
Ponsel kembali berdering saat Tania melamun.
"Wooooiiiiiii lama amat angkatnya" teriak Sebastian di ujung sana.
"Apaan sih? Ganggu orang melamun aja" jawab Tania sengau.
"Cieeee...lagi galau ya?" ledek Sebastian.
"Apa ngelamunin babang Arka?" lanjut Tian.
"Apaan sih, serah gue dong ngelamunin siapa" sungut Tania.
"Ada apa? Tumben CEO Blue Sky nelpon gue langsung. Biasanya juga Dewa yang nelponin gue" seloroh Tania.
"Besok datang ke acara aqiqahan anak gue. Dan tidak boleh diwakilin. Ajak juga babang Arka!" kata Tian.
"Aku usahain" tukas Tania.
"Harus datang nggak pake kata ngusahain" imbuh Tian.
"Dasar tuan pemaksa" umpat Tania.
"Oh ya, aku lihat kau menemui si Smith?" tanya Sebastian.
"Kok kamu tahu?" tukas Tania.
"Ha...ha...kamu lupa siapa aku? Kebetulan aja orang-orangku lihat kamu di resto XXX sama dia" celetuk Tian.
"Hati-hati dia orang yang berbahaya" lanjutnya.
"Kamu kenal dia???" tanya Tania.
"Ogah gue kenal ma orang model begitu. Ular berkepala banyak dia tuh" seloroh Tian.
"Dia maksa gue untuk menjadi negosiator kerjasama dengan Panapion" cerita Tania.
"Heemmmmm, berani juga tuh orang" tukas Tian.
"Apa Arka mau?" lanjutnya.
"Kalau lihat profil perusahaan miliknya sih ada yang meragukan" Tania menimpali.
"Tapi orang itu sudah berani mengancamku bro. Aku kuatir dengan mama Rosa" lanjut Tania.
"Hei, apa kau lupa kalau kau punya teman macam aku sama Dewa? Bang Arka tuh juga orang hebat. Sudah jangan cemas. Besok Dewa biar bantu nyelidikin" kata Sebastian.
"Oh ya, besok kutunggu di rumah baru aku. Jangan lupa ajakin bang Arka" ujar Sebastian menutup panggilan ponselnya.
Ada untungnya juga punya sahabat somplak macam kalian. Gumam Tania bermonolog.
Mending rebahan aja, esok pikirin esok. Tania merebahkan punggung di kasur ternyaman di dunia itu.
"Tania...apa kau nggak makan?" panggil mama Rosa.
"Ditungguin sedari tadi nggak keluar-keluar. Mama lapar nih" celetuk mama Rosa.
Tania beringsut dari ranjang dengan sedikit rasa malas.
"Bentar Mah, Tania nyusul" ucapnya.
.
Arka menyusul Arga yang berada di bengkel.
"Info?" kata Arka sesaat duduk di dekat Arga yang sibuk benahin mobil.
"Ish, gangguin orang kerja aja" celetuk Arga yang sedang berada di bawah kolong mobil.
"Bonus nambah nih" goda Arka.
"Bonus apaan? Yang ada bonus nambah kerjaan berlipat-lipat" tukas Arga sewot.
Alas Arga ditarik oleh Arka biar Arga mau keluar.
__ADS_1
"Besok mau diambil nih mobil, makanya aku bela-belain malam ini selesai" sungut Arga.
"Issshhhh...laporan dulu!" pinta Arka.
"Selidiki juga tuh saudara tiri sama mama tiri mu itu. Semua terkait dengan mereka. Perusahaan tuan Smith juga akal-akalan mereka" ulas Arga.
"Hah?"
Arga menoyor kening Arka, "Jangan bengong hooiiiiii...." kata Arga.
"Apa karena itu tuan Smith tak mau bertemu dengan William sama Benzema?" sahut Arka.
"Nah, itu kamu tahu" imbuh Arga.
"Mereka itu satu circle, kena satu maka akan kena semua. Sekarang kamu fokus satu dulu aja" usul Arga.
"Rencana yang akan kau sikat duluan yang mana?" tanya Arga.
"Menurut kamu?" tutur Arka minta saran.
"Ha...ha...kau pasti lebih tahu lah Arka. Jangan main tebak-tebakan dong" canda Arga.
"Oke...sipp bro. Aku pergi dulu" kata Arka beringsut.
"Mampirlah ke Tania, dia pasti lagi galau sekarang. Tuan Smith sudah berani main ancam" imbuh Arga.
"Sippp...aku tahu itu" Arka pergi menjauh dari Arga yang meneruskan pekerjaannya.
.
Arka datang saat Tania dan mama Rosa sedang menikmati makan malam bersama.
"Kau buka gih pintunya" suruh mama Rosa yang mendengar ketukan pintu depan.
Tania menaruh kembali sendok yang sudah penuh makanan.
"Siapa Mah?" tanya Tania.
"Kalau nggak kau buka, mana mama tahu" seloroh mama.
"Ish kau ini, ngarep aja" tandas mama.
"Ayo lekas buka" suruh mama kembali.
Tania menuju pintu depan.
Ketukan pintu terdengar lagi.
"Nggak sabar banget sih, nggak tahu apa kalau tuan rumah sedang makan" gerutu Tania.
Tania membuka pintu, sedikit terkejut karena yang datang adalah Arka.
"Kok nggak ngabarin dulu?" kata Tania.
"Kutelpon, tapi tak kau angkat" bilang Arka.
"Nggak disuruh masuk nih?" kata Arka.
"He...he...silahkan masuk tuan muda" imbuh Tania membungkuk mempersilahkan Arka.
Arka mengusap puncak kepala Tania lembut sambil berlalu masuk.
"Mama Rosa mana?" telisik Arka mencari keberadaan calon mama mertua.
"Ada, tuh di meja makan" beritahu Tania.
Arka menyusul kebaradaan mama Rosa.
"Mah, masak apaan ini? Sepertinya enak" celetuk Arka.
"Apa sih yang nggak enak. Buatan mama Rosa mah nggak ada tanding, walau cuman seadanya" kata Tania.
"Boleh gabung?" ijin Arka.
__ADS_1
"Tentu dong nak Arka" tukas mama Rosa.
Arka yang notabene kehilangan sosok mama saat dirinya masih kecil. Kehadiran mama Rosa bagai oase di gurun gersang.
"Panggil Arka saja Mah" pintanya.
"Tania, ambilin buat Arka dong" suruh mama.
"Kan deketan Arka Mah, daripada aku" sela Tania.
"Tania Fahira" ucap mama Rosa melotot ke arah Tania.
"Arka ambil sendiri saja Mah" kata Arka.
"Enggak, biar Tania latihan meladeni suami" tutur mama Rosa.
"Iya...iya...aku ambilin" Tania beranjak mendekat ke arah Arka.
Arka senyum simpul saat Tania menghentakkan kaki tapi tetap melakukan seperti yang diperintah mama Rosa.
"Enak nggak?" telisik mama.
"Banget Mah" ucap Arka dengan mulut penuh makanan.
"Kamu ini laper apa laper banget sih?" seloroh Tania karena melihat Arka makan dengan lahap.
"Masakan mama is the best dech" puji Arka.
"Menu cuman sayur asem ikan asin, lezat katanya" cibir Tania.
"Ish kau ini, buat senang orang tua tuh pahala tau" celetuk mama Rosa.
"Bela terus saja calon menantu mama tuh" sungut Tania.
"Oh ya, malam-malam mampir apa ada yang urgen?" tanya Tania.
"Abisin dulu, baru dilanjutin ngobrol" suruh mama Rosa.
.
Arka dan Tania telah duduk di ruang tengah. Mereka serius membicarakan tema hari ini.
"Terus langkah prioritas kamu?" tanya Tania.
"Nyonya Gaby dan Arkan" tegas Arka.
"William tak akan berkutik, kalau keduanya kita libas" Arka menimpali.
"Apalagi usaha nyonya Gaby untuk menjadikan Arka sebagai pion di Panapion tengah menemui jalan buntu dengan diangkatnya aku sebagai CEO" imbuh Arka.
"Lantas penyelidikan kasus ayah?" sela Tania.
"Aku kuatir keselamatan mama" lanjut Tania.
"Kita pikirkan bersama" sambung Arka.
"Oh ya, besok ada undangan dari Sebastian" beritahu Tania.
"Acara?"
"Aqiqahan putri keduanya" lanjut Tania.
"Kalau sore aku bisa, kujemput di kantormu ya?" ucap Arka.
"Heemmmm" gumam Tania.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
__ADS_1
Klik juga dong iklannya
💝