
Sesuai janjinya, Tania mendatangi Arkan di penjara keesokan hari.
Tentu saja setelah ijin sama sang suami yang nan jauh di sana dan memastikan Arditya tak rewel dan persediaan stok susu untuknya cukup selama Tania pergi.
Tania duduk begitu saja di depan Arkan yang sudah menunggunya dengan menyilangkan kaki.
"Lagak loe udah seperti bos aja di sini" kata Tania begitu menempelkan pantat di kursi.
"Ha...ha...ya nggak gitulah. Aku cuman dikasih fasilitas lebih aja oleh mereka" tukas Arkan menimpali.
"Gimana kabar suami loe?" lanjut tanya Arkan.
"Baik. Ngapain loe nanyain suami gue. Mau cari kesempatan untuk nyulik gue lagi?" seloroh Tania.
"Ha...ha...gue aja masih tidur di sini, gimana bisa nyulik loe" kata Arkan terbahak.
"Heleh...akal loe itu kalau diukur dari Sabang sampai Merauke bisa lebih. Cuman..." ucap Tania menggantung kalimat.
"Cuman apa?" kata Arkan penasaran. Biasanya pujian Tania itu berasa enak di awal, tapi sungguh menyakitkan di akhir.
"Cuman lebih pinteran gue...ha...ha..." Tania gantian yang terbahak.
"Sialan" umpat Arkan. Bener perkiraan Arkan sebelumnya, tidak akan enak di akhirnya.
Tania masih saja terbahak melihat ekspresi Arkan.
"Oke, capek gue ketawa mulu. Kita mulai aja belajar pasal-pasal yang menjerat kamu" kata Tania yang sudah berhenti tertawa.
"Emang obatmu habis kah, ketawa mulu" sindir Arkan.
"Iya sudah habis. Dihabisin Davina tunangan loe" gantian Tania mengejek Arkan.
"Gue nyerah dech. Nggak akan menang kalau bicara sama loe" kata Arkan yang sepertinya sudah akrab dengan Tania.
Padahal mereka baru berinteraksi beberapa hari sebelumnya, semenjak Tania menyanggupi menjadi kuasa hukum Arkan dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Arkan tentunya.
"Oke, balik lagi ke pasal yang disangkakan padamu. Kira-kira menurut loe, pasal mana yang aku bisa bela. Semua bukti sangat memberatkan kamu. Cuman satu yang sepertinya terlewatkan oleh penyidik. Gudang senjata loe" kata Tania mulai serius.
"Gudang senjata yang kosong kan?" tukas Arkan.
"Yaappppp...kok loe bisa nebak arah pembicaraan gue?" telisik Tania.
"Ya jelaslah. Kan foto gudang senjatanya loe tunjukin gue songong" jawab Arkan tak ada seriusnya.
"Benar juga ya...he...he..." jawab Tania sembari tertawa.
Angel yang mencatat semua pembicaraan mereka saja sampai menepuk jidat.
Kasus yang sangat serius, tapi bagi kedua orang di depannya ini kenapa nggak ada serius-seriusnya sama sekali. Batin Angel.
"Tahu nggak, perdagangan senjata gue dicekal? Bahkan orang yang biasa ngirim senjata ilegal ke gue langsung menghentikan pengirimannya ke gue dan memilih rival gue untuk meneruskan" terang Arkan.
"Siapa yang mencekal?" tanya Tania.
"Suami loe" tandas Arkan membuat mata Tania membelalak tak percaya.
"Biasa aja tanggapan loe, nggak usah pake melotot segala" ledek Arkan. Timpukan pulpen dari Tania didapat Arkan.
"Kok loe tahu, apa buktinya?" tanya Tania.
"Nggak usah nanya darimana gue tahu. Tapi dengan cekalan Arka, baru di dalam sini aku bersyukur. Karena itu otomatis akan ngurangin vonis gue. Betul nggak?" tandas Arkan.
"Jangan lupa sampaikan rasa terima kasih gue buat Arka" imbuh Arkan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Perlu kamu tahu juga, sejak dagang senjata gue stop. Usaha-usaha gue yang lain pun ikutan turun juga. Makanya gue mati-matian nyariin loe buat menjadi penasehat hukum di perusahaan waktu itu dengan mengutus Anton" terang Arkan.
"Tapi Anton sialan itu malah memporak porandakan rencana gue dengan menculik ibu dari si Arga, sahabatnya Arka. Mulai dari situ semua usaha gue kebongkar sama suami loe" kata Arkan.
"Jadi dari pembicaaanku ini, apa yang bisa kamu simpulkan?" tanya Arkan kepada Tania.
"Bentar...bentar..." kata Tania menjeda dan nampak berpikir.
"Heemmmmm....aku tahu" kata Tania setelah mendapatkan jawabannya.
"Apa?" sahut Arkan.
"Suami gue, Arka Danendra Rahardjo ternyata lebih pintar dari Arkan" jawab Tania dengan yakin.
"Sialan. Ujungnya nggak enak di gue lagi" seloroh Arkan.
"Ha...ha...nggak...nggak itu saja. Yang pasti dengan kosongnya gudang senjata loe, paling nggak bukti dari penyidik kurang konkrit. Begitu kan maksud loe?" imbuh Tania dan Arkan mengangguk.
"Akan kubuat tuan Anderson tak bisa lagi memasok senjata ke rival gue" kata Arkan berikutnya.
"Loe punya niatan jadi informan?" tanya Tania.
"Iya" tukas Arkan.
"Baguslah, sekali-kali hidup loe bisa bermanfaat buat orang lain" terang Tania.
"Loe ngolok gue lagi?" tanggap Arka.
"Kenyataannya kan" tukas Tania.
"Loe nggak tahu aja" kata Arkan tanpa mau cerita.
"Tahu gue" Tania menanggapi.
"Apa?" tanya Arkan balik.
"Kok lau tau?" tanya Arkan penasaran.
"Tania gitu loh" ucap Tania menyombongkan diri.
"Makanya mulai sekarang, jadilah penasehat hukum di perusahaanku juga. Demi hajat hidup banyak orang" pinta Arkan.
"Ceritanya loe ngerayu gue nih" celetuk Tania menanggapi.
"Terserah anggapan loe aja dech" Arkan pun sama saja.
"Kupikirkan nanti aja. Kasus loe aja sudah buat gue pusing tujuh keliling" terang Tania.
"Sekarang ke kasus ke dua. Kepemilikan dan peredaran obat terlarang" kata Tania memulai topik yang berbeda.
"Lantas?" Arkan menatap serius Tania dan juga Angel yang lebih banyak diam dari tadi.
"Berat kalau yang ini. Kamu tahu kan vonis yang akan loe terima?" tanya Tania.
"Tahu. Paling ringan seumur hidup" ucap Arkan dengan santai.
"Nah itu kamu tahu. Kenapa tetap kamu jalani. Heran gue sama jalan pikiran loe" kata Tania.
"Jangan nanyakan itu. Aku sekarang baru bisa mikir, kenapa aku ngejalanin semua itu? Satu alasan utamanya" kata Arkan.
"Pasti rasa dendam loe ke gue. Iya kan?" tukas Tania.
"Yaapppp...gue terlalu dibutakan rasa dendam" tandas Arkan.
__ADS_1
"Tapi aset loe dari yang ini pasti gedhe?" bisik Tania.
"Mayan lah, bisa buat ngidupin anak-anakku paling nggak sepuluh tahun ke depan" terang Arkan. Tania sampai menepuk jidatnya, tak bisa ngitungin uang Arkan. Buat ngidupin ribuan anak yatim dalam waktu sepuluh tahun? Pikir Tania.
"Oke, gue masih memikirkan celah untuk kasus yang ini" kata Tania.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk kasus ke dua?" kata Arkan.
"Membantu polisi untuk menumpas peredaran barang laknat itu? Lantas apa motivasi kamu untuk kasus yang ini?" Tania tetap penasaran. Arkan sangat suka memberinya kejutan tentang sikapnya.
"Aku kecolongan perihal Davina. Aku tak tahu kalau tunangan aku juga seorang pemakai" jelas Arkan.
"Karena kamu sibuk urusan balas dendam kamu ke aku kan?" tukas Tania. Arkan mengangguk kembali.
"Dan kabar gembira untuk kamu hari ini adalah..." ucap Tania sengaja berhenti di tengah kalimat.
"Eng...ing...eng..." sela Angel ikutan bersuara sekarang.
"Davina sudah dipindah ke rumah sakit khusus ketergantungan obat" beritahu Tania.
Arkan menghela nafas panjang menanggapi kabar dari Tania.
"Tuan nggak senang tunangannya mendapat perawatan?" tanya Angel.
Arkan masih terdiam.
"Apa dia masih histeris dan teriak-teriak terus?" tanya Arkan.
"Sepertinya begitu" tukas Tania.
"Yakinlah dia akan sembuh" kata Angel menambahi.
"Tuntutan pekerjaan kali yang membuat Davina seperti itu, apalagi dia dengan mudah meminta ke anak buah loe" imbuh Tania.
"Bisa jadi" jawab Arkan.
"Pencucian uang. Sekarang apa alibi loe untuk ini?" tanya Tania sembari menyandarkan bahu ke kursi.
"Ha....ha...main-main sama para pejabat korup" tawa Arkan dengan santai.
"Aneh, main-main kok sama pejabat" heran Tania.
"Percaya dech, dengan ramainya pemberitaan tentang diriku abis ini mereka pasti ramai-ramai ke luar negeri" terang Arkan.
"Kenapa?"
"Misi penyelamatan diri sendiri. Mereka pasti nggak mau ketangkap" imbuh Arkan.
"Semua yang bersinggungan dengan bisnis haram ku harus ikut ditumpas juga. Enaknya mereka, ikutan nikmatin hasil. Masak harus aku sendiri yang di bui. Tak layak lah" timpal Arkan.
Tania menghela nafas panjang, "Capek juga ndegerin cerita loe, berasa dinina bobokkan" celetuk Tania sembari menguap.
Arkan hanya bisa mengusap tengkuk menanggapi ulah Tania.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, voteΒ supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Koinnya jangan ketinggalan.
Klik juga iklannya
__ADS_1
π
"