
"Kamu ini bagaimana sih sayang, kok bisa nggak tahu kalau ada yang punya niat jahat" omel Arka saat mereka sudah dalam mobil.
"Mana aku tahu. Niat itu ada dalam hati loh. Kalau niat nampak di mukanya, pasti semua orang pada baik semua" ucap Tania menimpali.
"Iya aku tahu. Makanya hati-hati" kata Arka lugas.
"Siap bossss" celetuk Tania.
"Kira-kira siapa ya yang nyuruh dia?" gumam Tania.
"Padahal kan aku orang baik, dan nggak punya musuh" kata Tania dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Idih...pe-de nya ketinggian Non" tukas Arka.
"Kalau aku nggak baik, mana mau kamu sama aku" tekan Tania pada kata yang diucapkan.
"Iya juga sih" kata Arka sambil mengusap tengkuk.
Urusan debat, wanita di sampingnya ini pasti tak mau kalah. Cocok sebenarnya kalau dia jadi seorang pengacara.
"Tebak, kira-kira siapa yang menyuruh orang tadi?" kata Tania.
"Heemmmmm..." Arka nampak berpikir.
"Nggak usah dijawab. Bagaimana kalau kita taruhan aja" ajak Tania.
"Taruhan gimana?" tanya Arka semakin tak mengerti dengan ulah Tania. Jadi korban malah ngajak taruhan. Taruhan siapa yang menjadi dalang kejahatan itu. Ada-ada aja.
"Kamu nebak siapa dulu sayang?" ucap Tania.
"Heemmm....Tuan Hadinoto" terka Arka.
"Yakin dengan jawaban kamu?" telisik Tania.
Arka mencoba berpikir lagi, tapi semakin dipikir hanya ada nama tuan Hadinoto yang ada di pikiran Arka.
"Tuan Hadinoto aja" seloroh Arka.
"Oke, aku simpan jawaban kamu ya" tukas Tania.
"Kalau kamu?" sela Arka.
"Tuan Smith sama Arkan anaknya nyonya Gaby" celetuk Tania.
"Idih, jangan ngawur ah" bagaimana bisa pikiran Tania ke arah kedua orang itu.
"Kan hanya nebak sayang, kalau salah ya berarti aku kalah" kata Tania terkekeh.
"Sekarang kita bahas hadiahnya. Yang menang dapat apa?" tanya Arka.
Tania ganti berpikir, "Heemmmm bakso depan kantorku aja dech. Berapapun habisnya yang kalah musti bayarin" tawar Tania.
"Oke, deal" imbuh Arka cepat.
Arka membelokkan mobil di sebuah resto.
"Kamu belum makan kan?" tanyanya.
"Yah belum" jawab Tania.
"Kamu tadi pergi dari kantor, niat awalmu kemana sih?" Tanya Arka saat mereka berdua sudah duduk di bangku kosong resto.
"Mau ke danau" jelas Tania.
"Ke danau? Siang-siang?" tanya Arka yang merasa aneh.
"Heemmm...kan dekat danau juga nggak panas. Jadi mukamu biasa saja dech" imbuh Tania menatap Arka.
"Galau?" Arka balas menatap Tania.
Tania mengalihkan pandangannya. Niatnya ke danau memang untuk menenangkan pikiran. Ucapan tuan Felix yang bersedia membantunya, dirasa aneh.
__ADS_1
"Ada apa?" telisik Arka.
Tania pun menceritakan apa yang dialaminya pagi tadi, di mana Tania menemui tuan Felix. Apa saja yang dibicarakan tak luput Tania ceritakan ke Arka.
"Ooooooo..." tanggap Arka.
"Kalau cuman 'oooooo' semua orang juga bisa sayang" sela Tania mengejek Arka.
"Ha....ha.....maaf...maaf..." Arka terbahak.
Obrolan mereka terhenti kala karyawan resto menyerahkan buku menu ke mereka.
"Aku samain aja sama kamu sayang" pinta Tania.
"Heemmmm...baiklah" balas Arka.
Akhirnya Arka memesan beef steak dan orange juice buat mereka berdua.
Ponsel Tania berdering, "Siapa?" tanya Arka. Tania mengedikkan bahu, karena yang menelpon adalah nomor tak dikenal.
"Aku angkat boleh?" ijin Arka.
"Heemmmm" Tania mengangguk dan menyerahkan kepada Arka.
"Halo, selamat siang. Ada yang bisa dibantu?" kata Arka sudah bagai operator seluler.
"Maaf tuan. Nona Tania nya ada, ini dari kantor polisi yang barusan menerima laporan darinya" beritahu panggilan itu.
"Bisa dengan saya tuan" tukas Arka.
"Baiklah, akan saya sampaikan. Kalau orang yang tadi sudah mengaku siapa yang menyuruhnya" lanjut nya.
"Boleh kami tahu pak?" Arka masih serius mendengarkan.
"Tolong tanyakan Nona Tania, apa mengenal seorang bernama Arkan?" penyidik masih melanjutkan kata-katanya.
Arka memandang Tania, bagaimana tebakan Tania bisa tepat mengarah ke Arkan. Anak dari nyonya Gaby.
"Tuan? Apa anda masih di sana?" kata penyidik itu memanggil Arka.
Tania yang berada di depan Arka melotot ke arah Arka.
"Arkan?" gumamnya.
Arka mengangguk.
"Baik tuan, terima kasih atas segala informasi yang diberikan. Selalu kabari kami jika ada perkembangan baru" pinta Arka Danendra.
"Siap tuan" panggilan itu pun berakhir.
"Bener Arkan yang berada di balik kejadian tadi?" Tania minta penegasan.
Arka menggangguk.
"Tumben mereka gercep" ujar Tania.
"Tau kali kalau korbannya seorang pengacara" imbuh Arka.
"Ish apaan sih. Meski pengacara aku juga warga negara loh. Jadi nggak boleh beda-bedain" tutur Tania.
"Iya...iya...serius amat sih nanggepinnya?" celetuk Arka dengan senyuman.
Pelayan mengantar apa yang dipesan oleh Arka tadi. Tania masih memandang ke meja dengan aneh.
"Ayo makan!" ajak Arka karena masih termangu melihat hidangan yang ada di meja.
"Kok nggak ada nasi?" seloroh Tania tiba-tiba.
Arka ganti menautkan alis, kan sudah ada beef steak. Pikirnya.
"Kalau nggak ada nasi, mana aku kenyang" jelas Tania.
__ADS_1
Ooooo, ternyata Tania punya prinsip kalau nggak ada nasi berarti belum makan. Sama kayak author dong...he...he...
"Iya...iya...aku pesanin" tukas Arka dan memanggil pelayan yang mengantarkan makanan tadi.
"Mba, tolong anter nasi putih satu porsi ya!" pinta Arka.
"Nggak pake lama ya kak" sela Tania.
Pelayan itu pun mengangguk hormat ke mereka berdua.
Kembali ke Arkan. Arka masih tak abis pikir, kalau pelaku adalah suruhan Arkan.
"Apa motifnya ya?" gumam Arka sambil makan.
"Sayang, kalau memang orang tadi suruhan Arkan. Yeeiiiii aku menang" teriak Tania dengan riang.
"Menang?"
"Iya, menang taruhan" jelas Tania.
Arka pun menyentil kening Tania. "Kamu itu dalam bahaya, masih aja becanda" ungkap Arka.
"Dibuat santai aja, biar awet muda...he...he..." ucap Tania cengengesan.
"Dan jangan lupa, besok kutunggu traktiran bakso depan kantor" lanjut Tania.
Arka hanya bisa menepuk jidatnya sendiri kali ini.
.
Keesokak hari Tania kembali mendapat pangilan telpon dari pihak berwajib.
"Iya, saya sendiri. Tania Fahira" jawab Tania saat yang menelpon menyapanya.
"Baik Nona, berdasar orang kemarin yang kami tangkap. Dia memang hanya suruhan orang yang bernama Arkan. Tapi maaf sampai saat ini kami belum bisa menangkap orang itu. Dia sudah melarikan diri saat kita grebek di rumah kontrakannya" jelas nya.
"Baik pak, terima kasih atas segala informasinya" tukas Tania.
Kali ini Tania sedang berjalan menuju ruangan Arka. Kebetulan Arka tidak bisa menjemput karena ada rapat pagi dengan dewan direksi.
Tania berpapasan dengan tuan David yang secara usia mungkin sepadan dengan papa Rendra.
"Selamat pagi tuan" sapa Tania ramah.
"Wah, kamu putri dari Bagus Priyanto itu ya?" tanyanya.
"Benar tuan" jawab Tania tak menyangkal.
"Bagus yang seorang pemb*nuh itu kan?" kata tuan David dengan menekan kata pemb*nuh di ucapannya.
Tania mengerutkan dahi, 'Cari perkara dia' batinnya.
"Percaya diri sekali kau ini Nona, sampai berani menggaet CEO Panapion. Aku rasa putriku lebih pantas untuk seorang tuan muda seperti Arka Danendra" imbuhnya.
"Oh ya??? Kalau begitu kenapa nggak kau coba tuan David. Nanti tuan Arka sendiri yang akan menilai, siapa kiranya yang lebih pantas untuknya" ucap Tania mulai jengah.
"Saya permisi" Tania melanjutkan langkah menuju ruangan Arka.
"Dasar anak pemb*nuh. Tak ada sopan santunnya" gerutu tuan David, tapi masih terdengar oleh Tania. Meski Tania tak menggubris.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini. Makasih juga yang sudah kasih kopi, vote, bunga, like dan komen.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
__ADS_1
💝
Salam sehat buat semua 🤗