilang Arka dan langsung beranjak dari duduknya.
"Beneran yank?" Tania menandaskan.
"Loh ayo, kok malah duduk sih?" ucap Arka.
Arka meraih tangan Tania untuk diajak ke rumah sakit.
"Lama nggak? Kalau lama aku pulang aja nggak jadi nganterin. Daripada jadi miss parkiran lagi" tukas Tania.
"Nggak, cuman dua pasiennya" jelas Arka.
"Dua itu, juga hampir dua jam loh yank aku nungguin" terang Tania.
"Plissssss" timpal Arka terkesan merengek.
"Oke lah, dikabulkan" ujar Tania tersenyum menanggapi ulah Arka yang bagai anak kecil sekarang. Merengek bin manja.
Pandu aja sampai dibuat geleng kepala. Sang CEO yang dingin dan tegas jika berhadapan dengan kolega bisnis. Kenapa sekarang bagai bunglon yang berubah seperti anak pertama Tania, alias kakaknya Arditya.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
π
Ekpektasi up malam, nyatanya ketiduran. Capek abis nungguin bayi mo nongol
__ADS_1