
Tania melenggang ke ruang tuan Felix, pengacara senior yang masih memilih gabung di kantor Hadinoto and partners.
"Hai Tania, duduklah" sapa tuan Felix.
"Iya tuan" Tania duduk di sofa yang tersedia. Tuan Felix pun gabung. Asistennya diminta untuk mengambilkan minum buat Tania.
"Tania, apa benar kau putri dari Bagus Priyanto?" tanyanya.
"Benar. Ada apa ya tuan Felix?" telisik Tania.
Tuan Felix manggut-manggut, "Jadi kau kerja di sini ada maksud dan tujuannya?" uji nya.
Tania tersenyum sedikit sinis, bagaimanapun juga tuan Felix adalah seniornya.
"Untuk magang" tegas Tania.
"Pasti ada yang lain" sergahnya.
Anak buah Arka pagi ini memang menyerahkan bukti yang memeperlihatkan kerjasama antara Hadinoto, Nyonya Gaby dan juga William.
Penyelidikan yang fokus ke Anthoni, akhirnya menyerembet kemana-mana.
Karena ketiga orang itu ternyata telah lama bekerjasama.
"Apa kau sudah telusuri kematian ayah kamu?" selidiknya lagi.
"Saya rasa tak perlu menjelaskan kepada anda tuan" tukas Tania.
"Aku hanya ingin membantumu Tania, kau sudah kuanggap seperti anak sendiri" imbuh tuan Felix.
"Carilah orang yang bernama Beni, dia pasti tahu segalanya. Kronologi kejadian papamu" jelasnya lagi.
"Tuan Beni pegawai lapas?" Tania menautkan alis.
"Apa kau sudah ketemu dengannya?" lanjut tuan Felix.
"Belum tuan, aku hanya bertemu dengan tuan Doris sebelumnya" terang Tania.
"Heemmm...baiklah. Kalau kau butuh bantuan, cari saja aku" saran tuan Felix.
"Makasih tuan, aku permisi dulu" Tania beringsut dari duduknya.
Sebenarnya kejadian yang menimpa ayahnya hanyalah faktor ketidaksengajaan. Ayah berada di waktu dan tempat yang salah, sehingga menempatkan ayah Tania sebagai warga binaan di lapas.
Tania sudah menyadari itu. Hati mulai bimbang untuk meneruskan penyelidikan. Seperti yang dikatakan mama Rosa, untuk apa? Ayah kamu sudah tenang di sana. Tapi kadang rasa penasaran tetap membuncah di dada.
Tania keluar kantor untuk menenangkan pikiran setelah pamit ke Angel.
"Non, naik apa?" tanya Angel.
"Taksi online aja" beritahu Tania.
"Oke Non, hati-hati" sahut Angel.
Tania meminta sopir taksi online menuju tempat yang dipesannya lewat aplikasi.
"Baik Nona" jawab pengemudi taksi itu.
Tania memasang headset untuk mendengarkan musik. Sambil memejamkan mata, dia nikmati lagu 'Mahadewi' by Padi. Hingga Tania tak menyadari jika telah dibawa sopir taksi entah kemana.
"Nona sudah sampai" kata sopir taksi dengan wajah yang sinis. Tatapan tajam ke arah Tania menghiasi wajahnya.
Tania mulai menyadari ada yang tak beres kali ini.
Diam-diam mengirimkan share lok ke Arka.
__ADS_1
Saat laki-laki itu hendak merebut ponsel, Tania berhasil mengamankannya.
"Siapa kau?" tandas Tania.
"Kau tak perlu siapa aku Nona. Aku hanya ingin menikmati tubuh ranum kamu...ha...ha..." tawanya meledak.
"Cihhhh...tak akan sudi aku"
"Di sini tidak berlaku penawaran Nona. Mau tak mau kau harus menurut padaku...ha...ha...." Tawanya semakin membahana.
Tania mengawasi sekeliling, dimana ini. Batinnya.
Untung masih di siang hari, Tania bisa melihat dengan jelas rupa orang itu.
'Aku harus mengulur waktu' batin Tania bermonolog.
"Siapa yang menyuruhmu anak muda? Paling nggak aku tidak penasaran lagi, jika saja kau menganiaya aku" celetuk Tania dengan tenang.
"Ha...ha...kau mau mencoba merayuku nona?" tanyanya.
"Tidak. Untuk apa ku merayu, nyatanya aku belum merayu aja kau sudah tergoda" senyum sinis Tania.
"Tuh lihat, bagian pusat tubuhmu" sindir Tania.
Laki-laki itupun menunduk melihat apa yang dikatakan oleh Tania. Memang benar adanya, dia merasakan sesak di celana sedari tadi.
Tanpa menyiakan kesempatan, Tania menendang inti laki-laki yang menegang itu.
Siapa yang tahan dengan tendangan maut, dia pun pingsan seketika karena tendangan yang sangat kuat dari Tania.
"Cih, segitu saja kemampuan kamu" ketus kata Tania.
Tania dengan sigap mengikat laki-laki itu. Dan digesernya di kursi paling belakang.
Kebetulan dia melihat lakban di sana. Tania tutup mulut laki-laki itu dengan lakban berlapis.
"Kalau seperti ini, malah aku seperti penjahatnya" gumam Tania sendirian.
Tania coba buka ponsel untuk melihat map di ponsel.
"Aduh, sinyalnya hilang timbul lagi" gerutunya.
Tania mulai menjalankan mobil, melaju mengikuti jalan di depannya.
Ternyata jalan yang dilalui tembus ke jalan besar di tepian hutan.
Kembali dia buka ponsel, "Ooooo...jauh juga perjalananku nih tadi" kata Tania.
Saat melihat sebuah kantor polisi, Tania membelokkan laju mobil ke sana.
"Selamat siang pak, aku ingin melaporkan sebuah tindak kriminal" kata Tania di hadapan petugas.
"Ada korban? Lokasi kejadian?" tanya penyidik.
"Aku korbannya, pelakunya berhasil aku ringkus. Noh di mobil. Mobilnya juga milik dia" tunjuk Tania ke arah mobil yang dia kemudikan.
Penyidik sampai tak percaya, yang harusnya jadi korban malah terlihat seperti pelaku.
"Aku pengacara pak, mengenai kronologi kejadian aku akan tanda tangan di BAP. Siapkan saja" imbuh Tania.
"Leh, piye to kihhhh?" penyidik itu garuk kepala, menirukan jargon seorang nyutuber.
"Oh ya pak, kalau boleh tau ini daerah mana ya?" tanya Tania.
"Ini pinggiran kota A Nona" beritahu petugas itu.
__ADS_1
"Hah? Sejauh itu? Kok aku bisa nggak nyadar ya kalau sudah terlalu jauh dibawanya" gumam Tania.
"Nona, bisa minta identitas dan ceritakan kronologi kejadian ini" pinta penyidik.
Tania pun menyerahkan apa yang diminta oleh petugas dan menceritakan kronologi kejadian.
"Bisa kita minta bukti anda order taksi online?" minta petugas. Tania menyerahkan ponsel dan membuka sebuah aplikasi pemesanan online.
"Heemmmm...ada saksi lain?" tanyanya lagi.
"Ya nggak ada bos, cuma aku tadi bilang asisten kalau aku mau pergi naik taksi online" beritahu Tania.
Laki-laki yang berada dalam mobil baru tersadar, dia mulai bergerak tapi ikatan Tania terlalu erat. Mulutnya pun tersumpal lakban.
Petugas menghampiri saat mobil bergerak-gerak dari dalam.
Petugas membuka lakban yang menutup mulut laki-laki itu.
"Saya di mana tuan?" tanyanya.
"Di kantor polisi" jelas penyidik.
Dia terlonjak kaget. Melihat ekspresi ketakutannya, petugas itu yakin akan keterangan Tania barusan.
Ponsel Tania berdering, dilihatnya Arka calling.
"Kau ini di mana? Kenapa jauh sekali? Nggak kasih kabar juga" cerca Arka.
"Nanti aku cerita. Sudah sampai mana?" tanya Tania.
"Hampir sampai ke lokasi yang kau kirim" beritahu Arka.
"Oke" tandas Tania menutup ponsel.
Laki-laki itu sudah diinterogasi petugas.
Dia akhirnya mengaku kalau ada yang menyuruh. Targetnya memang nona Tania. Tapi sampai sekarang, dia belum mengakui siapa orang itu.
Arka datang tergopoh, "Apa ada yang terluka? Mana yang sakit?" tanya Arka ke arah Tania.
"Aku nggak apa-apa. Aman" celetuk Tania.
"Cerita sekarang!" tandas Arka.
"Capek aku sayang, aku sudah cerita saat BAP. Kamu tanya pak penyidik di sana aja ya" seloroh Tania.
"Haiisssss...kamu ini" sergah Arka sambil menyodorkan air minum dingin ke Tania.
Arka garuk kepala, ada saja kejadian di luar sangkaannya.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis πππ
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
π
Salam sehat buat semua π€
__ADS_1