
Ternyata orang itu telah mengirimi pesan ke Tania, bahwa dia sudah menunggu di ruang privat resto itu.
Tania meneruskan pesan orang itu ke Arka yang sudah stay ponsel.
Tania beranjak menjauhi keberadaan Arga yang sebelumnya duduk di belakang dirinya.
Tania masuk ke ruang privat resto sesuai petunjuk dari pesan yang diterima.
"Hai Nona, silahkan duduk" sapa laki-laki itu ramah.
"Kalau anda ingin mendengarkan semua yang akan aku katakan, matikan ponsel anda yang terhubung dengan ponsel anak si Rendra itu" pintanya membuat Tania sedikit terkejut.
'Bagaimana dia tahu?' pikir Tania.
Tapi Tania mulai memahami situasi.
"Baiklah tuan" ucap Tania tanpa keraguan.
Tania membuka tas ransel untuk mengambil ponsel dan segera mematikan ponsel seperti yang diminta oleh laki-laki di depannya itu.
Saat itulah Tania melihat sesuatu yang ada dalam tas. Tania menautkan alis tapi tak terlihat dari pandangan laki-laki itu.
'Heemmmm...gercep juga tuh si Arga' batin Tania.
"Baiklah tuan, silahkan disampaikan. Aku sudah melakukan seperti yang kau minta" tandas Tania.
"Ha...ha...tidak semudah itu Nona" ucapnya menimpali.
"Maksud kamu?" telisik Tania dengan nada meninggi.
"Santai Nona, aku mengundang anda sebenarnya ingin menawarkan kerjasama. Kalau kau bisa menghancurkan anak Rendra maka aku akan memberikan apa yang kau minta" lanjutnya dengan kata-kata seperti tak ada beban.
"Cih, ternyata kau sama saja dengan yang lain. Penjilat" sarkas Tania.
"Ternyata aku telah membuang waktu sia-sia" Tania berdiri hendak meninggakan laki-laki itu.
"Ha...ha...ternyata kau pintar juga Nona" orang itu malah terbahak.
"Apa kau tak penasaran jika kasus ayah kamu juga erat kaitannya dengan tuan Rendra, papa dari tunangan kamu" selorohnya.
"Apa maksud kamu?" Tania menghentikan langkah.
"Sabar Nona...terima dulu tawaran kerjasama kita. Kalau kau tak ingin merugi" ucapnya licik.
Tania harus berpikir cepat saat ini, lagian Arka masih mengawasi pergerakan orang ini.
"Kalau aku terima, aku harus melakukan apa?" ucap Tania menurunkan intonasi suara.
"Hemmm, duduklah" pinta orang itu.
Tania kembali menaruh pantat di kursi.
"Berikan ini kepada tunangan kamu itu" ucapnya dengan menyodorkan sebuah berkas.
"Suruh Arka untuk menerima kerjasama dari perusahaan ini" lanjutnya.
Tania membolak balik berkas yang diterima olehnya.
Belum pernah aku mendengar nama perusahaan ini. Batin Tania.
__ADS_1
"Akan aku coba" balas Tania.
"Oke Nona, kalau kau berhasil mendapatkan kerjasama ini. Aku akan jamin, semua informasi yang kau butuhkan akan kuberikan" ucapnya penuh ketegasan.
Setelah menyelasaikan kata-katanya, Tania pamit.
"Hubungi ke nomerku yang tadi, jika kau berhasil mendapatkan kerjasama" lanjutnya saat Tania keluar ruangan.
Cih, enak saja. Mau kerjasama lewat jalan belakang. Umpat Tania. Tidak semudah itu Fergusso.
Tania melenggang dengan santai, Arga telah menunggu dengan Tania di depan.
"Non, tuan muda telah menunggu kita" kata Arga begitu Tania naik ke mobil.
"Kita ke sana" sahut Tania.
Arga membawa Tania ke tempat yang tak begitu jauh dari resto tadi.
Bukan sebuah resto mewah, tapi sebuah rumah makan sederhana. Bahkan bisa dikatakan itu sebuah warteg.
"Eh, sudah datang kau Arga. Tuh si Arka menunggumu di sana" kata pemilik warung.
"Oke, siap bro" tukas Arga menjawabnya.
Arka melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
Tania menyerahkan berkas yang didapatnya.
"Nih, mereka menyuruhku untuk mengajak kerjasama dengan Panapion" terang Tania.
Arka membolak-balik berkas itu.
Arga membuka tab yang dibawanya, dan mencoba mencari informasi perusahaan yang dimaksud.
"Heemmmm, sepertinya ini hanya perusahaan cangkang? Bisa saja ini hanya kamuflase untuk menjatuhkan Panapion" ujar Arka.
"Oh ya, dia juga bilang kalau ada hubungan antara papa Rendra dengan hukuman yang diterima ayahku" terang Tania.
"Apa kau percaya?" Arka menoleh ke Tania.
Tania menggeleng lemah. Ada keraguan di aura wajah Tania.
"Tentang masa lalu ayah kamu memang masih buram. Kita berdua masih belum jelas. Bagaimana kalau kita selidiki bersama?" usul Arka.
"Bagaimana kalau nanti ada kemungkinan orang-orang dekat kita terlibat?" tanya Tania.
"Kalau tak kita selidiki, kita sendiri tak akan tahu" tegas Arka.
"Non, apa tadi kau berhasil?" sela Arga.
"Heemmmm" Tania mengangguk.
"Baiklah, akan terus kulacak keberadaan laki-laki itu" imbuh Arga.
.
"Kalian ini serius amat, makan dulu atuh yang ada di meja" pemilik warteg menghampiri mereka bertiga.
"Bang Darma, kenalin nih tunangan gue" celetuk Arka.
__ADS_1
"Darma Wiguna" pemilik warteg menyebut namanya dan hendak menyalami tangan Tania. Tapi telah disambar duluan oleh Arka, "Namanya Tania" kata Arka.
"Ha...ha...seorang Arka bisa posesif juga" olok Darma.
"Seperti kawan lama" gumam Tania.
"He..he...kita sudah lama kenal Non" beritahu Darma tentang status mereka bertiga.
"Panggil Tania aja" pinta Tania.
.
"Kita kesampingkan sementara orang tadi. Terus apa rencana kamu sayang?" tanya Arka.
"Menemui keluarga korban dari pembunuhan itu" tukas cepat Tania.
Arka mengkerutkan dahinya.
"Bukannya keluarga korban adalah yang sekarang menjadi istri papa Rendra?" seloroh Arka membuat Tania terbengong.
"Kok kamu tahu?" tanya Tania dengan rasa penasaran.
"Tahu sedikit lah" imbuh Arka.
"Gimana kalau besok kita ke papa Rendra?" ajak Arka.
"Apa kau tak akan dianggap aneh oleh mama sambung mu?" sela Arga.
"Waktu tunangan aja, mama mu tak kau undang" seloroh Arga.
"Ha...ha...kamu kan tau apa alasanku" Arka malah terbahak menanggapi ucapan Arga.
Setahu Tania, Arka memang punya hubungan yang tak begitu baik dengan mama sambungnya. Tapi kalau mama sambung Arka merupakan keluarga korban pembunuhan ayahnya, itu adalah hal baru bagi Tania.
"Bagaimana sayang? Apa kau siap? Besok kita ke rumah papa Rendra" ulang Arka.
"Lebih cepat lebih baik. Biar saat kau menikah dengan laki-laki posesif ini, sudah tak ada lagi hal yang mengganjal" tukas Darma nimbrung.
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Tania. Pesan dari orang yang sama. Orang yang mengajak kerjasama tadi.
"Nih, harus dijawab apa?" Tania menunjukkan layar ponsel ke Arka.
"Sini aku aja yang balas" Arka meminta ponsel yang dipegang oleh Tania.
"Arga, gimana kalau kita pancing orang ini agar keluar?" Arka meminta persetujuan Arga. Arga yang instingnya kuat, memberikan usulan agar Arka pura-pura menerima kerjasama itu.
"Tapi aku nggak setuju kalau Tania yang dijadikan umpan" protes Arka.
"Hanya itu jalan satu-satunya sayang" imbuh Tania menyetujui usulan Arga.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
Klik juga dong iklannya
__ADS_1
π