Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Tobatnya Seorang Arkan


__ADS_3

Arkan merusak apapun yang di dekatnya. Dua hari terakhir banyak masalah yang menimpa pada dirinya.


"Awal semua masalah muncul karena aku menculik si perempuan brengsek itu" gerutu Arkan.


"Pasti semua ini karena ulah Arka Danendra" Arkan terus saja mengoceh.


Dia ambil minuman yang punya efek memabukkan dari minibar apartemennya.


Arkan ambil yang paling mahal, dan menuangkan ke dalam gelas.


Bahkan sudah beberapa gelas yang dia tenggak, Arkan masih saja mengoceh.


Mengoceh tentang balas dendam yang selalu saja gagal.


Arkan berjalan sempoyongan ke ruang tengah tempat dia berada sebelumnya.


Saat dia duduk, tak sengaja dirinya menduduki sebuah remot tivi. Alhasil tivi pun menyala dengan suara nyaring.


"Sialan, ngagetin aja" bahkan tivi yang tak bersalah pun menjadi salah pada akhirnya.


Saat remot televisi akan Arkan tekan tombol power untuk mematikan, muncullah Smith di layar yang cukup besar itu.


Sebuah berita yang menayangkan bahwa Smith tertangkap karena percobaan penculikan terhadap pengacara Tania Fahira.


Meski Tania sudah berhasil diselamatkan, Tania juga yang melaporkan atas diri Smith kepada pihak berwajib.


Arkan membanting gelas yang dibawanya. Emosi nya semakin tak terkendali.


"Aku harus habisi Smith, agar dia tak bicara semuanya ke pihak berwenang" gumam Arkan. Saat ini Arkan pasti berpikir untuk mencari Smith di penjara, dan akan menghabisi dengan tangannya sendiri.


Di tivi, Smith membuat pengakuan bahwa percobaan penculikan itu atas perintah seseorang. Dan akan membuktikan lewat rekaman kamera dan suara selama kejadian. Perintah melalui telpon pun bisa melengkapi bukti.


Terlihat di sana, layar tivi penyidik membawa kembali Smith dengan tangan terborgol.


Arkan mengamuk semakin menjadi, semua usahanya satu persatu goyah.


Davina datang lagi ke apartemen Arkan karena sesi pemotretan yang bahwasanya dikerjakan hari ini malah dibatalkan sepihak oleh pihak pertama.


"Sayang....sayang...." teriak Davina. Dilihatnya ruang apartemen berantakan. Tak ada satupun benda yang utuh di sana.


Arkan yang masih mengamuk menatap nyalang Davina yang baru datang.


Sebenarnya Davina ngeri juga melihat tampang Arkan untuk saat ini.


"Sayang, semua kontrak aku dibatalin begitu saja. Sekarang aku tak punya kerjaan. Semua karena terpengaruh oleh berita-berita tentang kamu" kata Davina serius.


"Lantas?" tatap tajam Arkan ke arah Davina.


"Kamu musti ganti rugi dong sayang, apalagi manager aku tetap menuntut bagian miliknya. Darimana aku dapat uang" celoteh Davina membuat Arkan semakin emosi.


"Enak saja setelah kamu menggesek kartu-kartuku. Sekarang kamu datang meminta ganti rugi...cih..." tanggap Arkan.


"Aku tunangan kamu sayang" balas Davina.


"Bukankah kamu akan meninggalkanku saat aku tak punya uang? Dasar semua wanita sama saja" umpat Arkan.


Davina terkejut akan ucapan Arkan barusan.

__ADS_1


'Bagaimana dia tahu kalau aku hanya memanfaatkannya saja' pikir Davina.


"Ha...ha...jangan munafik kamu Davina" Arkan terbahak, tawa yang membuat ngeri telinga Davina.


Davina meraih tas yang tadi dilempar begitu saja di atas meja.


"Kamu mau kemana? Kamu salah datang ke sini Davina...ha...ha..." tawa Arkan seperti mengandung ancaman bagi Davina.


'Aku harus lekas pergi, bagiamanapun caranya' Davina balik badan tanpa mengucapkan apapun.


Tapi sebuah cekalan tangan yang kuat mendarat di bahunya.


"Apaan sih sayang, aku mau balik dulu" kata Davina mengharap belas kasihan Arkan.


"Ha...ha...balik ke mana? Bukankah kamu ke sini hanya karena uang? Tujuanmu belum berhasil sudah mau balik aja" kata Arkan.


"Biasanya kamu merayuku untuk dapatkan semua tujuanmu... Kemana Davina yang itu?" Arkan semakin kuat mencengkeram bahu wanita itu.


Rasa perih mulai dirasakan oleh Davina.


"Sayang...sakit..." kata Davina dengan merintih.


"Layani aku dulu" Arkan membalikkan badan Davina secara paksa.


"Tidak mau" Davina meronta berusaha melepaskan diri.


"Layani aku" Arkan menatap nyalang seorang Davina, membuat Davina begidik ngeri.


Arkan yang berada di bawah pengaruh minuman, meraih lengan Davina dan menguncinya.


Sekali gerak gaun Davina yang minim bahan itu pun robek tak bersisa.


Davina yang menangis tak diperdulikan oleh Arkan.


Arkan ambruk di samping Davina setelah mencapai tujuan akhirnya, pelepasan.


Badan Davina berasa remuk redam, karena paksaan Arkan barusan. Arkan yang sangat kasar memperlakukannya. Dia hanya bisa menangis saat ini, karena untuk keluarpun Davina tak mampu jalan. Bagian kewanit4annya berasa kebas dan nyeri.


Davina segera menghubungi sang manager untuk menjemput, tapi jawabannya sungguh di luar dugaan. Sang manager memutuskan kontrak dengannya secara sepihak. Padahal uang Davina masih banyak yang dibawa olehnya.


Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Itulah yang dirasakan Davina saat ini. Hanya Arkan lah harapan satu-satunya sekarang. Papa nya pun masih meringkuk di penjara karena kasus penggelepan di perusahaan kepunyaan Arka.


Karena terlalu lama menangis, Davina tertidur di samping Arkan.


Davina terbangun karena rasa mual hebat yang mendera.


Hoeekkkkk....hoekkkkk...hoekkkkkk....Davina memuntahkan semua isi perutnya.


"Kenapa nih perut, mual banget" keluh Davina.


Arkan menggeliat karena suara Davina yang muntah-muntah.


Emosinya yang sudah mulai turun beberapa digit, maka Arkan pun medekati Davina.


"Apa kamu sakit?" Arkan memijat tengkuk Davina agar bisa mengeluarkan semua yang ada di perut.


Hanya ada cairan lambung yang tersisa.

__ADS_1


"Pahit banget" keluh Davina lagi.


Arkan memgambilkan air putih untuk diminum oleh Davina.


"Makasih" ucap Davina menatap Arkan. Sejahat-jahatnya seorang Arkan ternyata masih ada sisi baiknya. Batin Davina.


"Maafkan atas sikapku tadi" kata Arkan yang terdengar tulus di telinga Davina.


"Aku juga" Mereka saling pelukan.


"Jadi kita gencatan senjata nih?" sela Davina mengurai pelukan dan menatap Arkan dengan senyuman di bibir.


"Heemmmmm" gumam Arkan.


"Kenapa kamu berubah pikiran?" tanya Davina penasaran.


"Aku tadi mimpi buruk, semua orang yang ada di dekatku meninggalkan aku semua. Bahkan ada juga anak kecil yang awalnya mendekat dan cuma manggil papa, selanjutnya menghilang begitu saja" kata Arkan panjang lebar.


"Cuman karena mimpi?" ucap Davina.


"Iya" ujar Arkan menanggapi.


"Aneh" timpal Davina sambil mengerutkan alis.


Mungkin sudah waktunya Arkan bertobat kali ya? Davina juga begitu...he...he...(versinya author mah begitu).


.


Sementara itu ketiga CEO perusahaan besar. Panapion, Blue Sky dan Dirgantara sedang berkumpul di sebuah lounge hotel mewah milik Dirgantara Grub.


"Sudah lama kita nggak nggibah bersama" celetuk Sebastian yang paling konyol di antara ketiganya.


"Lagak loe, baru kemarin juga kita bertemu Tian" balas Arka.


"Ha...ha....basa basi bro" Sebastian terbahak.


Bara masih terdiam di antara yang lain.


"Bara kok diam aja sih, apa pinjaman kamu jatuh tempo?" sindir Arka.


"Sialan" sambut Bara dengan terbahak.


Ketiga asisten mereka pun menyusul ada Dewa, Pandu, Iwan lengkap ada Arga juga.


"Laporan!!!!" todong Arka.


"Issshhhhhh bos, biarkan kita duduk dulu dong" ucap Pandu senewen.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ  supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya

__ADS_1


πŸ’


__ADS_2