
"Sayang" panggil Arka sesaat setelah Tania berganti baju. Make up pun masih setia menempel di muka Tania.
"Apa kau mencemaskan sesuatu?" telisik Tania yang memang awam tentang dunia medis.
Meski tau mungkin itu hanya sekilas, terutama yang menyangkut kasus yang ditangani oleh Tania.
Selama ini memang Tania sering bersinggungan dengan forensik. Beda hal nya dengan keadaan yang dialami saat ini.
"Sayang, aku mau menyampaikan sesuatu" kata Arka serius. Arka yang masih belum sempat berganti baju menambah aura keseriusan wajahnya.
"Ada apa? Jangan buat aku ikutan cemas dong" tukas Tania.
"Heemmmm...baiklah" kata Arka sembari menarik nafas panjang.
"Satu sisi aku bahagia dengan berita kehamilan kamu" ucap Arka Danendra.
Tania berbinar menyambut apa yang diucapkan oleh sang suami, meski rasa sakit melilit di perut masih saja menyerangnya.
Arka semakin tak tega melihat Tania.
"Tapi ada satu hal yang ingin kutambahkan lagi" lanjut Arka.
"Ada masalah ya dengan kehamilan ini?" tanya Tania sudah bisa menebak alur yang akan disampaikan oleh Arka.
Arka mengangguk.
"Hamil di luar kandungan? Sesuai yang disampaikan dokter Maya tadi?" tanya Tania.
Arka mengangguk lagi.
"Kita tunggu hasil pemeriksaan darah kamu. Kalau memang hasilnya tak bagus, mesthinya harus operasi malam ini" jelas Arka.
"Hah? Operasi?" sahut Tania.
Membayangkan berbagai jarum masuk ke tubuhnya membuatnya bergidik ngeri.
"Tuan, anda dipanggil oleh dokter jaga. Silahkan" sela perawat yang tadi menerima kedatangan Tania.
"Nggak papa ya kutinggal sebentar?" tukas Arka. Dan Tania pun mengangguk.
Arka duduk dan mendapatkan penjelasan dari dokter jaga.
"Sudah saya konsulkan kembali ke dokter Maya, dan memang kondisi nyonya memerlukan operasi darurat malam ini" jelas dokter jaga kepada Arka.
"Oke...tapi beri saya waktu untuk menjelaskan kembali kondisi ini kepada istri saya" terang Arka.
Tatapan sayu dari Tania yang biasa garang membuat Arka semakin tak tega.
Dia genggam erat telapak tangan sang istri. Kembali dia menarik nafas panjang.
Tapi hal tak disangka Arka saat Tania tiba-tiba berujar, "Kalau memang harus operasi, tak apalah. Aku siap" ucap serius Tania.
"Apa janin ini benar-benar tak bisa diselamatkan sayang?" air mata yang coba ditahan sedari tadi akhirnya lolos juga.
Arka memeluk sang istri. "Kita berusaha lagi. Allah pasti akan memberi hadiah terindah di balik semua ini" hibur Arka.
Arka menandatangani persetujuan tindakan yang disiapkan rumah sakit.
"Dokter Maya yang jadi penanggung jawab?" tanya Arka.
__ADS_1
"Benar tuan. Dan nanti yang menjadi dokter anesthesinya dokter Bara" jelas perawat yang menyodorkan berkas persetujuan tadi.
"Baiklah" jawab Arka.
Tania sudah dipersiapkan sedemikian rupa dan akan dipindahkan ke ruang bedah sentral.
Nenek Gemmy dan mama Rosa tergopoh menyusul keberadaan Arka.
"Di mana Tania?" tanya nenek dengan penuh rasa cemas.
"Tuh, di sana" jelas Arka menunjuk ruang operasi.
"Nanti aja kujelaskan, aku masuk dulu nemanin Tania" ujar Arka.
Arka menyusul Tania yang masih berada di ruang pre medikasi bedah sentral.
Bara masuk dan melihat kondisi Tania, "Sepertinya kondisi umum istrimu masih baik Arka, kadar hemoglobin darah juga dalam batas normal" terang Bara.
"Kamu nggak ikutan masuk aja?" tanya Bara yang tahu kalau temannya itu juga seorang dokter.
"Boleh?" pertegas Arka.
"Bersiaplah" imbuh Bara.
Arka masuk ruang ganti, untuk berganti baju kamar bedah seperti yang lain.
"Kalian kok sepertinya akrab sekali" sela Maya yang barusan selesai cuci tangan untuk berganti gaun bedah steril yang telah disiapkan.
"Oh ya, dokter Maya ini kakak iparku. Istrinya kak Mayong" Bara mengenalkan Maya.
"Ooooooo, Kak Mayong yang dingin itu?" sela Arka.
"Arka ini teman sekolah dulu May" imbuh Bara.
"Arka, kapan gabung di sini? Jangan terlalu mikir, keburu lupa tuh ilmu mu" sela Bara.
Tania menggenggam erat tangan sang suami, saat dokter Bara mulai memasukkan obat bius ke tulang belakang.
"Santai aja, semua pasti akan terlewati" hibur Arka.
"Semua ada porsinya masing-masing bro. Tinggal kita musti bagaimana ngejalanin semuanya" imbuh Bara.
Sedikit banyak Arka sudah tahu cerita tentang Bara lewat Sebastian.
"Oke May, mulailah" kata Bara menandakan obat bius sudah masuk.
"Aku takut yank" ucap Tania lirih.
"Berdoa, pasrah pada yang memberi kita nafas" bisik Arka menguatkan sang istri.
"Tuba kanan yang kena, ini saya coba eksplor dan menghentikan perdarahan" ujar dokter Maya.
"Rasa nyeri bisa disebabkan oleh proses pecahnya saluran telur" terang Maya.
Arka menyimak.
"Saluran telur kiri aman dokter Arka" lanjut Maya.
Arka pun mengangguk. Meski ada masalah, kemungkinan untuk hamil lagi masih ada.
__ADS_1
Operasi selesai setelah hampir satu jam berjalan.
Kini Tania telah dipindahkan di ruang recovery. Nenek dan mama Rosa memeluk sang cucu dan putri mereka bersamaan.
"Doakan aja semoga istriku lekas sembuh" terang Arka, saat nenek hendak meminta penjelasan ke Arka.
Nenek Gemmy mencebik, jawaban Arka sungguh tak sesuai harapannya.
"Kau ganti baju sana!" suruh nenek.
Arka memanggil Pandu untuk meminta baju ganti. Tuxedo yang dilepas sesaat sebelum masuk kamar operasi, masih menggantung di ruang ganti kamar operasi.
Baru sekarang Arka merasa aneh, di rumah sakit dengan tampilan tuxedo dan istrinya dengan gaun pesta mewah.
Setelah dua jam diobservasi Tania telah dipindahkan ke ruang VVIP RS Suryo Husada, milik grub Dirgantara.
"Tidurlah yank, wajahmu nampak letih sekali" suruh Tania.
"Kau juga, istirahatlah" tukas Arka.
Tania tidur dengan Arka setia menemani di samping tempat tidur. Sementara tangan Tania masih tertancap jarum yang dialiri darah untuk transfusi.
"Nek, Mah, kalian pulanglah. Besok aja baru ke sini. Tania sudah aman, dan kondisinya membaik" terang Arka.
"Bener nih, Tania sudah baikan?" sela nenek.
"Nenek ini nggak percaya amat sih? Aku juga dokter tau" sela Arka.
"Ha...ha...ya sudah nenek sama mama kamu balik dulu" pamit nenek dan juga mama Rosa.
Arka merebahkan tubuh di kursi panjang yang sengaja dia geser biar dekat dengan sang istri.
Matanya belum juga bisa terpejam meski raganya menuntut untuk diistirahatkan.
Kaki kanannya mulai terasa linu, "Jangan di sini" harap Arka mulai mengelus kaki yang ada bekas luka operasi nya itu.
Rasa nyeri mulai bertambah.
Arka menyeret tubuhnya ke ruang depan, yang tertata banyak kursi untuk terima kunjungan jenguk pasien agar Tania tak melihatnya.
"Sayang, kau di mana?" panggil Tania mencari keberadaan Arka.
Arka mengelap keringat di dahi dan berjalan ke arah sang istri dengan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Tapi di depan Tania, coba Arka sembunyikan semua rasa itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
Terima kasih sudah sudi mampir ke ceritaku ini.
Jangan pelit-pelit tuk kasih like, komen, vote lagi supaya popularitas naik dan semakin banyak yang mampir. Bunga, kopi, dll pun boleh...he...he...he...
Buat nambah imun othor lah, biar semangat nulis 😊😊😊
Vote...vote...vote...
Klik juga iklannya
💝
__ADS_1
Salam sehat buat semua 🤗