
"Apa Smith masih sering mengirimi kamu pesan?" tanya Arka saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Nggak sih" jawab Tania singkat.
"Ingat sayang, apapun yang terjadi jangan lupa selalu mengabari aku" pesan Arka.
"Heemmmmm" gumam Tania mengiyakan.
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Tania. Sedetik kemudian Tania menelpon nya.
"Siapa?" tanya Arka sebelum panggilan Tania tersambung.
"Mama Rosa" jelas Tania.
"Halo Mah, iya ini perjalanan pulang" kata Tania dalam telponnya.
"Baiklah. Hati-hati. Sama Arka kan?" tanya mama.
"Iya lah, siapa lagi" tukas Tania.
"Mama mau dibawain sesuatu?" tanya Arka ke Tania.
"Mah, mau dibawakan sesuatu?" tanya Tania menirukan perkataan Arka.
"Nggak usah aja deh. Mama kenyang" tolak mama.
"Oke Mah, bye" ucap Tania menutup telpon.
"Sayang, dengan ditangkapnya mereka. Apa situasi sudah kondusif?" tanya Tania.
"Relatif sih. Bisa dibilang aman. Tapi kita kan nggak tahu pergerakan anggota mereka" jawab Arka gambling.
"Kalau sudah aman kan, aku dan mama nggak perlu dikawal lagi" pinta Tania.
"Kalau itu permintaanmu. Kamu pasti tahu jawabanku akan seperti apa" imbuh Arka.
"Pasti kau tolak" tukas Tania.
"Nah kau tahu" lanjut Arka menimpali.
"Besok kita hunting gedung yuk buat acara kita" ajak Tania.
"Heh, apa kau kira aku pengangguran? Kan ada Pandu yang bisa nyelesaikan. Kenapa kita musti repot" celetuk Arka.
"Proyek-proyek gimana?" sela Tania.
"Alhamdulillah, setelah minggu kemarin super sibuk. Sedikit demi sedikit masalah teratasi, meski harus ekstra tenaga untuk itu" jelas Arka.
"Jaga kondisi, jangan kelelahan" terang Tania.
"Siap bos" kata Arka tertawa.
.
Pagi itu Arka sudah duduk di kursi kebesaran nya.
"Tuan, apa sudah dengar rumor anda di antara para pemegang saham di Panapion" kata Pandu pelan.
Arka yang sedang serius menatap berkas di depannya mendongak ke arah Pandu.
"Belum. Ada apa?" telisik Arka.
"Gosip anda menikahi anak seorang pembunuh" lanjut Arka.
"Begitu kah?" Pandu pun mengangguk.
"Apa kau tau, siapa kira-kira yang pertama kali menyebarkan rumor itu?" tanya Arka.
"Belum bisa dipastikan" kata Pandu. Nampak keraguan di ucapannya.
"Kalau kau tak yakin, telusuri! Dan beritahu aku kalau sudah berhasil" perintah Arka.
"Oh ya Pandu, hari ini kamu carilah WO. Sekalian yang nawarin paket lengkap acara pernikahan" lanjut Pandu.
__ADS_1
"Tapi nyonya besar pernah berpesan, kalau semua akan diurus sama beliau tuan muda" jawab Pandu.
"Kapan nenek bilang?"
"Setelah anda tunangan waktu itu" jelas Pandu.
"Haiisss...nenek" gerutu Arka.
"Malah enak tuan muda, nggak usah repot nyiapin semua. Nyiapin stamina aja" celetuk Pandu terkekeh.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
Terlihat Benzema yang berdiri di luar pintu ruang CEO.
"Mau apa dia?" tanya Arka menatap Pandu.
Pandu mengedikkan bahu tanda tak tahu.
"Suruh masuk" tegas Arka.
"Baik tuan muda, aku skalian undur diri" kata Pandu.
Benzema masuk setelah dipersilahkan oleh Pandu.
"Selamat pagi tuan Arka" sapa Benzema sopan.
"Pagi tuan Benzema" jawab Arka.
"Saya hanya mau mengucapkan terima kasih sekali lagi, karena masih diberi kesempatan untuk bekerja di Panapion. Setelah semua yang kulakukan di sini" ucap tulus Benzema.
Arka memang menyerahi Benzema sebuah proyek yang sebelumnya dipegang oleh William.
"Jagalah rasa percaya ku padamu tuan Zema!" tandas Arka kepada Benzema.
Sebagai mantan atlit, tentu Benzema akan melakukan yang terbaik dalam pembangunan gedung itu.
"Tuan Benzema, boleh aku tahu kenapa kau mundur dari dunia olahraga waktu itu?" tanya Arka.
"Cedera tuan Arka. Cedera engkel, sehingga aku tak meneruskan sebagai atlit" jelas Benzema.
"Kebetulan ada saudara di Singapura tuan muda. Jadi aku menuntaskan pengobatan di sana" imbuh Zema.
"Ooooooo...." gumam Arka menimpali.
"Apa ada yang ingin disampaikan lagi?" tatap Arka ke arah Benzema.
"Maaf tuan, saya juga ingin menyampaikan ini" Benzema menyerahkan sebuah undangan pernikahan kepada Arka.
Arka menerima, "Minggu ini?"
"Iya tuan. Tak mungkin aku membatalkan acara nikah yang sudah diagendakan, meski tuan Hadinoto saat ini kesandung kasus" timpal Benzema.
"Yaaahhhhh, meski nanti akad nikah di kantor polisi" Benzema menarik nafas berat.
"Kenapa tak minta ijin, agar tuan Hadinoto keluar bui barang sejenak?" tanya Arka.
"Sudah kami coba, tapi belum dapat ijin" tukas Benzema.
Sementara di kantor Hadinoto and partners, pagi itu Tania juga didatangi oleh Maura lagi.
Meski menurunkan mood, Tania tetap saja menerima kehadiran Maura.
"Ada apa? Pagi-pagi sudah kesini?" tanya Tania menatap Maura.
Maura duduk dengan santai di depan Tania. "Aku hanya ingin minta maaf atas semua yang kulakukan padamu selama ini" kata Maura terdengar tulus di telinga Tania.
"Oh ya? Apa pagi ini kau tak salah makan? Atau kau belum bangun dari tidur kamu. Sehingga kau ngigau pagi-pagi di sini?" tanggap Tania.
"Aku benar-benar minta maaf?" ulang Maura.
Mata Tania memicing, apa benar yang diucapkan Maura barusan.
"Kau benar-benar tak ingat padaku?" tanya Maura tiba-tiba.
__ADS_1
"Ha....ha...aneh sekali pertanyaanmu. Jelas saja aku kenal, bukankah kau Maura Hadinoto. Putri kandung tuan Hadinoto yang sekarang kena kasus" jawab Tania sambil terbahak.
"Aku teman SMA mu Tania" lanjut Maura.
Tawa Tania langsung berhenti. "Whattt?" telisik Tania.
"Kau benar-benar lupa" tandas Maura.
Tania mencoba mengingat, apa ada yang terlewat.
"Oooooo...kau Maura. Anak IPS tiga yang sangat pendiam saat itu? Apakah kau anak pintar yang selalu mencoba menyaingi prestasi ku saat itu?" kata Tania.
"Jangan bilang aku anak pintar, karena aku tak pernah menang jika bersaing denganmu" senyum getir terlihat di wajah Maura.
"Ha...ha...apa karena itu kau sangat membenciku?" sambung Tania.
"Benar, bahkan aku rela merebut Benzema darimu karena aku iri padamu" tandas Maura.
"Hah? Sampai sebegitunya rasa bencimu padaku? Apa salahku?" sambung Tania.
"Salahmu, karena kau selalu lebih populer daripada aku" Maura menimpali.
"Aneh" gumam Tania.
"Tania, awalnya aku memang tak mencintai Benzema. Aku merebutnya karena hanya obsesi karena ingin mengalahkanmu" terus Maura.
"Apa sekarang kau juga belum mencintainya, bahkan kau telah hamil anak Benzema?" dahi Tania mengernyit.
"Nggak Tania. Awalnya aku memang tak mencintai dia. Tapi perhatian-perhatian Benzema mulai meluluhkan hatiku" imbuh Maura.
"Syukurlah" helaan nafas panjang Tania.
"Aku benar-benar minta maaf Tania" kata Maura lebih tulus daripada yang tadi.
"Allah aja maha pemaaf. Apalagi aku yang hanyalah butiran debu" tukas Tania.
"Jadi...kau memaafkan aku" Maura mendekat dan hendak memeluk Tania.
"Sabar dulu, aku memang memaafkan kamu. Tapi tak harus juga kan aku dekat denganmu" sanggah Tania.
"Nggak papa, aku merasa lega sekarang. Makasih ya" ucap Maura dan berbalik arah keluar ruangan.
Bersamaan itu, Angel masuk ruangan dengan tas yang masih bertengger di bahu.
"Ada apa Non?" tanya Angel heran melihat Maura pagi-pagi sudah di ruangan sang bos.
"Kepo" singkat Tania.
"Oh ya Non, barusan anda dipanggil tuan Felix di ruangannya. Mau bicara penting katanya" beritahu Angel.
"Oke" Tania beranjak meninggalkan ruangan menuju ruangan tuan Felix.
Di Panapion, Pandu kembali menghadap Arka.
"Sudah ketemu siapa dalang penyebar rumor tak sehat itu?" tatap Arka menunggu jawaban Pandu.
"Tuan David" tegas Pandu.
"Hilang William, ganti dia yang mau main-main" gumam Arka masih terdengar oleh Pandu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1
Salam sehat buat semua 🤗