
Badan Arga berasa fresh setelah beristirahat lumayan lama di sebuah SPBU.
Kali ini dia akan mencari keberadaan Agus. Pasti ada informasi yang akan dia dapat jika berhasil menemui si Agus. Pikir Arga.
Arga mengirimi pesan ke Arka, memberitahu bahwa bisa saja kecelakaan itu karena faktor kesengajaan. Cuman Arga masih menyusuri bukti pendukungnya.
Tak lupa dia juga mengirimi pesan ke Tania, yang tanpa diketahui Arga sedang bermain drama dengan nenek Gemmy dan juga mama Rosa.
Dengan mengirim pesan ke Tania yang sangat paham hukum akan banyak membantu Arga dalam proses penyelidikan ini.
Arga memberitahu, bahwa kemungkinan penyidik akan menutup kasus ini dengan kecelakaan biasa meski sopir truk masih ditahan sekarang.
Setelah sampai di daerah yang disebutkan oleh pak RT di mana Agus tinggal sementara di sebuah kontrakan.
"Permisi pak, benar daerah ini?" tanya Arga dengan menunjukkan secarik kertas kepada warga yang melintas.
"Benar tuan. Ini daerahnya" jawabnya singkat.
"Kalau RT lima sebelah mana ya pak?" lanjut Arga.
"Ooooo tuan lurus aja. Mentok belok kanan, nah itu sudah RT lima" ucapnya.
"Terima kasih" balas Arga.
Arga menjalankan mobil pelan, karena daerah yang dilewatinya termasuk kawasan padat penduduk meski itu daerah perkampungan.
Bahkan banyak anak-anak yang mengikuti di belakang mobil Arga. Sudah seperti pawai aja. Batin Arga.
Setelah sampai di tempat yang ditunjukkan oleh orang tadi, Arga menghentikan laju mobil.
"Dik, sini!" panggil Arga ke salah satu anak yang mengikutinya.
"Heemmmmm" Arga mengangguk.
"Kamu tau nggak rumah pak Agus?" telisik Arga.
"Pak Agus?" tanya balik anak itu.
"Pak Agus? Pak Agus yang mana yang anda maksud tuan?" tanya yang lain. Nampaknya usianya lebih besar daripada yang ditanya oleh Arga barusan.
"Emang pak Agusnya ada berapa di RT lima?" sela Arga.
"Empat" jawab mereka bersamaan.
Du...du...nama Agus kok pasaran banget ya di sini? Batin Arga.
"Itu lho dik, pak Agus yang kerjanya di kota" terus Arga.
"Ada dua pak yang kerja di kota. Satu kerja di kape (medok banget bahasa mereka), satunya kerja di perusahaan yang guedheee katanya" cerita mereka dengan polos.
"Kalau Agus yang kerja di perusahaan guedhe?" tebak Arga pasti orang ini yang dimaksud.
"Kalau pak Agus itu, rumahnya yang paling gedhe di sini tuan. Noh, rumah yang lampunya banyak" tunjuk anak itu ke sebuah rumah yang tergolong paling bagus di kawasan itu.
Arga menepikan mobil, dan parkir dekat gerbang rumah Agus.
Arga menyerahkan selembar uang seratus ribuan untuk anak-anak yang masih saja bergerombol itu.
"Makasih ya, nih buat jajan" seloroh Arga.
"Makasih tuan" jawab mereka dengan ceria dan terus saja berlarian meninggalkan Arga untuk membeli jajan versi mereka. Membuat senang orang tidak harus mahal. Batin Arga.
Arga melangkah menuju gerbang seperti yang diinfo anak-anak tadi.
"Kalau pekerjaan hanya staf, untuk memiliki rumah sebagus ini kayaknya aneh" gumam Arga.
__ADS_1
"Dijaga satpam lagi" celetuk Arga berikutnya.
"Permisi pak, selamat sore. Apa benar ini rumah pak Agus Budi?" tanya Arga menyebutkan nama nya lebih lengkap.
Sebelum ini Arga sengaja membuka ponsel untuk melihat kembali profil yang dikirimkan oleh Pandu sebelumnya.
"Benar tuan, dengan siapa?" tanya balik sang penjaga gerbang.
"Heemm, bilang aja nama saya Arga" terang Arga.
"Baik tuan. Silahkan duduk. Saya akan menghadap tuan Agus lebih dulu. Tuan barusan datang tadi siang" beritahu satpam itu.
"Baik pak" Arga menaruh pantatnya di sebuah kursi depan pos jaga.
Dengan tergopoh satpam itu masuk ke kediaman utama.
Arga mengamati sekeliling. Matanya berhenti di sebuah garasi yang kebetulan pintunya terbuka.
"Heemmmm, mobil baru. Plat aja belum ada" celetuk Arga lirih.
"Silahkan, tuan Agus menunggu anda di dalam" ucap sopan satpam yang bahkan wajahnya sudah termakan usia tapi tetap bekerja itu.
"Makasih pak" Arga meninggalkan pos jaga melangkah menuju tempat yang ditunjukkan oleh satpam tadi.
"Selamat sore pak Agus" sapa Arga masuk ruangan yang luas dan tertata rapi itu.
Melihat wajah Arga, nampak keterkejutan dari wajahnya. Tapi berusaha dia sembunyikan.
"Anda siapa?" tanyanya pura-pura sepertinya. Nggak mungkin dia tidak kenal Arga yang wajahnya sering wira wiri di Panapion bersama Arka sang CEO.
Arga mengulas senyum di bibir. "Aku rasa aku tak perlu mengenalkan diri lagi pada anda. Bisa dijelaskan apa maksudnya ini?" tanya Arga dengan membalikkan layar tab untuk ditunjukkan kepada pak Agus.
"Oooooo, ini kejadian semalam ya? Kebetulan saya lembur, karena hari ini mau pulang. Saya sudah ijin kok tuan" beritahunya tanpa rasa gugup sekalipun.
Pada saat yang sama, istri tuan Agus barusan datang dengan beberapa paper bag di tangannya.
Arga diam tanpa kata, tapi tatapan tajamnya mengarah ke Agus.
"Ijin karena istri anda sakit bukan?" telisik Arga.
"Hemmmm...bu...bu...bukan tuan. Tapi karena saya ada kepentingan hari ini" jelasnya tergagap.
"Kepentingan memberi uang belanja ke istri anda?" tukas Arga sinis.
"Hei, anda siapa? Beraninya mengatai suami saya?" hardik sang nyonya rumah yang berwajah bak topeng itu.
"Tanya saja ke suami anda, tentang siapa saya" wajah sinis Arga tak berubah.
Pak Agus menarik lengan sang istri dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
Sepeninggal istri pak Agus, Arga kembali meminta penjelasan kepada Agus.
"Sesuai apa yang aku jelaskan tadi tuan, aku di Panapion sampai malam memang untuk lembur" belum mengaku juga dia. Batin Arga.
Arga menelpon Pandu untuk mengkonfirmasi.
"Apa benar malam kejadian itu ada lembur di divisinya tuan David?" tanya Arga ke Pandu.
Agus semakin berkeringat dingin mendengar jawaban Pandu.
Arga sengaja meloudspeaker panggilan ponselnya.
"Anda tahu sendiri tuan, kalau hari itu kejadian pasca penangkapan tuan David. Mana ada lembur kalau kepala divisinya saja belum ada yang ditunjuk sebagai pengganti oleh tuan Arka" jawab Pandu panjang lebar.
Arga kembali menatap tajam ke Agus. "Alibimu terpatahkan oleh perkataan asisten tuan Arka barusan. Benar yang saya ucapkan?"
__ADS_1
Agus semakin pucat mukanya.
"Alasan apa lagi yang ingin kau sampaikan tuan Agus?" Arga menyilangkan kaki sambil punggung menyandar ke belakang menunggu jawaban pak Agus.
"Pandu, apa ada surat ijin dari pak Agus yang tidak masuk kerja hari ini?" tanya Arga yang memang sengaja tak mematikan panggilan.
"Wait, aku cek di HRD dulu" jawab Pandu.
Tak sampai dua menit suara Pandu kembali terdengar.
"Ada tuan, pak Agus memang ijin karena istrinya sedang sakit" bilang Pandu.
"Oke Pandu, makasih" barulah Arga menutup panggilan telponnya.
"Heemmmmm" sesungging senyum sinis di sudut bibir Arga.
"Oh ya, di gambar ini anda seperti menelpon seseorang. Bisa kau sebut siapa yang kau hubungi?" telisik Arga.
"Itu privacy saya tuan" jawab pak Agus dengan suara bergetar.
"Ha...ha...jika aku butuh, maka itu bukan privacy lagi pak Agus. Bahkan aku akan dengan mudah mengetahuinya" Arga terbahak.
"Apalagi sudah membahayakan sahabatku" bisik Arga di telinga pak Agus.
"Aku akan dengan mudah mendapatkan siapa yang kau telpon saat itu...ha...ha..." lanjut Arga.
"Kau akan kulaporkan karena melanggar undang-undang tuan" tukas Agus masih berani menantang Arga.
"Cih, kau punya bukti atas apa yang kulakukan?" tanggap Arga.
Agus tertegun.
"Jangan asal lapor kalau kau tak punya bukti kuat" tandas Arga.
"Oh ya, apa malam itu kau menelpon orang yang bernama Heru?" lanjut Arga.
"Aku tak punya teman yang namanya Heru" Agus beralasan.
"Oh ya???" timpal Arga.
"Pergilah tuan, aku rasa anda akan sia-sia. Karena aku tak terlibat dengan kecelakaan tuan muda" ujar Agus menyilahkan Arga keluar dari rumahnya.
"Ha...ha...siapa yang menuduhmu pak Agus. Aku ke sini hanya ingin mengkonfirmasi tentang keberadaan mu malam itu di Panapion" ujar Arga tergelak.
"Tapi ternyata alibimu tak cukup kuat untuk mengelak" lanjut Arga.
"Apa maksudmu tuan?" kata Pak Agus dengan badan balik menghadap Arga.
"Kenapa ponselku ada di anda tuan? Kamu mencurinya?" tuduhnya hendak merebut ponsel yang dibawa Arga.
"Apa kau mencarinya?" tawa Arga memecah keheningan ruang tamu.
"Kau bilang tak mengenal orang bernama Heru, tapi di panggilan keluar ponsel kamu hanya ada nama Heru saat malam kejadian itu. Dan yang kuketahui Heru adalah nama sopir truk box yang menabrak mobil tuan Arka" jelas Arga.
Pak Agus sedikit lemas mendengar perkataan Arga, tapi secepat kilat dia meraih sebuah senjata api yang ada di loker sampingnya.
Dan menodongkan ke arah Arga.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
__ADS_1
Klik juga iklannya
💝