Tulisan Tinta Tania

Tulisan Tinta Tania
Langkah Pertama


__ADS_3

Pagi itu Arka memberikan komando kepada Pandu untuk mengadakan rapat dadakan para dewan direksi.


"Tuan muda, maaf rapat dewan baru diagendakan awal minggu depan" ujar Pandu.


Arka menatap wajah asistennya.


"Aku inginnya dalam waktu tiga puluh menit mereka telah bersiap" tegas Arka.


"Ba...baik Tuan" jawab gugup Pandu.


Pandu beringsut keluar ruangan CEO dan menyiapkan apa yang diminta oleh tuan muda nya.


"Oh ya Pandu, jangan lupa sekalian suruh ajak mereka wakil masing-masing" imbuh Arka saat Pandu memegang handle pintu.


"Siap Tuan"


Berkas yang dibawa oleh Tania kemarin sengaja dibawa Arka dan dibahas saat dewan direksi.


Arka ingin tahu masukan-masukan apa yang diberikan oleh mereka.


.


Sementara itu di ruangan William, segala macam sumpah serapah keluar dari mulut nya.


"Dasar si Arka, baru menjabat CEO aja sudah belagu. Mana aku belum siap lagi ada rapat dadakan" gumamnya sambil mengepalkan tangan.


Tepat saat itu Benzema masuk untuk menghampiri tuan William.


"Tuan, ini laporan yang aku buat. Terakhir bulan lalu baru bisa ter entry" jelas Benzema.


"Hemmmm" sahut William bergumam.


"Tuan, apa kira-kira bos baru akan mendepak keberadaan kita?" seloroh Benzema dan duduk di sofa ruangan William.


William hanya bisa mengedikkan bahu. Karena dia sendiri juga tak tahu, seperti apa karakter Arka saat memimpin perusahaan.


"Arka adalah orang yang susah ditebak. Tidak seperti tuan Rendra, kakak iparku. Jika dia berani macam-macam padaku, maka kakakku Gaby yang akan maju" celetuk William.


"Lantas bagaimana cara mengamankan posisi kita?" cemas Benzema memikirkan hal itu. Mana dia mau nikah, kalau sampai dipecat dia pasti juga akan ditendang oleh Maura dan tuan Hadinoto.


Usahanya untuk menemui Tania beberapa hari ini tidak membuahkan hasil.


"Ha...ha...apa kau secemas itu?" tuan William menertawakan Benzema.


"Kukira si sialan tak sepicik itu terhadap kita" kata William kepedean.

__ADS_1


Di ruang rapat telah siap semua dewan direksi saat William dan Benzema datang.


Tuan muda Arka bersama Pandu datang tepat berada di belakang mereka berdua.


"Silahkan duduk" perintah datar Arka untuk semuanya yang berdiri menyambut kedatangannya.


"Maaf, aku mengadakan rapat mendadak. Untuk selanjutnya akan sering terjadi hal seperti ini" tandas Arka.


"Rapat dadakan lagi?" seloroh salah satu, yang ternyata adalah direktur pemasaran.


"Benar tuan" sigap Pandu menjawab.


Hanya ada senyum sinis di bibir William.


"Pandu, tolong bagikan berkas yang kamu copi tadi" perintah Arka.


Pandu berkeliling membagikan berkas.


Para direksi saling mengerutkan dahi dan nampak berpikir. Hanya William yang sepertinya sangat santai menanggapi hal itu.


"Apa maksud ini tuan muda? Ngga jelas banget profil perusahaannya" kata tuan Doni, sang direktur produksi.


"Benar katamu Tuan, perusahaan ini memang tak jelas. Tapi gini-gini dia sudah berani mengajak kerjasama Panapion. Apa tanggapan anda tuan William, tuan Benzema?" tanya Arka ke arah mereka.


"Kalau sudah berani mengajak kerjasama, aku rasa perusahaan itu tidak main-main" ucap pasti William.


"Hanya berdasarkan intuisi ku saja" imbuh William.


"Jadi selama ini anda hanya bekerja berdasar intuisi aja Tuan? Tidak berdasar analisa?" kata Arka semakin memojokkan.


Tuan William dibuat gelagapan oleh setiap ucapan Arka.


"Dan aku akan mengambil kerjasama ini, berdasar masukan darimu tuan William" tandas Arka.


"Dan menjadi tugas kalian berdua, tuan William dan Tuan Benzema untuk membuat kerjasama ini menguntungkan buat Panapion" tatap Arka ke arah William dan Benzema. Insting Arka mengatakan kalau mereka berdua bisa saja ada kaitannya dengan masalah ini.


William dan Benzema saling pandang.


"Rapat ini aku tutup. Sekian dan terima kasih" kata penutupan yang singkat dari Arka.


Pandu menghampiri William dan Benzema.


"Tuan jika sekiranya ada yang belum tahu, bisa ditanyakan langsung kepadaku" kata Pandu di antara keduanya.


Arka meninggalkan ruang rapat diiringi oleh Pandu.

__ADS_1


Demikian juga William langsung balik ruangannya disusul oleh Benzema.


"Bagaimana ini Tuan? Sepertinya tuan Arka ingin menghempaskan kita" Benzema masih saja cemas.


"Kau ini kenapa sih? Pake pikiran logis dong" tukas William jengah.


"Kita harus segera temui perusahaan ini" kata tuan William.


"Boleh kulihat tuan?" pinta Benzema.


William menyodorkan apa yang diminta Benzema.


"Heemmm, ku belum pernah dengar nama perusaahaan ini" kata Benzema.


"Itu pasti perusahaan cangkang" kata William tanpa ragu.


"Anda yakin?" telisik Benzema.


"Kau hubungi nomer kontak itu secepatnya" pinta William.


"Aku nggak mau dikerjain oleh anak pongah itu" lanjut Willliam. Siapa lagi anak pongah yang dimaksud, tentu saja Arka lah.


Benzema melakukan apa yang diminta atasannya itu. Tapi nomer tak terdaftar jawaban yang diterima olehnya.


.


Tania yang hendak mengambil bekal yang dibawakan oleh mama Rosa, meraih ponsel yang tiba-tiba ada sebuah notif pesan masuk.


"Aku harap hari ini, calon tunangan kamu sudah memberi keputusan untuk kerjasama itu. Sebelum aku melakukan hal yang nekat" bunyi pesan itu.


Tania mengkerutkan alis, mau ngajak kerjasama kok seperti membeli kacang goreng aja. Gerutu Tania.


"Satu hal yang pasti Nona, keterlibatan tuan Rendra dalam kasus ayah kamu sangatlah besar" pesan provokasi diterima Tania.


"Baiklah, kapan kita bisa bertemu" balas Tania.


"Siang ini juga aku tunggu anda di resto XXX. Ingat tanpa Arka" ancamnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.


Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...


Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊

__ADS_1


Klik juga dong iklannya


💝


__ADS_2