Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Bang Toyib


__ADS_3

Bayi Tania dan Arka karena lahir prematur terpaksa harus lebih lama rawat inap dibanding dengan mama nya.


Tania lebih dulu diperbolehkan pulang sementara bayinya musti berada di ruang bayi terlebih dahulu.


Tania juga bolak balik agar bisa memberikan susu secara full.


"Sayang, kamu pagi ini ke rumah sakit nggak? Barengan aja gimana?" tanya Tania kala Arka baru keluar kamar mandi.


"Boleh, aku ada jadwal poliklinik pagi hari ini" terang Arka.


Tidak seperti saat pasca melahirkan Arditya yang saat itu sibuk dengan kasus nya Arkan. Saat ini Tania telah berjanji pada dirinya sendiri untuk fokus merawat buah hatinya. Itupun tanpa paksaan Arka.


"Siang ke Panapion?" tanya Tania.


"Kurang lebih begitu. Proyek sama Sebastian di kota A juga musti segera di selesaikan" jelas Arka.


"Oh ya yank, mungkin Minggu depan aku akan ke sana bersama Pandu, Sebastian dan juga Dewa" sambung Arka.


"Heemmm, nggak papa sih" tukas Tania.


"Tumben? Ngak kamu halangin?" tanya Arka heran.


"Ye enggak lah. Anak kita sudah dua yank. Pasti nanti akan butuh biaya banyak. Sementara aku sekarang pengangguran" ulasan Tania membuat Arka terbahak.


"Jadi aku kamu suruh kerja...kerja...kerja... Gitu????" Arka masih saja terbahak sambil memegang kening Tania. Takut istrinya gesrek kali ini.


"Issshhhh apaan sih?" Tania sewot.


"Ha...ha...kamu pagi-pagi gini aneh-aneh aja" sambung Arka.


"Ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Tania.


"Enggak sayang. Ucapan istri itu pasti benar. Aku yakin itu" ujar Arka menimpali.


"Ngeledek nih pasti?" imbuh Tania.


"Ha...ha...nah itu kamu tahu. Daripada berdebat, sarapan dulu aja yukkk" ajak Arka.


Saat sampai ruang tengah, nampak berita tivi menampilkan demo besar-besaran di tengah kota.


"Wah, kita harus cari jalan muter dong" kata Arka.


"Jelas tuh, nyari jalan tikus pastinya" sambung Tania.


"Kamu ke meja makan dulu aja, aku hubungin rumah sakit. Mundurin dikit jam poliklinik" kata Arka.


"Heemmmm" ujar Tania yang malah menghampiri abang Arditya.


"Minta gendong mama?" tanya Tania sengaja menggoda sang putra.


"Mba, mana makanannya? Aku suapin aja" pinta Tania ke mba suster yang pegang bubur punya Arditya.


"Aaaaaaa...." Tania membuka mulut mempraktekkan agar Arditya mengikutinya.

__ADS_1


Arditya yang sering ditinggalin mama nya kerja, mengeluarkan suara berceloteh tanpa arti.


"Apa? Sayang mama? Mama juga sayang sama abang" kata Tania mengajak ngobrol putra pertamanya itu.


Dan setelahnya ikut membawa Arditya ke meja makan, sembari menunggu sang suami selesai menghubungi rumah sakit.


"Sudah yank?" tanya Tania kala Arka mendekat ke arah mereka.


"Sudah sih, tapi sepertinya pihak rumah sakit akan menutup jadwal poliklinik hari ini" terang Arka.


"Kok bisa?" sela Tania.


"Diinfokan depan rumah sakit akan menjadi rute demo itu" bilang Arka.


"Aku pun nggak bisa ke sana dong?" Tania ikutan kuatir akan keselamatan putrinya di rumah sakit.


"Demo nya tertib kok" beritahu Arka.


"Setertib-tertibnya orang demo tapi tetap saja kan?" ujar Tania masih saja kuatir.


"Kita makan dulu aja" imbuh Arka.


"Lagian itu demo apaan sih?" sela Tania. Mau menggerutu, tapi orang demo pasti ada alasannya.


Tania teringat bagaimana dulu dia sendiri juga begitu. Apalagi teman-teman satu jurusannya begitu vokal mengkritisi penguasa. Kalau ada demo, sering-sering Tania pasti ada di situ.


Setelah sarapan, Tania malah duduk di ruang tengah sambil bercanda dengan Arditya dengan tivi tetap menyala.


"Owwhhh, ternyata mereka demo karena harga beberapa komoditi yang naik?" gumam Tania setelah tahu yang menjadi sumber utama para mahasiswa mengadakan demo.


Tania teringat ucapan Arkan kala menelponnya terakhir kali, sebelum Tania berakhir di rumah sakit untuk operasi.


"Apa ini maksud Arkan saat itu? Sadis banget dia ternyata" gumam Tania.


"Yank, Arditya mana?" Arka datang menghampiri. Dan sudah berganti baju dengan pakaian kasual.


"Nih, di sini" kata Tania.


"Kok sudah ganti baju aja?" sambung Tania.


"Heemmm, iya sih. Pandu barusan nelpon kalau pertemuan dengan perusahaan Sebastian ditunda sampai kondisi aman" jelas Arka.


"Sayang, hari ini papa free. Horeeeee" seru Tania mengajak bicara Arditya. Seakan tahu apa yang dibilang mamanya. Bayi laki-laki itu menyambut nya dengan ceria, membuat sang papa gemas dengan pipi endutnya.


"Bukannya sekarang waktu tidurnya Arditya sayang?" sela Arka.


"Iya sih. Tapi nggak apa-apa lah yank. Ajak main Arditya bentar aja. Biasanya pagi gini sudah kamu tinggalin kerja aja" seru Tania.


"Katanya musti kejar setoran?" sahut Arka.


"Ha...ha...itu juga penting yank" tukas Tania tahu akan sindiran sang suami.


"Percuma kerja keras, nyatanya kartu yang aku beri tak pernah kamu pakai" lanjut Arka.

__ADS_1


Apa yang diucapkan Arka memang lah benar. Belum pernah sekalipun Tania menggesek kartu hitam milik sang suami. Masih tersimpan utuh di nakas kamar. Bukannya tak mau manfaatkan. Tapi Tania lupa kalau pernah diberikan itu oleh suaminya.


"He...he...aku lupa yank. Aku janji dech abis ini pasti akan aku pakai" janji Tania.


Arka hanya tersenyum simpul mendengar penuturan sang istri dan tak yakin akan janji Tania.


Nominal yang ada di kartu hitam itu saja, Arka yakin Tania pasti tak tahu berapa. Karena istrinya bukan lah type-type wanita yang suka menghamburkan uang seperti umumnya yang lain. Tania malah termasuk type wanita pekerja keras, sampai lupa jikalau suaminya adalah salah satu keluarga terpandang.


"Yank, demonya sudah sampai dekat Surya Husada" sela Tania kala Arka menggendong Arditya yang mulai rewel karena mengantuk.


Setelah diberi susu, Arditya pun tidur di pangkuan sang mama.


"Smoga aja mereka tak menjadi anarkis yank" doa Arka dan diaminkan Tania.


"Kok sepertinya belum ada respon dari yang berwajib ya?" kata Arka.


"Harusnya penguasanya tuh yang turun tangan. Tuh lihat, gelombang massa nya semakin banyak" ujar Tania.


"Wah kompak juga para mahasiswa, mereka datang dari berbagai daerah" imbuh Arka.


"Menurut berita, demo ini akan berlangsung sampai waktu yang tak bisa ditentukan" sambung Arka.


"Kok begitu?"


"Karena target mereka, pemimpin saat ini harus turun" imbuh Arka.


"Apa ini maksud yang dibilang Arkan saat itu ya?" tanya Tania.


Arka mengangkat kedua bahu nya.


"Biarin aja yank. Kita netral aja" kata Arka menimpali.


"Tapi politik juga mempengaruhi ekonomi loh yank" kata Tania.


Arka pun tak memungkiri itu.


"Apa aku terjun ke politik aja???" canda Arka.


"Wah, bisa tiga kali puasa tiga kali lebaran abang nggak pulang dong?" Tania menimpali dengan candaan.


"Bang Toyib" Arka terbahak menjawab Tania.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini, happy reading.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteย  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


๐Ÿ’

__ADS_1


__ADS_2