Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Cara Arka


__ADS_3

"Tuan, nilai saham Panapion menurun saat berita itu bermunculan" terang Pandu.


"Bukannya kau sudah terlatih akan hal-hal seperti ini? Kenapa aku musti turun tangan?" tanya Arka yang duduk di kursi belakang.


"Cari cara meredam berita dan temukan sumber penyebarnya. Terus kita klarifikasi" lanjut Arka memberi solusi. Arka mengangkat kedua tangannya.


"Tapi dewan direksi sepertinya meminta anda mundur tuan" sela Pandu.


"Bukannya ini hal yang paling kuinginkan" kata Arka tanpa rasa bersalah.


"Tuan, pikirkan sekali lagi. Jangan hanya mundur karena hal receh seperti ini" usul Pandu.


"Heemmmm...benar juga apa yang kau katakan. Jadi CEO perusahaan Rahardjo Grub memang bukanlah cita-citaku. Tapi aku tak boleh egois, kelangsungan perusahaan harus jadi prioritas demi kelangsungan hidup orang banyak. Begitu kan maksudmu?" kata Arka.


"Bener tuan" sahut Pandu.


"Baiklah, sampai perusahaan lakukan apa yang aku terangkan tadi. Urusan dewan direksi akan menjadi urusanku" jelas Arka.


"Baik tuan" jawab Pandu.


"Jangan lupa kau hubungi Arga" lanjut Arka dan dijawab anggukan Pandu.


.


Papa Rendra menunggu kedatangan Arka di ruang CEO.


"Papah kok di sini?" tanya Arka sambil duduk di kursi kebesarannya.


"Acara dadakan rapat dewan direksi?" tanya papa Rendra dengan cemas.


"Pah, setiap kepemimpinan pasti ada yang senang dan tidak senang. Demikian juga kepemimpinanku" terang Arka.


Papa Rendra mencemaskan psikis Arka.


"Apa yang akan kau lakukan jika semua pemegang saham menjatuhkan kamu?" papa Rendra dengan mimik cemas.


"Ya kerja di bengkel...sambil meneruskan usaha Arka sendiri" jawab Arka.


"Arka, jangan bercanda" sambut tuan Rendra.


"Lantas? Apa aku harus memaksa?" sela Arka.


"Arka Danendra, apa papa harus menjelaskan semua" papa Rendra sampai putus asa menghadapi sikap Arka yang tetap santai dengan masalah yang dihadapi.


"He...he...nggak usah repot Pah. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Lagian saham Rahardjo paling besar. Dan jika mereka gabung pun tak mampu mengalahkan nilai saham kita" tandas Arka.


Arka menghadiri rapat dewan direksi dengan kepala tegak.


Meski ada beberapa yang menatap sinis ke arahnya.


"Selamat pagi tuan-tuan" sapa Arka masih dengan muka ramah dan santai dan duduk di kursi CEO yang tersedia untuknya.


"Tuan Arka, apa anda sudah tahu berita viral pagi ini? Terutama yang menyangkut berita tentang anda" ucap salah satunya.


"Apa anda juga tahu, kalau berita tentang anda menjatuhkan nilai saham perusahaan?" sela yang lain.


Arka masih diam.


"Langkah strategis apa yang akan kau lakukan tuan Arka?" telisik yang lain.


"Apa benar anda mengalami depresi dulu? Bagaimana mungkin perusahaan sebesar ini dipimpin orang yang pernah depresi" ucap salah satu orang dengan sinis.


Tanpa mereka ketahui, Arka menandai orang-orang yang telah bicara tadi dan mengirimkan ke Arga untuk diselidiki.


Papa Rendra yang ikut mendengar, sampai ikut geram mendengar semuanya.

__ADS_1


Arka mengangkat tangan, "Ada lagi yang ingin bicara?" tanyanya.


"Apa benar istri anda adalah anak tuan Bagus, pembunuh direktur keuangan kita waktu itu" kata orang itu menyela. Tania memang baru terpublish semalam saat nenek Gemmy mengadakan pesta pernikahan Arka dan Tania. Semua orang di perusahaan juga baru tahu akan hal itu, karena sebelumnya Arka menyimpan rapat pernikahannya.


Arka menatap tajam kepada orang itu. Jika mereka menjelekkan dirinya, Arka santai menerima. Tapi lain halnya jika bersinggungan dengan Tania sang istri.


"Lantas?" sahut Arka.


"Kalau memang benar, sebaiknya anda mengundurkan diri dari kursi CEO secara terhormat" lanjut orang itu bicara.


Arka berdiri dan bertepuk tangan. "Tak kusangka, ternyata para anggota dewan direksi yang terhormat adalah orang yang sangat pandai menilai kehidupan pribadi seseorang. Dan satu lagi, suka bergosip" ulas Arka dengan menekan kata-kata yang dia ucapkan.


Arka sengaja mengulur waktu, sampai Arga menemukan semuanya.


Pandu masuk dan mendekat ke arah Arka.


"Tuan-tuan yang terhormat, tak memungkiri aku pernah mengalami depresi. Tapi apa semua perlu kujelaskan kepada kalian semua. Apa perlu kuhadirkan ahli untuk membuktikan itu?" tegas Arka.


Dan Pandu menayangkan sebuah video yang membantah salah satu argumen orang yang di sana. Dokter itu menyatakan Arka tak mengalami depresi lagi, bahkan dinyatakan tak tergantung obat-obat depresi semenjak lulus SMA. Hingga Arka bisa menyelesaikan pendidikan dokter spesialis. Semua dewan direksi tak menyangka jika CEO nya sekarang juga merupakan dokter spesialis.


"Mengenai berita yang ramai di sosmed, aku tahu itu pasti ulah orang tak bertanggung jawab yang tentu saja karena iri denganku. Bisa orang dalam dan bisa juga orang luar perusahaan. Atau bisa kedua-duanya, dan mereka saling kerjasama" mata Arka menatap tajam ke orang yang dimaksud.


Orang itu menunduk karena merasa Arka telah tahu perbuatannya.


"Mengenai istriku, siapapun dia. Pastinya anda semua tak berhak menilai sebelum tahu cerita kebenarannya" bela Arka.


"Sekarang silahkan cek ponsel masing-masing. Aku meminta kalian untuk mengemukakan pendapat setelah melihatnya. Apa kira-kira saya perlu menshare itu?" kata Arka santai.


Semua melakukan apa yang diminta oleh Arka. Arka sangat yakin, Arga telah mengirimkan ke orang-orang yang ditandainya tadi.


Setelah menunggu beberapa menit.


"Bagaimana tuan-tuan, apa perlu saya share semua?" tanya ulang Arka kepada orang-orang itu dengan tatapan tajamnya.


"Tidak tuan Arka" jawab mereka serempak.


Yang lain pun mengiyakan.


Tuan Rendra sampai heran bagaimana santainya Arka menghadapi orang-orang yang menentangnya.


Arka tersenyum sendiri melihat bagaimana orang-orang dengan tipe penjilat itu langsung tunduk setelah Arga mengirimi pesan berupa video-video mereka sendiri.


"Pandu, sekarang giliran kamu" perintah Arka saat mereka dalam lift setelah rapat selesai.


"Arka, apa yang kau lakukan? Kenapa mereka begitu mudahnya kau hempas" tanya papa Rendra penasaran.


"Ada dech Pah" seperti biasa, Arka hanya menanggapinya dengan bercanda.


Berita-berita tentang Arka telah hilang dengan sendirinya setelah Pandu bergerak.


Arka mencoba menelpon Arga.


"Sudah kau temukan siapa dalangnya?" tanya Arka.


"Hadiahnya apa nih?" tanya Arga. Dia juga ikut puas, karena telah berhasil membantu bos sekaligus sahabatnya itu. Arga yang senang hal menantang seperti ini, tentu dengan senang hati akan membantu.


"Ishhh, hadiah terus yang kau pikir. Cari istri dulu, baru bonusmu kutambahin" ucap Arka.


"Wah, berat kali bos syaratnya" jawab Arga membuat Arka terbahak.


"Ayolah Ga, siapa di balik kejadian hari ini?" tanya Arka lagi.


"Kau pasti bisa menebak tanpa aku kasih tau" jawaban Arga masih saja mengajak teka teki Arka.


"Arga"

__ADS_1


"Iya...iya...aku akan kasih tahu. Arkan lah dibalik kejadian hari ini" jelas Arga.


"Heemmmmm....." Arka mengepalkan genggaman tangannya.


"Baiklah, thanks bro akan kerja keras kamu hari ini" kata Arka sambil menutup panggilannya ke Arga.


Ponsel Arka kembali berdering yang ternyata berasal dari Tania.


"Halo yank" sapa Arka.


"Hanya ingin dengar suara kamu aja" seloroh Tania.


"Kangen?" goda Arka.


"Salah satunya. Lebih ke mencemaskanmu sih" ulas Tania.


"Bukan aku yang harus kau cemaskan, tapi dirimu yank" imbuh Arka.


"Aku sudah sembuh, ingin pulang. Bosen di sini, nggak nglakuin apa-apa. Badan malah capek semua" keluh Tania.


"Nunggu persetujuan dari dokter Maya yang merawat kamu" jelas Arka.


"Yank, cepetan balik ya" Tania merajuk.


"Iya, kuusahaain" jawab Arka. Tumben manja banget istriku. Batin Arka bahagia.


Arka menaruh pantat setelah hampir setengah hari bertemu dengan dewan direksi.


Meski saham terbesar ada di keluarga Rahardjo, tapi aku harus waspada jika ada hal-hal seperti ini lagi. Mereka yang tanpa sungkan hendak menjatuhkanku.


Bagaimana papa bisa berkerjasama dengan para penjilat seperti mereka tadi. Pikir Arka.


Bagaimanapun juga, dengan kejadian ini Arka akhirnya tahu karakter masing-masing orang yang duduk di dewan direksi yang sebagian besar juga menjadi pemegang saham di Panapion.


Untung saja Arga dengan cepat menemukan kelemahan mereka, sehingga dengan mudah Arka mengintimidasi orang-orang yang berusaha menjatuhkan dirinya.


Arka menarik nafas panjang. Harusnya hari ini dia bersama sang istri.


Tapi apalah daya, mulai kejadian semalam saat istrinya pingsan di tengah acara pesta sampai sekarang Arka sangat kurang istirahat.


Tanpa sengaja, Arka malah terlelap dengan duduk di kursi kebesarannya. Hingga Pandu membangunkannya.


"Tuan....Tuan...Nona Tania mencari anda" Pandu menepuk pelan bahu Arka yang masih bernafas dengan teratur, menandakan dia masih pulas dalam tidurnya.


"Pasti anda kurang istirahat tuan" gumam Pandu.


"Tuan...tuan...." Pandu membangunkan kembali sang bos.


"Apa? Mana Tania?" tukas Arka mengucek kedua matanya.


"Di rumah sakit. Barusan nona menelpon saya karena beberapa kali menelpon tuan tidak tersambung" jelas Pandu.


Arka mengecek ponsel yang ternyata sedang off karena lowbat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Koinnya jangan ketinggalan.


Klik juga iklannya


💝

__ADS_1


Salam sehat buat semua 🤗


__ADS_2