
Masih di hadapan tuan Pras, yang bisa jadi dia adalah papa nya Arga.
"Apa kamu kenal dengannya?" tanya balik Pras.
Arga diam tak menjawab.
"Kalau kamu tak menjawab, artinya kamu kenal. Ada hubungan apa kamu dengan Magda? Apa kamu simpanannya?" tukas Pras.
"Ha...ha...bukan tuan. Kebetulan aja aku kenal sedikit dengannya" terang Arga.
"Owh, kukira kamu simpanan Magda. Karena sekalinya wanita tak setia, biasanya dia akan mengulanginya" kata Pras.
"Apa dia mengkhianati anda tuan?" sela Arga.
"Ha...ha...aku rasa bukan kapasitas kamu untuk tahu" tawa Pras lebih terdengar ke miris sih.
Padahal Arga sudah mendengar semua yang dibicarakan Pras saat berbincang dengan mama nya.
"Apa ada yang perlu dibicarakan lagi?" tanyanya mau beranjak meninggalkan Arga.
"Tuan, aku adalah putra dari wanita tadi yang menemui anda" kata Arga terus terang.
Pras tak jadi beranjak, dia tatap tajam Arga. Melihat apa ada kebohongan di sana.
Kenapa aku bisa kelewat, padahal tuh muka mirip denganku selagi muda. Batin Pras. Arga pun demikian menatap Pras dengan sorot mata tak bisa ditebak.
"Apa benar yang kamu katakan?" telisik Pras.
"Untuk apa aku bohong" bilang Arga.
"Lantas kenapa kamu menanyakan tentang mama kamu padaku?" tukas tuan Pras.
Arga tersenyum sinis.
"Bukannya mama pernah menikah denganmu tuan?" kata Arga.
"Ha...ha...kami nggak pernah menikah, tapi hanya hubungan suka sama suka. Dan kebetulan Magda hamil kamu saat itu. Jadi mau tak mau aku terikat dengannya" jawabnya terbahak membuat Arga mengepalkan tangannya kuat.
"Untuk kamu ketahui anak muda, meski tak menikah aku adalah ayah yang bertanggung jawab. Awalnya semua biaya hidup kamu aku tanggung. Tapi karena pengkhianatan mama kamu yang meninggalkan ku, aku tak sudi lagi" lanjutnya.
"Saat aku dengar kamu dibuang di jalanan, aku cari kamu dan Magda tapi tak ketemu" terang tuan Pras.
"Ha...ha...enak sekali kalian. Bagai pabrik pembuat anak, setelah jadi begitu mudahnya dibuang di jalanan" tukas Arga geram.
"Hanya karena kebahagiaan semu, mama kamu meninggalkanku. Tapi nyatanya, Magda malah terjerumus ke kubangan lumpur setelah menikah dengan Anton" jelas tuan Pras.
"Tolonglah mama mu! Meski dia pernah membuang kamu. Tapi sebenarnya dia tak sejahat yang kamu kira. Dia melakukan semua pasti karena ada tekanan dari Anton suaminya yang sekarang" kata tuan Pras melanjutkan keterangan.
"Atas tendensi apa kamu menyuruhku tuan? Bukannya dia meminta tolong pada anda" ucap Arga.
"Makasih info nya. Aku pergi dulu" kata Arga beranjak dari duduk.
Di mobil yang masih terparkir, Arga termenung.
Jadi mamanya tak bahagia selama hidup dengan Anton? Kesimpulan Arga saat ini.
Tapi apa benar yang dikatakan mama, dia membuangku karena ingin melindungiku dari kekejaman Anton. Ah, mana mungkin alasan seperti itu. Batin Arga. Masih ada penolakan dalam diri Arga tentang kenyataan yang baru diketahuinya hari ini.
"Ah sudahlah, pikirkan besok saja. Mendingan aku balik" gumam Arga.
Ponsel Arga berdering saat mobilnya sedang berada di tengah kemacetan.
"Malam gini kok masih macet aja" gerutu Arga.
Dilihatnya sebuah nomor tak dikenal calling.
"Siapa?" alis Arga saling bertaut.
__ADS_1
"Halo" sapa Arga setelah menggeser layar.
"Dengan Arga?" tanya orang di sana.
Kok tahu namaku. Pikir Arga.
"Datanglah ke alamat yang aku kirim. Sendiri. Jika tidak, maka nyawa mama kamu akan terancam" kata suara laki-laki di ujung telpon.
Ohw, ternyata acara ancam mengancam nih. Batin Arga.
"Oke, aku datang" tegas Arga langsung mengiyakan.
Karena mobil belum berjalan di tengah kemacetan, Arga membuka pesan yang barusan masuk.
Sebuah alamat di pinggiran kota tertulis di sana.
"Sialan, pake acara macet segala" umpat Arga karena dia diberi batas waktu. Tak boleh melebihi satu jam untuk sampai ke alamat itu.
"Jangan coba-coba untuk meminta bantuan. Kamu dalam pengawasan ku" ketik orang itu.
"Ha...ha...Arga didikte! Pede kali orang itu" ketus sekali suara Arga saat itu.
Hampir setengah jam Arga berada di tengah kemacetan yang disebabkan kecelakaan beruntun.
Mobil-mobil terhenti karena menunggu petugas mengevakusi bangkai mobil dan juga korban kecelakaan.
Mau maju susah, putar balik pun tak bisa. Otomatis Arga hanya bisa menunggu. Meski kini dia sudah melajukan mobilnya di atas kecepatan rata-rata untuk mengejar waktu agar sampai di lokasi yang dikirim tadi.
Dengan sikap waspada dan membawa senjata yang selalu disiapkan olehnya, Arga turun dari mobil.
Di sekitar nampak lengang meski banyak bangunan di sana. Bangunan yang sepertinya kosong tak berpenghuni.
Arga mengikuti arah dari share lok yang dia dapat.
"Owh, di ujung sana sepertinya" gumam Arga.
"Apa nggak salah nih tempatnya" gumam Arga bermonolog.
Dan tiba-tiba saja lampu ruangan itu menyala. Dan tentu saja membuat silau mata Arga.
Tak disangka sebuah serangan tepat mengenai dada, membuat Arga terpental beberapa meter. Senjata yang tadi terpegang pun tak tahu terlepas ke mana.
Arga berusaha bangkit, tapi sebuah tendangan di perut kembali mengenainya. Otomatis membuat Arga terhuyung.
Arga kembali memasang kuda-kuda. Kali ini dia lebih siap dari sebelumnya.
Setelah mata nya bisa melihat jelas, ternyata ada tiga laki-laki dengan badan kekar yang menyerangnya barusan.
"Ha...ha...ternyata sukanya main keroyokan. Percuma badan gedhe" ucap Arga memprovokasi ketiganya.
Mereka maju bersama untuk menyerang Arga. Hal itulah yang ditunggu oleh Arga dengan memancing kemarahan mereka.
Dengan sekali kelit, Arga berhasil menghindari serangan. Yang ada mereka bertiga malah saling memukul. Padahal Arga sudah berada di belakang mereka.
Melihat kesempatan datang, Arga pun menyerang mereka bertiga sekaligus. Karena tak siap serangan dari belakang, maka mereka pun ambruk bersamaan.
"Makanya pake otak, jangan hanya badan aja yang digedhein" olok Arga sambil terbahak.
Mereka pun berusaha melepas ikatan kuat Arga.
"Lepaskan! Atau akan kulaporkan kepada bos kami" celetuk salah satunya.
"Ha...ha...bagaimana cara kalian melapor sementara tangan kalian saja terikat" Arga semakin terbahak saja.
Arga meraih senjata nya yang terpental lumayan jauh darinya.
Arga todongkan ke ketiga laki-laki itu.
__ADS_1
"Cepat bilang, di mana bos kalian?" hardik Arga.
"Ha...ha...aku tak akan mengatakan" kata yang lain.
Arga menarik pelatuk untuk menggertak mereka.
"Kami tak takut dengan amcamanmu tuan" balas yang lain.
Arga pun jongkok ke salah satu yang terlihat sedikit gemetar.
Arga dekatkan pucuk senjata di pelipis orang itu.
"Apa kamu ingin merasakan isi senjata ini menembus kepala mu?" Arga menatap tajam ke arah orang itu.
Maka laki-laki itu semakin dibuat gemetaran oleh ucapan Arga.
"Ba...ba...baik tuan. Akan aku katakan" katanya dengan suara terbata.
"Heiiii...jangan lakukan Jago" larang yang lain.
"Aku tak mau nyawaku melayang Cing" imbuhnya.
"Ha...ha...aku rasa itu keputusan tepat Jago. Cepat katakan siapa bos kalian?" kata Arga.
"Tu...tu...tuan...Aa..." belum sampai menjawab, sebuah tembakan tepat mengenai kening Jago.
Arga langsung membalikkan badan dengan sikap waspada.
"Ha...ha...ternyata kamu gesit juga" kata orang yang baru datang itu dengan tawa membahana di ruangan itu.
Arga mengkerutkan dahi. 'Siapa lagi orang ini?' Pikir Arga.
Mereka berdua saling menodongkan senjata.
"Aku rasa kamulah yang harus menurunkannya" gertak orang itu.
Sementara Arga masih dengan sikap siaganya.
"Apa kamu tak ingat, jika nyawa mama kamu tergantung kami" imbuhnya sambil terbahak. Suara tawa yang terdengar meremehkan Arga.
"Dimana wanita itu?" tanya Arga.
"Ha...ha...bahkan kamu tak mau menyebut mama ke dia. Tapi kamu dengan rela hati datang ke sini untuk menolongnya" oloknya.
Arga diam, sambil mengamati situasi.
"Letakkan senjata kamu!" suruhnya.
Arga membungkuk untuk meletakkan senjata tapi matanya masih penuh waspada.
"Hajar dia" perintah kepada kedua laki-laki yang tadi berhasil dibekuk oleh Arga. Karena yang satu dengan panggilan Jago telah meninggal.
"Itu akibatnya kalau kalian mengkhianati kami" imbuhnya.
Kedua laki-laki dengan badan kekar itupun menghajar Arga yang tak berteman itu.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
π
__ADS_1